Author And The Baby

Author And The Baby
Naik Turun



Pintu terbuka dan Marina masuk ke dalam sambil mengocok-ngocok botol susu. Ia melihat Abigail yang mulai mendekat dan Farhan yang sudah miring ke samping. Dengan sigap ia mendatangi bayi itu dan menggendongnya.


"E, eh, anak Mami mulai nakal ya? Mau guling-guling lagi, mmh?" Ia menggoyang-goyangkan tubuh bayi itu sebentar membuat bayi itu tertawa sambil memandangi Marina. "Ayo, ini minum susunya." Ia memasukkan dot bayi itu ke mulut bayi Farhan.


Abigail lega. Ia yang sudah setengah jalan akhirnya kembali ke kursinya. Ia mulai memeriksa pekerjaannya di laptop.


Setengah jam kemudian terdengar bunyi telepon berdering. Abigail menekan tombol jawab. "Ya?"


"Ada Pak Muji, Pak ingin konsultasi soal desain pabrik."


Abigail melirik Marina.


"Oh, aku bisa jalan-jalan keluar dulu. Tidak apa-apa." Wanita itu tahu diri dan segera memakai tas punggungnya sambil menggendong Farhan.


"Eh, ya. Bawa saja masuk," jawab pria itu pada sekretarisnya di telepon. Ia kemudian melirik wanita itu. "Eh, Marina."


Marina yang sedang memasang kain gendongan bayi pada tubuhnya menoleh. "Ya?"


"Kamu mungkin bisa pergi ke lantai paling atas. Di sana ada taman terbuka. Siapa saja bisa datang ke sana untuk beristirahat."


"Oh, ya sudah. Aku ke sana saja, Kak."


"Nanti aku menyusul kalau sudah selesai."


"Oh, iya."


Pada saat tamu itu datang Marina pamit pergi ke lantai atas. Ia naik lift dan menekan nomor paling akhir. Bayi Farhan dengan nyamannya minum susu botol sambil melihat sekelilingnya.


Marina tersenyum pada sang bayi. "Kita jalan-jalan ya, Sayang?"


Sesampainya di lantai paling akhir, setelah pintu lift terbuka, di depannya ada pintu lagi yang masih tertutup. Ia melangkah ke koridor tapi tidak ditemukan apa-apa di sana selain sebuah mesin penjual minuman. Ia kemudian membuka pintu itu.


Terlihat sebuah area terbuka yang sejuk dipandang dengan langit terbuka dan hijaunya pohon di mana-mana. Taman yang terawat dengan beberapa kursi kayu untuk duduk-duduk menambah indah pemandangan di tempat itu.


Sekilas seperti pemandangan di sebuah taman kecuali saat melihat keluar. Tempat itu dikelilingi oleh banyak gedung-gedung pencakar langit yang tinggi dan modern. Sebuah pemandangan yang menakjubkan. "Wah, bagus ya, Sayang," ujar wanita itu pada bayinya.


Marina melangkah memasuki taman yang luas itu. "Wah, kita duduk di mana ya?" Marina mencari tempat strategis untuk ia dan bayinya berteduh.


Matahari sedikit terik walau angin bertiup lembut. Ia mencari tempat yang rindang.


Ada beberapa orang yang berada di sana tapi karena ada beberapa tanaman yang rimbun, ia tidak bisa melihat semuanya. Saat ia mendekati tempat yang lebih rimbun ia mendapati dua orang berlawanan jenis sedang asyik berciuman di sana, membuat wanita itu terkejut.


"Eh, maaf, maaf."


Kedua orang yang merasa terganggu itu melihat sinis pada Marina.


"Eh, maaf. Maaf. Lanjutkan saja. Aku akan pergi." Marina meminta maaf. Ia bergegas pergi dari situ.


Ia kembali ke pintu. Duh, aku harus ke mana ya? Aku tidak tahu lantai lainnya tapi pasti penuh dengan orang yang bekerja. Apa aku datang ke lobi lagi ya? Ia menghela napas dengan kasar seraya mengerucutkan mulutnya.


Wanita itu menatap bayi Farhan yang baru setengah menghabiskan susunya. "Mudah-mudahan, Mbak resepsionisnya gak rewel lagi ya, Sayang ya?" ucapnya pada bayi Farhan.


Bayi itu hanya menatapnya.


Marina kemudian kembali turun dengan lift ke lobi tempat ia pertama kali masuk tadi. Di sana, wanita resepsionis itu masih ada dan tersenyum padanya.


Mudah-mudahan tak apa-apa aku menunggu di sini, batin Marina saat melewati wanita itu.


Tak lama saat ia duduk di kursi sofa seperti sebelumnya, wanita resepsionis itu mendatanginya. "Mbak."


"Eh, iya." Marina jadi salah tingkah. Apa ia masih tidak boleh di sini?


"Eh, kenapa Mbak ngak menunggu di tempat Presdir aja ya? Di situ 'kan lebih nyaman?"


"Oh, kalau begitu, tidak apa-apa, Mbak kalau mau menunggu di sini. Silahkan saja." Wanita resepsionis itu ternyata memberinya izin.


"Eh, terima kasih."


Namun resepsionis tak juga pergi. "Mmh, kalau masih lama, apa Mbak mau minum sesuatu?"


"Oh, boleh."


"Hangat atau dingin?"


"Apa saja."


"Ok, ditunggu ya, Mbak."


"Ah, terima kasih." Ah ternyata baik juga resepsionisnya.


Marina akhirnya bisa duduk tenang dan menunggu di sana. Ia mendapat secangkir teh hangat dari resepsionis itu sambil bercanda dengan bayi Farhan yang telah menghabiskan susunya. "Anak Mami pinter, habis susunya. Kamu mau apa sekarang. Main? Sebentar, Mami ambil dulu mainan kamu."


Marina mengeluarkan mainan bayi berbentuk gelang yang berbunyi ketika digerakkan. Ia membersihkan dengan tisu basah sebelum memberikannya pada sang bayi. Bayi itu langsung mengambil dan menggigitnya.


Sejam berlalu, hingga bayi mulai mengantuk. Marina menidurkannya di atas perut dengan senandung kecil dan usapan pada punggung dan kepala bayi yang sedang tengkurap. Tubuh bayi itu nyaman tidur di atas tubuh wanita itu yang memang sedikit gemuk. Ia terlelap dengan tenang.


Tiba-tiba resepsionis itu datang kembali. "Eh, Mbak dicari Presdir. Hampir saja mau diumumkan di tiap lantai, tapi tadi saya sudah lapor Mbak ada di sini, jadi Pak Abigail akan ke sini."


"Oh, begitu. Iya Terima kasih." Marina bersiap-siap memakai tas dan memasukkan bayi Farhan dalam kain gendongan dengan hati-hati.


Lift terbuka. Beberapa pegawai keluar bersama Abigail.


"Oh, kau di sini rupanya. Aku mencarimu ke atas, tapi gak ada. Hampir saja aku mengumumkannya di tiap lantai. Untung saja, resepsionis memberi tahu kau ada di sini." Pria itu menoleh pada sang resepsionis. "Terima kasih ya?"


Resepsionis itu hanya menganggukkan kepala.


Abigail mendatangi Marina. "Bagaimana kalau kita pergi makan siang sekarang? Sebentar lagi juga jam makan siang."


"Eh ... pergi ke mana ya?"


"Keluar, kita pergi ke restoran. Ada restoran makanan Cina dekat sini yang lumayan enak."


"Eh ...." Marina terlihat bimbang.


"Kenapa? Kau masih takut ya?"


Wanita itu memperlihatkan gigi putihnya.


"Aku tidak tahu masalahmu apa dengan orang itu tapi jangan takut. Kamu 'kan pergi denganku."


Wanita itu terdiam ragu. "Apa kita tidak makan di sini saja? Mungkin di kantin. Uangku tidak cukup untuk makan di restoran mewah." Akhirnya ia berterus terang.


Pria itu tersenyum. "Kamu ini ... Kamu 'kan pergi denganku, jadi pasti aku yang mentraktirmu."


"Aku sudah banyak menyusahkan di sini tapi Kakak masih traktir aku juga. Aku jadi gak enak, Kak."


"Apanya yang ngak enak? Kamu tamu di tempatku. Apalagi aku laki-laki. Tugas laki-laki memang harus mentraktir perempuan. Ayo, sekarang ikut saja. Kita makan di luar."


Dengan sedikit malu, Marina akhirnya ikut dengan Abigail makan di luar.


__________________________________________


Bagaimana dengan novel keren teman author ini?