Author And The Baby

Author And The Baby
Tinggal



Marina tertunduk sambil memeluk bayinya yang wajahnya tertutup kain gendongan. Ia terlihat cemas.


Abigail hanya bisa memberikan senyuman terbaiknya sebagai penawar rasa khawatir wanita itu.


Sesampainya di kantor, ia membawa wanita itu ke ruang kerjanya yang berada di ujung ruangan.


Marina sempat melihat sekitar yang dipenuhi beberapa pegawai yang sedang bekerja dan mereka juga memperhatikan wanita itu.


Tentu karena pemandangan yang tidak biasa di mana bos mereka membawa seorang wanita yang membawa bayinya sebagai tamu. Ada hubungan apa bosnya dengan wanita yang membawa bayinya itu?


Marina juga terkejut saat memasuki ruangan itu yang dipenuhi banyak pegawai dan ruang kerja pria itu ada di ujung ruangan. Jangan-jangan pria ini ....


Saat memasuki ruangan, barulah ia mengerti siapa Abigail sebenarnya. Di atas meja terpampang jabatannya. Presiden Direktur. "Eh, Kakak ... eh ...." Ia menunjuk papan nama di atas meja itu.


"Kenapa?"


"Kakak Presiden Direktur?" tanya wanita itu seraya kesulitan menelan salivanya. Masalahnya pria itu selalu pergi ke kantor dengan hanya memakai pakaian kantor yang sederhana. Kemeja dan celana bahan sehingga Marina tak menyangka kalau Abigail justru adalah pemilik perusahaan itu sendiri.


"Oh," ucap pria itu sambil tertawa ringan. "Itu cuma jabatan saja."


"Jabatan saja bagaimana?" sahut Marina tercengang. "Kau pemiliknya 'kan?"


"Ya bisa dikatakan begitu," ujar pria itu merendah.


Marina merasa malu telah lancang pada seorang Presdir muda seperti Abigail. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya meminta maaf. "Maaf, Pak. Maaf."


"Kamu itu kenapa sih, Marina? Kita 'kan berteman. Kita juga bertetangga. Tidak ada yang berubah denganku, Marina."


"Tapi a-aku jadi merasa tak enak padamu, Pak. Karena kemarin itu, Bapak menolong aku yang pingsan di depan kamarku sendiri waktu itu dan Bapak juga bantu aku hingga bisa berobat di klinik. Aku merasa diriku sudah sangat keterlaluan dan menyusahkan Bapak." Marina menunduk kaku dengan segala ucapannya yang tak berhenti membuat pria itu tersenyum melihatnya.


Abigail meraih tangan wanita itu. "Marina, ini aku, Abigail. Tetanggamu."


Marina mengangkat kepala pelan, sedikit mengintip reaksi di wajah pria itu yang ternyata tersenyum padanya.


Tentu saja wajah wanita itu merah merona di pipinya karena pria itu bukan saja menggenggam tangannya tapi juga memberi senyuman yang merekah indah di wajah tampannya itu.


Jantung Marina tiba-tiba berdetak cepat. Kembali ia merasa kebingungan akan apa yang harus dilakukannya.


"Jadi, kenapa kau sampai di sini?" Abigail menggoyang-goyangkan tangan wanita itu yang menyebabkan wanita itu segera tersadar dari pesona yang telah menghipnotisnya barusan.


"Eh, eh, aku ...."


"Bukannya tadi kudengar kau mau pergi?"


Marina melirik tangannya yang masih di genggam pria itu membuat Abigail segera tersadar dan melepasnya.


"Oh, maaf." Pria itu kemudian menggunakan tangannya itu untuk menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Maksudku tidak ...." Ia tak tahu kalimat apa yang sebenarnya mau ia ucapkan.


Sesaat mereka dalam kecanggungan yang nyata.


"Oya, tadi eh ... ehem. Kenapa kau kau ke sini? Tadi aku dengar kau mau pergi ya?" Abigail tak tahu bagaimana meletakkan tangannya sehingga sangat kacau. Menyatu ke depan dan akhirnya ke belakang.


"Eh, itu ...." Marina masih belum mengangkat kepalanya. Ia terlihat bimbang.


"Kau menghindari seseorang?"


Segera netra wanita itu terangkat, kemudian wajahnya. "Bagaimana kau tahu?"


"Oh, benar ya? Aku hanya menebak-nebak saja," jawab pria itu dengan senyuman.


"O-oh," jawab Marina singkat.


"Jadi?"


Marina bingung menjawabnya. Kini ia yang menggaruk-garuk kepalanya."Kalau aku bisa ...."


"Tapi ini ruang kerjamu ...."


"Tidak apa-apa, pakai saja."


"Bagaimana kalau ada tamu ...."


"Oh, tidak ada."


"Benarkah?"


"Iya." Abigail melirik ke arah bayi dalam gendongan Marina. "Kenapa kita selama ini bicara ia tak bangun?"


"Entahlah. Kalau tidur, Farhan memang seperti orang mati. Apalagi kalau digendong begini. Nyenyak tidurnya. Dia hanya bangun kalau ada suara keras."


"Benarkah? Lucu sekali." Pria itu kembali tersenyum.


"Kamu mau lihat wajah malaikatnya?" Marina ingin memperlihatkan wajah bayi itu pada Abigail tapi pria itu menolaknya.


"Oh, tidak usah." Tiba-tiba saja ia diserang kenangan tentang bayinya. Seketika rindu dan ia takut seterusnya ada titik-titik air mata yang tak ingin ia bagi dengan Marina. Cukup hanya ia saja yang merasakan, tidak orang lain. "Eh, aku mau kerja dulu. Pilih saja tempat yang nyaman untukmu duduk di sofa."


Marina melirik ke arah sofa empuk yang ada di sana. "Oh, terima kasih."


Abigail melangkah ke arah kursi meja kerjanya dan Marina ke arah sofa empuk dihadapan dan tak lama mereka mulai tenggelam dalam kesibukan mereka masing-masing ... awalnya.


Kemudian, mencuri pandang. Saat Abigail memeriksa berkas, ia tergoda ingin melihat kegiatan Marina. Wanita itu sedang bersandar di kursi sambil menyandarkan bayi itu ditubuhnya dengan tengkurap. Wanita itu sibuk mengetik di HP-nya.


Tiba-tiba wanita itu menggerakkan tubuhnya membuat Abigail terkejut dan kembali fokus pada pekerjaannya. Kini Marinalah yang mengintip pria itu.


Wajahnya memang tampan. Tak perlu di ragukan lagi. Marina mengaguminya.


Terdengar ketukan di pintu yang membuat keduanya panik. Staf wanita Abigail datang menyerahkan data-data pada pria itu. Abigail berdehem sebentar sebelum berbicara dengan staff wanitanya itu.


Marina memperhatikan dari kursinya. Apa pria setampan itu menyukaiku? Ah, kamu bodoh, Marina. Mungkin benar apa yang dikatakan pria itu. Ia butuh teman dan hanya teman.


Jangan melambung terlalu tinggi karena pria itu terlalu sempurna untukmu. Lihatlah tempat kamu berpijak, Marina. Jangan terlalu tinggi atau kau akan sakit saat jatuh nanti. Pria itu hanya sampai di angan tidak di nyata maka bangunlah, Marina. Bangunlah.


Bayi Farhan tiba-tiba bergerak, membuat wanita itu kembali fokus.


Staff wanita itu kemudian keluar. Abigail melirik Marina yang tengah sibuk mengurus bayi yang tiba-tiba terbangun.


"He ... Farhan ... Sudah bangun ya? Mmh, anak Mami sudah bangun ya?"


Bayi itu mulai merengek.


Marina menciumi wajah bayi itu dengan gemas. "Mmh, anak Mami sudah bangun. Mau apa, Sayang? Mau minum susu?"


Bayi itu seakan mengerti dengan kembali merengek pada wanita itu.


Abigail yang melihat dari kursinya hanya tersenyum melihat tingkah Marina pada bayi itu. Ternyata ia tak sesetres yang ia pikirkan, saat melihat Marina bersama bayi itu bercengkrama. Bahkan sangat menghibur walau sebagian hatinya masih terdampak oleh kesedihan.


"Eh, boleh aku minta air panas? Aku sebenarnya bawa tapi mungkin sudah dingin," tanya Marina dari kejauhan. Ia melepas kain gendongannya dan meletakkan bayinya di atas sofa.


"Oh, boleh. Ada mesin air mineral yang bisa panas di depan ruangan ini," terang Abigail.


Marina melepas tasnya dan mengeluarkan susu botol yang sudah diisi susu bubuk bayi. Ia melangkah keluar. "Oya, maaf, titip Farhan ya? Ia suka berguling." Ia keluar dan menutup pintu.


Mau tak mau Abigail berdiri. Apalagi tangan dan kaki bayi itu terlihat aktif di kejauhan. Perlahan bayi itu mulai miring. Pria itu tentu saja was-was. Ia mulai mendekat.


___________________________________________


Yuk, intip novel teman author yang keren ini.