Author And The Baby

Author And The Baby
Siapa?



Marina mengangguk dengan senang. Ia menerima bayi itu kembali ke dalam gendongan.


"Ayo, kita selesaikan makan siang kita, setelah itu kita ke kantor polisi."


"Kantor polisi?" Netra wanita itu membulat sempurna.


"Mmh." Abigail mengunyah makanannya. "Untuk memberi tahu kalau bayinya telah ditemukan. Jadi polisi tidak perlu mencari lagi."


Marina mengangguk-angguk.


------------+++-----------


Di kantor polisi, Marina memberi keterangan, tapi polisi tidak begitu saja percaya karena Abigail dan Marina kebetulan tinggal masih dalam satu blok apartemen yang sama dan telah saling mengenal sebelumnya. Gedung apartemennya pun letaknya bersebelahan dengan kantor Abigail, sehingga mereka berdua kini diinterogasi.


Abigail mulai merasa dicurigai, dan kembali kesal saat di interogasi. "Demi Allah, Pak aku tidak tahu bayi yang diasuhnya itu bayiku."


"Apa Bapak bisa buktikan itu?" tanya polisi yang mencecarnya.


"Aku bertemu wanita itu di luar kota, di sebuah kafe," terang Marina menegahi pertikaian antara polisi dengan Abigail. "Di kafe itu ada CCTV-nya kok, jadi Bapak bisa periksa ke sana." Ia membeberkan fakta. "Bapak bisa tanya dengan pegawai di sana karena aku pun menitipkan nomor telepon, bila sewaktu-waktu wanita itu kembali dan mencari bayi itu."


"Ok, berikan alamatnya."


Marina memberi tahu letak kafe itu dan namanya. "Kafe Kenangan. Walaupun sekilas tapi aku masih ingat wajah wanita itu. Rambutnya panjang dan sedikit bergelombang."


"Rambut?" Abigail menoleh dan mengerut kening. "Tapi bagaimana kau tahu rambutnya panjang karena almarhum istriku berjilbab, Marina?"


"Apa?" Marina tak kalah terkejut. "Tapi wanita yang kutemui itu tidak memakai jilbab."


"Hah?" Abigail kini mulai bingung. "Rambut almarhum istriku juga panjang tetapi lurus. Jadi sebenarnya kamu bertemu dengan siapa?"


Marina melongo.


"Sudah, begini saja. Karena katanya di kafe itu ada CCTV-nya, kita periksa saja CCTV itu karena dengan CCTV itu semuanya akan menjadi jelas." Kini polisi yang menginterogasi Marina yang menengahi antara Abigail dan Marina. "Cuma, kebetulan kalian berdua ini memang posisinya sangat mencurigakan sehingga tidak heran kalau kami interogasi."


"Benar, Pak saya ini korban. Saya tidak akan mungkin membunuh istri saya," ucap Abigail lemas.


"Ya, ya. Mudah-mudahan CCTV ini bisa mengungkap kejadian yang sebenarnya, agar segera diketahui penyebab kematian istri anda, Pak."


Abigail menghela napas pelan. "Kenapa ke manapun aku pergi, tidak ada satu pun orang yang percaya pada ceritaku ya?"


"Karena Bapak juga kebetulan tak akur dengan istri Bapak, itu awal mula kecurigaan banyak pihak, Pak," terang polisi itu.


"Aku percaya." Lagi-lagi Marina tersenyum. Senyumnya banyak memberikan semangat pada pria itu.


"Terima kasih, Marina."


"Intinya begini, Pak. Kami berusaha menyelesaikan kasus ini jadi bila kami mencurigai seseorang yang dianggap baik itu semata-mata karena kami bergerak dan bertidak berdasarkan fakta di lapangan. Tidak lebih dan tidak kurang."


"Mmh." Abigail kembali menghela napas.


Setelah selesai di kantor polisi, mereka kembali ke dalam mobil.


"Marina, sekarang kamu pindah ke apartemenku ya?" sahut pria itu saat mengeluarkan ponselnya.


"O iya, ya?"


Abigail melirik wanita itu lewat cermin atas mobilnya dan tersenyum. Ternyata semesta mendukungnya untuk memiliki wanita ini. Sebuah kebetulan-kebetulan yang dari awal ia mengenal wanita itu. Kemudian dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan yang mengakrabkan dan kini mendekatkan. Tuhan, apakah kebahagiaanku telah datang?


Sesampainya di apartemen. Mereka mendatangi unit apartemen Abigail terlebih dahulu. "Letakkan saja Farrel di atas tepat tidur, dan setelah itu kamu bawa barang-barangmu kemari. Biar Farrel aku yang urus." Abigail membuka pintu kamarnya.


"Oh, iya, Pak."


"Kok Pak sih?" Pria itu protes.


"Aku tak mau terlihat tua." Pria itu mengerut alis.


Marina tertawa. "Iya, Kak."


"Nah, gitu dong."


Sementara wanita itu keluar, Abigail sibuk dengan Farrel. Ia mengeluarkan mainan berbentuk gelang yang berbunyi dari dalam tas ransel Marina.


Farrel meraihnya dan mulai mengigiti mainan itu. Abigail menggendongnya. "Farrel. Kamu ternyata sehat-sehat saja ya, Sayang." Ia mengusap kening bayi itu.


Pikiran menerawang kembali ke ucapan polisi itu. Siapa sebenarnya wanita yang ditemui Marina waktu itu dan ada hubungan apa dia dengan Alena? Apa wanita itu masih keluarga Alena, karena hingga detik ini, mereka masih memusuhiku. Sepertinya ada seseorang yang berusaha untuk memperkeruh suasana. Siapa dia dan ada kepentingan apa?


Tak butuh waktu lama, wanita itu sudah kembali dengan barang-barangnya. Ia membawa koper dan beberapa barang lainnya di dalam bungkusan plastik.


"Kau akan menempati kamar yang kemarin itu." Pria itu membukakan kamar itu untuk Marina sambil menggendong Farrel. Wanita itu masuk dengan membawa barang-barangnya. "Hanya segitu, barang-barangmu?"


"Masih ada lagi, Kak. Laptopku belum kubawa."


"Ok, feel free(bebas saja) untuk melakukan apapun di sini ya? Asal menjaga kebersihan rumah. Mau masak, olahraga raga atau apapun asal kau urus Farrel dengan benar. Aku tidak ingin kamu melupakan tugasmu mengurus Farrel."


"Siap, Kak." Marina menangkup tangan dan meletakkannya di dahi.


Abigail mengembangkan senyumnya. "Kalau kamu butuh apa-apa, eh maksudku untuk Farrel, tinggal telepon saja. Atau tinggalkan pesan kalau aku tidak bisa mengangkatnya. Oya, hari minggu kamu libur ya, tapi akan digaji 2 kali lipat kalau mau mengurus Farrel."


"Ah, baik, Kak." Marina menganggukkan kepala. "Oya, Kak. Aku mau bersihkan apartemenku dulu sebelum menyerahkan kuncinya pada orang kantor lamaku karena tidak enak mengembalikan apartemen kalau tidak dibersihkan dulu."


"Orang kantor? Apa tadinya kau bekerja di kantor?" Abigail sedikit terkejut.


"Eh, iya, Kak tapi udah resign(berhenti). Itu tadinya fasilitas kantor, sewa setengah harga dan masih diberikan setelah resign."


"Oh."


"Eh, jadi aku minta tolong titip Farrel sebentar, ya Kak."


"Oh, ya. Tidak apa-apa. Aku tidak akan kembali ke kantor lagi hari ini. Sebentar lagi, boks bayinya akan datang."


"Maaf ya, Kak."


"Tidak apa-apa. Pergilah." Pria itu kembali ke kamarnya dengan menggendong Farrel.


Marina meletakkan barang-barangnya di kamar itu dan kembali lagi ke apartemen. Setengah jam kemudian, ia kembali dengan membawa sisa barang-barangnya, tapi ia menemukan boks bayi di kamarnya. Padahal ada boks bayi juga di luar kamar.


"Eh ...."


Pria itu datang membawa bayi Farrel. "Aku sengaja membeli 2 boks bayi. Yang di kamarmu ini kalau malam. Dia sebaiknya tidur denganmu karena tidak mungkin kamu bolak-balik ke kamarku kalau ia terbangun. Yang di luar kalau kamu sedang berada di luar kamar, jadi kamu tidak perlu bolak-balik memeriksa ke kamar."


"Oh, iya, Kak."


"Dan satu lagi." Abigail menyerahkan bayi Farrel pada Marina. "Pampers-nya mesti diganti karena sudah bau pesing."


Marina tertawa. "Iya, Kak." Ia menggendongnya. "Ih, anak Mami bau pesing ya? Eh, anak Mami. Anak Tante ya?" Ia tertawa sendiri dan meletakkan bayi itu di atas tempat tidurnya. "Nanti dulu ya, Tante cari pampers kamu dulu. Dimana aku taruh ya? Lupa."


Marina berbicara dan sibuk sendiri sementara pria itu keluar dari kamar Marina. Ia menyayangkan wanita itu tak menyebut dirinya 'Mami' lagi untuk Farrel tapi ia bertekad untuk membuat itu jadi kenyataan.


Sanggupkah ia melakukannya?


___________________________________________


Sementara menunggu kelanjutannya, intip novel temen author yuk!