Author And The Baby

Author And The Baby
Persiapan Pernikahan



Akhirnya dibuatlah tanggal yang disetujui bersama. Semua selesai saat makan siang berakhir. Abigail kembali akan mengantar ibu Marina ke rumah sakit.


"Saya turun prihatin ya, Bu, adik Marina terkena musibah seperti itu." Mama mengomentari masuknya Alan ke rumah sakit karena kecelakaan. Ia menggenggam tangan ibu Marina menandakan ia ikut mengkhawatirkannya.


"Terima kasih, Bu," sahut ibu Marina senang.


"Apa kami tidak terlalu mendesak ibu untuk mengadakan pernikahan?"


"Oh, tidak. Aku tidak mau menunda jodoh yang datang. Lagipula, Alan pasti senang kakaknya akhirnya menikah juga."


"Terima kasih, Bu,"


"Sama-sama."


Mereka saling menguatkan tangan mereka yang saling berpegangan.


----------+++------------


Maka mulailah Abigail mencari EO(Event Organizer) yang bisa dipercaya untuk mengurus acara pernikahannya. Marina diminta hanya mengurus Farrel dan novel online-nya saja, sementara pria itu yang mengurus segala keperluan untuk pernikahan mereka.


Ternyata, Marina lebih mudah mengiyakan saat ia tidak terlibat langsung dalam mengurus pernikahan mereka. Ia cukup mendamping pria itu ke KUA atau bahkan mengepas baju. Ia menyerahkan segalanya pada Abigail karena kesibukannya menulis novel dan mengurus Farrel yang belakangan banyak menyita waktu.


Apalagi, Farrel semakin aktif saja. Ia sudah bisa duduk dan banyak bicara.


Abigail tentu saja menjadi lebih leluasa memilih. Ia meminta EO bisa membuat acara pernikahan yang sakral untuk keduanya. Apalagi kemudian diketahui, EO mendapatkan hotel yang sanggup untuk menjadi tempat pesta pernikahan mereka. Pria itu merasa beruntung.


Marina juga membuat baju nikah sesuai dengan ukurannya sekarang. Abigail juga mewanti-wanti agar berat badannya tak mudah naik turun agar tak sering ada perbaikan.


Walaupun begitu, wanita itu tanpa diminta, kini selalu menjaga kesehatan dengan berolahraga dan banyak makan buah dan sayuran. Tiap pagi Marina menyempatkan diri menitipkan Farrel pada pria itu karena ingin jalan pagi. Sepertinya olahraga ini lebih disenangi Marina dibanding berenang. Selain tidak mengganggu jadwal Abigail berangkat ke kantor, olahraga ini tidak banyak menyita waktu.


Hingga akhirnya waktu itu tiba. Marina harus pulang ke rumah ibunya karena dipingit.


Abigail setengah hati melepas wanita itu padahal ia tahu itu cuma sementara. Rasa takut kehilangannya begitu kuat setelah kehilangan istri pertamanya. Ia begitu takut kehilangan untuk kedua kalinya. Karena itu ia mengantar Marina sampai ke rumahnya sedang Farrel sudah diurus Mama di rumah walau sedikit rewel. Ia mengantar bahkan sampai depan pintu rumah wanita itu.


"Sudah, Kak. Aku tidak apa-apa," komentar Marina saat pria itu masih membuntutinya sampai ke depan pintu.


"Tapi aku apa-apa," ucap pria itu mengerucutkan mulutnya.


Marina menerbitkan senyum lebarnya. Ia tak menyangka Abigail begitu sangat mencintainya. "Kak, ini 'kan hanya seminggu."


"Aku tau." Pria itu menunduk.


"Lalu kenapa?"


"Kenapa bagaimana? Kau tidak terlihat kehilangan sama sekali. Apa kau yakin kau mencintaiku?"


"Kak ...." Wanita itu tersenyum lebar. "Kita 'kan sudah mau menikah."


"Tapi kau seperti tidak bersedih berpisah denganku."


"Kak, kesedihan itu tidak perlu ditampakkan. Aku tidak ingin membuat orang lain khawatir."


"Tapi aku butuh." Abigail tertunduk. "Aku ingin merasa kau mengkhawatirkanku. Aku ingin dirindukan dan aku ingin merasa diinginkan. Kau tidak pernah menampilkan itu padaku."


Ya, Marina tidak pernah memperlihatkan perasaannya karena mereka bukan mahramnya. Ia tak ingin Abigail tergoda, tapi Abigail menganggapnya lain.


Dengan senyum paling manis miliknya, wanita itu meraih tangan pria itu dan memeluknya. Ia kemudian meletakkan kepalanya di bahu Abigail.


Pria itu mengangkat kepala dan mulai tersenyum. Setidaknya hatinya mulai tenang.


---------+++---------


"Ibu kok datang sendiri?" tanya Alan heran. Seorang perawat laki-laki baru saja selesai menggantikannya pakaian.


"Memang kenapa?" Ibu datang menghampiri. "Kau sudah mandi?"


"Sudah."


Perawat laki-laki itu kemudian pamit.


"Mmh."


"Ibu belum jawab pertanyaanku."


"Ibu balas dendam ya, sama aku," rengek Alan. Sejak sakit, pria itu sering merengek pada ibu karena ibu sering meledeknya. Ia tak bisa membalasnya karena tubuh yang tak berdaya.


"Menurutmu bagaimana?"


"Ibu ...." Alan menahan rasa kesalnya dengan merengut. "Aku cuma tanya Kak Marina, ibu ngak mau jawab!" Mulut pria itu makin mengerucut.


"Marina ada di rumah, untuk apa dia ke sini?"


Pria itu terkejut. "Kenapa dia di rumah, Bu? Dia sudah berhenti bekerja?"


"Marina mau nikah, jadi dipingit dulu."


Alan malah melongo. "Nikah dengan siapa?"


"Ya nikah dengan bosnya itu."


Pria itu masih tak percaya. "Mereka sudah tidur bersama?" tanyanya dengan suara rendah.


Pertanyaan itu dijawab dengan jeweran di telinga Alan.


"Aduh, Ibu!" Pria itu mengusap telinganya.


"Kamu itu, mulutnya ... Apa kakakmu Marina orang seperti itu!" hardik ibu dengan bertelak pinggang di depan anak lelakinya itu.


"Bukaaan ... aku justru mencurigai bosnya itu mabuk dan meniduri kak Marina." Kembali pria itu mendapat jeweran dari ibu. "Aduh, ibuuu ... sakiiit ...," keluh pria itu sambil kembali mengusap-usap telinganya.


"Ya gak mungkin begitu, kamu ini ... Itu fitnah namanya. Bosnya itu pria baik-baik."


"Tapi apa betul bosnya itu menyukai Kak Marina? 'Kan Kak Marina gendut, Bu."


"Ya, 'kan bosnya itu yang mendesak agar bisa menikah cepat." Ibu mulai kesal mendengar pernyataan Alan.


Namun pria itu masih belum percaya. "Apa jangan-jangan dia pernah ngintip Kak ...."


Ibu kembali menjewernya.


"Ibuuu ...."


"Apa kau tak percaya, bosnya itu menyukai kakakmu?"


"Orang setampan itu? Pasti ada masalah dengan matanya."


Alan berusaha menghindar, tapi karena kondisinya, ia kembali kena jewer ibu. "Ibuuu, kenapa ibu menyakitiku ...," rengek pria itu.


"Karena kamu tidak percaya ada orang yang menyayangi kakakmu yang tulus itu padamu!" bentak ibu kesal.


"Ibu kenapa sih? Wajar 'kan seorang kakak bekerja keras untuk adiknya yang lemah ini," kilah Alan.


"Ya. Karena KAMU SELALU MENGAKU LEMAH, Tuhan mengabulkan keinginanmu. Apa kamu puas sekarang!" Ibu masih memarahi Alan dengan bertelak pinggang.


Alan mengerucutkan mulutnya, tapi kemudian tertunduk.


"Lelaki macam apa yang membiarkan seorang wanita bekerja, hah? Lelaki macam apa?"


Alan tak bisa pergi karena kondisi kakinya dan kini harus mendengarkan omelan ibu. Omelan yang berasal dari pertanyaannya sendiri.


----------+++-----------


Hari-hari dilalui Marina dengan menulis novel. Tentu saja, di sela-sela itu ia menggunakan waktunya dengan merindu. Mengingat hari-harinya bersama Abigail dan Farrel. Kedua laki-laki itu sangat dirindukannya sehingga ia berusaha mengalihkannya dengan menulis.


Abigail terlebih lagi. Pria itu kadang mengobati rasa kangennya dengan wanita itu dengan makan makanan kesukaan Marina.


Mama sampai heran karena pembantu di rumah selalu menyediakan mi bakso untuk Abigail makan malam. Pria itu tak pernah bosan memakannya. Bahkan karena itu, berat badannya naik karena makan terlalu malam.


Ia juga sering menelepon Marina di pagi hari. Sekedar menanyakan kabar dan untuk penyemangat ia bekerja. Ia juga makin rajin membaca novel wanita itu yang selalu ia tunggu setiap harinya, sampai akhirnya saat itu tiba. Saatnya mereka menikah.


___________________________________________


Yuk, intip novel bagus berikut ini.