Author And The Baby

Author And The Baby
Rencana



Marina kembali dan melihat pria itu tengah menggendong Farrel yang baru saja terbangun.


"Oh, tolong susunya ya?" pinta Abigail yang diiyakan wanita itu.


Marina segera ke dapur. Tak lama ia kembali dengan botol susu Farrel. Ia mengambil Farrel dari pria itu dan menarik kursi di meja makan. Ia menunggui Farrel mengedot susunya di sana.


Abigail ikut duduk dan memperhatikan Farrel mengedot susu botolnya. "Mmh, Marina. Kenapa kamu tidak ingin pulang ke rumah? Padahal aku bisa mengantarmu. 'Kan sekarang hari libur, aku punya waktu senggang."


Marina menoleh. Ia tak tahu harus menjawab apa. "A-aku tidak ingin merepotkan Kakak."


"Tidak repot kok, sekalian aku ingin berkenalan dengan keluargamu."


Wanita itu benar-benar bingung harus menjawab apa. Di satu sisi Abigail adalah bosnya, dan di sisi yang lain, ia tidak ingin orang tahu bahwa ia sebenarnya sengaja kabur karena suatu masalah. Ia tidak ingin dikasihani walaupun Abigail adalah temannya.


"Eh, aku mau nonton film kartun saja, Kak. Farrel biasanya suka nonton film animasi kalau sudah bangun." Marina beranjak berdiri tanpa persetujuan Abigail dan melangkah meninggalkan pria itu. Ia duduk di sofa dan menyalakan TV.


Abigail menghela napas pelan. Apa ada yang salah dengan ucapannya tadi? Apa ia telah membuat wanita itu tersinggung? Ya Allah.


Abigail mengikuti Marina dengan duduk di sofa di sebelahnya, membuat wanita itu kini tak merasa nyaman. "Apa aku salah bicara ya? Maaf, maafkan aku ya? Aku tak bermaksud membuatmu kesal," bujuk Abigail. Ia tidak tahu sumber kekesalan Marina hingga meninggalkannya begitu saja di meja makan. Ia tidak ingin wanita itu salah paham dengan niat baiknya. "Maaf kalau kesannya aku terlalu mencampuri urusan pribadimu."


Padahal Marina tidak sedang kesal. "Eh, tidak apa-apa, Kak. Aku hanya, belum bisa kembali pulang," terang wanita itu pelan. Ia jadi serba salah.


"Mmh." Pria itu menyandarkan tubuh dengan melipat tangan di dada. "Aku teringat kata-kata adikmu tadi."


Netra wanita itu kembali menoleh dari layar ke arah Abigail. "Jangan didengar omongan adikku, Kak. Dia suka mengada-ngada. Karena itu aku tak mengizinkan dia masuk, sebab ada saja nanti yang komentarinya!"


"Tapi, aku memikirkan apa yang dikatakannya tentang hidup bersama, dan itu sangat menggangguku." Abigail menatap ke arah TV dengan menyentuh dagunya.


Telinga wanita itu memanas. "Makanya jangan didengar, Kak. Kita tidak melakukan apa-apa. Aku juga 'kan kerja di sini." Ia jadi tak enak hati dengan Abigail.


"Maksudku, aku akan membeli rumah saja di mana aku bisa mempekerjakan banyak orang untuk mengurus rumah dan Farrel."


Marina terlihat sedih. "Dan kau akan mempekerjakan babysitter sungguhan 'kan buat Farrel?" Wanita itu tertunduk. "Iya, aku dibanding mereka, tidak ada apa-apanya."


"Oh, bukan begitu, Marina. Kau tetap Maminya Farrel." Saat itu Abigail kembali merasa telah salah bicara. "Eh, maksudku, kau tetap mengurus Farrel, tapi akan ada banyak orang yang mengurus rumah membantumu.


Mereka akan mencucikan pakaian, membersihkan rumah, dan memasak jadi kau tidak perlu lagi mengurus yang lain kecuali mengurus Farrel. Hanya mengurus Farrel."


Marina terharu mendengar penjelasan pria itu. "Terima kasih, Kak. Kakak masih mau mempekerjakan aku." Matanya berkaca-kaca.


"Tentu saja aku akan terus mempekerjakanmu, Marina. Aku hanya mau menyerahkan pengasuhan Farrel pada orang yang aku percaya," ucap pria itu dengan senyum bahagia.


Mana mungkin ia akan melepas wanita itu begitu saja, setelah apa yang telah dilaluinya bersama. Terlebih, hatinya kini sudah mulai tertambat pada wanita ini.


Marina ikut tersenyum bahagia dan menatap Farrel. Ia mengecup pipi bayi itu dengan senang membuat Farrel yang sudah bisa memegang botol dotnya sendiri itu, menyentuh pipi wanita itu. Marina mengecup dahi Farrel saking senangnya. "Rumah baru ya," gumamnya.


"Mmh. Aku sudah terlanjur menjual rumahku, karena itu aku akan membeli rumah baru dan mulai hidup baru."


"Mmh."


"Aku berencana mengajak makan malam keluarga Sila di sini. Bagaimana menurutmu?" Tiba-tiba saja pria itu mengatakan idenya.


"Makan malam?" Marina menatap heran pada Abigail.


"Iya. Sebagai rasa terima kasihku karena telah banyak membantumu mengurus Farrel. Ya, sekedar makan malam, pasti mereka suka."


"Nanti malam."


"Oh, tapi, bagaimana dengan makanannya? Bagaimana aku memasak?" Marina terlihat panik.


"Oh, kamu tidak perlu repot. Aku bisa pesan delivery."


"Oh, syukurlah." Marina bernapas lega.


"Aku tak mungkin merepotkanmu dengan memasak makan malam sebanyak itu, Marina. Kau cukup menata meja untuk makan malam mereka." Abigail tertawa. "Oya, memberi tahu mereka!" Ia menjentikkan tangannya untuk kalimat terakhir itu membuat Marina mengiyakan.


"Aku bisa telepon mereka sekarang, Kak."


"Ok, sini biar Farrel aku yang gendong."


Marina menyerahkan Farrel pada pria itu dan meraih ponselnya. Ia mulai menelepon.


------------+++-----------


Mereka tertawa bersama-sama. Meja makan terasa penuh dengan keceriaan. Abel dan Dodo mengajak bercanda bayi Farrel dalam kereta bayi di sofa ruang tengah dan para orang dewasa mengelilingi meja makan dengan mengobrol dan makan bersama.


Tiba-tiba terdengar tangis bayi. Marina segera beranjak dari kursi dan mendatangi kereta bayi Farrel di ruang tengah. Ia yang tadi duduk diapit Abigail dan Anka, menyisakan tanya pada Abigail melihat cara Anka memperlakukan Marina sedari tadi. Sejak makan tadi, netra Anka tak pernah jauh dari memandang wanita itu.


Sebenarnya pria itu sempat curiga pada Anka, tapi kini kecurigaannya mulai terbukti. Ia merasa pemuda itu menyukai Marina karena kini mengekor wanita itu ke ruang tengah.


"Apa Anka selalu begitu, mengikuti Marina ke mana-mana?" tanya Abigail pada suami istri Sila dan Surya di meja makan.


Sila dan Surya saling pandang dan tersenyum. Ia menatap Abigail. "Ya, begitulah."


"Jadi?" Abigail penasaran arti dari kalimat yang dilontarkannya sendiri.


"Kami tidak tahu, itu urusan mereka." Sila mengendikkan bahu, tak mau ikut campur.


Tak lama Marina keluar dari dapur membawa botol susu Farrel. Ia duduk di sofa menggendong Farrel dan memberikan bayi itu botol susunya. Segera bayi itu mengambil dan memasukkan ke dalam mulut walau tidak pas. Wanita itu membantu mengarahkan dot itu ke mulut bayi itu dengan benar.


Ada sedikit tumpahan susu dekat mulut Farrel yang kemudian dibersihkan dengan tisu oleh Marina.


Abel, Dodo dan Anka yang mengelilinginya sibuk mengomentari si kecil yang mulai pintar memegang botol susu sendiri dan mengedot susu botol itu dengan cepat. Anka duduk menempel pada wanita itu yang membuat Abigail sedikit tak nyaman.


Pria itu berusaha menahan kesalnya hingga tamu pulang. Apalagi Anka sempat meminta alamat Abigail sekiranya Marina pindah ikut Abigail nantinya.


Marina merapikan meja dari piring kotor dan membawanya ke dapur karena Farrel sudah tidur dalam boks bayi di luar. Saat itulah tiba-tiba Abigail mendatanginya di dapur. Pria itu hanya diam dan memandangi wanita itu mencuci piring. "Ada apa, Kak? Kakak butuh sesuatu?"


"Apa kau menyukai Anka?" Abigail langsung pada pokok persoalannya. Ia sepertinya sudah mulai terbakar cemburu.


Wanita itu tertawa. "Anaknya baik. Siapa pun suka padanya."


"Maksudku, suka yang seperti eh, ...." Pria itu tidak tahu bagaimana menjelaskannya.


"Cinta?"


Abigail menatap lekat-lekat kedua bola mata indah dihadapan. Ada sedikit rasa tak rela ada orang lain yang mengaguminya, walau ia sendiri bukan pemiliknya.