
"Jadi ini yang membuat kamu ingin berpergian sendiri, pisah dari aku? Aku pikir ada apa, aku jadi was-was hingga mewanti-wanti Isy."
Marina tertawa. "Habis, kamu suka ngikutin aku kalau kamu tahu aku sedang keluar." Wanita itu merengut manja.
"Ya 'kan gak papa, Sayang. Itu tandanya suami sayang istri."
"Bukan suami yang cemburuan sama istri?"
"Marina apa aku terlihat jahat seperti itu?" tanya Abigail sedikit merengut.
Wanita itu hanya tersenyum. "Mau coba gak kuenya?"
"Mau dong! Yuk, ke bawah."
----------+++----------
Abigail dan Marina sedang sarapan ketika HP wanita itu mendapat notif. Wanita itu membuka HP-nya.
Awalnya ia berhenti mengunyah, membuka mata lebar-lebar, lalu tersenyum senang. Bahkan mengepal kedua tangan saking gemasnya. "Baaang!"
"Mmh?"
"Aku menang, Bang. Novelku menang, walaupun cuma juara ketiga."
"Masa?" Abigail melongo.
"Iya."
"Alhamdulillah. Congratulations, Honey.(selamat, Sayang) Usahamu dan kerja kerasmu membuahkan hasil." Pria itu mencium kedua pipi istrinya. "Bagaimana kalau kita rayakan? Hari ini aku 'kan juga ulang tahun jadi kita sama-sama rayakan. Kita ke pantai, bagaimana?"
"Jadi benar, Abang gak mau ke kantor hari ini?"
"Iya. 'Kan dari semalam abang udah bilang ke kamu, Abang mau libur lagi."
"Biar pun ada panggilan penting dari kantor, sekalipun?" tanya wanita itu masih tak yakin.
"Honey, kok kamu gak percaya sih?"
Marina memeluk pinggang sang suami dan bersandar di dada bidangnya. Ia begitu bahagia.
"Mami ...." Tiba-tiba Farrel ribut di belakang mereka. Ia ingin turun dari kereta bayinya karena merasa diabaikan.
"Ih, ini anak. Yang bahaya saja yang dikerjakannya," sahut Marina saat melihat bocah kecil itu ingin berdiri di atas kereta itu dan mau turun.
"Sini, sama Papa aja." Abigail mengakali dengan menarik kedua kaki kecil bocah itu ke depan sehingga kakinya terjulur ke bawah.
Farrel tak bisa mengangkat kakinya karena tersangkut di depan. "Mami!" panggilnya kebingungan. Pengetahuan bayinya membuat ia tak tahu bagaimana caranya bisa lepas dari posisi duduk yang seperti itu.
Abigail tersenyum lebar. "Sudah, duduk saja yang tenang, Sayang Papa." Ia mencubit dagu mungil Farrel.
Marina pun tersenyum melihat pria itu menjahili Farrel. Bocah itu menggerak-gerakkan kakinya tapi tak bisa naik. Ia butuh sesuatu untuk diinjak agar bisa naik hingga ia uring-uringan menggaruk-garukkan kepalanya.
Karena gemas melihat kaki mungil Farrel yang menggantung, pria itu meraih kaki itu dan menggigitnya dengan lembut. Farrel tertawa karena kegelian.
"Lagi, anak Papa nakal, Papa gigit kakinya!" ucap pria itu berpura-pura marah.
Farrel hanya tersenyum malu.
----------+++---------
Farrel takjub melihat ikan di sekelilingnya. Ikan-ikan itu ada di atas dan di samping. Hanya dibatasi kaca besar yang berbentuk bulat, ia seakan berjalan di antara ikan-ikan. Bocah itu melongo. "Can! Can!" teriaknya.
"Iya, ikan Dek," sahut babysitter Isy.
Marina juga menikmati pemandangan yang indah ini. Kemudian mereka pindah ke tempat kolam kecil di mana mereka bisa melihat binatang laut dari dekat seperti; beruang es, ikan piranha, dan juga kura-kura. Farrel sangat suka melihat kura-kura karena boleh menyentuhnya. Ia gemas sendiri melihat binatang itu bergerak-gerak ditangannya.
Setelah dari sana, mereka pindah ke pantai. Di pantai kebetulan ada restoran baru yang dekat dengan pinggir pantai. Di area pinggir pantai itu, sengaja dipasang pagar besi agar daerah itu tidak terkena abrasi oleh air laut. Sambil menghirup udara laut, Marina duduk-duduk di pagar besi.
Mereka sudah memilih meja di luar restoran dan babysitter Isy beserta Farrel duduk di sana, tapi Abigail menemani istrinya duduk-duduk di pagar besi sambil memeluk pinggang wanita itu.
"Tapi gak ada yang salah 'kan? Kamu istriku," ucap pria itu pada istrinya.
"Ih, bukan gitu, Bang. Kasihan Isy, melihat kita berdua-duaan terus."
"Memang kenapa? Dia 'kan juga udah baligh."
Marina terkekeh. "Bukan begitu maksudku, Bang."
"Ya, 'kan dia sudah dewasa. Kalau dia ada keinginan untuk berumah tangga gara-gara kita, 'kan itu juga berkah."
Wanita itu menoleh dan mencubit dagu suaminya. "Udah mulai pintar ngomong nih Abang sekarang."
"Abang sih sudah pintar ngomong dari dulu. Kalau gak pintar, mana bisa Abang menjalankan perusahaan."
"Iya deh, ya deh!" Marina merengut manja sambil menikmati rangkulan di pinggang sang suami. Udara laut yang begitu segar siang itu, menambah ketenangan orang-orang yang berada di pinggir pantai. Setelah itu mereka menikmati makan siang di sana.
-----------+++---------
"Bang, Bang!" Marina masuk ke dalam kamar.
"Ada apa, Sayang?"
"Novelku mau dibukukan, Bang!" teriak wanita itu memberi tahu.
"Oya?"
"Iya."
"Apa judulnya?"
Ditanya begitu, wanita itu malah menyembunyikan HP ke belakang punggungnya. "Eh, rahasia."
"Lho, untuk apa kamu terangkan padaku kalau rahasia. Aku mana tau, novelmu bagus atau tidaknya."
"Jelek, Bang. Jelek, cuma beruntung aja."
Marina tidak tahu bahwa pria itu adalah salah satu penggemar berat novelnya. Semua novel istrinya itu sudah ia baca. Abigail tahu, wanita itu berbakat menulis karena dari hari ke hari tulisannya semakin baik. "Oh, bisa begitu ya?"
Wanita itu tersenyum lebar.
Saat launching(keluar perdana) buku barunya nanti, Marina diundang sebagai author yang menulis novel itu dan penggemar boleh datang membeli dan mendapat tanda tangan author-nya langsung. Hanya pemenang juara satu, dua dan tigalah yang novelnya dibukukan.
Ada satu penggemar wanita itu yang membuat wanita itu khawatir. Penggemar itu tidak saja akan membeli bukunya tapi ia minta berkenalan. Marina sudah memberi tahu ia sudah menikah, tapi penggemar itu memaksa untuk mengenal lebih dekat. Wanita itu baru tahu kemudian bahwa penggemar yang satu ini adalah pria, nama akunnya adalah, Mentari di balik awan.
"Bang, ini novelku, Bang." Marina membawa sebuah buku tebal pada suaminya.
"Lho, katanya Abang gak boleh tahu novel-novel kamu. Jadi maksudnya, bagaimana ini?" Abigail terlihat bingung.
Marina menyatukan tangan di belakang dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Ia sebenarnya ingin minta bantuan suami sekaligus agar sang suami yang suka cemburuan itu tidak salah sangka padanya. "Besok launching, Bang novelnya. Bisa gak Abang temani aku di sana?"
"Waduh, Abang lagi banyak kerjaan di kantor. Sebentar lagi pabrik selesai, jadi Abang harus banyak yang dilihat agar pengerjaannya selesai tepat waktu."
"Oh, gitu." Marina kecewa dan menunduk. Ia tidak bisa memaksa suaminya, karena ia tidak mau menyusahkan pria itu.
Ya, Marina terbiasa sabar bila keinginannya tidak ia dapatkan karena ia anak tertua di dalam keluarga dan juga menjadi tulang punggung. Ia menyemangati diri sendiri agar tak kecewa.
"Tapi makasih ya? Novelnya. Nanti kalau ada waktu nanti aku baca."
"Eh, iya."
Abigail naik ke atas ranjang sementara istrinya mendatangi meja. Wanita itu meneruskan pekerjaannya menulis novel. Pria itu tersenyum. Sekarang saatnya balas dendam. Dulu kamu jahili aku di ulang tahunku, sekarang aku yang akan jahili kamu di launching bukumu. Tunggu aja, Sayang. Kamu pasti tak akan melupakan momen indah ini. Pria itu melihat punggung istrinya yang mulai diam karena asyik mengetik.
_________________________________________