
Marina. Walaupun kau hanya babysitter, tapi bagiku kau bukan pembantu, Marina. Kau seseorang yang istimewa yang Tuhan pertemukan padaku. Membuatku bisa melihat cahaya terang walau berada di jalan yang gelap sekali pun. Kaulah keajaiban di mana aku berhenti berharap tapi kau malah mampu mewujudkannya.
Teruslah bersama denganku, Marina. Aku akan membuatmu merasa nyaman bersamaku dan berharap ada bunga yang bersemi kemudian di hatimu untukku.
Sambil melihat wajah Farrel, pria itu melihat wajah wanita itu yang semringah saat sedang makan.
"Oh, iya. Aku mau minum jus jeruk. Kemarin sudah beli." Dengan lincahnya, wanita itu pergi ke dapur dan kembali dengan segelas jus jeruk. Ia mengaduk-aduknya saat gelas itu sampai ke atas meja.
"Jeruk peras ya?"
"Iya, diperas sendiri. Lebih segar."
"Kenapa tidak beli yang kemasan?"
"Ah, itu gulanya tinggi dan mahal."
"Lho, apa bedanya dengan ini?" Abigail menunjuk gelas di hadapan wanita itu. "'Kan pakai gula juga."
"Kalau ini lebih asam jadi tidak gampang gemuk."
Abigail tertawa. "Maaf bukan aku mentertawaimu tapi yang ada kamu sakit perut minum itu di pagi hari. Lagipula sama saja kalau kamu menuang banyak gula untuk menetralisir asamnya. Kamu akan merasakan di lidah asam manis tapi tetap saja kalori yang masuk ke dalam tubuh sama atau bahkan lebih banyak." Pria itu melihat gula yang banyak di dalam gelas itu yang mungkin sengaja dimasukkan agar tidak terasa asamnya.
"Masa?"
"Iya."
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Makan buah-buahan saja, ketahuan itu lebih segar."
"Tapi masa makan buah di pagi hari?"
"Biasanya kamu makan apa?"
"Nasi uduk."
"Jadi makan roti tidak kenyang ya?" Abigail melihat roti yang di makan Marina sekarang.
"Oh, bisa. Tadinya aku makan roti kok pagi."
"Jangan begitu, Marina, nanti kamu kelaparan. Begini saja, kamu bisa masak pagi, seperti nasi goreng. Apa kamu bisa masak?"
"Bisa, tapi repot kalau punya bayi. Ngak papa kok, aku balik lagi makan roti pagi."
"Benar gak papa?"
"Iya, soalnya Anka suka traktir aku makan pagi. Ya itu, nasi. Kalau makan nasi pagi, aku suka lupa makan siang karena masih kenyang."
"Kamu jangan karena mengurus Farrel jadi lupa makan ya?"
"Oh, bukan karena itu aku lupa makan. Aku sedang menulis novel online."
"Oh, novel online. Menarik! Apa judulnya?"
"Ah, malu. Masih pemula." Wajah wanita itu tersipu-sipu.
"Tidak apa."
"Tidak ah!" Wajah wanita itu memerah membuat Abigail tersenyum.
"Ya sudah, tapi jangan sampai lupa makan ya? Kemarin 'kan sudah beli beberapa frozen food jadi tinggal di goreng. Atau kalau sedang rumit, bisa pesan delivery. Jangan takut kehabisan uang, nanti aku tranfer."
"Sudah, Kak. Aku masih pegang uang kok sampai gajian nanti. Jangan khawatir, Kak," ucap wanita itu malu-malu.
"Ya sudah. Pokoknya jangan sampai kamu gak punya makanan atau lupa makan ya, saat mengurus Farrel. Aku bisa marah," ingat Abigail dengan suara lembut.
"Iya, Kak. Aku ngerti."
"Iya, tapi aku ingin santai dulu saja. Agak siang saja berangkatnya." Pria itu sengaja memperlambat waktunya untuk berangkat ke kantor agar bisa berlama-lama di rumah bersama Marina.
"Mmh." Marina mengangkat Farrel. "Ha." Ia berkali-kali mengangkat bayi itu ke atas membuat Farrel tersenyum lebar. Ia meletakkan tangan Farrel di wajahnya. "Hua." Dan bayi itu tertawa.
Abigail bahkan tersenyum melihat tingkah menggoda Marina, bercanda dengan bayi itu.
"Mau minum susu gak? Apa mau main guling-guling, mmh?"
Bayi itu berbicara tapi tak jelas tapi sepertinya Marina mengerti apa yang diucapkan bayi itu karena ia langsung memasukkannya ke dalam boks bayi.
"Mmh, main dulu ya?"
"Oiya, mainan yang digantungnya itu belum aku pasang. Ya Allah, aku kok sampai lupa." Abigail menepuk keningnya. "Di mana aku taruh ya?" Ia mencari ke kamar.
Sementara Marina membawa piring kotor ke dapur dan mencucinya. Saat ia kembali, ia melihat Abigail sedang memasang mainan gantung di pagar boks bayi yang ada di luar. Kemudian ia mencoba membunyikannya. Terdengar suara musik yang berbunyi lembut dan mainan gantung yang berputar pelan.
Awalnya bayi Farrel terkejut melihatnya dan fokus melihat mainan yang berputar di atas kepala, tapi lama kelamaan bayi itu terbiasa dengan lagu yang diputar. Ia kelihatan menyukainya karena sesekali ribut saat mendengar lagu itu diputar ulang.
"Oh, anak Papa suka lagunya ya, Sayang?"
Bayi itu mulai mengoceh tak jelas.
Pria itu tersenyum. Mmh, Marina. Kau seperti telah menciptakan rumah yang teduh baginya karena Farrel banyak tersenyum seperti wajahmu. Juga wajahku.
"Eh, Kak. Kalau Kak Abigail belum ingin apa-apa, aku mandi dulu ya, Kak?"
"Oiya. Mandi saja. Aku masih ingin main dengan Farrel."
Marina kemudian masuk ke dalam kamar. Tak lama kemudian ia kembali keluar dengan wajah tampak segar.
"Marina."
"Ya?"
"Aku baru dapat kabar dari polisi. Mereka telah mendapatkan CCTV-nya dan sekarang kita diminta datang ke sana untuk mengidentifikasi."
"Oya?" Marina terlihat panik. "Jadi siapa yang lebih dulu? Kakak mau mandi atau aku yang tukar baju?"
-----------+++-----------
Pintu terbuka.
"Marina?"
"Kak Sila."
"Ada kabar apa pagi-pagi begini ke sini?" Sila tentunya tahu akan kedatangan mereka karena melihat ada Abigail di belakang Marina dan dari cerita adiknya. Ia mengangguk pada pria itu yang dibalas Abigail dengan anggukkan juga.
"Ini Kak Sila, orang tua si bayi. Aku sampai kaget karena aku sudah kenal dia sebelumnya," terang Marina pada Sila. Ia sendiri sedang menggendong Farrel.
"Oh, silahkan masuk," ajak Sila pada keduanya.
"Aduh, maaf ya, tapi kami tidak bisa mampir karena kami harus ke kantor polisi untuk mengidentifikasi. Hanya saja aku sebagai orang tua Farrel ingin berterima kasih karena selama ini sudah dibantu mengurus si kecil yang tidak tahu rimbanya waktu itu." Abigail ikut bicara.
"Entah kenapa yang dititipi bayi ini malah orang yang sudah aku kenal dan berada di depan mata. Padahal sering bertemu tapi karena aku tidak pernah memperhatikan bayi ini ditambah salah paham kalau Marina sudah menikah membuat saya tidak menyadari kalau selama ini Farrel ada dan dekat denganku. Rasanya bodoh sekali setiap mengingat hal ini."
Anka yang sedang berada di ruang makan, mengintip keluar saat mendengar percakapan di pintu.
"Itu jodoh namanya."
"Apa?" Marina dan Abigail terkejut mendengarnya hingga tak sadar telah bertanya dalam waktu yang bersamaan.
Sila tertawa kecil melihat wajah keduanya tersipu-sipu. "Karena ternyata Tuhan menolong Bapak dengan menyerahkannya pada orang terdekat sehingga tidak harus jauh-jauh mencari."
"Oh." Kembali keduanya menyahut berbarengan tanpa sengaja.