Author And The Baby

Author And The Baby
Bakso



"Ayo, Marina Latihan berenang lagi." Pria itu menyodorkan lengannya.


"Eh, iya." Marina meraih lengan kekar pria itu dan menahan napas. Ia mulai menenggelamkan wajahnya dan berenang.


Menjelang malam mereka kembali ke apartemen dan mandi. Kemudian sholat karena bertepatan dengan Azan Magrib.


Tak lama Farrel menangis. Marina segera mengunjunginya di boks bayi luar. "Uh, sudah lapar ya, Sayang. Sebentar, Tante buatkan dulu susunya ya?"


"Aku juga lapar," komentar Abigail yang keluar dari kamarnya. "Makan apa ya?"


"Mmh? Terserah, Kakak. Kakak mau apa?" Wanita itu meninggalkannya ke dapur.


"Kita pesan makanan saja ya? Aku jadi ikut-ikutan malas keluar," gumam pria itu dan mengambil HP di kantong celananya. "Kamu mau apa, Marina?"


Namun karena suara tangis Farrel, ucapan Abigail tak terdengar. Pria itu mengantungi HP-nya dan menggedong Farrel. "Duh, anak Papa laper banget ya? Makanya, cepat besar biar bisa makan bareng." Pria itu mencubit hidung mungil bayi itu.


Kulit wajah bayi itu memerah karena menangis dengan kencangnya. Raut wajahnya mengiba menatap pria itu.


"Uh, iya, Sayang. Sebentar lagi Tantenya datang bawa susu Farrel ya? Sebentar ya, Sayang ya?" Abigail menggoyang-goyangkan tubuh Farrel, berusaha menenangkan.


Marina akhirnya datang dan pria itu menyerahkan bayi itu pada wanita itu. Dalam sekejap, bayi itu berhenti menangis dan mengedot susu botol.


Melihat Farrel yang kembali tenang, pria itu mengusap kepala bayi itu dengan lembut. ia tersenyum. "Lucu kadang, kalau lihat dia kelaparan. Nangis sampai merah wajahnya."


Marina menanggapinya dengan senyuman.


"Oiya, aku tadi mau pesan makanan untuk makan malam. Kamu mau makan apa?" Pria itu mengeluarkan kembali handphone-nya.


"Apa ya? Habis berenang itu jadi ingat jaman sekolah dulu. Mmh ... bagaimana kalau mi bakso?"


"Mi bakso? Kamu 'kan katanya gak pernah berenang, kok ada kenangan makan mi bakso?"


Marina tertawa. "Berenang sih enggak, tapi giliran makan mi bakso, aku gak pernah ketinggalan." Saat Marina kembali tertawa, pria itu pun ikut tertawa.


"Marina, kamu ada-ada saja." Kemudian ia memeriksa HP-nya seraya menarik kursi dan duduk di sana. "Mmh, mi bakso ya? Aku jadi ingin coba."


"Oh iya, sama es teler."


Pria itu mengangkat kepalanya dengan tersenyum lebar. "Ok." Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tapi harus habis ya?"


"Iya, Kak. Oiya, baksonya bakso urat ya?"


"Ok." Pria itu memesan lewat online. "Sudah, tinggal tunggu saja."


Lima belas menit kemudian, makanan datang dan Abigail mengambilnya di lantai bawah lalu menyerahkannya pada Marina.


Pria itu menggendong Farrel yang telah menghabiskan susunya dan tertidur. Ia meletakkan bayi itu di boks bayi.


"Ini Kak." Marina membawa baki berisi dua mangkuk bakso, semangkuk es teler, dan teh kemasan. Ia menyajikannya di atas meja. "Ayo, kak."


"Iya." Abigail kembali duduk di kursinya. Ia menatap mi bakso yang ia dapat.


Sebenarnya ia belum pernah makan itu sebelumnya. Sering melihat pegawainya makan mi bakso tapi ia tak pernah tertarik untuk mencobanya. Bukan karena suka makanan Eropa tapi ia memang tak suka coba-coba. Ia hanya makan makanan yang biasa di masak ibunya.


"Mau sambal, Kak?" Marina menyodorkan sambal sachet.


"Oh, tidak, terima kasih."


"Kecap?"


"Kecap? Mmh ...." Pria itu menuangkan dari plastik kecil pada mangkuknya. "Setelah itu, apa lagi?"


"Saos?"


Abigail mengambil saos dan menuangnya sedikit pada mangkuk.


"Yang banyak, Kak."


"Mmh?" Pria itu melihat ke arah mangkuknya.


"Atau coba dulu. Coba diaduk."


Pria itu mengikuti saran Marina, sambil memperhatikan Marina yang menggunakan semua bahkan saos yang banyak. "Sebanyak itu?"


Wanita itu melirik Abigail. "Oh, aku suka seperti ini."


Pria itu mencoba kuah baksonya. "Mmh, lumayan enak." Kemudian ia mulai makan.


Ia juga memperhatikan Marina makan. Terlihat sekali wanita itu menikmati makan malamnya walaupun hanya dengan mi bakso dan es teler. Es teler pun dalam ukuran mangkuk besar dilahapnya dengan suka cita membuat Abigail penasaran melihatnya.


"Mmh? Apa?" Marina mengangkat alisnya.


"Es telernya?"


"Mmh, mantap. Selain buah-buah yang lainnya, kelapa serutnya enak. Banyak lagi."


"Mmh." Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kenapa? Mau coba?"


"Ah, tidak usah." Abigail menggeleng.


"Ini enak. Beneran lho! Coba deh." Wanita itu menyodorkan mangkuk berisi es teler.


Walau sedikit ragu, Abigail menyendok dengan sendok sendiri, es teler itu dan memakannya. "Mmh, enak!" Pria itu membulatkan matanya.


"Ya 'kan? Mau? Aku bagi dua nih?"


"Eh, tapi nanti kamu kurang ...." Abigail ragu-ragu dengan tawaran itu.


"Banyak kok isinya. Tadinya, rencananya, kalau tidak habis, mau aku masukkan ke dalam lemari es. Bagaimana?"


"Eh, sedikit saja."


Marina kemudian ke dapur mengambil mangkuk yang lebih kecil dan memindahkan bagian es teler pria itu di situ.


Kembali mereka meneruskan makan malam dengan gembira.


----------+++-----------


Abigail terbangun di tengah malam. Ia haus ingin mengambil minum hingga ia terpaksa bangkit dari tempat tidur. Saat keluar ia melihat Marina di dapur sedang mengambil piring dan membuka rice cooker. "Marina, kau belum tidur?"


Wanita itu menoleh. "Oh Kak Abigail? Ini baru bangun."


"Kamu lapar?" Pria itu menghampiri wanita itu. "Makan lagi?"


"Ngak tau kenapa, lapar, Kak, padahal baru nulis dikit."


Abigail hanya bisa menahan tawa. "Kenapa gak beli buah? Melon, pepaya atau seperti buah apel, cukup mengenyangkan kalau untuk ngemil di malam hari."


"Tadinya aku makan kripik yang dibawa Anka tapi keripiknya itu sudah habis."


"Itu malah memicu lapar lagi saat pagi hari kalau makannya terlalu malam, Marina."


"Oh, gitu ya?" Wanita itu terlihat ragu.


Pria itu langsung menepuk-nepuk tangan wanita itu. "Sudah, kalau mau makan, makan saja, tapi jangan langsung tidur ya?"


"Iya, ini aku mau nulis lagi," ujar wanita itu dengan senyum lebar.


Terdengar suara bayi menangis.


"Oh, Farrel bangun."


"Biar aku yang ambil." Abigail bergegas ke kamar Marina. "Siapkan saja susunya!" teriaknya.


"Ok!"


--------------+++------------


Pria itu sedang sibuk melihat berkas-berkas yang menumpuk di hadapan ketika HP-nya berbunyi. Ia segera mengangkat setelah melihat nama yang tertera di layar handphone, kantor polisi. "Halo."


Sebuah informasi mengejutkan membuat ia tanpa sadar berdiri. "Apa? Astaghfirullah alazim. Ok, baik. Aku akan segera ke sana." Ia menutup teleponnya. Pria itu termangu sejenak menyentuh dagu, sebelum akhirnya pergi.


Abigail akhirnya mendatangi rumah sakit dan mendatangi kamar yang dimaksud oleh polisi. Ada beberapa polisi yang berdiri di depan kamar perawatan itu sehingga ia gampang menemukannya. "Oh, Pak!"


"Bagaimana, Pak?" tanya Abigail khawatir.


"Untuk sementara, ia belum bisa ditanyai karena masih dalam perawatan dokter."


"Dia masih pingsan?"


"Sudah sadar. Mmh, ini ada surat yang diperuntukkan untuk Bapak, saat kami menemukannya tak sadarkan diri di dalam sel." Polisi itu menyodorkan sepucuk surat yang bertuliskan nama Abigail di atasnya.


Pria itu menerimanya dengan berbagai pertanyaan di kepala. Ada apa lagi ini? Kenapa jadi seperti ini?