
Kembali pria itu mengingat apa-apa saja yang dikerjakan wanita itu saat duduk di sana yang memang menarik pandangan matanya.
Awalnya memang pakaiannya yang aneh. Ia baru tahu, kalau memakai hijab itu bukan berarti membatasi seseorang untuk tetap modis berpakaian dan bisa mengekspresikanjati diri sendiri. Wanita itu yang bertubuh sedikit padat berisi, suka memakai pakaian longgar dengan gaya yang berbeda-beda.
Kadang dia memakai baju serba hitam, jaket hitam, dengan topi hitam. Kadang dia pakai baju berwarna warni dengan ikat kepala yang menjadikannya seperti seorang pendaki gunung dan terkadang ia berpenampilan lembut dengan terusan panjang gantung dan celana bahan. Semua penampilannya menyegarkan mata walau awalnya terkesan lucu.
Kemudian adalah tingkahnya yang sering ada-ada saja saat ia sedang berpikir menatap laptop miliknya, dan Abigail terkadang tak bisa menahan tawa. Wanita itu memang lucu tanpa disadari oleh wanita itu sendiri.
Pernah ia menaruh sedotan di atas bibirnya dengan menggulung bibirnya ke atas. Pernah pula, waktu pertama kali mendapat sedotan yang masih dibungkus, ia membuang kedua ujung bungkusnya dan meniup sedotan itu hingga tersasar ke meja kasir.
Marina kemudian meminta maaf pada kasir dan Abilgail harus menahan tawa karena melihat tingkah wanita itu.
Pernah pula wanita itu meletakkan pulpen di atas bibir dan ternyata tintanya tumpah sehingga membuat warna tersendiri di atas bibirnya yang mirip kumis. Ia diberi tahu pelayanan kafe yang berusaha menahan tawa dan wanita itu harus membersihkan noda itu di toilet cukup lama.
Saat itu Abigail tertawa terpingkal-pingkal karenanya. Tentu saja saat Marina kembali, ia sudah bisa menahan tawanya dan pura-pura tak tahu.
Secara keseluruhan apa yang dikerjakan wanita itu memang membuat pria itu rindu. Rindu yang menjadi candu. Selalu saja setelah bertemu dengannya entah kenapa, ia kembali menemukan sebagian semangatnya yang telah hilang entah ke mana.
Marina, ia tidak berusaha memujanya tapi itulah kelebihannya yang membuat pria itu ingin bertemu lagi dan lagi dengan wanita ini.
Apa ia sedang jatuh cinta? Itu pertanyaan besar yang sedang berusaha ia cerna karena ia sendiri belum pernah merasakannya. Apakah ini yang dinamakan cinta? Bukankah cinta rasanya berbunga-bunga tapi apa yang dirasa saat ini adalah sebuah kebutuhan. Kehidupannya yang sangat depresi akhirnya menemukan teman yang bisa menghiburnya walau tanpa kata-kata. Ya, teman tanpa kata-kata.
Mengingat itu saja Abigail bisa tersenyum sambil menopang dagunya di atas meja. Mengingat hal-hal yang telah lalu tanpa kehadiran wanita itu di sana.
Semua orang yang ada di kafe itu pasti sepakat wanita itu memang lucu, karena bukan saja Abigail, bahkan para pegawai di sana menandainya sebagai pelanggan setia yang paling lucu.
Hanya saja akhir-akhir ini wanita itu jarang datang ke kafe itu karena sedang mengurus seorang bayi.
-------------+++-----------
Marina sedang senang karena novel online-nya sudah mulai ada yang baca. Bahkan mulai ada yang berkomentar.
'Thor, lanjut Thor.'
'Nanti Shelby akan ketemu juga 'kan dengan Radith ya, Thor?'
'Wah, bagus ceritanya, kayaknya Thor.'
Marina membacanya berulang kali karena senang, padahal pembacanya baru 3 orang. Ia menghitung jumlah Like karena baru menulis 2 bab.
Selagi Bayi Farhan masih tidur, Marina menunggui bayi itu sambil menulis novel di laptopnya. Ia menulis hingga lupa melihat bayi itu sudah bangun. Bayi itu menangis.
"Ah, sebentar, Farhan. Mami mau nulis dulu. Sedikit lagi. Ini Mami mau kirim."
Namun bayi itu tak bisa diajak kompromi. Akhirnya Marina menyerah. Ia menggendong Farhan. "Anak Mami, kamu mau apa, Sayang?" Ia memperhatikan mimik wajah bayi itu. Mulutnya tidak mencari-cari. Segera ia meletakkan bayi itu dan mencium tubuh bayi bagian bawah. "Mmh, bau asem. Anak Mami bau asem." Ia turun dari tempat tidur. "Kita ganti pampers-nya dulu ya?"
Tak lama Marina mulai duduk di atas tempat tidur dan menyelesaikan tulisan sambil menggendong Farhan yang aktif. Tangan bayi itu bergerak ke sana kemari tapi karena wanita itu sibuk menulis, ia tidak memperhatikan tangan bayi itu yang ikut menyentuh keyboard laptop beberapa kali. Alhasil ... tulisan Marina menghilang.
"Ah!" teriak wanita itu yang membuat bayi itu kaget dan menangis.
"Farhannn ...." Marina hampir menangis karena tak berani memarahi bayi itu, tapi semua tulisannya hilang!
Ia menatap bayi itu dan akhirnya iba. Ia menggoyang-goyangkan bayi itu agar berhenti menangis. "Farhan, bagaimana ini. Tulisan Mami hilang semua," ucapnya lemas.
Marina mengusap air mata Farhan dibanding air matanya sendiri. "Jangan nangis Farhan, Mami 'kan juga sedih, novel Mami hilang satu bab," keluhnya.
Bayi itu berhenti menangis dan mulai menarik-narik pakaian Marina yang tergapai olehnya.
"Ya udah deh. Mami nulisnya nanti malam aja ya, Sayang. Sekarang biar Mami temani kamu main." Wanita itu akhirnya berbesar hati dengan menutup laptopnya dan meletakkannya di atas meja nakas. Ia naik ke atas tempat tidur kembali dan bermain dengan bayi itu.
Ada mainan yang dibunyikan dengan dikocok dan itu membuat bayi Farhan melongo. Ia mencoba mengambil dan menggigitnya.
Marina mengusap sisa air matanya di pipi dan coba tersenyum. Sepahit-pahit hidupnya hanya bayi Farhan yang bisa membuatnya tersenyum. Karena itu ia tak ingin memarahi si kecil yang baru tahu dunia ini.
Biarlah, aku tidak bisa mengejar uangnya dulu dari menulis. Yang penting kebahagiaan Farhan. Farhan, apa kita masih bisa berjodoh terus, uang Mami makin lama makin menipis. Apa Mami terima saja lamaran tua bangka itu biar Mami bisa urus kamu, mmh?
Marina tak tega dengan nasib bayi laki-laki itu. Ia memang sedang susah, tapi ia tak ingin bayi itu ikut susah. Apa ia harus memberikan bayi itu pada orang lain?
-----------+++----------
"... Apa? Saat ini aku tak bisa ke kantor polisi. Mungkin besok. Apa ada kemajuan soal penyelidikan anakku?" Abigail sedang menjawab telepon dari kantor polisi. "... Apa? Pemeriksaan? Maksudmu aku diperiksa? Apa kalian sudah gila? Aku yang kehilangan anak istri kenapa pula aku yang diperiksa?"
Terdengar lagi keterangan dari polisi dan akhirnya ia menyerah lalu menurunkan nada ucapannya dengan lebih rendah. "Baiklah. Aku akan datang besok. Aku janji," ucapnya dengan suara lemas. Ia menutup teleponnya.
Ingin rasanya ia melempar HP karena mendengar polisi seakan mencurigainya. Polisi mengetahui hubungannya dengan sang istri yang tidak akur yang menyebabkan ia menjadi salah satu orang yang dicurigai polisi, karena itu ia harus segera mendatangi kantor polisi untuk memberikan keterangan.
Kembali mood pria itu memburuk. Ia menatap ke arah kursi yang sering diduduki oleh wanita itu. Sekarang aku harus bagaimana? Kenapa aku kini ingin sekali bertemu denganmu tapi pantaskah? Oh, Marina. Kenapa aku jadi rindu padamu ....