
Marina terbangun. Eh, jam berapa ini? Ia melihat jam di dinding. Ah, sudah sore? Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Bayiku ... Ia mencari di sekeliling tempat tidur, tapi tak di temukan.
Perlahan ingatannya kembali. Ah, iya. Aku menitipkannya pada Kak Sila. Hah ....
Wanita itu merebahkan dirinya kembali di tempat tidur. Farhan, kamu gak nakal 'kan? Ia mendengus kasar dan merengut. Rindu pada bayi kecil yang menggemaskan itu. Saat bayi itu menangis, tertawa, atau matanya memperhatikan wajah Marina. Ia rindu.
Ah! Bukankah Abigail akan kembali untuk makan malam? Ah, aku kenapa lupa? Aku harus bersiap-siap. Marina mencoba duduk. Rasanya tidak apa-apa. Mungkin aku sudah mulai sehat, batinnya saat mendeteksi tubuhnya. Ia kemudian menggeser tubuhnya ke tepi tempat tidur dan mulai turun.
Masih sedikit pening tapi sepertinya ia bisa pergi mandi. Dilepasnya jas milik pria itu yang membalut tubuhnya dan pergi ke kamar mandi dengan berpegang pada dinding. Ia memutuskan untuk mandi.
Tak lama ia keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk dan kemudian berganti pakaian. Ia lalu melangkah keluar kamar.
Oh, bungkusan plastik itu ... Marina kemudian membawa barang belanjaan yang dibeli Abigail tadi ke dapur dan menyusunnya. Ia juga merapikan apartemen walaupun hanya bisa dilakukannya pelan-pelan.
Mmh, beres. Apa lagi ya? Marina menimbang-nimbang. Oh, aku harus menulis lagi. Wanita itu pun kembali ke kamar.
Sejam berlalu. Seseorang membuka pintu apartemen yang tidak dikunci itu. "Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam." Marina turun dari tempat tidur dan pelan-pelan menuju ke pintu. "Oh, Abigail ...."
"Oh, Marina. Kamu sudah sehat?" Pria itu terkejut karena melihat wanita itu mengintip di depan pintu kamarnya. Ia tertegun. "A-aku, eh maaf. Aku masuk karena aku kira kamu belum bisa berdiri sendiri. Eh, maaf."
"Oh, tidak apa-apa. Sebentar, aku matikan laptopku dulu." Marina kembali masuk.
Abigail segera mendatangi meja dan meletakkan kotak besar dan bungkusan plastik yang dibawanya di atasnya. Ia lalu menarik kursi dan duduk di sana.
Marina kemudian keluar dari kamar sambil berpegangan di tembok membuat Abigail berdiri hendak menolongnya. "Tidak usah. Aku bisa."
Abigail kembali duduk di kursinya pelan sambil memperhatikan jalan wanita itu hingga akhirnya mencapai meja. Pria itu membantu menarikkan kursi.
"Terima kasih."
"Mmh." Ternyata Marina belum sembuh benar. "Oh, ya. Ini aku bawakan piza saja untuk makan malam beserta minuman kaleng jadi kamu tidak perlu repot mencuci piring."
"Oh, terima kasih." Marina memandangi pria bule itu. "Aku tidak tahu bagaimana membalasnya. Bapak terlalu baik padaku padahal kita belum saling kenal."
"Mmh, kita bertetangga. Mungkin bisa jadi teman?"
"Ah, kenapa tidak." Wanita itu tersenyum menanggapi.
Abigail kemudian membuka kotak piza itu dan mereka makan bersama.
"Mmh, suamimu ... kamu sudah bercerai?" tanya pria itu hati-hati.
"Mmh, itu ...."
"Ah, sudahlah. Bukan itu maksudku," potong pria itu lagi.
"Mmh, apa?" tanya Marina tidak mengerti. Ia menggigit pizanya.
"Maksudku, aku datang ke sini tidak ada yang marah 'kan?"
"Oh." Pipi wanita itu memerah.
"Kamu sendiri 'kan sekarang?" Pria itu kembali memastikan. "Sebab kalau punya suami, aku takut ia datang dan terjadi salah paham."
Marina tersenyum dan menahan tawa. "Iya. Aku sendiri."
"Ok, mmh." Dan pria itu kembali bingung kenapa ia harus menanyakan hal ini. "Oh, bukan maksudku untuk eh ...." Pria itu menatap wajah wanita itu. Sebenarnya aku mau ngomong apa? Tidak niat mendekatinya? Aku ... eh, benar-benar tidak tahu.
Pesona wanita itu telah membuat otak pria itu membeku. Ia tak bisa berpikir jernih atas apa yang dilihatnya. Ya Tuhan ... aku harus ngomong apa? Abigail menggaruk-garuk kepalanya.
"Ya?"
"Eh, lupakan. A-aku lupa mau ngomong apa."
Wanita itu tertawa berderai.
"Ya, belakangan ini aku sering lupa dengan apa yang ingin aku katakan. Entah kenapa. Mungkin terlalu banyak yang aku pikirkan belakangan ini." Pria itu kembali menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau begitu, ganti suasana saja, Pak."
"Bicara dengan orang-orang baru dan pergi ke tempat yang berbeda."
"Seperti sekarang ini 'kan?"
Marina berpikir sejenak. "Oiya. Dengan begitu otak kembali segar. Memang tidak mengurangi masalah tapi menambah semangat untuk berjuang."
Pria itu menatap wanita itu dengan senyum lebar. "Terima kasih."
"Sama-sama."
Kembali mereka makan dalam diam.
"Eh, boleh aku bertanya lagi?" kembali Abigail.
"Ya?"
"Laki-laki yang di sebelah itu tetanggamu ya? Ia terlihat sering bersamamu." Abigail mengambil potongan piza berikutnya.
"Oh, Anka? Dia adik tetanggaku. Dia sering ke sini bantu aku mengurus bayi."
"Oh, begitu."
"Kenapa?"
"Oh, tidak. Hanya bertanya saja. Mmh, aku pikir kamu punya babysitter dan babysitter-mu sedang cuti."
"Kenapa Bapak berpikir begitu?" Marina mengunyah seraya mengerut dahi.
"Oh, karena kamu baru bawa bayimu itu belakangan ini di kafe."
"Oh ... begitu."
Pembicaraan mereka sedikit banyak menambah keakraban keduanya. Abigail pun terlihat mulai nyaman bicara dengan wanita itu sehingga membuat pikirannya relaks.
Benar juga kata Marina. Berbicara dengan orang yang berbeda dan suasana baru membantuku melupakan sejenak masalahku dan membuatku tenang. Mmh, Marina. Apalagi yang bisa membuatku memujamu?
Makan malam itu pun akhirnya usai. Keduanya seperti enggan untuk berpisah tapi waktu tak bisa dihentikan. Hanya berharap ada kali kedua dan seterusnya yang bisa membawa mereka pada bukan sekedar teman, tapi harus bersabar.
Marina berdiri dari duduknya.
"Eh, tidak usah. Kamu istirahat saja. Aku bisa jalan sendiri ke luar," ucap Abigail saat berdiri. Ia mencegah wanita itu mengantarnya sampai ke pintu. "Semoga cepat sembuh ya?"
"Oh, iya, Pak. Terima kasih."
"Kamu jangan panggil aku Bapak. Aku seperti merasa sudah tua."
Mereka saling pandang dan kemudian tertawa.
"Iya, baiklah Kak," sahut Marina dengan senyum kecil.
"Nah, begitu." Abigail kemudian pamit dan keluar menutup pintu.
Marina menghela napas dengan senyum yang tertahan. Seharian ini ia banyak senyum karena pria itu. Ayo Marina, kerja, kerja! Wanita itu melangkah ke kamar.
Sedang Abigail, ia bersiul-siul mendatangi apartemennya. Oh, Abigail. Kau sudah gila ya? Kau sudah gila!
Oh, aku tak peduli. Ia masuk ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan senang. Walau suara hati berseberangan dengan keinginan diri, ia mencoba egois.
Kalau semua orang menganggapku salah, bagaimana kalau aku teruskan saja semua ini. Biar semua orang menganggapku begitu tapi tidak Marina. Dia dipihakku dan aku membutuhkannya. Aku akan bertahan demi dia. Setidaknya ada seseorang yang menghargaiku, dan menerima kekuranganku.
------------+++------------
Sudah sejam Marina memandangi laptopnya. Ia tak bisa menulis apapun. "Aduhh." Ia merebahkan diri di atas tempat tidur itu dan berguling ke samping. Ia menepuk-nepuk pipinya sendiri.
Sadarlah Marina, kamu sedang menulis di part(bagian) sedih, kenapa pikiranmu terus pada bule penuh pesona itu. Aduh, sadarlah Marina.
Namun ia tidak bisa. Wajah pria itu terus menerus berputar-putar di kepalanya membuat ia tak bisa berhenti tersenyum.