Author And The Baby

Author And The Baby
Jalan-Jalan



Marina berusaha tersenyum semanis mungkin agar suasana yang dingin, segera mencair. Dilihatnya bayi dalam gendongan wanita itu, belum juga berhenti menangis. Ia kemudian berinisiatif mendatangi mantan mertua Abigail itu. "Maaf ya, Bu. Mungkin Farrel mau minum susu, Bu. Di mana saya bisa minta air panas ya?"


"Oh, di dapur. Sebentar. Minah!" teriak wanita itu.


Seorang wanita muda tergopoh-gopoh datang memenuhi panggilannya. "Ya apa, Bu?"


"Tolong, bantu Babysitter Farrel ya, dia butuh air panas buat botol susunya."


"Eh, biar saya aja, Mbak." Pembantu itu mengulurkan tangannya pada Marina.


Marina menyerahkan botol susu Farrel yang sudah berisi susu bubuk sambil memberi tahu takaran air yang dibutuhkan. Pembantu itu segera pergi.


Tak lama ia kembali dengan susu botol yang telah diisi air hangat. Sebentar Marina mengocok botol susu itu dan meminta Farrel pada wanita paruh baya itu. "Maaf, Bu. Boleh saya ...."


"Eh, iya ini." Wanita itu menyerahkan bayi Farrel kembali pada Marina.


Farrel segera mengedot dari botol susu itu setelah dot botol susu itu menyentuh mulutnya. Ia meminumnya dengan rakus. Keduanya melihat bayi yang telah berhenti menangis itu dengan senyum.


"Sudah pintar minum susunya sekarang, ya?" Wanita itu menepikan poni Farrel yang menyusu.


Farrel berhenti menyusu dan menjawab ucapan Neneknya. "Mmh."


Wanita itu tertawa kecil. "Sayang, Mamamu sudah gak ada. Baik-baik ya sama Papamu," ucapnya sambil tersenyum haru pada cucu yang kini dipandanginya.


"Ibu 'kan bisa datang ke apartemen kalau ibu rindu," ujar Marina pelan sambil melihat Farrel menyusu.


"Atau nanti aku akan sering-sering ke sini membawa Farrel, Bu," sahut Abigail dari kursinya.


"Ibu tidak mau merepotkanmu, Bi. Kamu 'kan sibuk kerja." Wanita itu melirik suaminya dan tersenyum.


"Antara Sabtu atau Minggu rasanya tidak masalah," jawab pria itu lagi.


Suasana mencair dengan indahnya. Mereka mulai bisa akrab lagi walaupun setiap menyebut nama almarhumah, pasti ada yang menitikkan air mata tapi kesalahpahaman kini sudah dilurus.


Setengah jam kemudian, Marina dan Abigail pamit pulang.


Abigail tak menyangka, membawa Marina ke rumah mantan mertuanya malah membawa kedamaian. Ia bahkan tidak perlu bersusah-payah menerangkan semuanya, kala Marina bisa mendamaikan hati mantan mertuanya itu ketika bicara.


Ini benar-benar keajaiban. Sesekali Abigail melirik wanita yang ada di sampingnya dengan rasa kagum.


Marina menyadari ada yang aneh dengan Abigail yang terus meliriknya. "Ada apa Kak?"


"Bicaramu hebat sekali tadi, sampai aku terkagum-kagum." Abigail berterus terang.


"Ih, Kakak jangan bercanda," jawab wanita itu dengan sedikit merah di pipi.


"Iyah, itu benar kok. Sampai mantan mertuaku aja mendengarkan ucapanmu."


"Ah, Kakak terlampau memuji." Marina tersenyum lebar.


"Tidak, itu benar. Aku saja, setiap ke sana selalu saja diledeknya, tapi kok sama kamu dia mau saja mendengarkan ucapanmu. Itu, yang aku heran."


"Itulah wanita, Kak. Lebih paham sesama wanita, terus, itu juga hasil dari belajar menulisku selama ini."


"Maksudnya?"


"Jadi penulis itu harus peka sama keadaan sekitar hingga saat menulis itu bisa menghidupkan karakter tokoh-tokoh yang ditulisnya. Juga banyak belajar kata-kata bijak agar pembacanya mendapat teladan dari apa yang dibacanya."


"Oh, begitu. Aku jadi penasaran dengan novel yang kamu tulis. Kamu tulisnya di aplikasi apa?"


Wajah Marina memerah seketika. "Ah, jangan ah, Kak. Malu. Aku masih pemula, jadi yang baca masih sedikit."


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja."


Sebentar Farrel menggerakkan tubuhnya di dalam gendongan Marina tapi kemudian tidur lagi. Wanita itu menyugar rambut bayi itu yang mulai berantakan, ke samping.


Abigail hanya tersenyum kecil. "Mmh, bagaimana kalau kita memeriksakan Farrel ke klinik terdekat."


"Maksudnya?"


"Waktu, masih ada Alena." Abigail menarik napas dalam-dalam agar bisa meneruskan. "Ia pernah beberapa kali ke dokter memeriksakan Farrel juga imunisasi, tapi aku tidak begitu mengerti mengurusnya, aku memperhatikannya saja. Mungkin kau bisa meneruskan imunisasi Farrel yang belum lengkap ini."


"Oh, iya Kak."


"Nanti kalau sudah waktunya, kamu bisa bilang padaku, agar aku bisa mengantarmu. Untuk sekarang, kita daftarkan saja Farrel di klinik dekat apartemen. Sepertinya klinik yang kita datangi tempo hari itu punya poli untuk ibu dan anak juga, aku pernah lihat. Ya sudah kita ke sana saja."


Setibanya di sana, Abigail kemudian memeriksakan Farrel pada dokter anak dan ia bersyukur, hasilnya Farrel dinyatakan sehat dengan berat badan yang ideal. Dokter juga menjadwalkan imunisasi untuk Farrel di klinik ini.


Abigail dan Marina keluar dari pintu depan klinik itu.


"Mmh, ke mana lagi kita?" Abigail menoleh pada Marina.


"Pulang 'kan?"


"Mmh, aku ingin jalan-jalan."


"Jalan-jalan ke mana, Kak?"


"Bagaimana kalau ke pantai?"


"Pantai? Nanti Farrel kepanasan, bagaimana?"


"Ya kita di hotel aja."


"Hotel?" Netra wanita itu membulat sempurna.


"Eh, maksudku, kita makan-makan di dalam hotel saja, kalau udaranya panas. Eh, begitu maksudnya." Abigail juga sedikit panik saat Marina terlihat salah mengira.


"Oh, eh, iya." Tak ayal pipi Marina memerah.


"Udaranya juga cerah dan tidak terlalu panas. Bagaimana?"


"Boleh saja, tapi sebaiknya kita pulang dulu karena aku tidak bawa persediaan susu untuk Farrel."


"Oh, gampang. Kita tinggal beli saja yang baru nanti di jalan. Soalnya kita kalau ke arah pulang, jalanan sedang macet tapi kalau langsung ke sana, jalan sedang tidak ramai."


"Ya, sudah. Yang mana yang bagusnya saja. "


Di mobil, Abigail tampak sumringah. Tentu saja karena sejak Marina bersamanya, awan hitam yang menaunginya bergeser sedikit demi sedikit menjauh. Hidupnya terasa ringan. Satu persatu masalah terselesaikan. Farrel ditemukan, mantan mertua kini mulai akur dengannya dan tabir hilangnya Farrel dan kematian istrinya kini mulai terkuak.


Pelan tapi pasti, hidupnya kembali normal dan kini ia bisa bernapas lega. Ia ingin bersantai sejenak dengan Farrel dan babysitter yang menggemaskan ini.


Setengah jam kemudian mobil Abigail sampai di hotel dengan pemandangan laut di belakangnya. Udara laut yang segar dan panas matahari yang tidak begitu terik membuat Abigail memilih duduk-duduk di belakang hotel di tempat terbuka sambil menikmati udara segar.


Sebelumnya mereka bergantian sholat di mushola sebelum memesan makanan.


Abigail yang sedang bercanda dengan Farrel, menikmatinya sambil menunggu Marina datang. "Apa, Sayang? Mmh? Mau apa? Mau lihat laut? Nanti ya, Papa makan siang dulu sama Tante Marina. Ya?" ucapnya dengan lembut pada bayi Farrel.


Bayi itu pun berusaha menjawab dengan kata-kata yang tidak dimengerti.


Abigail hanya bisa tersenyum melihat usaha bayi itu berkomunikasi. Bahkan saking gemasnya, ia mengecup pipi bayi yang mulai membulat itu. "Mmh, anak Papa udah mulai pintar bicara ya?"


Bayi itu mengangkat tangan berusaha menggapai apapun yang bisa diraihnya. Pria itu mencoba meletakkan jari telunjuk dan bayi itu menggenggamnya dengan erat. Sempat ia menggoyang-goyangkan jemarinya tapi genggaman tangan bayi itu ternyata cukup kuat. Kembali, pria itu mengecup kening bayi itu karena senang.