
Rumah Abigail telah dihias dengan indahnya. Dinding di bagian dalam rumah diberi rangkaian bunga mawar berwarna putih. Meja-meja juga diberi taplak berwarna putih dan beberapa lilin hias yang dinyalakan di atasnya, memberi kesan romantis pada ruangan.
Ruang tengah dibuat sedemikian rupa untuk acara akad nikah pagi itu yang akan berlangsung sebentar lagi. Abigail dengan jas putih yang berpadu dengan kemeja hitam masih dengan cemas menunggu karena rombongan Marina yang belum juga datang. Sementara para tamu undangan yang berasal dari kerabat pria itu, sudah ramai berdatangan di rumah besar itu.
Namun tak lama, iring-iringan mobil dari keluarga Marina akhirnya datang. Abigail tentu saja lega.
Marina berada di mobil paling depan bersama ibu dan juga Alan. Ketika mobil itu berhenti di depan pintu, perawat Alan dari mobil lain membawakan kursi roda buat Alan yang duduk di depan, sehingga banyak tamu yang ikut membantu ketika Alan diturunkan dari mobil, sedang Marina ikut ibu keluar dari samping.
Seorang panitia EO membantu Marina dan ibu menemukan tempat duduk mereka yang dekat dengan meja akad, sedang Alan dipersilakan duduk di samping meja akad bersama seorang penghulu. Abigail datang kemudian.
Pria itu terpesona melihat wanita itu. Marina dengan gaun akad yang berwarna putih dan penutup kepala yang berhiaskan topi, kesemuanya dihiasi brokat yang juga berwarna putih. Senyum wanita itu mempermanis penampilannya pagi itu. Senyum yang sudah lama ia rindukan. Walau seminggu, rasanya sudah sewindu mereka tak bertemu. Rindu yang serindu rindunya.
Marina pun tak bisa menahan kekagumannya pada sosok tampan calon imam yang dengan gagah berpakaian jas rapi. Jarang sekali melihat pria itu berpakaian jas lengkap, yang lagi-lagi tak pernah jemu untuk memandangnya.
Setelah Abigail duduk berhadapan dengan Alan, mereka mendengar pengajian yang dibawakan oleh seorang wanita, lalu kemudian tauziah dari Pak Penghulu yang rupanya sempat membercandai Abigail beberapa kali. Pria itu, yang mulanya tegang akhirnya bisa mengendurkan urat syaraf. Tak lama, akad dilaksanakan.
"Sah! Bagaimana yang lain?" tanya Pak Penghulu.
"Sah ...."
Terdengar tepuk tangan bergemuruh. Abigail lega dengan senyum terukir di wajah. Dengan sekali tarikan napas, ia mengucapkannya dengan benar.
Marina di bawah duduk di samping Abigail. Pria itu membuka kotak cincin dan memasangkan cincin Marina, begitu pula sebaliknya. Ada fotografer yang mengabadikan momen-momen itu dan keduanya tersenyum bahagia.
Kemudian Marina diminta untuk mencium tangan suaminya oleh sang Penghulu. Wanita itu mengambil tangan pria bule itu dan mencium punggung tangannya dengan santun, Abigail pun mencium kening wanitanya.
Terdengar tepuk tangan riuh ketika pria itu mencium kening Marina membuat wanita itu tersipu malu. Ruangan kemudian kembali ramai karena acara akad telah selesai.
Terdengar suara bayi menangis. Ternyata suara ramai dengan gelak tawa membangunkan seorang bayi yang tidur di dalam kereta bayi. Marina segera mengejarnya. Bayi itu terkejut melihat wanita itu dan langsung memanggilnya. "Ma ... mi ...."
Marina begitu bahagia bertemu lagi dengan pangeran kecilnya yang manja, begitu juga bayi itu. Setelah digendong olehnya, bayi itu segera berhenti menangis. "Ma ... mi ...."
"Iya, Nak. Mami di sini." Marina tak bisa tidak mengalirkan air mata bahagia bertemu lagi dengan si kecil.
Abigail kemudian datang dan berusaha menghapus air mata itu dengan ibu jari. "Jangan menangis dong, ini 'kan hari bahagia kita."
Wanita itu mengangguk. Tak lama susu botol Farrel dibawakan oleh salah satu pembantu mereka. Farrel langsung mengedot sambil menatap wanita yang telah lama hilang dari pandangan. Ia begitu senang sampai-sampai kadang lupa mengedot susunya saking tak percaya wanita itu telah kembali.
"Kenapa Farrel? Kangen ya sama Mami?" tanya Marina dengan mata berkaca-kaca. Bayi itu tersenyum menatapnya.
"Bukan dia aja, aku juga kangen," sahut Abigail dari samping. "Jangan pergi lagi ya, Sayang. Mulai sekarang, aku akan ikut ke mana pun kau pergi." Pria itu langsung melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu.
Marina tertawa. Ia menengadah menoleh ke arah pria itu. Abigail tak menyia-yiakan kesempatan itu dengan mengecup kembali kening wanitanya. Marina merasa begitu bahagia karena hidupnya kini telah lengkap sudah.
Beberapa sanak keluarga mulai mendatangi mereka memberi selamat. Begitu pula dengan Pak Penghulu.
"Terima kasih, Pak," sahut Abigail dengan mengangguk.
Marina masih terus menggendong Farrel walau sudah tidur. Ia ikut menyalami orang-orang yang datang memberi selamat.
"Marina sama Abi aja ya, biar Farrel, Mama yang urus."
Marina memberi senyum yang setengah hati. Saat ia tak sengaja melirik adiknya Alan, pria itu tengah merengut sendirian di meja akad. Ibu sibuk mengobrol dengan saudara dan keluarga jauhnya sehingga pria itu sendirian tak punya teman bicara.
"Alan, kamu mau apa? Kok makanannya gak di makan?" Marina menghampiri sambil melihat ke arah makanan di piring yang diletakkan di hadapan pria itu. Padahal ada perawat pria yang menunggu di dekatnya.
"Gak ada yang peduli sama aku. Kamu juga. Udah aku bantuin ...."
Tiba-tiba wanita itu memeluknya. "Alan makasih ya?"
Pria di kursi roda itu terdiam. Saat Marina mengangkat wajahnya, pria itu kembali bicara. "Tolong temani aku makan, Kak."
Sebuah permintaan yang sederhana, tapi dikabulkan oleh wanita itu. Marina duduk di sampingnya ditemani sang suami, membuat Alan dengan lahap makan sarapan pagi itu.
"Marina, kau tidak makan? Aku ambilkan ya, biar kita makan sama-sama." tanya Abigail.
Marina tersenyum dan mengangguk. Tak lama pria itu kembali dengan dua buah piring nasi dan lauknya. Seorang pembantu membawakan mereka minuman. Keduanya kemudian menemani Alan sarapan.
Sejam kemudian tamu pun pulang. Abigail masih duduk di samping istrinya menemani Alan, sedang Mama dan papa sibuk dengan si kecil. Ibu menyambangi Mama Abigail. "Kalau begitu, kami juga pamit ya, Bu. Nanti malam kita bertemu lagi di pesta."
"Oh, apa Abigail lupa memberi tahu? Ibu sama Alan 'kan menginap di sini."
"Menginap?"
"Iya. Lagipula sedikit rumit kalau ibu dan anak ibu pulang dulu, karena anak ibu di rumah sakit sedang ibu pulang ke rumah," terang Mama lagi.
"Tapi kami hanya membawakan pakaian Marina saja."
"Tidak apa-apa, Bu. Ibu bisa pinjam pakaian Marina. Mungkin sedikit longgar dan anak Ibu pakai baju Abi, aku rasa ukurannya sama. Baju pesta 'kan nanti dibawakan tukang rias jadi tidak usah khawatir, jadi semuanya bisa dilakukan di rumah ini sebelum datang ke hotel."
"Oh, ya sudah."
"Ibu bisa tinggal di kamar Marina sedang anak ibu, siapa namanya? Alan ya?"
"Iya."
"Tinggal di kamar bawah saja, kebetulan ada yang kosong, jadi gak perlu repot menggendongnya naik turun tangga."
"Makasih ya?" Ibu terlihat senang.
"Tidak apa-apa, Bu. Sekarang ibu bisa istirahat di atas. Biar pembantu yang mengantarkan. Jarsih!" panggil Mama pada pembantu anaknya.
Alan melihat ibu naik ke lantai atas. "Lho, ibu!" teriaknya.
__________________________________________