
"Baik, Nyonya." Mobil pun mampir ke sebuah apotik kecil.
Farrel mengikut turun, ketika Marina keluar dari mobil. Itu sudah biasa bagi wanita itu karena itu ia membiarkan bocah itu turun. Di apotek, Marina langsung memesan alat itu.
Farrel menyentuh baju ibunya. "Emang ada alat tes hamil, Mi?" tanyanya saat pramuniaga itu masuk ke dalam untuk mencari barang.
"Ada. 'Kan lagi dicari sama, Mbaknya," terang Marina.
"Telus, doktel gunanya apa, Mi?"
"Periksa orang sakit lah."
"Sakit apa, Mi?"
"Sakit macam-macam."
"Tapi ini sakit hamil aja ada alatnya, Mi."
"Iya, tapi tak semuanya bisa dengan alat."
"Sepelti apa, Mi?"
"Sakit jantung, diabetes, darah tinggi."
"Oh, jadi Opa sakit itu kemalen ya, Mi."
"Opa kemarin jatuh di kamar mandi, Sayang. Ngak ada sakit apa-apa, cuma kecapean."
"Kok gak sakit masuk lumah sakit, Mi?"
Pembicaraan terpaksa dihentikan karena pramuniaga itu sudah kembali. Setelah membayar, mereka keluar.
"Memangnya, kita boleh nginap di lumah sakit, ya?"
"Ya, gak bisa. Harus orang sakit."
"Tadi katanya Opa gak sakit, kok bisa nginap di lumah sakit, Mi?"
Wanita itu menghela napas panjang. Memang mengikuti pertanyaan Farrel yang tak ada habis-habisnya, sangat memusingkan. Namun Marina sebagai ibu merasa perlu membagi pengetahuan selagi ia bisa, agar bocah itu mendapat pengetahuan yang benar, dibanding bocah itu mengetahui dari orang lain yang ternyata salah.
Bocah itu yang sudah duduk di bangku TK, sangat aktif bertanya dan Marina selalu berusaha sebisanya menjawab pertanyaan bocah ingin tahu itu. Karenanya, praktis Farrel semakin lengket dengan ibu tirinya ini.
"Farrel, cepat ganti baju. Kamu mau makan siang sama Mami?" tanya wanita itu sesampainya di rumah.
"Mami mau nulis ya?"
"Ngak, Mami mau tiduran. Mungkin karena Mami kurang tidur semalam, jadi begini."
"Mmh." Bocah itu merengut.
"Kenapa lagi, Farrel?"
"Ngak ada temen, Mi."
"Tapi, Farrel. Mami, lagi mau tidur. Ngak enak badan juga, Mami."
"Fallel ma Mamiii," rajuk bocah itu dengan mengerucutkan mulutnya.
"Ya udah. Tiduran temenin Mami, mau?"
"Mau."
"Ya udah. Kamu tukar baju dulu dikamar. Nanti Mami tunggu di kamar Mami."
Keduanya menaiki tangga dan berpisah di depan pintu kamar Farrel. Wanita itu masuk ke kamarnya. Segera ia mengambil alat tes kehamilan itu dan membawanya ke kamar mandi.
Tak lama Farrel datang ke kamar. Dilihatnya tak ada seorang pun di kamar. Ia segera mengetuk pintu kamar mandi. "Mami di dalam?"
"Iya."
Bocah itu kemudian menaiki ranjang dan menunggu di sana, tapi Marina tak kunjung keluar hingga suara dering telepon membuat bocah itu mencari hingga ke dalam tas ibunya yang ada di samping. Ternyata telepon Marina ada di sana. Farrel mengangkatnya.
"Halo, Sayang. Kamu sudah pulang?"
"Papa, ini Fallel."
"Lho, Farrel. Mami mana?" Abigail terkejut ketika bocah itu yang mengangkatnya.
"Mami di kamal mandi, belum kelual dali tadi, Pa."
"Masa? Mami kenapa?"
"Ngak tau. Dali tadi pagi sakit pelut, katanya. Sekarang, masuk kamal mandi malah gak kelual-kelual."
Abigail panik. "Coba panggil Mami. Ketok pintunya," perintahnya.
Farrel turun dari ranjang dan mengetuk pintu.
"Ya?" terdengar suara serak dari dalam kamar mandi.
"Mami, Papa cali Mami!" teriak bocah itu.
"Eh ... nanti saja, Sayang. Nanti Mami telepon." Suara serak wanita itu terdengar lain.
"Suaranya aneh," gumam pria itu.
"Mami kayak nangis ya, Pa?"
"Apa?" Abigail seketika terkejut mendengar ucapan Farrel. Saat itu juga ia ingin pulang. "Eh, Farrel."
"Iya, Pa."
"Kamu jagain Mami ya? Sekarang Papa lagi perjalanan pulang."
"Iya, Pa."
Abigail sebenarnya sedang di jalan hendak ke pabrik. Karena macet, ia iseng menelepon Marina dan malah terkejut. Tujuannya kemudian berubah mengarah pulang.
Farrel berbaring di atas ranjang hingga ketiduran. Saat pria itu datang, bocah itu telah terlelap. Didatanginya kamar mandi dan ia coba mengetuk pintu. "Marina?"
"A-abang?" Suara wanita terdengar terkejut.
"Kamu sedang apa di dalam?" tanya Abigail khawatir.
"Eh ...."
"Marina, keluarlah. Ada apa?"
Pintu dibuka. Terlihatlah wajah istrinya yang telah basah. Itu pun air matanya kembali mengalir. "Bang ...."
"Marina, kamu kenapa, Sayang."
"Aku akan gendut lagi."
Kini Abigail bingung dengan mengerut dahi. Ia melihat tubuh istrinya yang masih langsing. "Gendut? Maksudmu, kamu habis makan banyak, gitu?"
"Enggak, Bang." Kini wanita itu menangis.
"Lalu apa?"
"Aku hamil ...."
"Astaghfirullah, Marina. Aku pikir ada apa." Pria itu meraih tubuh sang istri lembut ke pelukan. "Itu bukan bencana, Marina. Itu alhamdulillah. Apa kau tak menginginkan seorang bayi?" ucapnya penuh perasaan.
"Tapi nanti perutku jadi gendut dan tak menarik lagi. Kau akan meledekku karena sudah gendut kembali."
Pria itu melepas pelukan dan menatap istrinya sambil membersihkan sisa-sisa air matanya. "Kau tahu? Aku mengenalmu saat kamu gendut. Dan bukan karena itu aku mencintaimu. Aku mencintaimu karena kamu Marina. Wanita baik hati, sangat lucu dan juga cerdas.
Aku bersyukur Tuhan menciptakan wanita sepertimu, karena tanpamu, aku tak bisa menemukan Farrel, melewati kesedihan ditinggal istriku yang dulu dan menyadari bahwa cinta tak memandang fisik. Aku mencintaimu, Marina. Apa adanya. Di saat kau gendut, di saat kau kurus. Di saat kau menulis, atau sedang menidurkan Farrel. Di saat kau menangis, juga di saat kau bahagia. Aku ingin jadi bagian dari hidupmu, Marina, selamanya."
Marina tertegun mendengar penuturan suaminya. Belum pernah ia mendengar pengakuan seorang pria yang sebegitu dalamnya mencintai seorang wanita, dan ia tersanjung. "Bang."
"Mami ...." Farrel terbangun.
Keduanya melirik ke arah bocah itu.
"Mami, Dedeknya ada, Mi?"
"Sepertinya doa Farrel manjur untukmu," sahut pria itu yang diikuti tawa Marina. Ia kemudian memeluk istrinya dengan bahagia.
---------+++---------
Hari-hari berlalu dan perut Marina makin membesar. Mereka terpaksa mendatangkan kembali babysitter Isy karena wanita itu sudah tidak boleh ke mana-mana kecuali pergi dengan diantar sang suami.
"Mami!" Farrel berlari-lari mendatangi Marina seusai pulang sekolah. Ia lebih antusias pulang ke rumah bertemu ibunya dibanding sekolah.
Marina yang sedang bercermin lewat HP-nya melirik bocah itu yang datang dengan gembira. "Jangan berlari-lari begitu, Farrel. Nanti kamu jatuh."
"Gimana, Dedek, Mi? Kapan kelualnya?"
"Ngak tau, Mami, tapi katanya 2 bulan lagi."
"Lama ya, Dedeknya kelual. Kenapa lama ya, Mi?"
"Masih kecil, Dedeknya di perut Mami."
"Masa?" Farrel memperhatikan perut wanita itu. "Ini pelut Mami udah gede lho. Mau segede apalagi?" tanyanya kesal.
"Karena bayi dalam perut memang sembilan bulan, Sayang." Marina mengusap pucuk kepala bocah itu.
Farrel menyandarkan kepalanya pada perut Marina. "Dedek cepat kelual ya, bial Kakak ada temannya," keluhnya.
Isy datang mendekat. "Tapi jadi Kakak harus bisa kasih contoh yang baik ya, sama Adek. Seperti, pulang sekolah harus ganti baju dulu."
Farrel merengut. "Iyaaa."
----------+++----------
Abigail sedang memeriksa berkas ketika dering teleponnya berbunyi. Setelah mengecek nama, pria itu mengangkatnya. Belum sempat ia bertegur sapa, ia mendengar kabar yang tak mengenakkan hingga pria bule itu sampai berdiri dari kursinya. "Apa?"
___________________________________________