Author And The Baby

Author And The Baby
Tanggung Jawab



Abigail menutup teleponnya. Ia bingung. Ini hanya berasal dari satu pihak saja, ia harus memastikan apa yang terjadi tapi bagaimana cara mengatakan ini pada Marina?


Menyembunyikan jelas tak mungkin karena ini tentang adiknya, Alan sedang ia sendiri adalah pihak luar, tapi ... mengatakan ini pada istrinya yang tengah hamil .... Ia benar-benar bingung. Ia takut Marina syok dan mengganggu kehamilannya.


Ia menyugar rambutnya dan menggigit bibir. Ah, tanya pada ibu! Abigail segera berangkat.


-----------+++----------


Marina terkejut ketika mendapati suaminya pulang cepat. "Bang, kok pulang cepat?"


"Tadi ke tempat ibu," jawab pria itu mendatangi istrinya di meja makan.


"Sudah makan?"


"Sudah, sama ibu. Eh, Marina ...." Pria itu menyentuh tangan sang istri.


"Tumben Abang ke tempat ibu. Ada kabar apa?"


"Itulah ... ada yang ingin aku katakan." Wajah pria bule itu terlihat bimbang.


"Apa?" Marina merasakan ada yang berbeda.


"Tentang Alan." Bule itu memancing reaksi istrinya.


"Ya?"


Pria itu mengambil tangan sang istri dan menggenggamnya. "Aku ingin kamu tenang ya?"


Marina jelas kebingungan.


"Jangan stres karena kita belum tahu kebenarannya."


"Ada apa sih, Bang?"


"Mmh ...." Pria itu menelan ludah.


"Cerita aja." Wanita itu penasaran.


"Aku takut kehamilanmu ...."


"Mudah-mudahan gak papa, Bang. Cerita aja."


Abigail masih ragu.


"Aku sudah biasa dengan masalahnya. Biasanya juga memang aku yang mengurus Alan kalau kena masalah. Apa? Ada apa? Apa dia bikin masalah di perusahaan Papa?"


Ya, setelah lulus kuliah, Alan bekerja di perusahaan ayah Abigail sudah setahun lamanya dan terlihat, Papa menyukai perkerjaan adik Marina itu.


"Apa dia mulai malas kerja dan bertemu dengan teman lamanya itu lagi?"


"Bukan, ini masalah lain." Pria itu masih menggenggam tangan sang istri.


"Jadi masalahnya apa?"


"Mmh, aku dapat telepon dari Pak Ridho. Anaknya mencoba bunuh diri dengan minum banyak obat penenang tapi berhasil di selamatkan."


Marina makin bingung mendengar berita itu. "Astaghfirullah alazim. Syukurlah, tapi apa hubungannya dengan Alan?"


"Apa kau tidak tahu kalau mereka sempat pacaran?"


"Apa? Tidak, tapi ... apa ...." Marina menatap suaminya sambil berpikir. "Jangan bilang, gara-gara Alan ...."


"Aku tidak tahu, Marina. Berita ini aku dapat dari Pak Ridho, jadi kita harus mempertemukan mereka untuk tahu cerita aslinya."


"Kalau begitu, bawa aku ke sana sekarang. Apa anak Pak Ridho ada di rumah sakit?" tanya wanita itu lagi.


"Iya."


"Alannya? Dia harus datang."


"Dia menuju rumah sakit dan akan menunggu kita datang, sebelum bertemu mereka."


"Ok, titip Farrel dulu pada Isy di rumah. Eh, ibu ...."


"Ada di mobil."


Abigail kembali menggenggam kedua tangan istrinya. "Kau benar gak papa, ikut?"


Marina menatap kedua bola mata suaminya yang mulai sendu. "Lalu kamu kemari untuk apa? 'Kan kau bisa pergi bersama Ibu?"


"Kata Ibu, kamu yang harus bicara, padahal aku sudah bilang, terakhir saja setelah masalah ini selesai, tapi ibu tidak mau."


Marina tersenyum dan meraih kedua lengan suaminya. "Karena ibu itu emosian. Kalau dia yang bicara, masalah bukan tambah beres malah tambah panjang urusannya."


Pria itu masih terpaku.


"Sudah, yakin saja. InshaAllah semua selesai dengan baik-baik."


Abigail meraih tubuh istrinya dan memeluknya dengan lembut. "Mudah-mudahan kau benar."


---------+++----------


Mereka bertemu dengan Alan di lobi rumah sakit. Belum apa-apa, Ibu memukulnya hingga pria itu hampir jatuh karena Alan masih bertongkat. Untung Abigail membantunya berdiri dan Marina memisahkan mereka.


"Ibu, kita dengar dulu masalahnya," sahut Marina.


"Memang masalahmu apa dengan anak Pak Ridho sampai memintamu datang?" tanya Abigail pada Alan.


"Aku bingung. Pak Ridho tidak merestui hubungan kami jadi aku putus dengannya. Aku tidak tahu apa-apa lagi sejak itu," terang Alan sambil menunduk.


"Bohong! Kamu pasti ngapa-ngapain anak orang, iya 'kan?!" sahut ibu sengit.


Alan makin menenggelamkan kepalanya.


"Sudah, Bu. Ini tempat ramai," ujar Marina lagi. Ucapan itu cukup ampuh membuat Ibu sadar dan menjaga sikap.


Mereka kemudian bersama-sama pergi ke ruang perawatan Santika. Selain Alan, tidak ada yang tahu Alan dan Santika pernah berpacaran. Ini yang membingungkan ketiga orang ini, karena Alan merahasiakan hubungannya dengan Santika.


Saat masuk ruangan, terlihat Ridho tengah mendampingi anaknya di samping ranjang rumah sakit. Wanita muda itu terbaring lemah dengan wajah pucat. Abigail tidak tahu apa yang akan dilakukan Ridho setelah bertemu dengan Alan secara langsung, tapi ia bersiap-siap dengan yang terburuk. Ia hanya mendengar pria paruh baya itu panik saat meneleponnya kala itu.


"Eh, kami datang dengan niat baik tentunya untuk mengurai kesalahpahaman dan menempatkan masalah pada porsinya. Semoga pertemuan ini bisa dilakukan dengan kepala dingin." Abigail memulai.


Ridho mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku ingin ...."


"Pa ... jangan bebani dia, Pa. Dia gak salah," potong Santika yang terbaring di atas tempat tidur.


"Tapi Papa ingin memastikan sesuatu, Santi," ucap pria paruh baya itu pada anak semata wayangnya itu.


Alan dengan berani, maju menghadap Ridho.


Pria paruh baya itu menatap wajah Alan dengan seksama. "Apa kau pernah tidur dengan anakku?"


Alan mengangguk. Sebuah tamparan keras melayang ke pipi mulus pria itu. Ada tanda merah yang terlihat jelas membuat Abigail langsung memisahkan keduanya.


Santika bahkan turun dari ranjang, hanya untuk memisahkan Alan dari ayahnya. Wanita itu memasang badan melindungi pria itu. "Jangan salahkan dia, Papa. Dia gak salah. Aku yang menidurinya." Ia berbalik dan memeluk pinggang Alan. "Aku sangat mencintainya."


Semua orang di dalam ruangan itu terperangah tak percaya mendengar pengakuan wanita itu.


"Santi." Alan berusaha melepas pelukan wanita itu tapi wanita itu tak mau melepaskannya. Santi memeluknya erat.


Ibu pun bingung harus percaya atau tidak mendengar penuturan wanita itu.


"Mmh, jadi Bapak maunya bagaimana?" tanya Abigail yang coba menuntaskan masalah ini. Persoalan cukup rumit karena Ridho bekerja sama dengan perusahaan sang ayah dan juga teman bisnisnya. Entah untuk alasan apa, Ridho tidak merestui hubungan mereka. Mungkin karena Alan cacat.


"Mmh, maafkan adik saya ya, Pak. Saya rasa sebuah pertemuan, tidak selalu berakhir dengan baik. Dituntut setiap individu untuk bisa memaknai sebuah pertemuan dengan bijak. Pastinya, tidak ada yang ingin berakhir buruk," Marina ikut bicara.


Ridho bingung melihat anaknya masih memeluk Alan. "Bukan aku berniat buruk tapi Santi sudah dijodohkan oleh almarhum ibunya dengan orang lain dan aku mencoba menjaga amanah itu. Apa aku salah menurutmu, mmh?" Ia bertanya pada Abigail.


"Tidak ada yang salah, Pak, tapi sebenarnya, eh maaf ya, Pak kalau lancang. Kalau orang yang di amanati tidak sanggup melakukannya, tidak berdosa, Pak, menurut hukum agama Islam."


Ridho terdiam mendengar penuturan Abigail. Ia menoleh ke arah Alan yang masih berusaha melepaskan diri dari anaknya, Santika. "Jadi aku harus bagaimana?"


"Adikku pasti bertanggung jawab, kalau itu yang Bapak minta," sahut Marina.


Ternyata sejak pertama kali bertemu Santika telah jatuh hati pada Alan. Walaupun pria itu bertongkat, tapi tidak menghalanginya untuk ingin mengenal pria itu lebih jauh.


___________________________________________