Author And The Baby

Author And The Baby
Pantai



"Lama ya, Kak?" Tiba-tiba Marina datang dari arah samping.


Pria itu menoleh. "Oh, tidak apa-apa."


"Padahal kalau kakak pesan makanan lebih dulu juga tidak apa-apa. 'Kan sudah lewat waktunya." Marina menarik kursi.


"Mmh." Abigail menyentuh dagunya. "Tadi aku lihat ada yang membawa kereta bayi. Aku jadi terpikirkan untuk membelinya."


"Tapi 'kan Farrel belum bisa mengangkat kepalanya? Baru bisa diangkat sedikit-sedikit."


"Oh, itu tidak masalah. Tiduran saja bisa. Atau di angkat sedikit di bagian kepala, gak papa. Ini untuk memudahkan kamu membawa Farrel keluar jalan. Jadi ngak capek. Takutnya 'kan, sebentar lagi berat badannya bertambah. Berat gendongnya."


"Ah ... Agh ...." Bayi itu mulai mengoceh.


Abigail menoleh pada Farrel. "Apa sayang? Mmh, sepertinya dia senang diajak jalan-jalan keluar." Ia mengarahkan pandangannya pada Marina dengan senyum lebar.


"Sekarang Kakak pesan makanan dulu aja, nanti Kak Abigail sakit lho, telat makan!" Wanita itu mengingatkan.


Abigail tertawa. "Oh, iya, iya. Aku lupa. Pesankan saja untukku."


"Iya, Kakak pesan apa?"


Marina kemudian memanggil pelayan restoran dan memesan makanan. Sambil menunggu makanan datang, keduanya melihat pada bayi Farrel yang menggerak-gerakkan tangannya seraya menatap ke arah pria itu.


"Waa ...." Bayi itu tertawa.


"Apa yang kamu tertawakan, mmh? Pipimu makin bikin Papa gemes melihatnya," ucap Abigail lembut. Ia meletakkan jarinya lagi pada telapak tangan bayi itu yang disambut dengan genggaman tangan yang kuat.


Abigail mencium kening bayi itu karena senang.


Kak Abigail, sayang sekali ya, sama Farrel. Tak terbayangkan kalau dia pernah bertengkar dengan istrinya. Sepertinya tidak mungkin tapi kenyataannya iya. Padahal Kak Abigail terlihat seperti orang yang sabar dan penyayang. Apa istrinya galak ya? Ah, rumah tangga orang siapa yang tahu.


Makanan kemudian datang.


"Kak, sini Kak, biar aku gendong." Marina mengambil Farrel.


"Mmh." Abigail sebenarnya tak tega memberikan Farrel pada Marina karena dengan begitu, wanita itu jadi terhambat makannya, tapi karena Marina dipekerjakan untuk mengurus anaknya, terpaksa ia makan lebih dulu.


Marina ternyata bisa makan sambil menggendong Farrel, karena ia memilih makanan yang praktis untuk di makan. Lasagna. Ia tinggal memotong dan menyuap, tapi Marina kasihan melihat wajah Farrel yang tampaknya tergiur melihat wanita itu makan.


Marina tersenyum. "Mmh, jadi lapar ya? Ingin sih kasih kamu makan tapi belum waktunya. Nanti kamu sakit lagi."


"Memangnya kapan bayi boleh makan?"


"Sekitar umur 6 bulan. Masih lama 'kan? Aku kadang kasihan lihat Farrel sepertinya lapar setiap kali lihat aku makan."


"Mmh." Pria itu melirik Farrel. "Kamu tau dari mana? Cari di internet?"


"Iya Kak, sekarang 'kan apa-apa ada di internet, jadi gampang tinggal cari."


Mereka menghabiskan makan siang dengan mengobrol dan mengasuh Farrel. Setelah selesai makan siang, mereka duduk di sana sebentar sambil menikmati udara laut yang segar.


"Kak, sebaiknya kita kembali saja ya?" ajak Marina.


"Lho kenapa?"


"Sebentar lagi Farrel pasti minta susu."


Mereka kemudian keluar dari hotel dan segera masuk ke mobil. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk menemukan sebuah supermarket, sementara Farrel mulai gelisah.


"Marina, kamu tunggu di sini ya? Aku akan membeli susu Farrel di dalam," kata Abigail di depan supermarket itu. Kebetulan ada sebuah konter makanan di mana Marina bisa duduk menunggu di kursi yang tersedia.


Saat Abigail kembali, ternyata Marina tengah menikmati ice cream cone di tangan sambil menggendong Farrel dengan kain gendongan. Ini sebenarnya pemandangan yang lucu bagi Abigail, karena wanita itu terkejut ketika pria itu datang dengan cepat, membawa belanjaan yang diminta.


Wanita itu panik. "Mmh, tapi kita sekarang minta pada siapa air panasnya. Eh, botolnya juga belum dicuci. Aduh, bagaimana ini?" Ia gelisah menoleh ke sana kemari sambil tetap memakan es krim itu.


Abigail tidak bisa tidak tersenyum. Ia lalu mengambil botol susu bekas minum Farrel dari tas ransel, dan membawanya ke konter makanan itu. Ia meminta tolong pada pramusaji di sana. "Bisa minta tolong, Mbak. Tolong cucikan dengan air panas botol susu anak saya dan sekalian isikan air panas dan susu ini." Ia menyerahkan bungkusan plastik berisi susu kaleng, botol susu dan selembar uang merah. "Bisa 'kan? O ya, ini sekedar tip dan secangkir kopi. Uang kopinya menyusul."


"Ah, sebenarnya tidak bisa, tapi biar saya bantu." Pramusaji itu mengambilnya.


Abigail kemudian kembali ke tempat Marina duduk. Ia hampir tertawa melihat mulut wanita itu yang terkena noda es krim tapi sepertinya wanita itu tidak sadar.


"Bisa Kak?" tanya Marina penasaran. Ia masih makan es krim yang dipegangnya.


"Iya," kata pria itu menahan tawa karena saat wanita itu makan lagi es krimnya, nodanya makin melebar.


"Kenapa, Kak?" tanya wanita itu heran melihat ekspresi wajah pria itu. Apa ada yang lucu dengan dirinya?


"Mmh, begini." Pria itu tersenyum lebar duduk di hadapan wanita itu. Ia mengambil tisu di atas meja dan mendekatkan dirinya pada Marina.


Saat itu tubuh Marina serasa membeku. Gerakkan yang tiba-tiba dari Abigail membuat detak jantung wanita itu mulai berdebar tak karuan.


Pria itu mengusap bibir wanita itu dengan pelan dan teliti. "Makanmu berantakan sekali." Saat di perhatikan, pria itu tak sengaja menghapus lipstik di bibir wanita itu. "Oh, lipstikmu terhapus."


Saking perhatiannya ia membersihkan mulut Marina, ia tidak sadar wajah mereka tengah saling berdekatan. Ia terkejut saat mengangkat pandangan matanya ke depan. "Oh, eh ...." Ia pun membeku ... melihat kedua bola mata indah milik Marina yang menatap lurus ke arahnya.


Saat jantungnya berdetak kencang, ia mulai sadar dan bergerak mundur. "Oh, itu ...." Ia sadar ia telah ketahuan menatap balik mata wanita itu hingga ia malu dan menunduk sambil mengusap belakang lehernya. "Eh, aku cuma ...." Ia melirik Marina.


Wanita itu masih membeku di tempatnya dengan pipi memerah. Sepertinya wanita itu juga tak bisa bicara saking malunya.


"Eh, Marina es krimmu!" Abigail melihat es krim wanita itu yang mulai meleleh melewati tangan.


"Oh, es krimnya," keluh wanita itu.


Abigail kembali mengambil tisu dan membersihkan tangan wanita itu.


Di saat bersamaan, seorang pramusaji datang membawa botol susu Farrel, segelas kopi dan plastik belanja dalam sebuah baki. "Ini, Pak botol susunya."


"Oh, ya." Abigail mengambil botol susu dan kemudian menyodorkannya pada Marina. "Eh, kopinya?" Ia menoleh pada pramusaji itu.


"Eh, tidak usah, Pak. Uangnya sudah cukup," ujar pramusaji tersebut.


"Oya, terima kasih ya?" Kemudian Abigail menoleh pada Marina.


"Tapi es krim ini, bagaimana?" Marina mengangkat es krim yang tinggal separuh di tangan.


"Sini, aku aja." Abigail meletakkan botol susu itu di atas meja dan mengambil es krim milik wanita itu. Ia lalu membersihkan tangan Marina dengan tisu sehingga wanita itu bisa meraih botol susu yang berada di atas meja itu dengan rasa nyaman.


Farrel yang sudah gemas melihat botol susu itu, segera menyusu dengan rakus saat dot itu dimasukkan ke dalam mulutnya.


Marina dan Abigail lega.