
"Tapi tetap saja, orang akan melihat aneh padaku. Nanti aku dikira pasanganmu lagi." Marina mengungkapkan dengan tertunduk malu.
Abigail mendengarkan dan menoleh sekilas. Ia berdehem sebentar lalu merapikan rambutnya lewat cermin atas, sambil berkata, "Kamu 'kan temanku, patnerku mengurus Farrel jadi wajar kamu berpakaian seperti itu." Kembali ia berdehem. Ia bingung bagaimana menempatkan status Marina agar wanita itu merasa nyaman.
Wanita itu melirik Abigail dengan tersenyum tipis. "Mmh ...."
Malam telah datang. Cahaya gemerlap mulai menghiasi gedung-gedung besar dengan tembok yang kokoh di sekitar apartemen itu. Abigail, Marina dan Farrel bersiap untuk pergi ke pesta dengan pakaian yang sudah disiapkan.
Marina keluar dari kamar dan melihat Abigail telah berpakaian rapi dengan jas berwarna hitam.
Pria itu tengah menggendong Farrel yang baru bangun dan sedikit rewel. "Tolong buatkan susunya biar dia minum susu dulu sebelum pergi."
"Ok."
Marina ke dapur sementara Abigail bercanda dengan Farrel. "Mmh, baru bangun anak Papa. Jangan muka jelek begitu ah!" Ia mengusap wajahnya pada perut bayi itu membuat bayi itu geli dan tertawa. Ia mengulanginya hingga wajah Farrel banyak senyum. Abigail mencium gemas pipi Farrel yang mulai tembam hingga tertawa kembali. Bayi itu menyentuh wajah Abigail.
"Cepat besar yang, Sayang. Papa ingin dengar kamu bicara, sekolah, punya pacar. Eh, jangan deh! Papa aja belum punya."
"Punya apa?" Marina datang dengan susu botolnya.
"Eh? Mmh." Abigail gelagapan dan langsung mengambil susu botol Farrel. "Eh, enggak." Ia memberi bayi itu susu botol. Farrel meminumnya dengan bersemangat.
"Mmh?" Wanita itu menatap Abigail ingin tahu.
"Eh, tidak apa-apa."
Tiba-tiba tangan Marina mengarah ke leher Abigail membuat pria itu terkejut. "Ini bajunya mau dikancingi sampai atas atau biarkan lepas satu, soalnya kerahnya sering tertarik kerah jas ke samping." Ia merapikan kerah kemeja pria itu.
"Eh, bagusnya bagaimana?"
"Kalau dikancing lebih rapi."
"Ya, sudah dikancing saja."
"Tapi bisa bernapas 'kan, kalau aku kancing semua?"
Abigail mengerut kening. "Tentu saja Marina." Ia hampir tertawa.
Wanita itu memasangkan kancing kerah baju pria itu.
Sedikit ada rasa aneh ketika tangan lembut Marina menyentuh leher pria itu. Seketika irama jantungnya pecah. Sedasyat itu dan Abigail tak mampu bicara.
"Sudah."
Saat itu pelarian netra terbaiknya adalah fokus pada Farrel yang sedang mengedot dari botol susunya. "Eh, terima kasih." Ia masih melirik sekilas pada wajah wanita yang berada di depan yang tersenyum manis padanya.
"Iya, ngak papa kok."
Duh, Marina. Aku harus mulai dari mana? Aku tidak mengerti cara memulai. Aku 'kan tidak mungkin bilang I love you(aku cinta padamu), seketika. Atau bisa ya? Ah, sepertinya aku harus belajar dari seorang Casanova, huh!
"Kenapa, Kak?" Marina melihat pria itu seperti kebingungan memperhatikannya.
"Eh, tidak." Pria itu menghindar.
"Eh, biar aku saja yang gendong, Kak." Marina mengambil alih bayi itu. Ia takut pria itu tak konsentrasi menunggui Farrel menyusu yang menyebabkan bayi itu bisa tersedak.
"Eh, ya." Pria itu menberikan bayi itu pada Marina.
Keduanya duduk menunggu Farrel menyelesaikan susunya. Wanita itu fokus pada Farrel sehingga Abigail bisa menyusuri sosok wanita di depannya.
Memang ia agak gemuk tapi pria itu tak pernah bisa melihat itu saat bersamanya. Yang ia tahu, Farrel selalu senang bersama wanita ini. Kadang tertawa dan minta digendong saat melihat wajahnya.
Beda dengan saat bersama ibu kandungnya Alena yang walau ingin minta digendong saat melihatnya, karena ia sering melihat Alena mengabaikan Farrel ketika sendirian. Padahal mereka punya babysitter yang membantunya, karena itu Farrel tak pernah seantusias itu seperti pada Marina.
Setali tiga uang, Abigail sebagai ayah Farrel juga merasakan hal yang sama terhadap Marina di banding dengan istrinya padahal Marina jelas-jelas orang lain bagi mereka berdua. Kalau sudah begini, aku harus mempercepat gerak langkahku tapi harus mulai dari mana dulu?
"Sudah, Kak, susunya." Marina meletakkan botol susu Farrel di atas meja. Farrel terlihat sudah amat mengantuk.
"Letakkan saja di dalam kereta bayinya. Yuk, kita berangkat!"
Mereka kemudian keluar dengan mendorong kereta bayi Farrel. Mereka berbelok di koridor dan bertemu Sila yang baru akan masuk apartemennya. Ia sudah membuka setengah pintu masuk dan menatap ke arah mereka berdua. "Eh, mau ke mana sudah dandan rapi begini?" ledek Sila.
"Mau pergi ke pesta nikahan menemani ayah Farrel, Mbak," sahut Marina dengan sumringah.
"Oh, begitu. Wah, dandanannya cantik sekali." Sila melihat keduanya.
"Saya sudah terbiasa seperti ini. Tidak ada yang istimewa," sahut Abigail merendah.
Anka yang berada di dalam apartemen mendengar suara percakapan orang di depan pintu dan mengenali suara Marina. Ia segera keluar dan menatap kedua sejoli itu yang terlihat rapi dan cantik. Terutama Marina.
"Oh, Anka, kamu sudah pulang," sapa Marina.
"Eh, iya, Kak."
"Ya sudah, kami pergi dulu ya, Mbak?" ucap wanita itu pada Sila.
"Oh, iya, iya." Sila menganggukkan kepala saat Abigail mengangguk padanya.
Marina dan Abigail pun pergi ke arah lift sambil mendorong kereta bayi Farrel.
Anka masih memandangi Marina hingga Sila melambaikan tangan di depan wajah pemuda itu.
"Hei! Melamun. Ini bantu kakak bawa barang belanjaan kakak ke dalam," sahut Sila pada adiknya, Anka. Ia menyodorkan plastik belanjanya pada pemuda itu.
"Lho, Kak Surya mana?"
"Lagi di bawah, bawa sisanya."
"Oh."
Abigail membantu mendorong kereta bayi ke dalam lift, lalu menutup pintu lift. "Kamu panggil Sila apa? 'Kakak' atau 'Mbak'?" Rupanya Abigail memperhatikan.
"Sebenarnya 'Mbak' tapi karena Anka sering memanggil kakaknya 'Kak' jadi panggilnya, 'Kak' juga. Terbawa Anka."
"Oh, pantas. Kok berubah-rubah."
Setelah masuk ke dalam mobil, mobil pun meluncur membelah jalan raya dengan kendaraan yang ramai di jalan. Mereka akhirnya sampai ke sebuah gedung megah di mana pesta pernikahan teman Abigail berlangsung.
Mereka kemudian masuk membawa kereta bayi serta. Farrel masih tertidur nyenyak.
Di sana Abigail bertemu banyak kolega, dan sahabatnya.
"Hei, Abigail, bagaimana kabarmu?"
Abigail menoleh. "Hei, Haris, apa kabar?"
Mereka bersalaman.
"Baik, baik. Oh, kau datang dengan istrimu?" Haris melirik Marina.
"Masa kau tak tahu dengan masalahku? 'Kan sempat masuk TV," kata Abigail mengenyit alis.
"Oh, tentu aku tahu, tapi kupikir kau sudah menikah lagi," bisik Haris yang melirik Marina.
Tentu saja Marina mendengar dan menunduk karena tersipu malu.
"Kamu itu!" Abigail menepuk bahu temannya. "Ini babysitter anakku."
"Oh ya? Soalnya penampilannya ...."
"Oh, iya. Dia kebetulan temanku."
"Oh, begitu?" Haris langsung melirik ke arah Marina dan menyodorkan tangan. "Kenalkan, namaku Haris. Teman Abigail sama-sama kuliah dulu." Pria berdarah Jawa yang cukup tampan itu tersenyum pada Marina.
Wanita itu menyambutnya. "Marina."
"Mmh." Haris masih belum melepas tangannya pada Marina dan masih terus memandangi membuat Abigail sedikit kesal pada temannya itu.
"Sudah! Apa sih?" Abigail melepaskan tangan mereka berdua.
Marina menahan tawa.
Haris menarik Abigail menjauh. "Kalau aku main ke rumah, boleh?"
___________________________________________
Masih semangat baca novel ini 'kan? Jangan lupa penyemangat author, like, vote, komen, atau hadiah. Ini visual Abigail dan Marina. "Wanita ini ternyata bahaya kalau dibawa ke pesta." Salam, ingflora 💋