
Marina terbangun dengan kepala berat. Saat ia membuka matanya, ia melihat bayi Farhan sudah di tepi tempat tidur. Ia terkejut. Cepat-cepat wanita itu meraih bayi itu sebelum ia menggelinding lagi dan jatuh ke lantai.
"Hap! Ah, Farhan ...." Bayi itu segera dipeluknya.
Bayi itu malah terkekeh tertawanya.
"Kamu tahu, jantung Mami hampir mau copot melihatnya tadi. Mmh." Wanita itu mengusap punggung bayi itu.
Terlihat bayi itu tersenyum ke arahnya. Namun Marina tidak dalam kondisi terbaiknya. Kepala pening dan tubuh sedikit hangat. Ia bingung bagaimana mengurus si kecil dengan keadaan tubuhnya yang seperti sekarang ini.
Bel berbunyi.
Ah, itu pasti Anka. Wanita itu meletakkan bayi Farhan di atas tempat tidur sebelum meraih jilbab instannya. Ia memakainya dengan cepat. Setelah kembali menggendong bayi itu, iamelangkah ke pintu.
"Anka."
"Sarapan Kak," ucap pemuda itu ketika masuk.
"Mmh."
Pemuda itu meletakkan makanannya di atas meja dan menoleh pada Marina yang tampak lesu. "Kenapa Kak?"
"Mmh?" Wanita itu menggeleng lemah.
"Kakak sakit?" tanya pemuda itu mulai khawatir.
"Cuma sedikit pusing." Marina menarik kursinya.
Anka meletakkan tangannya di dahi wanita itu. "Anget, Kak. Kakak sudah minum obat?"
Marina menggeleng. "Kakak baru tidur setelah sholat Subuh, tadi. Ini baru bangun."
"Ya Allah ... Kakak. Kakak begadang karena Farhan?"
"Salah satunya. Kakak lagi nulis lagi. Nabung bab yang banyak biar nanti tinggal kirim. Udah 3 hari dan dapat 8 bab, lumayan."
Anka memperhatikan wajah wanita itu yang sedikit pucat dan tirus. "Tapi, Kak. Bisa sakit kalau diteruskan. Kakak 'kan ngurus bayi."
"Enggak kok. Itu nyambi seharian."
"Tapi, Kak ...."
"Kita makan dulu ya? Aku lapar," potong Marina yang perutnya sudah keroncongan sejak semalam. Ya, menulis butuh energi ektra karena berpikir hingga ia gampang lapar.
Masalahnya ia tak punya stok makanan di rumah karena ia jarang keluar apartemen kecuali bersama Anka dan itu pun hanya membeli kebutuhan bayi.
Kebutuhan dirinya ia beli saat makan malam dan itu pun hanya untuk makan malam. Ia harus berhemat demi Farhan. Ini juga yang membuatnya stres belakangan ini hingga gampang sakit.
"Kak, makannya habiskan. Katanya lapar tadi."
"Iya, tapi sakit kepala ini lho ...." Marina memijat keningnya.
"Sini, Kak, aku gendong Farhannya. Aku udah selesai makannya."
Marina menyerahkan Farhan pada Anka dan mencoba menghabiskan makannya walau sulit.
"Kak, kalau Kakak sakit, sebaiknya titipkan dulu pada Kak Sila, Kak. Biar Kakak bisa istirahat. Sekalian minum obatnya, Kak. Kakak punya obat?"
"Ya udah. Nanti sekalian minta sama Kak Sila." Anka memperhatikan Farhan yang mulai menarik-narik kancing kemejanya.
Marina menghela napas dengan berat sambil menahan pening di kepala, tapi tetap saja ia tak bisa menghabiskan sarapannya.
---------------+++------------
Abigail menutup teleponnya. Sekretarisnya memberi tahu bahwa klien yang akan ditemui Abigail pagi itu minta diundur pertemuannya hingga sore hari sehingga pria itu memajukan meeting-nya pagi itu. Ia tinggal menunggu konfirmasi bahan meeting dan pegawai yang hadir.
Kembali pria itu berdiri di depan cermin untuk merapikan pakaiannya. Ia malas ke kantor bila yang ikut meeting nanti hanya beberapa orang sedang kantor letaknya bersebelahan dengan apartemennya. Ia lebih baik menunggu di kamar dari pada di kantor karena ia mulai nyaman dengan tempat tinggalnya kini.
HP berbunyi. Ternyata segala sesuatu telah disiapkan oleh sekretarisnya sehingga ia segera keluar kamar.
Pada saat bersamaan Marina keluar dari unit apartemen Sila, sendirian. Sang bayi, Farhan, menangis melihat Marina menjauh seakan tahu ia akan ditinggal di sana.
"Tidak, Sayang. Mami mau tidur sebentaar, saja. Ya? Di sini 'kan ada Kakak Dodo dan Kakak Abel tuh, nanti main sama mereka ya?" Marina melambaikan tangan pelan. Dodo dan Abel adalah anak Sila.
Farhan terus saja menangis membuat wanita itu tak tega.
"Sudah, Marina. Pergi saja. Nanti juga nangisnya berhenti," ucap Sila menyemangati.
"Baik-baik ya Farhan. Jangan nakal," pesan Marina pada bayi itu. Ia kemudian menutup pintu dan melangkah ke pintu apartemennya. Baru saja ia menyentuh pegangan pintu, tubuhnya serasa melayang dan ambruk ke lantai. Ia tak sadarkan diri.
Brug!
Pada saat bersamaan, Abigail baru saja berbelok ditikungan dan melihat wanita itu jatuh ke lantai. Ia mengejarnya. "Marina."
Pria itu sudah berdiri di depan tubuh wanita itu, tapi masalahnya ia harus membawa ke mana wanita itu karena ia sendirian di sana. Tak ada orang lain.
Teman tetangga Marina itu ia tak kenal dan ia tak berani masuk ke apartemen wanita itu karena takut dicurigai macam-macam. Ia sangat sensitif dengan pandangan orang lain sejak pertikaiannya dengan keluarga istrinya tak reda-reda.
Akhirnya ia memutuskan membawa wanita itu ke apartemennya sendiri. Abigail kemudian menggendong Marina dan membawa ke unit apartemennya lalu memasukkan ke salah satu kamar kosong. Setelah itu ia sendiri bingung harus bagaimana.
Ia tak tahu kenapa wanita itu jatuh pingsan tiba-tiba di depan apartemennya sendiri. Apa ia sedang sakit? Haruskah aku memanggil ambulan?
Abigail gelisah dan berjalan mondar-mandir di dalam kamar itu. Ia menimbang-nimbang untuk memanggil ambulan. Apa aku periksa dulu saja?
Pria itu mendekati tubuh Marina yang sudah ia baringkan di atas tempat tidur. Ia menatap wajah manis yang sedikit pucat itu. Perlahan diturunkan tangannya menyentuh dahi wanita itu. Sedikit hangat.
Pria itu kemudian menepikan jilbab wanita itu untuk memeriksa jantungnya di dekat leher. Jantungnya berdetak sempurna hanya kini jantung Abigaillah yang tidak berdetak dengan semestinya.
Jantung itu meronta saat tangan pria itu menyentuh kulit wanita itu di sekitar leher yang tampak putih mulus. Ia bahkan tiba-tiba sulit menelan ludahnya sendiri. Cepat-cepat ditutupnya lagi jilbab itu menutupi leher wanita itu. Ia takut khilaf.
Sepertinya dia tidak apa-apa. Apa aku tunggu saja ia siuman atau bagaimana? Sepertinya begitu. Iya 'kan? Pria itu menggaruk-garuk kepalanya. Sebaiknya aku tunggu di luar saja, karena aku bukan mahramnya.
Pria itu kemudian bangkit dan melihat tubuh wanita itu yang terbaring di atas tempat tidur. Wanita itu masih mengenakan piyama dan terlihat lucu di tubuh gempalnya karena memakai motif gambar kartun membuat pria itu sempat tersenyum. Ia kemudian keluar kamar. Dibiarkannya pintu itu terbuka lebar.
Pria itu kemudian membuat secangkir teh. Sambil menunggu ia meminum tehnya. Namun waktu berjalan dan wanita itu tak kunjung siuman. Ia bahkan membatalkan meeting pagi itu demi menunggu wanita itu bangun dari pingsannya tapi Marina tak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
Abigail mulai gelisah. Apa seharusnya ia tadi memanggil ambulan saja? Eh, tapi ... bayinya?
___________________________________________
Halo, reader. Maaf author lagi kurang sehat kemarin jadi baru hari ini bisa menulis lagi. Ceritanya juga sama Marinanya sakit tapi author gak pingsan ya? Wkwkwk. Jangan lupa, pemberi semangat author, vote, like, komen atau hadiah. Salam, ingflora. 💋