Author And The Baby

Author And The Baby
Mengunjungi Orang Tua



"Nasi padang, Kak. Enak. Habis flu, kepikiran itu."


"Marina, nasinya banyak dan bersantan pula lauknya!" ingat pria itu.


"Rasanya lebih sehat kalau makan ituuu ... aku pingin itu, Kak," rajuk wanita itu.


Abigail bingung, karena wanita kesayangan ingin makan nasi padang.


"Kak." Wanita itu masih merengut. "Aku gak punya tenaga untuk diet, Kak." Ia menyentuh otot lengannya yang tidak terlihat.


Aduh, banyak banget alasannya. Kalau sudah maunya itu ya .... "Iya, iya, iya." Abigail menyerah dan merogoh handphone-nya di kantong celana.


"Aku yang isi rendang."


"Rendang?" Pria itu melongo.


"Kenapa, bumbunya ya? Ok ...." Wanita itu mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk sambil berpikir. "Tunjang mungkin."


"Astaga, Marina. Itu jeroan ya?"


"Memang kenapa? Kakak cobain sekali-sekali. Enak, tau!"


"Di Eropa, orang makan daging. Bukan jeroan."


"Ih, enak. Coba beli, Kakak coba makan. Pasti enak!"


Abigail mengerut dahi dengan mata membulat sempurna.


"Ya sudah, aku pesan itu satu, kakak maunya apa?"


Pria itu kemudian memesan makanan. Tidak butuh waktu lama, makanan itu segera datang. Ternyata Abigail memesan spageti dan nasi padang. Marina makan nasi padang dengan tangan membuat Abigail makin mengerutkan dahi. "Kamu tidak risih?"


"Apa, Kak?"


"Makan dengan tangan?"


"'Kan sunnah Nabi?"


"Iya, tapi aku membayangkannya saja ...."


Marina menyodorkan sebuah suapan. "Coba."


Pria itu terlihat ragu, tapi karena terus disodori oleh Marina, ia mencobanya. Untung sayang, kalau tidak, aku takkan pernah mau mencobanya.


Abigail mengunyah pelan tunjang beserta nasinya, dan ia merasakan bumbu dalam masakan itu yang kaya rasa. Ia ternyata ... menyukainya. "Mmh, kenyal tapi enak ya?"


"Iya dong!" Marina tersenyum lebar.


"Apa semua masakan bersantan rasanya seperti ini?"


"Kurang lebih, iya. Kenapa? Kakak belum pernah makan makanan bersantan seperti ini ya?"


"Belum." Pria itu menggeleng.


"Gulai-gulai?"


"Belum pernah."


"Enak 'kan?"


"Iya."


"Mau kusuapi lagi?"


"Boleh." Pria itu tersenyum lebar.


Marina menyuapinya lagi. Wanita itu kini tersipu saat melakukannya. Ia menyuapi pria itu hingga beberapa kali.


"Sudah cukup. Spagetiku belum habis tapi nanti nasimu sudah habis duluan. 'Kan kasihan kalau kamu sampai lapar lagi," ledek Abigail.


Wanita itu tersenyum lebar. "Ya enggak, Kak. 'Kan bisa pesan lagi."


"Aduh, jangan, Marina. Nanti giliran aku yang gemuk. Repot."


Keduanya tertawa.


"Nanti setelah ini kita ke rumah orang tuaku ya, sama orang tua mamanya Farrel. Kasihan kalau tidak ditengok, mungkin mereka rindu Farrel."


"Iya, Kak. Siap."


--------+++--------


"Aduh, udah cepet aja gedenya, cucu Oma. Mmh!" Ibu Abigail gemas dengan cucunya hingga mencubit pipi bayi itu dengan lembut.


Marina tersenyum menemaninya di samping. Ibu Abigail melirik pada wanita itu. "Kamu kok semakin hari semakin gemuk ya?"


Marina menahan tawa. Ia tidak marah karena sudah sering mendengar hal ini. "Asliku seperti ini, Ibu. Kemarin itu kebetulan agak kurus memang, badanku."


"Apa kamu tidak ingin bertubuh kurus? Padahal badanmu lebih baik seperti kemarin itu."


"Itu hanya perasaanmu saja. Coba olahraga biar tidak lemas badannya." Wanita paruh baya itu menasehati.


"Mmh? Oh iya, Abigail juga menasehatiku begitu. Kemarin dia ngajak aku berenang, Bu."


"Mmh ...." Wanita itu bule itu memperhatikan Marina.


Seorang pembantu mendatangi mereka, membawa botol susu Farrel.


"Biar aku saja, Bu yang gendong." Marina mengambil alih. Ia memberikan susu botol itu pada bayi itu yang segera diraih Farrel dan mengedotnya. Ia duduk di salah satu kursi sambil menungguinya dalam gendongan.


Mama mendatangi Abigail yang sedang mengobrol berdua dengan Papa. "Eh, temanmu itu ...."


Keduanya pria itu menoleh.


"Memang aslinya gemuk ya?"


"Tapi manis 'kan, Ma." Senyum Abigail.


"Apa?" Mama terlihat bingung dengan jawaban anaknya itu.


Papa tersenyum. "Mereka pacaran, Ma," beri tahunya.


"Oh." Mama kembali melirik Marina, sekilas. "Kamu serius padanya? Eh, Mama sih tak masalah karena dia juga sayang Farrel. Cuma Abi, kalian 'kan tinggal berdua di apartemen ...."


"Nah, itu juga yang sekarang aku bicarakan dengan Papa, Ma," ucap Abigail dengan wajah serius.


"Apa?"


"Aku sedang merencanakan masa depan."


Kening Mama berkerut. "Maksudnya?"


"Masa iddah-ku sudah selesai. Aku ingin segera melamarnya saja biar tidak jadi omongan orang. Sementara aku juga lagi cari rumah, Ma. Biar penghuninya banyak dan Marina tidak masalah bila tinggal bersamaku."


"Mmh, kamu mau secepat itu? Apa kamu sudah yakin dengannya? Jangan terburu-buru, Abi. Mama tidak memaksamu harus nikah buru-buru."


"Tidak Ma, aku sudah yakin dengannya. Tinggal persetujuan Mama dan Papa saja."


Mama tersenyum senang. Ia mengusap punggung anak satu-satunya itu. "Semoga kau bahagia ya, Bi?" Ia senang, anaknya kini telah melewati hari-hari buruknya dengan cepat.


"Makasih, Ma." Kedua netra pria bule itu berbinar bahagia.


-----------++++----------


"Ini ada sedikit oleh-oleh untukmu ya, Marina. Kami kemarin jalan-jalan keluar kota dengan anak kami yang paling besar beserta istri dan anaknya." Ibu Alena menyelipkan tas plastik ke dalam tangan wanita itu.


"Aduh, Ibu, terima kasih." Marina begitu senang, ibu Alena menganggapnya tamu padahal ia hanya seorang babysitter.


"Iya." Ibu Alena melirik ke arah Abigail. "Semoga kalian berjodoh ya?" Doa ibu pada keduanya.


"Amin," sahut Abigail tapi Marina malah tersipu.


Ya, Abigail meminta izin pada sang mantan mertua bahwa ia ingin menikah lagi dan Marinalah calon istrinya. Ia mengatakan sejujurnya di depan Marina membuat wanita itu terkejut sekaligus haru dengan keseriusan pria bule itu padanya.


Keduanya kemudian pamit pulang. Di mobil Marina malah menyinggung ini dengan sedikit ragu. "Kak, kenapa kamu bilang pada mereka kalau kita akan menikah? Kakak 'kan belum ngomong sama aku. Lagipula, aku baru bilang suka. Kita gak pacaran," protesnya.


"Ya, tidak apa-apa, belum pacaran atau sudah pacaran. Aku 'kan cuma pasang niat dulu."


"Bukan begitu, Kak. Kakak kenapa gak bilang dulu sama aku," gerutu wanita itu dengan mulut bulat mengerucut.


"Marina, aku cuma minta izin saja sama mereka. 'Kan siapa tahu salah satu dari mereka ada yang tidak setuju, iya 'kan? Lagipula, mungkin saja kita eh, menikah cepat jadi aku hanya ingin memastikan tidak ada penghalang dalam pernikahan kita ini." Abigail benar-benar tidak tahu sebenarnya, bagaimana kalau ia tiba-tiba melamar wanita itu. Apakah Marina mau menerimanya?


"Menikah cepat? Kenapa? Kita 'kan tidak melakukan apa-apa, kenapa harus buru-buru?"


"Memangnya harus kenapa-kenapa baru boleh menikah cepat?"


"Bukan begituuu." Wanita itu masih merajuk.


Abigail menepikan mobilnya dan berhenti. Kemudian ia membuka seatbelt-nya. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah wanita itu membuat Marina terkejut. "Aku cuma laki-laki biasa. Bagaimana kalau aku tiba-tiba mendekatimu dan coba ingin menciummu, apa kamu sanggup menolaknya?"


Marina membelalakkan matanya dan mendekap Farrel erat. Kemudian ia memejamkan mata karena wajah pria itu semakin dekat.


"Tuh 'kan? Kamu juga gak bisa nolak."


Marina membuka matanya dan pria itu telah kembali ke tempat duduknya sambil tertawa. Tentu saja Marina kesal dan memukul bahu pria itu dengan kuat. "Ih, jahat!"


"Aduh!" Namun pria itu hanya tersenyum lebar. "Ya 'kan dosa. Lagipula kalau sudah suka sama suka harus disegerakan. Bukan begitu, kalau di dalam agama Islam?" Ia kemudian menarik seatbelt-nya tapi kemudian dilepaskan. Diliriknya Marina yang masih merengut dan menunduk.


"Tanggung ah!" Secepat kilat pria itu mencuri kecupan di pipi wanita itu.


Marina kembali terkejut karenanya.


___________________________________________


Masih baca terus novel ini 'kan? Jangan lupa semangatin authornya dengan like, vote, komen atau hadiah. Ini visual Abigail dan Marina. "Makin hari makin ngegemesin. Apa aku lamar saja dia, biar yang khilaf jadi halal?" Salam, ingflora💋