Author And The Baby

Author And The Baby
Belanja



Marina memperhatikan Abigail sambil berdiri di belakang. Keduanya masih berpakaian mandi. Pria itu menyadari wanita itu masih berada di belakangnya. Ia yang berjongkok memandikan Farrel menoleh. "Marina, kamu mandi saja. Nanti kalau sudah selesai kamu pegang Farrel. Kasihan 'kan, yang pegang Farrel badannya basah semua."


"Oh, iya, iya, iya." Wanita itu kembali ke kamar. Sejurus kemudian ia telah kembali dengan mengenakan pakaian tidur.


Pria itu tengah memakaikan baju Farrel. Ia melirik Marina dengan pakaiannya. "Kamu mau tidur lagi? Bukankah kita mau ke supermarket?"


"Bukan, Kak. 'Kan tadi sudah kubilang, pakaianku tidak ada yang muat."


"Oh." Kembali pria itu meliriknya. "Bisa kau cek, apa aku sudah pasang pampers Farrel dengan benar?" Abigail memberi jalan wanita itu untuk memeriksa.


Marina merapikan pemasangan pampers bayi dan juga pakaian Farrel. Kemudian ia menggendongnya. Dilihatnya pria itu datang dengan membawa pakaian.


"Marina, kau pakai bajuku saja. Baju olah raga ini sedikit longgar. Mungkin sesuai dengan ukuran tubuhmu sekarang." Pria itu menggantung pakaian itu di bahu wanita itu. "Kau keluar pakai baju ini saja ya?"


Marina memperhatikan pakaian itu sekilas. "Eh, iya, Kak." Kemudian Wanita itu membawa Farrel ke kamarnya. Ia bertukar pakaian di sana.


Karena tubuh Marina yang tidak tinggi, wanita itu harus menggulung ujung celananya yang kepanjangan.


Ia bercermin dan melihat pakaian itu pas untuknya, hanya sedikit panjang di bagian tangan dan kaki. Beruntung, tangan baju itu berkaret di pergelangan hingga ia tak perlu lagi harus menggulungnya.


"Hah, baju Papamu muat di Tante nih, Farrel. Bagus 'kan?" Wanita itu membolak balikkan tubuhnya di depan cermin.


Ia mendatangi bayi itu di tempat tidur. "Papamu sangat cerdas!"


Namun bayi Farrel terlihat gelisah.


"Mmh, kamu lapar ya, habis mandi? Sebentar Tante buatkan susu ya?" Wanita itu menggendong Farrel dan meletakkannya di dalam boks bayi yang berada di luar. Ia kemudian pergi ke dapur.


Tak butuh waktu lama, Marina telah kembali dengan susu botol di tangan. Melihat botol susunya saja Farrel sudah gemas dengan menggerak-gerakkan kaki dan tangan tanda ia antusias ingin meminumnya.


"Mmh, anak Tante sudah tau susu botolnya datang ya?" goda wanita itu. Marina menggendong bayi itu dan memberikan susu botolnya.


Dengan riang bayi itu mengedot susu botol sambil memainkan kakinya. Wanita itu mencari tempat duduk.


Farrel mulai suka memegang botol susunya. Saat ini ia memegang botol itu cukup lama membuat wanita itu mencoba untuk melepas pegangannya pada botol susu itu. Kini bayi itu sudah bisa memegang botol susunya sendiri.


"Mmh, anak Tante, sayang Tante ... sekarang sudah bisa memegang botol susunya sendiri ya, Sayang. Mmh, Tante bangga deh sama kamu. Pasti sebentar lagi sudah bisa sekolah ini ...," pujinya sambil menatap bayi itu dengan senyum manis dan mata yang bercahaya. Tidak sedetik pun ia lewati perkembangan Farrel walau hanya sekecil memegang sendiri botol susunya.


Marina menyeka butiran keringat Farrel yang mulai banyak di dahi. Susu hangat membuat bayi itu berkeringat. Ia menunggui hingga Farrel menghabiskan susunya. Mata bayi itu mulai mengantuk.


"Sudah habis susunya?" Abigail yang keluar kamar menanyakan Farrel.


"Oh, baru saja." Wanita itu mengangkat botol susu Farrel yang telah kosong.


"Kalau begitu, kita bawa saja di kereta bayinya." Pria itu mendekat. "Mmh, sudah mulai mengantuk ya?" Ia melihat bayi itu yang tak banyak bergerak.


"Iya." Marina memasukkan Farrel dalam kereta bayi.


"Yuk! Paling, di mobil tidur."


Benar saja. Belum lama digendong di dalam mobil, Farrel sudah tertidur.


"Dia gampang sekali tertidur di mana-mana kalau sudah mengantuk," sahut pria itu.


"Mmh, tidak peduli walaupun dunia sedang berbuih."


Keduanya saling menoleh dan tertawa, tapi kemudian Marina meletakkan telunjuknya di depan mulut karena bayi menggeliat sebentar.


Abigail kembali melirik Marina dengan pakaian yang dipakainya. "Untung pas."


"Makasih ya, Kak."


"Tidak apa-apa. Baju itu kebetulan jarang dipakai, jadi pakai saja dulu. Oya, kenapa tidak belanja pakaian saja sekalian, kebetulan kau sudah gajian."


"Eh, lihat saja nanti."


"Tidak, beli saja. Besok aku mau ke tempat orang tua dan mertuaku. Kau tidak punya baju 'kan?"


"Eh iya."


Sesampainya di mall, Marina belanja beberapa potong pakaian. Agak lama memang, walaupun ia sudah sebisa mungkin mempercepat cara belanjanya tapi ia harus teliti karena baju muslim harus cukup tertutup dan tidak terlihat seksi.


Pria itu duduk menanti sambil menunggui Farrel. Sesekali ia berselancar di ponselnya saat bosan.


Akhirnya, Marina datang menghampiri. "Maaf lama, Kak." Ia menghampiri dengan 2 kantong belanja di tangan.


"Oh, tidak apa-apa. Sudah mau jam makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang dulu sebelum belanja di supermarket?"


"Oh, ok."


Mereka kemudian memilih restoran dengan makanan cepat saji untuk makan siang. Marina mengantri dengan Abigail menemani di samping, seraya mendorong kereta bayi.


"Nanti kamu pesan ayam gak boleh pakai nasi ya?"


Marina melirik Abigail.


Pria itu mengangkat telunjuk dan menggoyang-goyangkannya.


"Tapi 'kan ...." Mulut wanita itu cemberut ingin protes tapi kemudian ditahannya.


Abigail mendekatkan wajahnya dan berbisik. "Ayamnya boleh dua."


Wajah Marina tidak sekesal tadi. Ia mengikuti barisan di depan yang mulai berkurang. Mereka kemudian memesan makanan.


Setelah mendapatkannya mereka mencari tempat duduk di bagian tengah. Keduanya duduk dan mulai menikmati makanan setelah mencuci tangan.


Namun netra wanita itu tetap saja melirik Abigail yang makan nasi dengan ayam goreng dengan santainya. Abigail bukan tak tahu tapi berusaha untuk abai. Marina mulai merengut, makan.


"Kamu kenapa merengut begitu, makan?" Abigail akhirnya tak tahan untuk bertanya karena makan wanita itu mulai lambat.


"Kurang enak kalau tak pakai nasi," sungut wanita itu.


"Ya udah nih." Abigail menberikan nasinya yang tinggal setengah pada Marina. Nasi itu masih berbentuk setengah mangkuk.


Seketika wajah wanita itu cerah. "Makasih. Kamu mau makan ayamku separuh?"


Pria itu menatap Marina. "Katanya aku gak boleh makan bekas kamu?"


"Ini 'kan bukan bekas gigit. Ini ada satu ayamku masih utuh. Ambil aja separuhnya."


"Eh, tidak usah."


"Tapi makanmu jadi kurang," wanita itu kembali cemberut.


Melihat itu, Abigail terpaksa mengambil dada ayam itu separuh. "Iya, iya ...."


Makan siang pun jadi cepat. Mereka pun berpindah ke supermarket. Kali ini Marina harus mulai memasak sayur-sayuran selain memakan daging dan ia memilih membuat gado-gado dengan membeli sayur-sayuran dan bumbu pecel instan. Juga membeli buah-buahan seperti melon dan semangka.


"Bagaimana, Kak?" tanya Marina pada pria itu tentang belanjaannya kali ini.


Abigail mengangkat ibu jarinya dengan senyum lebar.


Seusai belanja, mereka pun pulang ke apartemen. Karena belanjaan yang banyak, sebagian ditaruh di kereta bayi dan sebagian lagi ditenteng Marina. Kereta bayi dibawa oleh pria itu.


Saat di lift, entah kenapa, Marina ingin mengambil foto Abigail. Pria itu tidak menyadari, wanita itu mengeluarkan ponsel. Marina dengan mulus mengambil foto pria itu dengan membelakanginya saat di belakang tapi tidak saat foto ke dua. Ia mengambilnya saat pria itu mendorong kereta bayi Farrel keluar lift.


"Marina, kau sedang apa?"


"Eh?"


__________________________________________


Yang masih baca Marina-Abigail masih tetap semangat 'kan? Jangan lupa kirimi author dengan vote, like, komen atau hadiah sebagai penyemangat author. Ini visual Marina tertangkap tangan mengambil foto Abigail. Salam, ingflora. 💋