
"Ada yang bisa dibantu, Pak?" Seorang pramuniaga mendatangi mereka dengan pakaian seragam yang rapi.
"Oh. begini. Kami mau menikah. Aku ingin beli cincin pasangan untuk serah-serahan nanti," terang Abigail.
"Oh, kalo pasangan tidak bisa langsung beli, Pak. Harus pesan, kecuali mau dengan model yang ada. Itu pun kalau ada yang sesuai dengan ukuran jari kalian berdua."
"Bagaimana, Marina?" Pria itu menoleh pada wanita itu.
"Aku terserah Kakak saja."
"Apa kamu punya model impian yang kamu inginkan?"
"Mmh." Marina terlihat bingung.
Pria itu menoleh pada Pramuniaga itu. "Mbak, tolong bantu dia ya." Ia menunjuk pada Marina.
Setelah itu pramuniaga itu mengantar Marina untuk melihat ke etalase kaca di mana banyak pilihan berbagai perhiasan dipajang di sana. Marina coba melihat-lihat, sedang Abigail menyusul kemudian dengan menggendong sang bayi.
"Itu anaknya, Pak?" tanya pramuniaga itu.
"Oh, ini anak Saya," ucap Abigail agar orang tidak salah sangka pada Marina.
"Oh, begitu? Lucunya." Pramuniaga itu melihat pada Farrel yang mulai bisa menegakkan kepala. Abigail menggendong di lengan kekarnya.
Marina mendekat. "Kak, aku gak tau. Kelihatannya mahal semua," bisiknya.
Abigail tersenyum seraya mencubit lembut pipi wanita itu. "Masa gak tau sih? Sini aku temani." Pria itu menggandeng wanita itu dan kembali mendekati etalase. Mereka melihat etalase itu bersama-sama.
"Yang itu bagaimana?" Abigail coba pilihkan.
"Terlalu ramai," protes Marina.
"Kalau yang itu?"
"Terlalu simpel."
"Kamu gak ada bayangan sama sekali desain yang diinginkan?"
Marina menggeleng.
Aduh ... masa lihat model perhiasan sebanyak ini, gak punya gambaran desain yang disuka? Lalu bagaimana ini. "Marina, tapi kalau mau pesan, harus tahu model yang bagaimana dulu. Kita tak bisa pesan tanpa tahu modelnya."
"Aku maunya yang sederhana saja."
"Tapi tadi yang itu katanya terlalu sederhana." Pria itu menunjuk sebuah cincin emas yang tanpa hiasan apa-apa yang mereka lihat tadi.
"Iya, tapi ...." Wanita itu menghentikan kalimatnya di tengah-tengah.
Mmh, mulai lagi deh, ragu-ragu lagi. "Atau kita coba dulu aja. Mulai dari yang sederhana itu, oke?" Pria itu meminta cincin itu untuk dicoba, dan pramuniaga itu memberikan kotak cincin itu pada Marina.
Cincin itu dicoba Abigail dan juga Marina dan ternyata cincin itu pas di jari mereka berdua. Kebetulan cincin itu memang dibuat 2 pasang. Satu yang ukuran sedang dan satu lagi yang ukuran besar. Yang ukuran sedang telah terjual cepat, sedang yang ukuran besar inilah yang belum terjual, hingga menjadi hiasan di toko itu.
Marina masih maju mundur soal cincin. Ia masih melihat yang lain, tapi ternyata model lain tidak ada yang cocok dengan ukuran jarinya yang besar.
"Sudah, Marina. Beli saja yang pertama itu, 'kan sesuai dengan ukuran jarimu. Lagipula kamu 'kan maunya yang sederhana, tadi katanya," ingat Abigail.
"Tapi ...."
"Kalau mau buat, juga gak papa, tapi kamu 'kan gak tahu mau model yang bagaimana?"
Wanita itu juga masih ragu. Ia menatap etalase perhiasan itu dalam diam.
"Ini kebetulan, kalau ibu mau ambil cincin ini, kita kasih diskon lho, bu," kata pramuniaga wanita itu menambahkan.
"Ah, yang bener, Mbak? Diskon berapa?" Wanita berjilbab itu langsung tertarik mendengarnya.
"Marina, ja—"
"Diskon 10%, Ibu, dari harga segini." Pramuniaga itu memperlihatkan dari kalkulatornya.
Abigail menghela napas pelan. Kenapa wanita begitu tergila-gila diskon?
"Wah, kita beli yang ini saja ya?" pinta Marina berubah arah.
Abigail menatap wanitanya, bingung.
"Ya ...."
Padahal pria itu tadi sudah menawarkan cincin itu, tapi Marina tidak mau. Namun ketika diberi diskon oleh sang pramuniaga, tiba-tiba saja wanita itu menginginkannya.
"Ya Sayang, Ya?" Marina merayu dengan kelopak mata dikedipkan beberapa kali seraya menyentuh lengan pria itu.
Abigail tak bisa bilang tidak karena Marina untuk pertama kali memanggilnya 'Sayang'. "Ya sudah," ucapnya dengan senyum bahagia.
Cincin pun akhirnya dibeli.
-----------+++-----------
"Ibu mau ke mana?" tanya Alan ketika melihat sang ibu tengah berdiri dari duduknya. Kini Alan sejak kecelakaan tak pernah mau ditinggal sendiri. Ia selalu curiga setiap ibu bergerak ke arah pintu sehingga wanita itu harus pamit untuk apapun. Padahal ketika sehat, ia paling tak tahan berlama-lama bersama ibu.
"Ibu mau sholat sekalian makan siang sama Marina."
"Ibu jangan lama-lama makan siangnya!" gerutu Alan.
"Ibu ada beli keperluan dulu sama Marina jadi ...."
"Pokoknya ibu gak boleh lama! Ibu kok tega ya? Anaknya sedang sakit parah, bukannya ditungguin malah sibuk jalan-jalan." Alan merengut kesal.
"Ya, tapi 'kan ibu di sini juga tidak melakukan apa-apa. Daripada bengong, lebih baik ikut kakakmu makan di luar."
"Ibu ...." Alan merengek.
Tentu saja Ibu tertawa. "Ya sudah, kamu mau apa, nanti Ibu bawakan."
"Ibu pasti bohong, karena ibu selalu lupa!" teriak pria itu kesal.
Ibu kembali tertawa. "Ya sudah, terserah saja."
"Ibu, aku mau ...."
Terdengar dering telepon. Ibu segera mengangkat HP-nya. "... Oh, begitu. Ya sudah." Ia segera menutup telepon dan melangkah menuju pintu. "Ibu sholat dulu. Sebentar lagi Marina datang. Nanti ibu bawakan kamu makanan ya," ucapnya tanpa menoleh.
"Ibu! Ibu tunggu!"
Namun ibu telah terlanjur pergi.
"Ibu belum dengar pesananku ... ah Ibu!" Alan menghempas tangannya di atas tempat tidur. "Padahal aku ingin makan piza," gumamnya pelan.
--------+++---------
Abigail kemudian memperkenalkan ibu Marina pada kedua orang tuanya, pun begitu juga sebaliknya. Tak butuh waktu lama, ketiganya akrab berbicara. Papa tak begitu banyak bicara hingga hanya menjadi pendengar saja.
Marina sibuk mengurus Farrel sambil makan siang, sedang bayi itu pun sedang menyusu di kereta bayinya. Abigail kemudian mengeluarkan cincin seserahan yang sudah dipilihnya tadi bersama Marina.
"Oh, kau sudah membelinya?" Mama terkejut dan mengambil kotak itu. Dilihatnya cincin yang sudah dibeli. "Bagus," komentarnya. Ia memperlihatkan cincin itu pada ibu Marina.
"Jadi nikahnya bulan depan atau satu bulan lagi?" tanya ibu memastikan.
Ketiga orang tua itu menoleh pada Abigail dan Marina.
"Aku inginnya ya ... di tanggal awal bulan depan," sahut Abigail memberi perkiraan.
"Berarti kurang dari sebulan itu. Apa bisa melaksanakan pesta, Abi?" tanya Mama khawatir, karena waktunya terlalu sempit.
"Mmh? Pestanya bisa ditunda sambil mencari gedung tapi nikahnya bisa 'kan bulan depan, Ma? Soalnya kami sudah bersama-sama terus. Takut ada fitnah."
"Iya, gak papa. Gimana, Bu?" Mama kini menanyakan pendapat ibu.
"Iya gak papa tapi aku ingin Marina dipingit ya? Seminggu sebelum nikah."
"Dipingit?" Pria itu menoleh pada Marina.
Wanita itu hanya terdiam, dengan wajah datar.
"Tapi bagaimana dengan bayi Farrel? Dia sudah terbiasa dengan Marina. Aku belum pernah memberikan Farrel pada orang lain."
Mama menyentuh bahu anaknya. "Dibuat mudah saja, Abi. Nanti biar Mama yang urus."
Abigail terlihat sangsi tapi ia tak punya pilihan.
___________________________________________
Yuk, kepoin yang satu ini.