
"Oh, ibu sehat?" sambut Mama pada ibu Marina.
"Oh, ibu. Sudah datang duluan ya? Alhamdulillah sehat." Mereka berpelukan.
Alan berjalan dengan satu tongkat di ketiak.
"Oh, Alan. Bagaimana?" tanya Abigail memperhatikan kaki Alan.
"Lagi belajar pakai tongkat, Bang," sahut pria itu. Ia berjalan pelan-pelan.
"Perlu dibantu?"
"Enggak, Bang. Bisa."
Abigail tersenyum melihat kegigihan pria itu belajar berjalan. Alan terlihat serius dengan hidupnya sejak kecelakaan itu. Pria bule itu kemudian mengajak adik iparnya itu untuk masuk ke dalam ruang tamu.
"Mami!" teriak Farrel yang bergandengan dengan babysitter-nya menuruni tangga. Ia melihat nenek dan kakeknya di bawah. Ia gemas ingin cepat turun hingga ia berlarian di tangga.
Melihat itu, babysitter Isy segera menggendongnya. "Eh, hati-hati, Dek." Lalu menurunkannya saat sampai di lantai 1.
Bocah itu berlari-lari ke arah orang tua Abigail. "Opa! Oma!"
Masing-masing memeluk bocah kecil itu dan mengusap kepalanya.
Lalu bocah itu mendatangi ibu Marina dan juga melihat Alan. "Nenek!"
Ibu mengusap kening sang cucu dan menciumi pipi tembamnya gemas.
Bocah itu melirik Alan yang memanggilnya lewat tangan. "Apa?" Ia mendatangi pria itu.
"Sini dong. Om belum dipeluk." Alan menggendong bocah itu dan mendudukkannya di pangkuan.
Farrel sangat tertarik dengan tongkat pria itu. "Ini tongkat."
Marina dan Abigail yang sering mengunjungi Alan di rumah sakit bahkan di rumah, setelah mulai bisa berjalan, sering membawa Farrel serta sehingga bocah itu tahu benda bernama tongkat di samping Alan itu.
"Iya, tongkat." Pria itu mengusap kepala bocah yang rambutnya sedikit kecoklatan itu dengan senang.
Farrel ingin menyentuhnya, tapi Alan menjauhkan tongkat itu.
"Jangan ya?"
"Mauuu." Bocah itu mengerucutkan mulutnya.
"Eh, gak boleh nakal." Marina datang dan langsung menggendongnya. Ia tidak ingin bocah itu memainkan tongkat seperti yang sudah-sudah. "Ayo, sekarang makan kue aja. Tuh ada di meja."
Abigail mengambilkan kue cupcake tapi Farrel lebih tertarik dengan kue ulang tahunnya yang besar dengan hiasan aneka gambar binatang.
"Itu apa?"
"Oh, kamu mau makan kue ulang tahunnya? Ok, tiup lilinnya dulu ya?" ujar Abigail yang sedang mencari pematik api untuk menyalakan lilin.
"Ini," sahut Marina memberikan.
Lilin dinyalakan dan yang lain berkumpul mengelilingi meja kecuali Alan. Sambil menyanyikan lagu 'selamat ulang tahun', mereka bertepuk tangan.
"Ayo, sekarang tiup lilinnya," ucap Marina memberi tahu Farrel.
"Tiup, Mi?"
"Iya."
Farrel meniup lilin dibantu kedua orang tuanya dan akhirnya lilin itu padam. Semua bertepuk tangan.
Terdengar bunyi mobil dari luar.
"Oh, mungkin itu Pak Ridho. Biar Papa saja," sahut Papa Abigail yang menjemput tamunya hingga ke depan pintu. "Ah, untung tepat waktu. Ayo, silahkan masuk."
"Aduh, aku jadi gak enak."
Abigail ternyata ikut menyambut di belakang ayahnya. "Oh, Pak Ridho. Silahkan, silahkan." Ia mengajaknya masuk.
"Maaf ini, berkunjung di waktu yang tidak semestinya," sahut Ridho.
"Oh, tidak apa-apa."
"Jadi aku bawa kado."
"Astaga, Pak Ridho." Pria bule itu terkejut.
Pintu belakang mobil pria itu terbuka dan sopir pria itu mengambil sesuatu di bagasi belakang. Dari samping keluar seorang gadis cantik yang terlihat malu-malu turun dari mobil.
"Oh, Pak. Anaknya?" ujar Abigail saat melihat gadis itu. Ia ingat pernah bertemu di pesta pernikahannya dulu.
"Oh, iya. Tadi aku ajak ikut karena kebetulan dia gak ke mana-mana."
"Oh, iya. Silakan, silahkan, silahkan."
Marina sudah mulai memotong kuenya sedang Abigail penasaran dengan hadiah untuk Farrel yang berukuran besar itu.
"Apa ini?" Pria itu menyentuhnya.
"Oh, ini bentuknya mobil padahal di dalamnya sepeda," terang Ridho.
"Semoga." Ridho tertawa.
Gadis itu melirik Alan saat mengiringi ayahnya. Mata mereka tak sengaja bertemu tapi Alan tak berani meneruskan dan melihat ke arah lain.
Kado itu akhirnya dibuka. Farrel bukan main senangnya saat mencoba sepeda roda tiga itu untuk pertama kali. Ia mengendarai sepeda itu berkeliling diikuti babysitter Isy.
Orang-orang mulai berkumpul. Abigail ikut mengobrol bersama Papa dan Ridho. Mama dan Ibu juga mengajak Marina mengobrol.
"Gimana nih, yang pengantin baru? Sudah ada tanda-tanda belum?" tanya Mama pada Marina yang dijawab dengan senyuman.
"Gak tau ini, mau buru-buru punya anak gak, mumpung masih muda," sahut ibu dari samping sambil tersenyum.
"Mau dong, Bu. Hanya belum dikasih aja," sahut Marina menjawab keraguan.
Mama menepuk bahu Marina. "Asal jangan ditunda saja. Sayang 'kan waktunya, walaupun kalian sama-sama sibuk."
"Enggak kok, Ma."
"Oh, iya. Nenek yang satu lagi mana?"
"Oh, dia pergi sama anaknya ramai-ramai ke Malaysia. Nanti malam rencananya baru bisa pulang," lanjut Marina.
"Oh, begitu."
Gadis itu dan Alan duduk agak berjauhan. Mereka sama-sama menikmati kue ulang tahun dalam diam.
Abigail melihat keduanya. "Eh, anak bapak, siapa namanya?" tanya Abigail pada Ridho.
"Oh, Santika."
"Kuliah di Bina Bangsa 'kan?"
"Oh, iya benar. Ternyata dekat ya dari sini."
"Oh, adik ipar saya juga mau kuliah di sana. Mungkin bisa saling bantu." Abigail beranjak berdiri.
"Oya?" Ridho mengikuti pria itu mendatangi Alan dan Santika.
"Alan, ini Santika." Pria bule itu memperkenalkan. Alan hanya dengan menganggukkan kepala.
Ridho mengajak anaknya berdiri dan mendekat. Santika menyodorkan tangannya dan mereka saling berjabat tangan.
"Tika, ini adik ipar Pak Abigail. Dia mau kuliah di Bina Bangsa."
"Oh, begitu," sahut gadis itu pelan.
"Sebenarnya dia sudah pernah kuliah tapi putus tengah jalan. Gak tau, apa masih akan mengambil bidang yang sama atau bagaimana," terang Abigail. "Tolong, nanti kalau ketemu di kampus. Tolong dibantu ya?"
"Oh, iya Pak." Gadis itu mengangguk.
Setelah mengobrol panjang lebar dengan Papa Abigail, Ridho pamit. Santika sempat mengobrol dengan Alan tapi tak banyak karena pria itu seperti menutup diri. Pria itu malu karena ia cacat.
"Jadi begitu saja dulu, Pak. Ke depannya kita lihat di lapangan," ucap Ridho sambil melangkah keluar.
"Iya, ide itu bagus juga," sahut Papa.
Ridho menoleh pada Alan. "Oya, cepat sembuh ya? Biar bisa cepat kuliah."
"Terima kasih, Pak." Alan mengangguk.
Papa Abigail mengantarkan Ridho dan anaknya hingga ke depan pintu.
--------------+++------------
Marina mengusap-usap perutnya.
"Mami kenapa, Mi?" tanya Farrel yang duduk di sampingnya.
"Gak tau nih, mual Mami dari tadi pagi."
"Mi, isi Dedek kali, Mi."
Supir di depan menahan tawa.
Marina mengerutkan dahi sambil melirik Farrel dengan wajah polosnya. "Kamu, tiap Mami mules atau sakit perut pasti bilangnya ada Dedek di dalamnya. Mami tuh paling, masuk angin atau kembung, perutnya," terang Marina.
"Tapi mamanya Dahlan, dia mules, telus ada Dedek di dalamnya. Mamanya Chiala juga, sakit pelut telus kelual Dedek, Mi." Farrel meyakinkan ibunya.
"Iya, tapi mereka bukan dokter. Dokter yang kasih tau mereka hamil atau tidak."
"Ya udah, kita ke lumah doktel yuk, Mi?" ajak Farrel.
Kembali supir di depan mereka menahan tawa, tapi dengusan tawanya terdengar oleh Marina. "Maaf, Nyonya," sahutnya.
Pusing dengan kecerewetan bocah itu, Marina mencoba memeriksanya sendiri. "Ya sudah, kita ke apotek terdekat saja, Pak."
___________________________________________