
"Kakak!"
Abigail tertawa. Belum pernah seumur hidupnya ia tertawa sebanyak ini. Entahlah, mungkin dulu pernah ia tak ingat, tapi bersama wanita ini ia mulai banyak tertawa. Padahal ia sedang mengungkapkan hal serius, tentang pernikahan.
"Kalau terjadi apa-apa, Kakak harus tanggung jawab lho!"
"Lah, kalau begitu, sekalian saja aku lamar, gimana?" Abigail tak habis pikir, wanita ini sangat lucu, bahkan saat ia tidak berniat melucu sekalipun!
Marina merasa terjebak. Ia masih bingung dengan hutang ibu yang masih banyak. Ia tidak ingin pria itu tahu masalah ini karena seakan-akan ia menikah karena ingin dilunasi hutangnya. Padahal ia tidak mau seperti itu. Wanita itu tak mau menikah karena harta. Ini prinsip yang tidak semua orang mau memegangnya.
Ya, Abigail kaya raya dan sanggup untuk melunasi hutang itu tapi ia punya harga diri. Ia tak mau menikah menjadi solusi di setiap masalahnya.
"Marina ...."
"Eh." Wanita itu tersadar. "Eh, aku belum ingin buru-buru," ucapnya cepat.
"Ck, tadi suruh aku tanggung jawab. Sebelum kejadian, alangkah baiknya bersiap-siap. Bukankah lebih baik sedia payung sebelum hujan?" Pria itu menoleh pada Marina yang masih diam.
Wanita itu malah memandang lurus ke depan dan tak ingin melihat ke arahnya. Wajahnya terlihat sangat serius.
Melihat perubahan pada reaksi Marina, Abigail berdehem sebentar. "A-aku tidak memaksa kok! Aku menghormati pemikiranmu walau tak sejalan. Aku akan menunggumu." Pria itu memasang seatbelt-nya dan mulai menjalankan mobilnya kembali.
Sampai di apartemen pun wanita itu tak banyak bicara, walaupun sebenarnya Marina memang sosok yang seperti itu tapi ada yang beda kali ini. Senyumnya telah menghilang dari wajahnya.
Ia langsung ke dapur dan membuatkan susu botol untuk Farrel. Setelah kembali, ia mengambil Farrel dan membawanya ke kamar dengan hanya menganggukkan kepala pada Abigail. "Misi, Kak. Aku tidur duluan."
Abigail kesal. Ia tak tahu letak salahnya di mana. Ia ingin mengetuk pintu tapi ia urungkan. Lebih baik ia menunggu besok. Hari sudah larut, sebaiknya ia melihat reaksi wanita itu besok pagi.
------------+++----------
Pagi itu ternyata Marina sudah sarapan duluan. Seakan ia sengaja menghindari pria itu dengan mencuci piring dan lalu langsung masuk lagi ke kamar. Tidak ada senyum yang biasa menghiasi wajahnya dan pria itu harus sarapan sendirian.
Abigail terlalu takut untuk salah bicara. Ia terpaksa sarapan tanpa suara dan bersiap ke kantor. Hari ini ia akan mencari rumah sekaligus rapat di pagi hari.
Sehabis rapat, ia memeriksa beberapa berkas dan menyadari ada berkas yang dia bawa pulang dan ia lupa membawanya kembali. Ia kemudian menelepon Marina. "Halo Marina, kau bisa bawakan aku berkas yang ada di kamar? Berkas itu kutaruh di atas meja berwarna biru."
Marina segera masuk ke dalam kamar pria itu. "Ada, Kak tapi aku 'kan gak bisa ke sana karena nungguin Farrel. Apa aku minta Anka jaga Farrel sebentar di sini?"
"Tidak usah."
"Tapi Anaknya ada kok, Kak di sini."
"Mmh?" Pria itu terkejut. Apa pemuda itu masih sering ke sana saat ia tidak ada? "Eh, aku ingin mengajakmu melihat rumah, jadi tolong bawa saja Farrel beserta kereta bayinya ke sini, bisa 'kan? Kantor 'kan tak jauh dari apartemen. Kau tinggal jalan kaki saja ke sini."
"Eh, iya, Kak. Akan aku coba. Aku ganti pakaian dulu ya?"
Telepon dimatikan, tapi Abigail mengernyit alis dengan geraham dirapatkan karena geram. Ia tak suka Anka sering mengunjungi Marina walau hubungan mereka hanya sebatas teman.
Masalahnya karena pemuda itu juga tidak berpikir begitu. Abigail belum punya ikatan apa-apa dengan wanita itu karena itu ia pasti cemburu pada semua pria yang mendekati Marina, tak terkecuali Anka.
"Anka, aku mau pergi dengan Kak Abigail jadi ...."
"Oh, tidak apa-apa. Nanti kapan-kapan aku ke sini lagi," ujar Anka memaklumi.
Marina mengantar pemuda itu sampai ke pintu. Setelah mengantar Anka, Marina buru-buru berganti pakaian karena ia takut, Abigail membutuhkan berkas itu secepatnya walaupun pria itu tak mengatakannya.
Udara siang itu terlihat cerah dan tak terlalu panas membuat wanita itu menikmati langkahnya menyusuri cornblok dipinggir jalan hingga masuk ke area kantor Abigail yang letaknya memang bersebelahan dengan apartemen. Marina mendorong kereta bayi itu memasuki gedung.
Resepsionis yang sama masih berdiri di sana menyambut kedatangannya. "Mau ke tempat Presdir, Mbak?"
"Oh iya."
Resepsionis itu membukakan pintu lift dan menekan tombol lantai tempat Abigail berada. Dengan senang hati, Marina memberinya senyum. Sesampainya di sana, wanita itu mendorong kereta bayi itu ke ruang Presdir.
Banyak pegawai yang memperhatikan Marina tapi tak lama, karena mereka pernah melihat bos mereka membawa wanita itu keluar masuk tempat itu.
Sekretaris Abigail membukakan pintu untuk Marina setelah mengetuk pintu.
"Oh, Marina." Pria itu langsung berdiri menyambutnya.
Marina meletakkan kereta bayi dekat sofa dan menyerahkan berkas itu pada Abigail.
"Terima kasih. Sebentar ya, aku selesaikan ini dulu."
Wanita itu kembali mendatangi sofa dan duduk di sana. Farrel yang baru saja terbangun, menjadi temannya bersenda gurau.
Pria itu selesai mengecek data dan memanggil sekretarisnya. Setelah itu mereka turun bersama.
Kembali para pegawai memperhatikan mereka berdua menuju ke arah lift. Tidak sedikit yang penasaran dengan hubungan keduanya tapi tidak seorang pun yang bisa jadi sumber berita.
Keduanya naik ke mobil Abigail dan langsung meluncur ke tempat tujuan. Di dalam mobil Abigail hanya bisa memperhatikan Marina yang asyik bercanda dengan Farrel. Wanita itu mendudukkan Farrel menghadap ke kaca depan.
Farrel terlihat antusias. Ia kini bisa melihat ke sekelilingnya karena didudukkan Marina bersandar pada tubuh wanita itu. Bayi itu sibuk menatap ke segala arah.
Abigail senang melihatnya. "Wah, Farrel sudah besar ya, anak Papa. Kamu sudah bisa duduk sekarang ya?" Ia memperhatikan Farrel sambil menyetir, tapi sekilas ia masih kehilangan senyum di wajah wanita itu. Ke mana senyum yang biasa selalu menghiasi wajahnya? Tak tahan pria itu menepikan mobilnya.
"Lho, Kak. Kenapa berhenti? Ada yang ketinggalan?"
"Ada."
"Kalau begitu, putar balik saja."
Pria itu memandangi Marina.
"Apa?"
"Sejak semalam aku kehilangan senyummu. Apa ada kata-kataku yang membuatmu kesal atau marah, katakan. Sebab aku tidak bisa menebak-nebak isi hatimu.
Katakan kesalahanku agar aku bisa merubahnya. Jangan biarkan aku terus merasa bersalah karena kurang peka sebab aku benar-benar tidak tahu. Aku bodoh dalam menerka keinginanmu, Marina tapi aku minta maaf, kalau memang ada kata-kataku yang menyebabkan kamu sakit hati."
"Eh, bukan begitu." Marina jadi salah tingkah. Ia tidak bermaksud membuat Abigail merasa bersalah. "Aku hanya sedang memikirkan lamaranmu itu."
"'Kan aku sudah bilang, kalau kamu belum siap aku akan menunggumu. Aku 'kan tidak memaksamu."
"Iya, benar tapi ...."
"Marina." Pria itu meraih tangan wanita itu. "Walaupun harus menunggu seribu tahun lagi, aku akan menunggu, jadi kamu jangan khawatir, ya?" Wajah pria itu yang menatap ke arah Marina berusaha meyakinkannya.
Wanita itu tersenyum dan mengangguk.