Author And The Baby

Author And The Baby
Kamu Di Mana?



"Kok udah balik aja?" Sila melihat adiknya telah kembali ke apartemen mereka.


"Apartemennya dikunci."


"Tidur?"


"Masa jam segini tidur? Apartemennya dimatikan lampunya. Apa dia pergi? Tapi kalau pergi dia tidak pernah mematikan lampunya." Anka menarik kursi dan meletakkan plastik bungkusan oleh-oleh di atas meja.


"Apa mungkin dia kembali ke rumah orang tuanya ya?"


Anka terkejut. "Selamanya? Jangan!"


"Ya, Kakak gak tau."


"Udah ah, Kakak jangan nakut-nakutin!" Anka cemberut.


Sila hanya menghela napas melihat wajah adiknya yang langsung muram. "Mungkin saja besok dia kembali."


Anka masih merengut.


Sementara sebenarnya saat ini Marina sedang pergi berbelanja bersama Abigail di Mall. Ia menemani pria itu membeli kebutuhan Farrel sambil menggendong bayi itu.


"Ini bagus tidak?" tanya Abigail pada Marina. Ia memperlihatkan 2 potong pakaian untuk Farrel.


"Bagus Kak, tapi aku tidak tahu ukurannya."


"Aku juga tidak tahu. Ah, nanti saja kita tanya pada penjaga tokonya. Yang penting sekarang kita pilih dulu beberapa untuk Farrel karena kasihan bajunya sudah lusuh dan mulai sempit."


"Maaf ya, Kak. Aku minta tolong tetangga waktu itu karena Farrel bajunya mulai kesempitan."


"Tidak apa-apa. Terima kasih juga pada tetanggamu itu karena berkat dia Farrel punya baju tapi anak umur segini cepat sekali besarnya ya, sampai harus beli baju lagi." Pria itu menatap Marina. "Nah, sekarang tolong bantu aku memilihkan beberapa potong pakaian buat Farrel karena biasanya wanita lebih pintar memilihkan baju yang bagus dibanding pria."


Marina tersenyum lebar. "Ngak papa ya, Kak?"


"Iya, aku minta bantuanmu kok."


Marina yang sudah melirik beberapa pakaian lucu, langsung berpindah tempat. Ia mulai mencari baju-baju yang terlihat menarik bila Farrel memakainya. Beberapa kali ia coba memantaskannya pada Farrel. Kemudian mereka meminta tolong pelayan toko mencarikan ukurannya.


Abigail bisa melihat kegembiraan di wajah wanita itu yang mengurus anaknya dengan kasih sayang dan itu menyejukkan matanya. Kebahagiaan yang selalu saja kemudian menular padanya. "Eh, sehabis ini kita beli susu dan pampers-nya ya?"


"Sampo-nya juga habis. Oiya, tempat mandinya!"


Keduanya kompak memikirkan kebutuhan Farrel. Mereka kemudian menepi setelah banyak berbelanja, dan lelah mencari. Mereka kemudian makan malam.


Sehabis makan, Abigail menyempatkan menyapa Farrel yang belum tidur. Marina mendudukkannya di pangkuan, bersandar pada tubuhnya sehingga pria itu yang pindah duduk di sampingnya bisa berhadapan dengan bayi itu.


"Farrel," panggil pria itu. Ia memang sengaja duduk di sana biar dekat dengan Marina. Entah kenapa, bersama wanita itu, mengasuh anak jadi begitu menyenangkan.


Padahal dulu saat bersama almarhum istrinya, ia selalu harus bersembunyi bila ingin mengasuh Farrel. Setiap bertemu sang istri saat menggendong Farrel, wanita itu selalu saja marah-marah. Digendong salah diletakkan salah. Akhirnya ia sering mengabaikan Farrel saat ada sang istri di kamar.


Air matanya menetes tanpa diminta membuat Marina mengetahuinya seketika.


"Kak, Kak Abigail kenapa?"


"Mmh, tidak." Pria itu menghapus air mata dengan jemarinya. "Hanya mengingat dosa masa lalu."


"Kakak salah apa?" ucap Marina lembut.


"Mmh, pernah mengabaikan Farrel ketika kami bertengkar."


"Jangan mengingat masa lalu, Kak. Kalau masih bisa diperbaiki."


"Ya, kau benar. Masih bisa diperbaiki." Abigail mengingat sesuatu. "Oh, ya. Katamu, yang menyerahkan Farrel itu seorang wanita." Ia membuka handphone dan memperlihatkannya pada Marina. "Bukan wanita ini 'kan?"


"Ini foto almarhum istriku. Aku penasaran dengan siapa sebenarnya kamu bertemu."


"Aku juga. Aku tidak tahu kalau ternyata yang kutemui itu bukan istrimu. Mungkin, bila polisi mendapatkan CCTV itu, polisi akan memanggilmu. Mungkin saja wanita itu, Kakak kenal."


"Pasti, karena ia sudah menyudutkan diriku di depan banyak orang. Satu hal yang ia tidak tahu, kau yang diserahi anakku, ternyata kenal aku dan Farrel kembali ke tanganku. Mungkin ia tidak tahu ini." Abigail mengusap wajahnya. "Sepertinya orang ini dendam padaku ya?" ucapnya tak habis pikir.


Marina menepuk bahu pria itu. "Mungkin juga ia dititipi Farrel sama seperti aku, kita tidak tahu 'kan? Makanya jangan berpikiran buruk dulu Kak."


"Mmh, kau benar juga. Kita tak boleh suudzon."


Setelah cukup beristirahat, mereka kembali meneruskan belanja mereka.


Sejam kemudian, mereka kembali ke apartemen Abigail. Pria itu harus bolak-balik mengambil barang karena banyaknya barang belanjaan.


Marina disibukkan dengan Farrel yang mulai gelisah karena mengantuk. Ia membuatkan bayi itu susu botol. Dalam sekejap, bayi itu menyusu dengan rakusnya.


"Mmh, ternyata lapar juga, ngantuk juga," ledek wanita itu pada bayi Farrel.


Bayi itu seakan mengerti dengan menyahut ucapan Marina. "Hum ...."


"Ya udah, tidur ya, Sayang Mami. Eh, Tante." Marina masih salah-salah menyebut dirinya Mami.


Ia menoleh pada Abigail yang sedang sibuk merapikan barang tapi kemudian memilih untuk duduk di kursi samping. Pria itu beristirahat karena kelelahan mengambil barang bolak-balik dari lantai bawah.


"Biarkan saja di situ, Kak. Nanti aku rapikan."


"Aku akan rapikan sebisaku." Pria itu mengambil gelas di dapur dan menuang air dingin dari botol air mineral dari lemari es. Ia meminumnya. "Ah, segar." Setelah itu ia mulai menata barang.


Malam semakin larut dan Marina telah meletakkan bayi itu dalam boks bayi dalam keadaan tertidur lelap. Ia kemudian menata barang-barang belanjaannya di dapur dan kamar mandi.


Abigail mandi dan bersiap untuk tidur. Hari ini hidupnya memasuki babak baru yang indah. Ia telah menemukan pelita hati yang selama ini dicarinya. Rasanya, sesusah apapun badai yang akan menerpa, ia siap asalkan bersama mereka, orang-orang ia cintai.


Pria itu menarik selimut dan siap dengan mimpi indah berikutnya.


Marina bergeser dalam selimut. Hari ini hari yang bahagia. Bukan saja karena bayi itu menemukan orang tuanya, tapi ia juga punya pekerjaan dan tidak perlu lagi harus takut kehilangan tempat tinggal karena Abigail telah menampungnya. Ia juga tidak perlu takut berpisah dengan bayi itu karena Abigail mempekerjakannya sebagai babysitter. Babysitter dari anak seorang pria tampan.


Ah, Marina. Kau hanya bisa berkhayal karena pada kenyataannya kau tidak akan bisa bersaingan dengan almarhum istrinya yang cantik itu.


Dia sangat cantik, berbanding terbalik dengan aku yang pipi dan daging pinggangku yang sangat tebal. Marina tersenyum sendiri dengan pemikirannya yang asal.


Sudah jangan pernah berpikir pria itu jatuh cinta padamu karena itu tidak mungkin. Itu hanya mungkin ada dalam khayalanmu saja.


Marina tersenyum mengingat pria itu yang sempat terlihat menunjukkan ketertarikannya pada dirinya dan ia sempat terbuai. Jangan, jangan buat dirimu sakit hati kala sadar dan dihempas kenyataan. Dari sekarang kamu harus sadar diri, Marina.


Wanita itu menepuk-nepuk pipinya pelan sebelum pergi tidur.


------------+++-----------


Anka berdiri di depan pintu apartemen Marina. Apartemennya masih gelap.


Apa aku telepon saja? Ia mengangkat HP-nya dan mulai menelepon. "Halo? Kak Marina, kau di mana?"


____________________________________________


Halo, reader. Masih baca novel ini 'kan? Ayo beri semangat author dengan memberi vote, like, komen atau hadiah. Ini visual Marina, Farrel dan Abigail. 'Ini, bapaknya senang sama anaknya apa sama aku?' Salam, ingflora. 💋



Intip novel temen author yang satu ini.