Author And The Baby

Author And The Baby
Berenang



"Aku malas keluar," sahut Marina. Ia ingin melanjutkan menulis novelnya tapi ia tak suka menulis ketika sedang lelah. "Apa tidak bisa olahraga saja di dalam apartemen."


Pria itu berpikir sejenak. "Oh, kita bisa berenang."


"Berenang?"


"Iya. Di bawah 'kan ada fasilitas berenang untuk penghuni apartemen."


"Oh, iya." Marina baru ingat ada fasilitas tempat fitnes dan kolam renang di apartemen itu.


"Bagaimana?"


"Mmh?" Wanita itu melihat ke bawah tubuhnya.


"Kamu tidak bisa berenang? Nanti aku ajari."


"Tapi ...."


"Apa? Gak punya baju berenang? Pakai pakaian yang longgar saja. Baju dan celana panjang."


Dengan sedikit segan, ia menjawabnya. "Aku punya baju berenang tapi aku belum pernah berenang." Wajahnya terlihat malu.


"Astaga, Marina." Abigail hampir tertawa. "Belum pernah sama sekali?" tanyanya tak percaya.


Wanita itu merengut. "Aku, kecilku gendut. Setiap mau ikut pelajaran berenang, teman-teman mentertawakan aku, jadi akhirnya aku selalu mencari alasan untuk tidak berenang. Sekarang saja, badanku sudah termasuk kurus ini, Kak. Dulu, parah."


"Padahal, kalau kamu berenang, kamu cepat kurus lho."


"Iya, Kak?"


"Iya."


Marina tergoda. "Mau, Kak."


"Tapi tunggu Farrel bangun ya? Sekalian berenang sama Farrel."


"Boleh, Kak."


Setelah makan siang, mereka menyiapkan peralatan untuk berenang. Tak lama, Farrel bangun.


"Halo anak Papa, kita berenang ya?"


Bayi itu menggeliat karena baru bangun. Dalam mencoba untuk sadar, ia memperhatikan wajah Abigail. Pria itu tersenyum menatap anak semata wayangnya itu yang baru bangun.


"Marina! Kau sudah selesai belum?"


Marina kemudian keluar dengan baju mandi. Sepertinya ia sudah mengenakan pakaian berenang dalam baju mandinya itu. Ia membawa tas. "Sudah Kak."


Abigail meletakkan bayi itu dalam kereta bayi dan tas mereka pada rak di bawahnya. Mereka kemudian membawa Farrel dengan kereta bayi ke lantai satu. Setelah keluar dari lift, mereka menuju kolam renang di belakang area apartemen.


Keduanya mencari tempat yang cocok untuk meletakkan kereta bayi Farrel lalu menguncinya agar tak bergerak.


"Ayo, Marina buka bajunya!" seru Abigail. Pria itu langsung membuka baju atas dengan menyisakan celana pendek longgar yang dipakainya.


Marina terpana. Walaupun pria itu tidak punya otot yang terlihat nyata di perutnya tapi tubuh atletisnya cukup memukau pandangan mata wanita itu sampai harus membalikkan tubuhnya karena malu melihat lekuk tubuh pria yang sempurna itu. Namun ia tak sempat memandangi cukup lama karena pria itu langsung meluncur ke dalam air. Ia meluncur mulus dengan gerakan yang indah di dalam air. Mau tak mau Marina harus melihatnya.


"Eh, Farrel bagaimana?" tanya wanita itu dari atas.


Abigail berenang mendekat. Ia mengulurkan tangannya untuk mengambil Farrel. "Sini."


"Tidak pakai ban?"


"Iyaaa, tapi tidak apa-apa lah. Aku yang pegang."


Marina ragu. "Nanti tenggelam bagaimana?"


"Tidak, karena bayi punya insting dari dalam perut ibunya."


"Kok, Kakak tau?"


"'Kan kamu yang ajari, cari di internet."


"Oh." Marina menurunkan bayi Farrel dengan masih menggunakan pakaian lengkap pada Abigail. Ia berjongkok dan melihat bagaimana Abigail memeriksa bayi itu bisa berenang atau tidak.


Pria itu memasukkan bayi itu pelan ke dalam air dan melihat reaksi bayi. Awalnya bayi itu melihat sekitar dan merasakan air. Ketika hampir tenggelam, Abigail menariknya lagi ke atas.


Belum sempat ditarik, bayi itu menggerak-gerakkan kakinya membuat ia bisa berenang. Tangannya juga ikut bergerak-gerak mengimbangi tubuhnya agar tak tenggelam.


Abigail bangga dengan putranya yang dengan cepat bisa berenang. Bahkan bayi itu kini tengah berusaha bergerak lurus.


Di kolam renang terbuka itu tidak ada orang lain yang berenang di sana kecuali mereka. Letak kolam renang itu berada di belakang gedung tinggi yang menahan sinar matahari langsung ke tempat itu menyebabkan tempat itu teduh dengan pemandangan taman dan gedung-gedung tinggi di belakangnya.


"Lihat Marina. Farrel bisa berenang. Kamu juga pasti bisa," ajak Abigail setelah menggendong Farrel di satu tangan. "Ayo, turun. Ngak dalam kok airnya, sebelah sini." Tentu saja Abigail bicara seperti itu karena dia berdiri di dalam air yang hanya setinggi bahunya.


Marina yang telah memakai pakaian renang muslim, coba menuruni satu kakinya ke dalam air pelan.


"Ah!" Marina panik karena masuk ke dalam air. Ia tenggelam hingga tak tahu bagaimana caranya naik ke permukaan. Tiba-tiba sebuah tangan masuk dan terulur kepadanya. Wanita itu segera meraih tangan itu dan naik dengan berpegangan pada lengan yang ia tahu adalah lengan Abigail.


"Hah!" Kepala Marina akhirnya bisa muncul di atas permukaan laut.


Duda itu berdiri dihadapan, tersenyum menatapnya. "Ayo berdiri. Gak dalam kok," ulangnya.


Marina coba berdiri dan bernapas dengan benar. Ada air yang masuk ke dalam hidungnya hingga ia coba keluarkan. "Kakak ...."


Pria itu tertawa.


Jantungnya masih berdetak kencang saking kagetnya. Ia memukul pelan lengan pria itu. "Ih, Kakak jahat!"


Kembali pria itu tertawa.


Wanita itu berusaha menormalkan detak jantungnya tapi tak kunjung reda karena pria itu kini tengah menatapnya. Menatapnya dengan lembut dengan senyum menawan.


Aku tak ingin menghindar Marina. Untuk apa? Aku ingin menikmati debar ini, berharap kau juga tengah merasakan debar yang sama.


"Kakak ...." Wanita itu tertunduk malu. Rasanya tengah menyembunyikan pipinya yang memerah.


Abigail berusaha untuk serius. "Eh iya. Coba kamu mengambang."


"Mana bisa!"


"Bisa. Mumpung kamu masih berpegangan padaku."


Marina baru sadar, ia sejak tadi masih berpegangan pada lengan pria itu. "Eh!" Wanita itu melepas pegangannya.


"Eh, kok dilepas? Ayo pegang lagi. Nanti aku tarik biar bisa berenang. Angkat kakimu pelan-pelan dan luruskan. Gerakkan kakinya, nanti pasti bisa berenang."


Marina terdiam. Wajahnya terlihat ragu.


"Eh, kok takut? Nih, lihat! Farrel saja juga pertama kali berenang tapi bisa." Pria itu melepas Farrel dan bayi itu kembali berenang. Abigail kembali meraih bayi itu. "Ayo!" ucapnya pada wanita itu.


Marina kembali berpegangan pada lengan pria itu.


"Tahan napas dan angkat kaki pelan-pelan."


Marina menurut. Ia meluruskan kakinya.


"Ayo gerakkan kakinya."


Marina yang sudah mulai mengambang, menggerakkan kaki sementara Abigail berjalan di dalam air sambil menariknya. Sedikit demi sedikit, wanita itu mulai bisa berenang.


"Hah!" Marina berhenti dan berdiri. Ia melihat sekitar. Ternyata ia sudah berenang lumayan jauh sekitar 7 meter dari tempat awal mereka berdiri. Terbukti dari kereta bayi yang telah menjauh.


"Kamu bisa berenang 'kan?" Pria itu meyakinkan.


"Iya." Marina mengusap wajahnya yang basah.


"Ayo coba lagi. Lihat, Farrel saja suka berada di atas air."


Walaupun digendong di atas air, bayi itu terlihat menggerak-gerakkan tangan dan kakinya karena senang.


"Biar sesuai dengan namamu, Marina. Bisa berenang," ledek Abigail.


"Iya, ih!" Marina kesal dan mencipratkan air ke wajah pria itu.


"Eh, beraninya sama guru begitu ya?" Abigail dengan mimik marah yang dibuat-buat. Ia menciprati balik Marina. "Nih!"


"Ah! Kakak! Kak Abigail jahat!" Wanita itu menghindar ke samping. Ia kemudian membalasnya.


Mereka saling menyiprati air dan berteriak kegirangan.


"Marina! Sudah Marina!" Abigail menangkap lengan wanita itu.


Wajah mereka saling berhadapan. Mentari senja mulai masuk ke dalam kolam renang itu lewat sela-sela dari dedaunan pohon yang rimbun menyinari keduanya.


Wajah Marina yang basah oleh air bersinar dengan indahnya. Begitu juga bola matanya yang memantulkan cahaya dari air kolam renang, sangat eksotis dan melambungkan angan.


"Marina." Pria itu mendekat, tersihir oleh keindahan di depan matanya.


Bahasa tubuh membuat keduanya sulit bergerak dan terpaku dalam irama jantung yang sama. Saling mengagumi, tak terelakkan.


"Ageh, akh!"


Keduanya menoleh pada Farrel dan tersenyum. Bahkan tertawa.


____________________________________________


Halo reader! Masih semangat membacanya 'kan? Jangan lupa penyemangat author, like, vote, komen atau hadiah. Ini visual duda tampan Abigail yang sedang mengajari Marina berenang. Salam, ingflora💋