Author And The Baby

Author And The Baby
Mengais Jejak Tertinggal



Namun rasanya ia tak sanggup lagi duduk di sana lama. Kenangan akan putranya dan kelelahan bekerja membuat ia gampang menangis saat frustasi. Ia memutuskan untuk kembali ke apartemennya.


Ia bangkit dan melewati meja Marina. Wanita itu tak sengaja melihat pria itu melewatinya. "Oh, Terima kasih traktirannya ya, Pak."


Pria itu menoleh. "Oh, tidak apa-apa." Sempat ia melihat bayi itu secara langsung tapi wajahnya sedikit tertutup kain gendongan.


Ah, bayi mengingatkanku akan Farrel. Apa Farrel sebesar ini sekarang ya? Namun ia tak kuat melihat lama hingga segera memalingkan wajahnya. Ia takut ada yang melihatnya sedang menangis. Untung ia membawa kacamata hitam. Ia langsung memakainya dan bergegas ke lift.


Perjalanan dari lift ke unit apartemennya terasa lama sebab air matanya telanjur jatuh. Ia hanya berani menunduk walau tidak ada seorangpun di dalam lift bersamanya. Ia bergerak dalam diam hingga sampai ke dalam kamar.


Pelan-pelan ia menata hatinya dan duduk di tepi tempat tidur. Terkadang ia masih sulit berpikir jernih, walaupun semua yang terjadi pastinya atas izin Allah. Ia harus ikhlas, tapi ia masih belum ikhlas bila harus kehilangan Farrel. Ia yakin anaknya itu masih hidup dan kini entah berada di mana.


Kau berjuang terus, Farrel untuk tetap hidup. Ayah akan terus mencarimu sampai dapat.


--------------+++----------


Pekuburan itu masih merah dan belum padat benar. Tanahnya yang lengket diperparah dengan hujan semalam yang tak terlalu lebat.


Abigail harus rela celana panjang dan sepatunya kotor terkena noda tanah dan cipratan dari kubangan air hujan sepanjang jalan ke tempat itu, tapi ia tak peduli. Saat itu ia hanya ingin hadir di sana menyendiri.


Ia meletakkan setangkai bunga mawar di depan papan nama istrinya yang tertancap ke tanah dan menatap pekuburan itu dalam diam. Kacamata hitam yang dikenakannya tak dapat menyembunyikan kesedihannya karena air mata jatuh tanpa bisa ditahan.


Pria itu mencoba berjongkok di depan kuburan dan menyentuh tanah yang masih merah itu. Masih teka-teki baginya kenapa istrinya memilih jalan bunuh diri untuk menyelesaikan masalahnya.


Ia merasa masalah mereka bukan masalah yang harus dihadapi dengan berlebihan, tapi sekali lagi, ia sebenarnya sudah terlambat untuk bertanya. Terlambat menyadari dan melihat tanda-tanda kerapuhan yang dimiliki istrinya hingga berakhir seperti ini. Sudah tak ada gunanya lagi bertanya.


Apakah ini caramu balas dendam padaku yang kau pikir sudah tak peduli lagi padamu? Memang kita menikah bukan berdasarkan cinta dan hingga detik terakhir hidupmu pun, di hatiku belum ada cinta untukmu, tapi bukan berarti aku tak peduli. Kau adalah bagian hidupku, bagaimana aku tak peduli? Kau telah memberiku buah hati yang paling tampan.


Sekarang, di mana dia katakan padaku. Tolong ... katakan. Jangan sembunyikan dia dariku, tolong ... Jangan jadikan dia sebagai alat untuk kamu bisa balas dendam sebab kalau kamu ingin balas dendam, lakukan saja itu padaku dan jangan gunakan anak kita sebagai tumbal kesalahanku. Aku tahu aku salah, dan selalu salah, tapi mohon kembalikan anak itu padaku. Anak itu tak bersalah, Alena. Ia tak berdosa. Biar aku yang menanggung dosanya.


Air mata pria itu mengalir deras. Rasanya ... sudah cukup kamu menghukumku dengan menyembunyikan Farrel dariku, tapi sekarang, tolong kembalikan dia padaku. Beri isyarat apapun dari alam sana tempat kamu berada. Aku sangat merindukannya. Setidaknya ia, satu-satunya keluarga yang aku punya darimu sekarang, Alena. Ia bagian darimu. Ampuni aku, kembalikan ia padaku karena aku sangat menyayanginya.


Abigail jatuh terduduk di tanah dengan tangisan yang membuat bahunya berguncang. Ia tertunduk dan merangkul lututnya.


Angin bertiup lembut sendirian. Wangi bunga dan kenangan menyebar di sekitar. Terdengar suara burung pipit bernyanyi parau menunggu keajaiban. Desau di antara dedaunan menyanyikan lagu sunyi.


---------------+++-------------


Ini karena Abigail telah lebih dulu memberi tahu polisi tentang kemungkinan itu hingga polisi memeriksa keluarga almarhumah istrinya itu satu persatu dengan mendatangi rumah mereka dan ini menjadi pangkal keributan keluarga almarhum sang istri dengannya.


Ia mengusap wajah dengan kasar. Kembali ia dipersalahkan padahal ia yang kehilangan, tapi malah dituduh mencari kambing hitam dalam keluarga itu. Saat ia butuh dukungan, keluarga istrinya malah menuduhnya menjadi penyebab Alena meninggal dan tak mau bekerjasama untuk mencari tahu keberadaan anaknya.


Komunikasi sangat tidak lancar dari keluarga itu dan hanya bisa menyalahkan dirinya yang sekarang sedang kemalangan.


Sepertinya Abigail harus bergerak sendirian atau ia akan jadi gila karena lepas kontrol.


-----------+++-----------


Hari-hari diisinya dengan bekerja, karena kesibukan bekerja membantunya melupakan sejenak duka nestapanya. Dengan begitu pikiran berat teralihkan dengan pikiran positif.


Apalagi ia kadang-kadang bertemu dengan Marina di kafe apartemennya. Di saat itu ia bisa mengembangkan senyum sejenak, mengisi energi dengan memandangi wanita yang punya senyum manis itu.


Namun itu cuma sejenak karena sekarang wanita itu membawa bayinya ke kafe itu. Di saat biasa, ia tak masalah tapi ketika ia teringat pada Farrel, anaknya, ia akan segera pulang sebelum orang lain tahu tangisnya tumpah.


Abigail berbaring di tempat tidur dan menatap langit-langit apartemennya. Sudah sebulan berlalu dan ia belum juga mendapatkan berita apapun tentang anaknya Farrel. Ia mulai bisa berpikir jernih walau masih diliputi kesedihan.


Ia masih bingung tentang keberadaan anaknya yang seperti ditelan bumi. Tidak ada petunjuk apapun yang tersisa di tempat kejadian menyebabkan penyelidikan polisi menemui hambatan.


Sekarang, sudah hampir sebulan pula keluarga almarhumah istrinya tak menghubunginya. Abigail juga tak menelepon mereka guna menghindari perselisihan. Ia hanya bisa pasrah.


Akhir-akhir ini ia sholat tahajjud untuk menenangkan dirinya dan berdoa untuk keselamatan anaknya. Ia meminta agar segera dipertemukan dengan buah hatinya.


-----------+++----------


Bayi Farhan mulai lincah bergerak dan mulai bisa tengkurap sendiri. Marina mulai kewalahan karena bayi itu butuh perhatian lebih. Bayi Farhan sudah bisa berguling sendiri dan ini berbahaya. Ia sudah tidak bisa ditinggal-tinggal sendiri walaupun hanya untuk membuat susu.


Marina menggendongnya dengan kain gendongan ketika membuat susu. Bayi itu juga belum kuat mengangkat kepalanya, sehingga marina harus ektra hati-hati sangat menggendongnya karena bayi itu tak bisa diam.


Belakangan sudah seminggu ia tak ke kafe lagi. Bukan saja karena Farhan yang tak bisa diam tapi keuangannya yang mulai menipis, sementara dari menulisnya ia belum menghasilkan apa-apa karena kesulitan menyediakan waktu untuk menulis.


Padahal ia sudah mulai punya pembaca setia yang selalu menunggu novelnya terbit tapi karena kesibukannya, ia terpaksa menyicilnya. Satu bab dalam 3-4 hari.


Itu pun kalau ada ide datang, karena itu pembacanya mulai menurun. Ia kemungkinan kesulitan untuk mendapatkan kontrak menulis karena syaratnya harus punya banyak pembaca, sedang dari kontrak itulah ia mendapatkan uang.