Author And The Baby

Author And The Baby
Pengakuan



Abigail masuk ke dalam apartemennya yang tidak dikunci dan mendapati Farrel berada di boks bayi luar sendirian sedang Marina sepertinya masih di dalam kamar. Farrel sudah bertukar pakaian dan sedang asyik mendengarkan lagu dari mainan gantungnya.


"Mmh, anak Papa makin ganteng kalau sudah pakai baju rapi begini, tapi kenapa kamu pakai handuk leher begini?" tanya pria itu saat mengangkat anaknya dari boks bayi.


"Oh, supaya air liurnya tidak menetes di baju," seru Marina yang baru keluar dari kamarnya. "Kalau tidak, nanti harus sering-sering ganti baju."


" Kenapa air liurnya jadi banyak belakangan ini? Apa dari kebiasaan barunya yang suka memasukkan jari ke mulut?"


"Oh, bukan. Ini rasanya karena mau tumbuh gigi jadi gatal gusinya."


"Oh, begitu. Mmh, anak Papa Abigail mau tumbuh gigi ya?" Pria itu menyatukan kening mereka lalu mengecup kening si kecil. Ia kemudian memasukkan Farrel dalam kereta bayi. "Ayo, kita berangkat."


Mereka akhirnya sampai juga ke kantor polisi. Menurut penuturan polisi setelah wanita itu ditangkap dan diinterogasi, ia menyangkal memberikan bayi Abigail pada orang lain sampai akhir ia diperlihatkan video di cafe itu. Ia katanya, diminta tolong oleh Alena untuk dititipi bayi itu, tapi kemudian merasa tidak sanggup dan akhirnya mendatangi cafe itu dengan secara acak memilih orang lain untuk ia titipi bayi itu.


"Lalu, istriku meninggal karena apa?" tanya Abigail bingung. "Apa benar itu hanya kasus bunuh diri semata?" Ia masih tak percaya.


"Kalau dalam CCTV di gedung tempat istri anda jatuh dari lantai atas itu memang hanya melihat istri anda seorang diri, begitu pula dari para saksi mata dan juga hasil pemeriksaan HP-nya. Almarhum istri Bapak memang terakhir hanya menelepon Bapak, karena itu kecurigaan kami buntu setelah Anda dinyatakan bersih."


Abigail terdiam. Ia tak tahu harus berbuat apa.


"Tapi ada satu cela yang mungkin bisa digali. Pertemuan terakhir istrimu dengan mantan sekretarismu itu. Apa yang sebenarnya mereka telah bicarakan."


"Lalu, kenapa Bapak tidak tanyakan kepada Kanaya, mantan sekretaris saya itu?" tanya Abigail penuh tanda tanya.


"Itulah kenapa saya memanggil Bapak kemari. Kanaya ingin bicara dengan Bapak dulu sebelum menceritakan pada kami, pembicaraan terakhir mereka. Apa Bapak bersedia?"


Abigail terkejut. Ada apa ini? Kenapa dia malah ingin bertemu dengan aku dulu dibanding menceritakan langsung pada polisi? Pria itu menoleh pada Marina lalu pada polisi. "Apa boleh saya membawa dia ikut bertemu mantan sekretaris saya itu? Saya takut emosi, Pak."


"Kak Abigail, apa saya perlu?" tanya Marina heran.


Pria bule itu tertunduk. "Aku takut tidak kuat saat mengingat mendiang istriku." Ia mengangkat wajahnya. "Tolong, bisa 'kan?"


"Eh, tapi sebaiknya sedikit agak berjauhan, bisa, Pak. Dia tersangka jadi sebaiknya karena ini ada bayi, kita harus berhati-hati." Polisi itu mengingatkan.


"Baiklah." Abigail menyetujui.


Mereka kemudian diantar ke sebuah ruang terbuka berisi beberapa meja kayu persegi yang diberi kursi-kursi lipat dari besi.


Abigail diminta menunggu di meja yang sudah di sediakan sementara Marina di meja yang berbeda. Marina mendorong kerete bayi Farrel ikut serta. Di sana juga ada penjagaan polisi lain yang duduk di kursi meja berbeda.


Wanita itu tak lama datang dengan berpakaian penjara bersama seorang sipir. Wanita cantik yang dilihat Marina waktu itu yang telah menitipkan Farrel tanpa pernah kembali. Kenapa dia seperti itu, mendapat titipan anak dari orang lain tapi malah dititipkan lagi pada orang yang tidak dikenalnya seolah ... eh, apa dia tahu istri Abigail tidak menginginkannya kembali atau ....


Tanpa pikir panjang, Abigail langsung saja bicara. "Kenapa kamu yang dititipi anakku oleh Alena, malah memberikannya kepada orang lain? Untung saja orang yang kau titipi itu masih kenalanku, sehingga aku bisa dengan cepat menemukan anakku segera tanpa perlu mencarinya ke ujung dunia."


Kanaya kembali melirik Marina sekilas.


Abigail adalah bos yang ramah. Jarang sekali bisa menemukan pria ini marah-marah di kantornya. Bahkan saat amarahnya sudah memuncak pun, ia lebih mirip menasehati daripada marah karena memang bukan tipe pria yang gampang naik darah.


"Kalau kau tidak bisa mengurus anakku, kenapa tidak kau kembalikan saja ia padaku? Itu lebih baik bagimu, hingga aku tidak perlu mencurigaimu."


Kanaya menatap Abigail. "Lho, memang Alena sendiri yang maunya bayi itu tidak berada di tanganmu. Ia sendiri selalu merasa kesepian, karena Bapak tak pernah ada untuknya."


"Bagaimana aku ada untuknya? Setiap aku ada ia selalu memulai pertengkaran." Abigail berhenti sebentar dan menghela napas. Bukan ini yang sedang ingin mereka bicarakan. Ada hal penting lain yang harus segera diketahui. "Sebenarnya, kenapa kau ingin menemuiku?"


"Aku ingin memberi tahu Bapak, kalau bukan aku yang membunuh Alena. Alena bunuh diri dan itu karena Bapak!"


Abigail diam. Ia memejamkan mata sekejap dan menarik napas. Ini bukan pertama kalinya ia dituduh menjadi penyebab meninggalnya Alena tapi tetap saja ini membuat dadanya sesak.


Ia membuka mata pelan dan berusaha merangkai kata untuk bicara pada wanita itu tapi sulit. Namun ia tetap berusaha. "Bagaimana aku bisa membuat seseorang bunuh diri, sedang berada di dekatnya saja ia marah. Karena itu aku menyibukkan diri bekerja di kantor." Pria itu kini menatap lurus pada wanita di depannya. "Atau Jangan-jangan malah kamu yang telah memanas-manasi istriku agar pernikahan kami jadi tidak tenang, iya kan?"


Mata wanita itu terlihat panik.


"Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan istriku, sebenarnya? Aku rasa sejak kamu dipecat dari perusahaan, kamu masih menemui istriku. Iya 'kan?"


"Itu karena bapak memecatku secara tidak hormat dari perusahaan sehingga aku kesulitan untuk bekerja kembali di tempat lain. Mereka semua meminta rekomendasi dari perusahaan sebelumnya di mana aku punya masalah.


Kalau begitu, bagaimana aku bisa mendapat pekerjaan sementara hutangku menumpuk di mana-mana dan keluargaku semua bergantung padaku?" Netra wanita itu mulai menitikkan air mata. Hanya pada Alena aku bisa meminjam uang." Ia tertunduk.


"Lalu kenapa kau tak datang padaku?"


Kanaya mengangkat wajahnya karena terkejut.


"Kanaya, kau sekretarisku. Bagiku kau teman kerjaku. Bahkan bisa dekat dengan istriku saat itu adalah anugrah karena sejak pertama menikah, Alena memang tidak pernah cocok denganku. Kami sering bertengkar. Aku berharap kau bisa menjebatani itu tapi ternyata kau menghianatiku.


Padahal, kau dipecat dari perusahaan, itu karena ulahmu sendiri yang pinjam uang kantor yang makin lama makin banyak dan kau tak sanggup membayarnya. Aku baru mengetahuinya setelah kau dipecat.


Kalau kau punya masalah keuangan, kenapa kau tak datang padaku? Kenapa kau merahasiakan itu dariku? Bukan aku yang memecatmu, Kanaya. Perusahaanlah yang melakukannya. Aku pikir kau tidak datang padaku karena kau malu, Kanaya."


Kanaya syok. Ia menunduk menutup wajahnya dan mulai menangis.