Author And The Baby

Author And The Baby
Berjuang



"Kamu kenapa, Alan?" tanya Marina saat mendekat.


"Kak, tolong usir mereka! Aku ingin sendiri, Kak." Terlihat pipinya yang basah karena air mata. Rambutnya berantakan dan wajahnya tampak kusut.


"Kenapa? Kita 'kan di rumah sakit, Alan. Kau sedang dirawat."


"Tapi aku ingin sendiri, Kak." Alan mengiba. Ia memeluk pinggang wanita itu dan menenggelamkan wajahnya di perut Marina. Ia selalu begitu saat merajuk, berusaha terlihat paling lemah dan butuh pertolongan.


"Alan, kamu gak mau cepat sembuh? Kamu dirawat dulu ya?" Marina mengusap kepala pria itu pelan. Padahal beda umur keduanya cuma dua tahun tapi ia selalu menjadi yang paling dewasa untuk Alan. Adiknya itu, karena selalu ditolong Marina, memanfaatkan sang kakak untuk segala keinginan.


"Kak ... kakiku gak bisa jalan, Kak." Alan mengangkat wajahnya dan menangis. "Aku lumpuh. Bagaimana caranya aku hidup kalau begini? Aku hanya manusia cacat yang tidak berguna. Aku tidak mau, Kak. Aku mau mati saja, Hu hu hu ...," isaknya.


"Kamu harus berusaha bangkit, Alan, apapun yang kamu miliki," nasehat Marina.


Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Untuk apa aku hidup? Aku malu kalau cacat begini, Kak. Apa kata orang nanti?" Ia masih menangis.


"Kenapa malu? Banyak kok, orang cacat yang hidup normal," bujuk wanita itu lagi.


"Tapi orang-orang akan mengejekku, Kak. Karena aku cacat."


"Nanti juga lama-lama hilang. Kamu yang tegar ya?" Marina memberi semangat.


"Tidak mau, aku tidak mau! Aku ingin mati saja!" teriak Alan dalam rajukannya. Ia memeluk erat pinggang sang kakak dan menenggelamkan kembali wajahnya di perut wanita itu. Ia masih menangis.


"Alan." Marina dengan lembut mengusap pucuk kepala sang adik.


"Gak mau, pokoknya gak mau!" Terdengar kembali tangisan pria itu.


"Alan, ke mana pun kamu pergi, itu butuh pertanggungjawaban. Perjuangan. Kalau kamu mati, apa sudah siap amal kebaikanmu, sedekahmu, sholatmu? Kamu mati bunuh diri saja sudah ditanya matinya kenapa, dan kamu disiksa. Apalagi kalau malaikat bertanya tentang amal ibadahmu, lalu kamu mau jawab apa?"


Tiba-tiba saja suara tangis itu terhenti. Perlahan, pria itu melepas pelukan. Terlihat wajahnya ngambek. "Kenapa Kakak gak dukung aku sih! Gak asyik!"


Ibu menutup mulutnya menahan tawa.


"Lagipula, memangnya kamu berani bunuh diri?" ledek Marina, walaupun dengan lembut tapi membuat Alan sebal.


"IBU!! Kakak tuh!" Kini Alan mencari dukungan ibu.


"Sudah, berobat saja. Katanya mau sembuh." sahut ibu dari samping.


"Gak mau! Aku sudah gak bisa jalan lagi!" Pria itu menghentakkan tangannya karena masih dongkol.


"Lah, terus kamu mau apa? Ini susternya mau lihat luka-luka di tubuhmu, bagaimana? Biarin aja gitu? Kamu kuat luka gak diobati?" tanya ibu sambil membujuknya.


"Heng!" Wajah Alan kesal ingin menangis. Ia ingin menumpahkan kekesalannya tapi tidak ada satu orang pun yang mengerti.


Marina duduk di tepian tempat tidur dan menghadap adiknya. "Kakak 'kan dari dulu sudah bilang, jangan mabuk-mabukan, jangan main sama anak berandalan tapi kamunya gak dengar. Lihat hasilnya. Temanmu yang mabuk-mabukan pergi lebih dulu dan kamu beruntung masih bisa hidup. Syukuri apa yang kamu punya walau itu hanya sebuah nyawa.


Apa kamu tidak perhatikan hidupmu, Alan. Banyak waktu kau habiskan untuk bermain-main dan sekarang malah kamu tidak jadi apa-apa bahkan siapa-siapa. Coba dulu kamu selesaikan kuliahmu, dapat gelar sarjana. Mungkin kamu sekarang menikmati hasilnya, bekerja di sebuah perusahaan bahkan punya pacar. Bukan berakhir di rumah sakit dengan luka parah seperti ini, Alan," ucap Marina lembut.


"Tapi aku sudah tidak bisa berjalan lagi, Kak. Aku sudah lumpuh. Aku cacat." Alan mulai menangis lagi. Air matanya bercucuran tak terbendung. Ia terlihat pasrah. "Bagaimana aku menatap masa depan kalau begini. Aku tak punya masa depan." Ia terisak.


Marina mencondongkan tubuhnya dan mendekap sang adik. Ia mengusap kepalanya dengan lembut. "Waktu tak bisa diputar. Syukuri saja yang ada, ya?"


Alan hanya menangis, tubuhnya lemas dan tak sanggup berbuat apa-apa.


Suasana haru membuat Ibu pun ikut-ikutan menitikkan air mata. "Kamu berobat saja ya, Nak. Barangkali saja kamu bisa sembuh."


"Kata dokter itu kemungkinan, Bu. Makanya dokter mau memeriksa lagi selagi pasiennya bangun," sahut suster yang berdiri di sampingnya.


Marina melepas pelukan. "Bagaimana?" tanyanya pada adik lelaki satu-satunya itu.


Pria itu mengangguk sambil menyelesaikan isak. Akhirnya drama ngambek dan mengamuk pria itu usai. Alan kemudian dibawa untuk melakukan pemeriksaan lanjutan ditemani ibu.


Sambil menunggu mereka kembali, Abigail mengajak Marina ke kantin karena Farrel sudah bangun. Ia ingin sholat Ashar, hingga bergantian dengan Marina sambil menjaga si kecil. Saat ia kembali, lagi-lagi Marina makan es krim dan diperhatikan Farrel. Bayi itu memperhatikan mulut wanita itu yang sedang makan, membuat bayi itu ikut-ikutan mengunyah seperti Marina.


"Marina, ya Allah. Es krim lagi?" tanya pria itu tak percaya. Dia duduk di samping wanita itu.


"Sekali-sekali, Kak," kilah Marina yang menikmati mangkuk es krimnya di tangan.


"Tadi siang makanmu banyak dari pemberian kakaknya Anka, ditambah makan es krim lagi. Harusnya diimbangi makannya, jangan makan yang berat-berat."


"Ini gak berat-berat. Makan langsung hap," ucap wanita itu sambil tersenyum.


Abigail terlihat kesal. "Marina. Gak lucu."


"Aku 'kan gak bercanda." Senyum wanita itu masih tertahan. Ia sengaja bercanda tapi pria itu kesal.


Abigail menyodorkan tangannya. "Sini, es krimnya!"


Dengan merengut Marina memberikan es krimnya pada pria itu, padahal ia baru makan sedikit dan sisanya dihabiskan Abigail.


Bayi itu hanya melihat saja. Mulutnya bergerak-gerak mengikuti pria itu makan.


"Kamu tuh masalahnya gak bisa nahan diri. Apa kamu gak merasa aneh, makan banyak terus tiap hari?"


"Ngak." Wanita itu menggeleng dengan masih merengut.


"Mmh, pantas saja. Pas pakaian tidak ada lagi yang muat kamu pakai, kamu masih belum sadar?"


Marina makin meruncingkan mulutnya.


"Marina, aku bukan memarahimu, cuma lihat dirimu. Apa kamu mau terus-terusan kesulitan mencari baju?"


Wanita itu hanya diam.


"Marina."


Wanita itu matanya mulai berkaca-kaca.


Ya ... repot deh. Dikasih tau malah ngambek.


"Stres, tau! Aku 'kan lagi buat novel baru, jadi banyak yang aku pikirkan. Jalan ceritanya, cover-nya, konfliknya dan itu bikin sebentar-sebentar lapar, Kak."


Mmh, keras kepalanya keluar. Ngak boleh disalahin sedikit. Ya, sudah. "Ya udah, ya udah! Sini aku belikan lagi." Pria itu terpaksa mengalah. Ia bangkit dan akhirnya membeli lagi untuk wanita itu. Biasanya dia nurut-nurut aja, tapi mungkin lagi stres jadi biarkan saja. Mungkin es krim ini bisa membantunya mengurangi beban pikiran.


Benar saja, setelah dibelikan es krim, senyumnya kembali timbul. Wanita itu kemudian menghabiskan es krim itu tanpa sisa.


Keduanya lalu kembali ke ruang perawatan Alan setelah di telepon ibu. Ternyata, adik Marina punya kemungkinan untuk sembuh pada kakinya, hanya saja, tidak bisa kembali seperti semula hingga Alan kemungkinan berjalan menggunakan tongkat.


Kabar ini cukup melegakan untuk Marina walaupun Alan terlihat masih merengut di atas tempat tidur.


__________________________________________


Yuk, intip novel bagus yang satu ini.