Author And The Baby

Author And The Baby
Cemburu



Abigail naik ke dalam mobil dan menutup pintu. Setelah berbasa basi sebentar dengan polisi, ia memilih pulang. Di mobil, ia membuka kertas yang terlipat yang ditujukan untuknya dengan perasaan tak karuan.


'Kepada Pak Abigail Morgan,


Maaf surat ini kutulis sebagai curahan hati yang tak sanggup kubendung karena rasa bersalah telah menyangka Bapaklah penyebab semua kekacauan dalam hidupku ini tapi ternyata tidak. Ternyata aku hanya mencari pelarian dari segala permasalahan dari persoalanku sendiri.


Pak Abigail, maaf. Maafkan aku yang telah menanam benih permusuhan di dalam rumah tangga Bapak sehingga Bapak sering bertengkar dengan istri karena istri Bapak selalu curiga, Bapak punya wanita lain di luar sana.


Aku dendam, karena aku pikir Bapaklah yang menjadi penyebab aku diberhentikan dari perusahaan Bapak, setelah tahu aku punya banyak hutang di sana. Namun ternyata, Bapak sama sekali tidak tahu menahu tentang hal ini dan bahkan menawariku untuk membantu masalah keuangan, membuat aku sadar aku telah banyak berdosa dengan memfitnah Bapak sampai-sampai istri Bapak nekat bunuh diri.


Saat aku tahu istri Bapak bunuh diri, aku panik dan meninggalkan bayi itu pada orang yang aku sendiri tak ingat siapa. Aku ketakutan, Pak.


Istri Bapak datang padaku dan mengatakan sangat mencintaimu, Pak tapi telah terlanjur membuat hati Bapak sakit hati hingga akhirnya Bapak selingkuh di luar sana. Ia baru menyadari itu tapi ia merasa sudah sangat terlambat. Ia merasa jadi batu sandungan Bapak dengan orang lain, karena itu dia ingin menyendiri dan menitipkan anak kalian padaku. Katanya, kalau dalam 3 jam ia tak meneleponku berarti ia pergi.


Aku baru menyadari arti kata 'pergi' itu sejam kemudian. Demi Allah, Pak. Kalau aku tahu arti kata itu, aku pasti menahannya. aku telah menghancurkan keluarga Bapak tapi aku tidak bisa memperbaikinya. Biarkan aku menerima hukumannya sekarang, Pak. Selamat tinggal.


Tertanda Kanaya Tsabina.'


Abigail menitikkan air mata. Ternyata dugaannya selama ini salah dengan istrinya karena ada orang lain lagi yang ikut campur menghasut dan membuat rumah tangganya kisruh seperti ini. Ini bukan main-main. Sebuah salah sangka besar yang berakhir tragis. Andai waktu terulang kembali.


Pria itu menyandarkan punggungnya ke belakang dan berusaha menarik napas lega sekaligus kecewa. Lebih banyak kecewa karena kini ia memandang almarhum istrinya tak lagi sama. Andai saja saat itu ia banyak meluangkan waktu dengan istrinya, tapi saat itu ia sudah berusaha dan yang ada selalu penolakan istrinya pada hal-hal yang tak masuk akal yang menyebabkan mereka selalu bertengkar. Apakah saat itu Alena cemburu? Sepertinya iya.


Ia menyalahkan dirinya sendiri yang tak peka dengan gelagat sang istri yang cemburu hingga menjadikan setiap hal kecil menjadi besar di setiap pertengkaran mereka. Kenapa ia tak menyadari itu?


Ya, ia hanya lelaki bodoh yang tak peka dengan tingkah istrinya yang sebenarnya ingin di sayang dan ia ... Alena pasti sangat kesepian.


Saat itu terlintas wajah Marina. Detik itu juga Abigail menghapus air matanya dan menghidupkan mesin mobil. Ya, hanya Marina yang mampu menghilangkan rasa sedih ini. Rasa duka di hati.


Abigail segera memacu kendaraannya membelah jalanan ibu kota.


Sesampainya di apartemen, ia segera masuk tapi saat itu juga ia terkejut. Marina sedang tertawa dengan seorang pemuda yang diyakini adalah adik tetangganya, yaitu Anka.


Anka yang terkejut segera berdiri sedang Marina yang sedang menggendong bayi Farrel menatap ke arahnya.


"Oh, Kak Abigail? Ada apa, Kak? Kenapa pulang cepat. Ada yang ketinggalan?" tanya Marina pada pria itu.


"Eh, itu ...." Abigail mengusap belakang kepalanya karena bingung. "Eh, ini siapa? Eh, oh, ya. Adiknya tetanggamu yang waktu itu ya?"


"Eh, iya, Kak." Anka mengangguk dengan segan.


"Oh iya, dia Anka. Dia adiknya Kak Sila."


"Oh." Abigail menyodorkan tangannya yang terpaksa disambut Anka. "Abigail."


"Anka."


"Masih sekolah ya?" komentar pria itu melihat Anka yang masih sangat muda.


"Udah kuliah, Kak," ujar Anka dengan tersenyum padahal ia kesal setengah mati disangka anak kecil. Apalagi tubuhnya cukup tinggi untuk pemuda seumurannya, 170 senti yang hampir menyamai tinggi Abigail.


"Oh, iya." Abigail cukup terkejut melihat pemuda itu ada di kediamannya siang itu. "Apa tidak kuliah?"


Sepertinya Anka tidak mengerti arti ucapan Abigail tapi tidak dengan Marina. Karena itu ia ikut bicara. "Oh, Anka mau pulang. Iya 'kan, Ka?"


"Eh?" Pemuda itu masih belum tahu arah pembicaraan.


"Eh, Kak Abigail sepertinya ingin makan di rumah eh, kamu pulang saja. 'Kan kamu mau siap-siap berangkat ke kampus, iya 'kan, Ka?" Marina berdiri dan mendorong sikutnya pada pemuda itu hingga ke pintu depan.


"Eh, iya, iya, iya." Sedikit banyaknya pemuda itu mulai mengerti. "Aku pulang dulu ya, Kak? Assalamu'alaikum."


"Waalaikum salam."


Anka pun membuka pintu dan pergi ke luar.


Marina kemudian mendatangi Abigail. "Kakak kok tumben pulang cepat?"


Netra pria itu terlihat berbeda. Ia menyorot wajah wanita itu memastikan. "Memangnya aku tak boleh pulang?" Nada suaranya terdengar kesal.


"Eh, boleh, Kak, kenapa tidak? Aku hanya ingin tahu, apa Kak mau makan di rumah atau hanya mengambil barang yang ketinggalan? Kalaupun Kakak ingin makan di rumah, aku akan siapkan nasi atau mau aku masak sekalian?"


Netra itu mulai meredup, percaya, kecewa, dan berbagai macam perasaan yang kemudian si pemilik mata itu menghalaunya ke tempat lain.


Marina mendatangi boks bayi hendak meletakkan bayi itu pada boks tempat tidurnya tapi tiba-tiba tangan pria itu menariknya dan mendudukkan pada kursi yang tadi ia duduki.


"Sebentar."


"Eh?"


Abigail menarik kursi yang diduduki pemuda tadi dan diletakkan sejajar di samping kursi Marina. Ia duduk di sana dan mengeluarkan surat yang tadi ia baca dan memberikannya pada wanita itu. "Pagi ini Kanaya, mantan sekretarisku itu ditemukan sekarat di dalam selnya mencoba bunuh diri dengan racun serangga dan meninggalkan surat ini untukku. Untung nyawanya selamat."


Marina terkejut dan membuka surat itu. Ia membacanya. Isinya memang cukup mengejutkan mengetahui bagaimana pria itu dikhianati mantan sekretarisnya yang menyebabkan akhirnya sang istri memilih untuk bunuh diri. Sungguh tragis kehidupan pria itu.


Tak terasa, pria itu melingkarkan tangannya pada lengan Marina lalu meletakkan kepalanya di bahu wanita itu.


Marina kembali terkejut.


"Biarkan aku begini dulu. Aku 'kan tidak bisa memelukmu karena kita bukan mahram-nya."


"Eh, iya."


"Kita teman jadi begini saja."


"Mmh." Marina menunggu. Menunggu sampai pria itu benar-benar kuat untuk mengangkat kembali kepalanya, tapi yang terjadi adalah, pria itu makin erat memeluk lengan wanita itu. Marina makin terenyuh melihatnya.


Terdengar suara bayi Farrel yang mengajak bermain. "Ageng, ageng ...."


"Apa, Sayang." Suara Marina yang lembut membuat netra bayi itu melihat padanya.


Abigail mengintip dari samping. "Mmh, anak Papa." Pria itu mengangkat kepala dan menghapus air matanya yang terlanjur keluar. "Sini, anak Papa sama Papa saja." Ia mengambilnya dari tangan Marina. "Aku makan di rumah saja. Kamu masak apa saja aku akan makan, walaupun hanya telur mata sapi sekalipun."