
Alan pun menyukai wanita itu, tapi sayang, kepercayaan dirinya hilang sejak kecelakaan itu. Santika dengan segala cara mencoba mendekatinya.
Demi mendengar pria itu pernah kecanduan minuman keras, Santika menggoda pria itu dengan minuman itu lagi saat ia mengundang Alan main ke rumahnya. Jadilah mereka tidur bersama karena Alan mabuk. Sejak itulah mereka pacaran diam-diam. Pria itu merasa bersalah karena tidur dengan Santika. Ia ingin bertanggung jawab tapi di luar dugaan, ayah Santika menolak tanpa tahu alasannya.
Ridho menoleh ke arah Marina dan juga Abigail, lalu melihat anaknya yang begitu mencintai pria itu. Ia menghela napas pelan. "Baiklah. Karena hubungan kita dekat, kenapa tidak. Kita nikahkan saja mereka. Eh, Pak Abigail, kau bisa mencarikan penghulunya sekarang?"
"Sekarang, Pak?"
"Iya."
----------+++-----------
Alan kemudian menikah dengan Santika hari itu juga. Pernikahan digelar setelah beberapa bulan Marina melahirkan.
"Mami, foto lagi yuk, Mami!" panggil Farrel pada Marina. Ia sangat hapal kesukaan Marina berfoto di tempat-tempat tertentu.
"Ayuk, Sayang."
Mereka berfoto berdua dan kadang bersama tamu. Sekali-sekali wanita itu harus mengecek bayi perempuannya yang digendong Isy. Bayi itu diberi nama, Salsabila Al Kautsar Morgan.
"Mi Dedek Salsa nangis." Beri tahu Farrel.
Marina mengambil bayi kecil itu dari tangan Isy. Wajah bayi itu memerah karena menangis kencang. "Iya, nih Mami mau nyusui dulu Dedek Salsa di belakang ya? Kamu di sini saja sama Isy."
"Gak mau, mau ikut Mami," rengek Farrel.
"Eh, kamu tuh. Nanti Papa cari kamu, gimana? Masa ikut nongkrong liatin Dedek Salsa nyusu?"
"Bialin!" Farrel langsung ngambek.
Wanita itu melihat kedua bola mata anak kesayangannya itu. Ada sedikit rasa iri karena perhatiannya mulai banyak teralihkan pada adik kecilnya itu membuat Marina terpaksa mengalah. Ia mencubit pipi Farrel dengan lembut. "Ck, anak Mami! Ayuk deh, kita ke belakang." Ia menoleh pada Isy. "Isy, kamu di sini ya? Kasih tau suamiku, kalau dia cari aku. Aku ada di belakang sama Farrel."
"Iya, Bu."
Marina pergi ke ruang ganti pengantin. Di sana ia menyusui Salsa. Farrel sangat senang melihat adiknya berhenti menangis saat bisa langsung menyusu. Di saat-saat seperti itu bocah itu suka menyentuh tangan atau kaki adik bayinya yang mungil. Namun karena itu, bayi itu jadi berhenti menyusu.
"Eh ... sudah Farrel. Dedek Salsa jadi tidak bisa menyusu." Marina menepis tangan bocah yang jahil itu membuat bocah itu tertawa. Ia sedikit merengut. "Iseng kamu itu."
Tak lama, bayi itu tertidur. Marina menarik resleting baju depannya.
"Udah, bobo Dedek, Mi," bisik Farrel.
"Ssst." Marina meletakkan telunjuk pada mulutnya. Ia menggoyang-goyang bayi itu karena sedikit terusik dengan suara Farrel. Dilihatnya wajah bayi itu yang damai tertidur. Ia mengusap dahi mungil itu yang dipenuhi peluh. Wanita itu menoleh pada bocah kecil di sampingnya. "Sudah, kamu main saja keluar, sana. Dedek Salsa kayaknya gak bisa berisik kalo lagi tidur. Mami mau temenin dia di sini dulu."
"Mmh ...." Farrel mengerucutkan mulutnya karena tak mau pergi. Ia memegangi rok ibunya tanda tak ingin berpisah.
"Mmh, mulai deh. Ya sudah, tapi jangan berisik ya?"
Farrel terlihat begitu senang hingga memeluk pinggang sang ibu dan menciun pipinya. Ia kemudian bersandar pada lengan ibunya.
Tak lama Abigail datang. "Lho, kenapa duduk di sini semua?" ucapnya saat melihat ibu dan anak itu duduk di kursi berdampingan.
"Ssst!" Keduanya berbarengan meletakkan telunjuk di depan mulut, memberi tahu.
Bayi kecil itu merengek karena terusik membuat wanita itu kembali menggoyang-goyangkan tubuh bayi mungil itu agar kembali tidur.
Pria itu membulat mulutnya tanda mengerti. Ia kemudian mendekati sang istri. Dilihatnya bayi kecil itu tengah kembali tidur.
"Sepertinya aku gak bisa keluar, Bang sebab Salsa gak bisa tidur kalau berisik," bisik wanita itu.
Abigail terpaksa berbisik juga. "Jadi bagaimana dong? Itu 'kan adikmu yang menikah, kamu gak bisa pulang. Lagipula banyak juga yang ingin lihat bayi kita."
"Kalau saudara gak papa, Bang tapi kalau yang lain gak usah. Takutnya pas datang, aku lagi menyusui."
"Ya sudah." Pria itu melirik Farrel dan kembali pada Marina. "Kamu belum makan ya?"
"Biarin aja deh. Aku puasa aja."
"Eh, jangan gitu. Ibu menyusui harus banyak makannya, lagipula makanan berlimpah di luar sana. Biar, Abang ambilkan saja untukmu."
Wanita itu tersenyum senang. "Makasih, Bang."
Pria itu menyodorkan tangannya pada bocah itu. "Ayo, kita bawa makanan untuk Mami."
Bocah itu turun dari kursinya dengan bersemangat. "Aku juga mau makan sama Mami di sini ya?"
"Ya sudah, ayo!"
Di tempat pesta, mereka bertemu Ibu. "Lho, Marina mana?"
"Oh, ya sudah. Berarti Ibu sendiri saja yang menemani pengantin di pelaminan."
Abigail sebenarnya menemani Ibu di pelaminan sebagai orang tua pihak pria, tapi karena cemas dengan keadaan istrinya yang baru beberapa bulan melahirkan, ketika tamu sepi, ia mencarinya.
"Ibu mau makan?"
"Tidak, nanti saja."
"Tidak apa-apa kalau Ibu mau makan, biar aku yang menemani pengantin di pelaminan."
Ibu menoleh pada pelaminan yang tidak begitu ramai, lalu menoleh lagi pada pria bule itu dan menyentuh lengannya. "Sudahlah, tidak apa-apa. Sudah mulai sepi. Kau tidak perlu kembali ke sana. Temani saja Marina. Ibu akan kembali ke pelaminan setelah makan."
"Terima kasih, Bu."
Ibu mengangguk sambil tersenyum.
Marina begitu senang suaminya membawakan makanan ke ruangan itu. "Aku sebenarnya sudah kelaparan, Bang. Setelah menyusui."
"Abang tau, makanya Abang bawakan. Sini, Salsa biar Abang yang gendong."
Piring diletakkan di atas meja rias dan wanita itu makan bersama Farrel. Tak lama Isy datang membawa minuman. Ia meletakkannya di atas meja dan mengambil alih bayi Salsa.
"Sudah ya, Abang mau keluar dulu. Biar Abang makan sama tamu saja."
Abigail masih sempat melihat kemesraan Alan bersama sang istri di atas panggung, karena wanita itu terus melingkarkan tangannya pada lengan pria itu, sampai ada seorang tamu menyapanya.
"Pak Abigail."
Pria itu menoleh. "Oh, Bapak. Sendiri saja, Pak?"
"Oh, iya. Aku habis pulang rapat ...."
---------+++-----------
Alan kemudian pergi berbulan madu ke Singapura selama seminggu. Marina menceritakan berita itu pada suaminya.
"Bulan madu itu apa, Mi?" Lagi-lagi Farrel yang ingin tahu, ikut bicara.
"Bulan madu itu jalan-jalan, Farrel," terang Abigail.
"Kenapa kita gak bulan madu juga, Pa?"
Tentu saja jawaban Farrel membuat Marina dan Abigail tertawa.
"Bulan madu itu untuk orang yang baru menikah, Sayang," Marina menimpali.
"Jadi, kita gak boleh bulan madu, Mi?"
Kedua orang tuanya tersenyum lebar.
"Bukan gak boleh, Sayang." Marina menyentuh pipi bocah yang sudah mulai terlihat tampan itu. "Itu cuma istilah untuk orang baru menikah. Kalau untuk yang lain ya namanya jalan-jalan."
"Kita 'kan sudah lama gak Jalan-jalan, Pa," protes Farrel.
"Iya, rumit bawa Dedek Salsa. Papa rencana mau kunjungan ke luar negeri lagi beberapa bulan ke depan tapi untuk sekarang, kita jalan-jalannya ke supermarket aja ya, beli belanja bulanan."
"Ya udah, gak papa, Pa." Bocah itu mengangguk senang.
Terdengar suara tangis bayi dari lantai atas. Ternyata Isy membuka pintu kamar bayi Salsa dan mendongak ke bawah.
"Oh, Salsa bangun ya?" Marina segera menaiki tangga.
Abigail memanggil Farrel dengan tangannya agar mendekat.
"Apa, Pa?" tanya bocah itu ketika mendekat.
"Pamit pada pembaca yuk? Novelnya tamat."
"Iya pembaca, novelnya tamat." Farrel melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Selamat menunaikan ibadah puasa ya, dari kami keluarga Abigail Morgan. Mohon maaf lahir dan batin." Abigail menyatukan tangannya di dada.
T A M A T
____________________________________________