Author And The Baby

Author And The Baby
Menemukanmu



Rupanya, Abigail membawa Marina ke sebuah hotel, tak jauh dari situ dengan mobilnya. Di lantai 1 ada restoran Cina yang mulai didatangi pengunjung. Ia kemudian memilih meja dekat pintu masuk.


"Marina. Pesan saja. Kamu mau apa?"


"Eh, iya." Wanita itu melihat-lihat buku menu.


Abigail memesan beberapa lauk ditambah pesanan Marina. Ketika datang, meja mulai penuh.


"Wah, Kak. Banyak sekali pesanannya. Bagaimana cara menghabiskannya?"


"Oh, nanti kalau sisa bisa dibawa pulang kok."


"Oh, begitu."


"Nanti kau bawa pulang saja ya?"


"Oh, aku?"


"Iya."


"Eh, makasih, Kak." Marina menganggukkan kepala.


Abigail sebenarnya kasihan melihat tubuh wanita itu yang akhir-akhir ini semakin kurus. Wajahnya mulai tirus dan sedikit pucat. Kantung matanya juga mulai gelap. Ia takut wanita itu kembali kelelahan dan pingsan di dalam apartemennya, di mana, tidak ada orang yang tahu.


Marina makan dengan lahap. Ternyata dia suka masakan di sana. "Enak Kak."


Abigail tersenyum. Ia sempat melihat wajah wanita itu yang tanpa senyum selain ketika mengurus bayinya dan ia khawatir. Kini senyum itu kembali terbit di bibir tebal wanita itu.


"Ya, ayo makan, makan. Kalau ada yang mau ditambahkan, tinggal bilang."


"Ih, Kakak. Ini saja belum tentu habis." Marina berbicara sambil menutup mulutnya karena sedang penuh.


Pria itu tersenyum. Ia jadi semangat makan juga, karena beberapa hari ini susah makan. Apalagi, bertemu dan makan bersama wanita yang selama ini dirindukannya.


Selagi makan, ia memikirkan sesuatu. "Eh, Marina, maaf. Tadi kamu bilang sedang tidak punya banyak uang. Apa mantan suamimu tidak memberimu uang? Eh, maaf kalau aku lancang tapi 'kan kamu tinggal di apartemen?"


Marina meletakkan sendoknya dan menundukkan kepala. "Itu benar, Kak. Aku tinggal di apartemen, tapi sebenarnya aku masih single, Kak. Belum pernah menikah."


"Lho, tapi bayi ini?" Abigail menunjuk bayi dalam gendongan di depan tubuh Marina. "Apa ini ... maaf, 'kecelakaan'?"


Marina mengangkat wajahnya. "Oh, bukan, bukan. Ini titipan seseorang."


"Oh, begitu." Abigail bernapas lega. Ia menatap wajah wanita itu. "Kamu bisa saja kerja denganku di kantor. Apalagi kalau kau punya ijazah atau pengalaman yang mendukung, tapi bagaimana dengan bayinya? Siapa yang akan mengurusnya?"


"Itulah, Kak. Aku bingung. Apa aku pulang ke rumah saja ya, Kak?"


Seketika Abigail panik. Berarti ia akan sulit bertemu wanita itu. "Eh, jangan, jangan, jangan."


"Mmh?" Bola mata wanita itu seperti mempertanyakan reaksi pria itu barusan.


"Eh, maksudku, jangan ... menyerah, begitu." Pria itu tertawa kecil yang terdengar aneh. "Eh, kembalikan saja bayi ini pada ibunya. Bilang kalau kau tak sanggup, jadi kau bisa bekerja denganku."


"Masalahnya aku tidak tahu, di mana ibu bayi ini tinggal."


"Lho, kenapa begitu? Kamu 'kan dititipi olehnya? Bukankah kamu tahu orangnya?" Abigail terlihat bingung mendengar cerita Marina.


"Itulah masalahnya. Aku sedang sibuk memikirkan tulisanku, tiba-tiba seorang wanita datang menitipkan bayinya padaku. Aku mengiyakan karena kupikir wanita itu mau pergi ke toilet, tapi ternyata setelah ditunggu sekian lama, dia tidak muncul-muncul. Aku menunggunya sampai berjam-jam. Padahal aku sedang berada di kafe di luar kota, waktu itu."


Abigail terperangah. "Di daerah puncak?" Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut pria itu, karena ia merasa pasti dengan sebuah kecurigaan.


"Itu di area tol menuju ke puncak. Aku sedang menghemat uang jadi hanya sanggup jalan-jalan sampai ke sana saja."


Tenggorokan pria itu serasa tercekat. "Bo-boleh aku lihat bayi itu?" Ia berbicara terbata-bata dengan jantung berdetak kencang. Ia pindah duduk di samping Marina.


Dengan masih keheranan melihat tingkah pria itu yang wajahnya terlihat pucat pasi, ia mengeluarkan bayi itu dari gendongan. "Boleh, Kak. Ada apa?"


"Apa dia punya tahi lalat di ...."


"Belakang telinga," ucap keduanya berbarengan.


Pria itu dengan tangan gemetar mengambil bayi itu dari tangan wanita itu. Ia terharu hingga meneteskan air mata.


Abigail mengenali anaknya walau sekarang tubuhnya sedikit berisi. Ia tak bisa melupakan wajah bayi yang terus membayanginya setelah sekian lama hilang dari pandangan. "Karena dia anakku," ucapnya dengan suara bergetar.


Marina menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut. "I-ini anak Kakak?"


"Iya." Abigail berusaha meyakinkan dirinya dengan memeriksa tanda di belakang telinga kiri bayi itu dan memang benar ada tanda itu.


Bayi itu terusik hingga terbangun karena pria itu menyentuh belakang telinganya. Bayi itu menangis.


Abigail memeluknya. "Ini Papa, Sayang."


Tamu restoran yang berada di sekitar mereka sedikit terganggu dengan tangis bayi itu tapi Abigail tak peduli.


"Tapi bukankah Kakak bilang istri Kakak meninggal dengan bayinya?"


"Oh tidak. Istriku memang meninggal tapi bayinya menghilang." Abigail menggoyang-goyangkan tubuh bayi itu agar segera berhenti menangis.


Marina terperangah. "Bayinya diculik, maksud Kakak? Kakak dirampok? Berarti aku bertemu penculiknya ya?"


Khayalan Marina, membuat Abigail tersenyum. "Bukan begitu." Kemudian wajahnya kembali sedih. "Mmh, dia lari dari rumah membawa bayi kami dan dia ...." Pria itu berusaha mengambil napas untuk menerangkan cerita berikutnya. "Ditemukan bunuh diri terjun dari lantai paling atas sebuah gedung bertingkat." Air matanya mengalir deras.


Marina cukup syok mendengar cerita pria itu tapi ia cepat tanggap dengan mengambil tisu dan mengusap air mata pria itu dengan lembut. Ia iba mendengar bagaimana pria itu kehilangan anak dan istrinya.


Abigail menatap Marina lekat. "Bayinya hilang dan sudah coba dicari di lokasi tempat istriku meninggal tapi tak ditemukan." Wajahnya begitu menyedihkan dan ia menceritakan semuanya pada Marina.


Marina kembali menyeka air mata pria itu.


"Terima kasih, Marina. Kau telah merawat anak kami. Istriku tidak sia-sia menitipkannya padamu."


Marina tersenyum lebar.


Abigail kembali menatap bayi itu. Bayi itu sudah tidak menangis lagi. Ia sedang memperhatikan wajah ayahnya.


"Farrel. Kau masih ingat sama Papa 'kan?" Abigail tersenyum.


"Oh, namanya Farrel. Maaf aku sudah lancang memberinya nama Farhan."


"Tidak apa-apa. 'Kan sekarang kamu sudah tahu namanya."


Wanita itu mengangguk dan kembali tersenyum.


Abigail mengusap sendiri air matanya sambil tertawa ringan. "Wajahku jelek ya, habis menangis."


"Tidak apa-apa, Kak. 'Kan menangis bahagia," ucap wanita itu dengan senyum khasnya. Senyum yang mengalihkan dunia pria itu. Tak ada habisnya bila mengagumi wajah wanita ini. "Kalau begitu, tugasku sudah selesai. Aku sudah mengembalikan bayinya pada yang berhak. Mungkin sudah saatnya aku pindah."


"E, eh, kau pindah ke mana, Marina?" Abigail kembali panik.


Marina menggaruk-garuk pucuk kepalanya. "Entahlah."


"Tolong aku, Marina. Kau urus bayi ini. Aku tidak bisa mengurus bayi."


"Lagi? Kakak 'kan bisa menyewa jasa babysitter."


"Tapi tidak ada yang sesayang kamu sama Farrel. Apa kamu tidak sayang Farrel?" Abigail memperlihatkan bayi itu pada wanita itu. Ia tengah mencoba membujuknya.


Marina melirik bayi itu. "Sayang sih ...."


"Kalau begitu, aku menyewamu sebagai babysitter Farrel. Kau mau pekerjaan itu 'kan?"


___________________________________________


Masih membaca novel ini kan? Dukung terus novel ini dengan menyemangati authornya dengan mengirimkan like, vote, komen atau hadiah. Salam, ingflora 💋


Coba intip novel keren temen author ini.