Author And The Baby

Author And The Baby
Klinik



Marina terbangun dengan membuka matanya perlahan. Satu hal yang ia sadari, ia tak mengenal tempat di mana ia tengah terbaring sampai-sampai setelah ia mengernyit dahi, ia segera duduk dari tidurnya. Eh, di mana ini?


Ia merasakan kepalanya sedikit berdenyut hingga ia menyentuhnya. Aduh ... di mana ini? Kenapa aku ada di sini?


Kembali ia mengedarkan pandangan. Tempat itu sama sekali tidak dikenalnya walaupun mirip dengan apartemen yang ia tempati.


Seprei, lemari, meja, semua barang-barang yang ada di apartemen itu berbeda. Setidaknya, yang sekarang ini terkesan lebih mewah. Tapi ... aku ada di mana?


Saat itu, ternyata Abigail mengintip ke dalam kamar dan melihat wanita itu telah siuman. Ia segera menghampiri. "Kau telah bangun?"


Marina terkejut. "Oh, Abigail? Jadi ... i-ini apartemenmu. Ah!" Saking terkejutnya, wanita itu melompat turun dari tempat tidur, hingga kepalanya yang pening kembali membuatnya pusing. "Ah ...." Ia memegangi pelipisnya sambil memejamkan mata.


Abigail mendekat dan menyentuh bahu wanita itu. "Kau tidak apa-apa?"


"Ah, sedikit pening tapi tidak apa-apa. Eh ...." Marina melirik pria itu. "Kenapa aku ada di sini?"


"Oh, kau tidak ingat? Kau tadi pingsan di depan pintu apartemenmu sendiri."


Wanita itu mengernyit dahi, mencoba mengingat-ingat dan ia akhirnya ingat kejadian itu. "Oh, eh, i-iya. Eh, aku jatuh. Jadi ka-kamu membawaku ke apartemen ini?" Ia gugup dan melirik Abigail.


"Eh, maaf tapi aku tak berani masuk ke dalam apartemenmu."


"Oh, eh, tidak apa-apa. Eh, terima kasih karena sudah menolongku. Eh, sebaiknya aku kembali ke apartemenku." Marina semakin gugup berbicara dengan pria tampan itu hingga ia tidak tahu bagaimana meletakkan kedua tangannya di hadapan pria itu.


Tingkah wanita itu membuat pria itu mengulum senyum.


Marina yang duduk di tepi tempat tidur segera berdiri tapi kepalanya kembali terasa pening sehingga ia berhenti untuk mengimbangi tubuhnya saat berdiri.


"Kau kenapa? Kau tak apa-apa?" Kali ini Abigail dengan wajah serius memegangi bahu dan lengan wanita itu agar tak jatuh. "Sebaiknya kamu duduk dulu." Pria itu membantunya duduk kembali di tepi tempat tidur. "Kepalamu pusing?"


"Eh, sedikit."


Karena perhatian, Abigail mendekatkan wajahnya untuk memeriksa, membuat wajah wanita itu merah merona. "Kamu punya penyakit tertentu?"


"Mmh?"


"Darah rendah, mungkin."


"A-aku tidak tahu." Wajah mereka yang berdekatan membuat Marina sulit bernapas. Wajah pria itu terlalu tampan.


"Atau darah tinggi."


Pesona pria itu membuat Marina takjub. Belum pernah ia melihat pria tampan dari jarak sedekat itu. Bahkan tidak dalam mimpi.


"Kau punya darah tinggi?"


Marina tersadar. "Oh, rasanya tidak."


"Mmh ...." Abigail mengagumi wajah wanita di depannya. Sekian lama bertemu, tapi baru kali ini mereka bisa bicara banyak, dan itu tidak mengecewakan. Wanita itu terlihat seperti pribadi yang sederhana dan apa adanya.


"Eh ...." Wajah wanita itu memerah karena terus dipandangi oleh Abigail dan pria itu tidak sadar kalau sang wanita mulai malu karena mata pria itu tak berkedip melihatnya. "Se-sebaiknya aku pulang saja ya?"


Baru saja Marina hendak berdiri, pria itu kembali menahannya. Abigail tersadar dari lamunan. "Eh, kalau kamu kurang sehat, sebaiknya ke dokter. Bagaimana kalau aku antar kamu ke dokter?"


"Mmh?"


Kembali mata mereka bertemu, sejenak.


"Eh, aku tak ingin merepotkanmu, Abigail," kata wanita itu sambil tersenyum. Marina melirik pakaian pria itu. "Eh, mungkin kamu ingin ke kantor." Ia kembali mencoba berdiri tapi ia merasa tubuhnya melayang hingga ia berusaha menguasai dirinya.


Abigail yang melihat wanita itu tak bisa berdiri dengan lurus akhirnya memutuskan apa yang harus ia kerjakan. "Rasanya kau sedang sakit. Kau butuh ke dokter. Sudah, kita ke dokter saja."


Pria itu melangkah keluar dan kembali dengan sebuah coat(jas tipis) dengan tali di pinggangnya. "Ini, kau pakai ini saja di luarnya."


Abigail membantu wanita itu memakaikan jas dan mengikat tali di pinggangnya. Jas itu terlihat sedikit kebesaran karena jas itu miliknya.


"Eh, aku ...."


"Ayo, kita berangkat. Jangan ditunda-tunda, nanti tambah parah. Biar aku membantumu berjalan." Pria itu memapah Marina berjalan keluar. Wanita itu memang butuh seseorang yang membantunya berjalan karena ia tak sanggup berjalan sendirian. "Ayo."


Abigail mengunci pintu apartemennya lalu menuntun Marina hingga ke lift.


Wanita itu masih merasa sedang bermimpi hingga ia mencubit lengannya sendiri. "Aduh!"


"Mmh, kau kenapa?" tanya Abigail terkejut. Ia tidak melihat wanita itu terjepit atau terluka di depan matanya.


"Eh, tidak apa-apa." Wanita itu menggeleng.


Mereka kemudian turun di perparkiran lantai 1 dan naik mobil Abigail.


Marina masih tak percaya dengan pandangan matanya. Berdua dengan pria itu, tak pernah dibayangkannya tapi ia tak menolak kalau ini nyata. Ini nyata 'kan?


Pria itu melirik Marina yang sedang memperhatikan dirinya dari tadi lewat cermin di atasnya. "Ada apa? Kenapa kau memperhatikanku? Ada yang salah dengan pakaianku ya, atau apa?" tanya pria itu bingung.


Marina malu ketahuan memperhatikan pria itu hingga pipinya berubah kemerahan. "Eh, tidak. Aku hanya heran. Kamu tidak mengenalku tapi mau bersusah payah menolongku. Bukankah itu luar biasa," kilahnya menghindar seraya melirik sekilas ke arah pria itu. Memandangi pria itu membuat Marina sadar, ia sampai lupa bahwa dirinya wanita.


"Oh, tidak ada yang istimewa. Aku hanya ingin menolongmu saja." Pria itu merasa canggung, berdehem dan mengusap belakang lehernya.


"Mmh."


setibanya di sebuah klinik, kembali pria itu membantu Marina turun dan membawanya ke ruang dokter.


"Anda suaminya?" Pertanyaan dokter itu membuat keduanya malu.


"Oh, bu-bu-bukan, dok," jawab Marina.


"Oh, dia tetangga saya," sahut Abigail. Kembali ia mengusap belakang lehernya.


"Oh, maaf. Biar aku periksa dulu. Silahkan Bapak tunggu di luar," ujar dokter wanita itu.


"Ah, ya." Pria itu melangkah keluar.


Tak lama, seorang suster memapah Marina keluar membuat Abigail segera mengejarnya. "Bagaimana, Sus?"


"Bapak ini seperti suaminya saja."


Celotehan suster itu kembali membuat wajah keduanya memerah.


"Ibu ini tensinya rendah karena kelelahan dan kurang tidur. Sebaiknya Bapak tebus saja obatnya dulu di apotik." Suster itu memberikan resep obatnya pada pria itu.


"Tunggu sebentar ya?" ucap Abigail pada Marina.


Wanita itu mengangguk. Pria itu segera mengambil resep itu dari tangan suster dan mendatangi apotek yang tempatnya tidak jauh dari situ. Suster itu mendudukkan Marina di sebuah kursi panjang.


Tak lama pria itu kembali dengan membawa obat. "Ada beberapa vitamin yang diberikan dokter itu," ucapnya sambil memeriksa isinya. "Sebentar lagi jam makan siang, apa ... eh, bagaimana kalau kita makan siang bersama?"


"Saya jadi malu dibantu terus." Wanita itu menunduk dengan senyum tertahan.


"Mau 'kan?" Pria itu juga sedikit canggung mengajak Marina makan. Seakan mengajak kencan. Ia sendiri bingung karena ini hal yang belum pernah ia kerjakan seumur hidupnya. Entah apa itu karena Marina?


Wanita itu mengangguk malu-malu. Pria itu kemudian membawa Marina ke sebuah restoran di samping klinik itu. Mereka makan di sana.


"Kamu bisa tunggu sebentar 'kan? Aku mau sholat dulu. Oh, ya. Bayimu?" Pria itu menepuk dahinya. "Aku sudah ingat beberapa kali tapi lupa bertanya. Apa bayimu kamu tinggal sendirian di apartemen? Apa kita harus kembali?" Abigail terlihat panik.


Wanita itu terkejut melihat kepanikan pria itu tapi kemudian ia tersenyum sambil menahan tawa.