
Wanita itu segera menyembunyikan ponsel itu di dalam kantong celananya. "Eh, tidak apa-apa."
Abigail masuk kembali ke dalam lift dengan menekan tombol untuk menahan pintu lift agar tak tertutup. Ia mendekati wanita itu. "Sini coba lihat." Ia mengulurkan tangannya ke arah Marina.
Wanita itu bimbang. "Eh, itu. Cuma iseng."
Pria itu menggerakkan matanya ke arah tangan, memberi kode wanita itu memberikan barang yang dimaksud ke tangannya.
Marina mau tak mau harus menyerahkan ponselnya pada pria itu karena pria itu menunggunya. "Eh ...." Ia meletakkan ponsel itu di tangan Abigail dengan ragu-ragu.
Pria itu melihat apa yang baru saja dibuat Marina di galeri. Foto yang sudah diduganya. "Kenapa kamu mengambil fotoku?" tanyanya dengan senyum lebar. "A—"
"A-aku sedang mencari visual untuk tokoh pria di novelku," kilah wanita itu cepat. Pipinya sedikit memerah.
"Tapi, bukannya novelnya sudah mau tamat?"
"Kok Kakak tau?" Wanita itu mengerut kening.
"Eh, itu ...." Kini Abigail yang kebingungan mencari alasan, tapi ia kemudian mengingat sesuatu. "Eh, bukankah kamu sendiri yang pernah bilang kalau sedang memikirkan bagaimana ending novelnya itu akan ditulis. Iya 'kan?"
"Eh, oh iya." Wanita itu tersenyum lebar. Ia salah tingkah ketika Abigail langsung menatap ke arah manik kedua bola matanya. Apalagi kini alasan yang harus diucapkannya?
"Jadi kamu ambil fotoku buat apa? Jangan-jangan kamu ...." Pria itu mendekat sambil mengembangkan senyumnya menatap kedua bola mata indah milik wanita bertubuh gemuk itu lebih dalam.
Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar lift. Keduanya terpaksa bergegas keluar dan baru menyadari, Farrel tengah ditinggalkan di depan pintu lift. Mereka menoleh ke arah tempat suara keributan itu berasal.
Keributan itu berasal dari depan pintu apartemen milik Sila. Anka tengah menegur seorang pria yang duduk di depan bekas apartemen Marina.
Marina segera mengenali pria itu. Ia bergegas ke sana, membuat Abigail terkejut.
"Maaf, Kak, gak boleh duduk-duduk di sini ya? Kakak sebenarnya cari siapa?" tanya Anka sopan pada pria itu.
"Berengsek, urus aja diri lo sendiri! Jangan ganggu urusan orang lain, ngerti lo?" Pria itu yang sedari tadi duduk di lantai, mulai berdiri. Saat ia bergerak, terlihat sekali ia mabuk.
"Tapi, Kak, Kakak gak boleh duduk-duduk depan apartemen orang lain, apalagi menggedor-gedor pintu. Mengganggu ketentraman orang banyak di sini, Kak. Kakak sebenarnya cari siapa sih? Apa Kakak cari ...."
"Cari aku," potong Marina saat tiba di hadapan keduanya.
Anka menoleh.
"Maaf, ini adikku. Maaf ya Anka," sahut Marina lagi.
"Adik?"
Wanita itu menatap pria yang berdiri di hadapannya. "Alan, kenapa kamu ke sini sih? 'Kan, Kakak sudah bilang akan mengirimnya, kenapa kamu gak mau sabar sih?"
"Kapan, hah? Kapan? Kakak selalu mempermainkan aku." Alan mendatangi Marina dengan pelan agar bisa berjalan lurus. Setelah dekat, ia berpegangan pada bahu kakaknya itu agar bisa berdiri tegak. Wanita itu juga memegangi lengan adiknya agar tak jatuh, karena Alan berpegang padanya.
Adik Kak Marina seperti ini? Mabuk? Anka menatap Alan dengan tak percaya.
Alan adiknya? Abigail yang mengetahui kenyataan ini merasa lega. Ia mendatangi mereka sambil mendorong kereta bayi Farrel.
"Maaf ya, Anka. Mengganggu di sini." Marina sampai malu pada Anka karena adiknya mabuk dan membuat keonaran di sana.
"Oh, tidak apa-apa, Kak. Syukur sudah ketemu."
Wanita itu kemudian pamit pada pemuda itu dan membawa Alan ke apartemen Abigail, sedang Abigail sendiri mendahului mereka.
"Aku ke apartemen duluan ya?"
"Siapa dia? Pacar barumu?" tanya Alan pada kakaknya.
Pertanyaan adiknya itu membuat wajah Marina memerah dan Abigail mendengarnya.
"Alan, jangan ngomong sembarangan! Aku kerja dengannya, Alan."
Anka yang hendak menutup pintu apartemennya juga mendengarkan percakapan ini dan merasa lega. Ia menutup pintu dengan riang.
Abigail yang lebih dulu datang ke apartemen, segera membuka pintu. Ia segera mendorong kereta bayi itu ke dapur dan meletakkan beberapa barang belanjaan di lemari es.
Namun pria itu bingung karena Marina tak kunjung masuk, padahal pintu depan ia tinggalkan tak terkunci. Apa ... aku lupa dan tak sengaja terkunci? Abigail mendorong kereta bayi ke ruang tengah dan ia mendatangi pintu depan untuk memeriksanya.
Ternyata Marina tengah berbicara dengan adiknya di depan pintu. Ia sengaja tidak membawa adiknya masuk ke dalam apartemen pria itu karena takut mengganggu. "Kamu pulang saja ya, aku kasih ongkos pulang."
"Kok adikmu tidak kau ajak masuk, Marina," tanya Abigail yang membuka pintu.
"Oh, tidak usah, Kak. Dia sudah mau pulang," ujar Marina yang terkejut melihat kemunculan pria itu di balik pintu.
"Eh, kata siapa? Aku boleh masuk 'kan?" Tak terduga, Alan menyambut tawaran pria bule itu dengan langsung melewatinya dan masuk ke dalam apartemen.
"Eh, Alan ...." Marina panik.
Alan masuk sambil berpegangan dengan apapun yang ada di dekatnya agar bisa berjalan lurus.
"Aduh, Alan jangan." Wanita itu menoleh pada Abigail. "Maaf, Kak tapi nanti bikin gaduh." Ia mengejar adiknya ke dalam. "Alan!"
"Kerja apa kamu sama dia, Kak? Kalian tinggal bersama?" Alan membalikkan tubuh dan tersenyum miring menatap kakaknya. Ada sesuatu yang bisa ia perdebatkan. Kakaknya kerja dengan orang kaya dan hidup bersama.
"Ah, bukan itu Alan." Marina melirik, ada kereta bayi Farrel di dekat situ, hingga ia berusaha menekan suaranya agar tak berisik. "Aku menjaga bayi." Wanita itu menunjuk pada kereta bayi yang berada dekat situ. Ia mendekat pada adiknya. "Nah, pulang ya, sekarang. Aku antar kamu ke bawah, nanti aku kasih ongkos. Aku akan mentransfer uangnya nanti."
Saat hendak disentuh, Alan menghindar. Ia melirik pada bayi yang tidur di dalam kereta bayi.
"Kalau kau punya uang, kenapa tidak mengirimi kami uang bulanan? Hah ... kamu memang pelit. Di sini kamu makan enak, sedang di sana ibu dan aku makan seadanya." Walaupun Alan mabuk tapi ia masih bisa menguasai dirinya.
"Alan. Bukan begitu." Marina kebingungan. Ia tak ingin Abigail mengetahui persoalan keluarganya. "Baiklah, Kakak akan pikirkan uang bulanan. Sekarang pulang ya? Kakak sedang kerja. Secepatnya kakak pasti tranfer." Ia menarik Alan keluar.
"Benarkah? Ibu pasti senang." Alan akhirnya tersenyum senang walaupun kini terusir keluar. Pipinya sedikit memerah. Bau alkohol yang keras menguar seiring ia bicara.
"Salam saja buat ibu."
"Eh, bagaimana kalau dia aku antar pulang? Mungkin kamu mau bertemu dengan ibumu, Marina?" Tiba-tiba saja Abigail menawarkan diri mengantar Alan.
"Oh, tidak perlu," sahut Marina.
"Tidak perlu, Kak," elak Alan yang berbicara bersamaan dengan kakaknya.
Marina menatap Alan dengan heran. Biasanya adiknya itu selalu menerima tawaran bantuan dari teman-teman Marina dan kadang sedikit memaksa tapi kali ini, kenapa ia malah menolak bantuan Abigail?
Alan menolak bantuan Abigail karena takut ketahuan bahwa ibu mereka tidak sakit, dan dengan begitu Marina tidak akan mentransfer uang padanya.
"Lho, kenapa tidak mau? Apa kamu tidak kangen dengan ibumu, Marina?" tanya Abigail lagi.
"Kangen tapi ...."
"Eh, Ibu butuh istirahat jadi tidak enak kalau datang tidak bisa menyambut tamu," lanjut Alan lagi.
"Eh, begitu," sahut Marina dan buru-buru membawa adiknya keluar sebelum Abigail meneruskan bicaranya. "Aku antar adikku ke bawah dulu."