Author And The Baby

Author And The Baby
Babysitter



"Oh aku pindah."


"Pindah? Pi-pindah ke mana?" Anka begitu gugup dan terkejut.


"Tidak jauh dari situ kok. Satu lantai malah. Itu, ke apartemen temanku yang waktu itu."


"Temanmu? Temanmu yang mana?" Anka coba mengingat-ingat. "Seingatku temanmu yang kutahu hanya pria bule itu."


"Nah, iya betul."


"Cowok bule itu!" Anka terkejut.


"Memang kenapa?"


"Ka-kau tinggal bersamanya?" Anka takut salah mendengar.


"Iya. Oh, aku kerja jadi babysitter."


"Jadi babysitter?"


"Iya. Ternyata bayi yang selama ini aku urus adalah anaknya yang hilang."


"Yang bener, Kak?" Anka kembali terkejut.


"Iya."


"Kok bisa?"


"Entahlah, aku juga bingung. Karena istrinya sudah meninggal, dia menyerahkan pengasuhan bayi itu padaku karena aku sudah mengenal dekat Farrel."


"Farrel? Siapa Farrel?"


"Oh, bayi itu bernama Farrel."


"Oh. Mmh ...." Anka diam sejenak. "Boleh aku ke sana? Ini ada oleh-oleh dari Kak Sila untuk Kakak."


"Mmh, boleh." Marina memberitahukan nomor unit apartemen Abigail.


Anka tidak menyia-yiakan ini. Ia ingin tetap bisa bertemu Marina setiap waktu. Ia kemudian mendatangi apartemen Abigail.


Saat itu Abigail baru saja keluar kamar. Semalam ia tak bisa tidur nyenyak karena mendengar bayi Farrel menangis di tengah malam, tapi itu tidak lama. Marina sepertinya berhasil membuatkan susu sehingga tangisnya tidak terdengar lagi. Ada dua kali ia terbangun dan yang kedua sepertinya Marina sempat bercanda dengan bayi itu karena terdengar suara tawa bayi itu.


Abigail tidak merasa terganggu malah ia merindukan suara Farrel saat menangis dan tertawa yang sudah lama tak didengarnya. Seakan ia ingin hadir di kamar Marina melihat semuanya. Melihat tawa si kecil dan tawa wanita itu. Pasti menawan. Farrel saja ikut tertawa bersamanya.


Ternyata Marina telah mengeluarkan roti dan selai di atas meja makan.


"Oh, sudah ada di sini." Abigail menarik kursi. Ia menyugar rambutnya yang masih berantakan.


"Kak Abigail mau kopi? Aku buatkan ya?" Marina muncul dari dapur.


"Oh, tidak usah. Aku tidak minum kopi pagi. Aku ...."


Terdengar bel pintu berbunyi. Abigail menoleh.


"Oh, mungkin itu tetanggaku, Kak. Sebentar ya?" Marina mendatangi pintu depan. " Oh, Anka."


"Oh, jadi kamu di sini, Kak."


"Iya."


Abigail melihat ke arah pintu memastikan siapa yang datang. Anka yang melihat Abigail dari pintu menganggukkan kepala pada pria itu.


Abigail membalasnya. "Oh, nanti kami juga akan berkunjung ke sana!" teriak Abigail dari kursinya.


"Oh," jawab Anka singkat.


Sedetik kemudian terdengar suara bayi menangis. Rupanya bayi itu terkejut mendengar suara Abigail yang keras tadi karena kamar Marina di buka pintunya karena ada Farrel tidur di kamar Marina. Pria itu segera masuk ke kamar Marina untuk mengambil bayi Farrel.


"Itu benar bayi dia?" Anka masih tak percaya.


"Iya, aku saja sampai bingung. Selama ini aku menggendongnya ia tidak tahu kalau bayi yang aku asuh itu anaknya."


"Jadi bayinya diculik?"


"Aku tidak tahu. Yang pasti bukan istrinya yang memberikan bayi itu padaku."


"Istrinya? Tadi katanya, istrinya meninggal?"


"Eh, ini, Kak. Aduh, aku sampai lupa." Anka menyerahkan bungkusan oleh-oleh pada Marina.


"Makasih ya?"


"Eh, tadi katanya mau ke apartemen." Ia menanyakan janji Abigail barusan.


"Iya ... mungkin mau berterima kasih karena udah bantu mengurusi Farrel."


"Oh, begitu."


Marina sudah dari tadi ingin menutup pintu tapi Anka terus-terusan bertanya. Ia bingung, tak berani mengusir pemuda itu karena pemuda itu telah banyak menolongnya tapi ia ingat tugasnya sebagai babysitter dan kini Abigail yang sedang mengurus Farrel. "Eh, maaf ya, Ka. Aku harus kerja dulu. Mmh ... ngurus Farrel," katanya dengan sedikit enggan. "Nanti aja kita ngobrol lagi ya?"


"Oh ... iya, iya, gak papa." Pemuda itu kemudian mundur dan pintu pun ditutup, tapi ia terlihat senang. Ternyata Marina tidak pergi jauh. Ia dengan riang kembali ke apartemen kakaknya.


Marina segera masuk ke kamar. Dilihatnya Abigail sedang menggendong Farrel sambil mengajaknya bicara.


"Mmh, anak Papa sudah bangun ya? Mmh, mau apa, Sayang? Mau susu atau mau mandi, mmh?" Pria itu mengusap rambut di kening bayi itu.


Bayi itu berusaha bicara. " Ahum, ahum ...," ucapnya pelan.


"Mmh, anak Papa mau ngomong apa, Sayang?" Pria itu kemudian menyadari kehadiran Marina. "Oh, Marina. Temanmu sudah pulang?"


"Oh, iya. Dia membawakan oleh-oleh hasil jalan-jalannya kemaren." Marina meletakkan bungkusan plastik itu di atas tempat tidur. "Kakak mau sarapan atau kubuatkan teh?"


"Oh, tidak usah, Marina. Aku bisa buat sendiri." Pria itu menyerahkan bayi Farrel pada wanita itu. "Kau buat air panas 'kan tadi?"


"Iya, Kak."


"Ya sudah, aku buat sendiri saja. Mmh, Farrel mau apa tuh, aku gak tau."


"Mungkin mau mandi karena bau asem, Kak." Marina mencium ketiak Farrel membuat bayi itu tertawa. "Bau asem ih, anak Mami, eh anak Tante." Wanita itu melirik Abigail yang tersenyum kecil melihat dirinya salah tingkah.


"Kau bisa memandikan bayi sendiri?"


"Rasanya bisa, Kak, kalau ada tempat mandinya. 'Kan kemarin beli?"


"Ya, beri tahu aku kalau ada yang tidak bisa, mumpung aku ada di sini jadi bisa kubantu."


"Mudah-mudahan bisa, Kak." Marina meletakkan bayi itu di dalam boks bayi di kamar. Ia kemudian menyiapkan peralatan mandi bayi sedang Abigail membuat teh sendiri dan membawanya ke meja makan. Ia makan roti selai untuk sarapan.


Tak lama Marina keluar dengan membawa Farrel yang sudah mandi.


"Eh, anak Papa sudah mandi. Sini-sini, Papa mau cium dulu." Abigail menggendongnya. Ia mencium harum rambut bayi Farrel. "Mmh, wangi anak Papa." Ia menoleh pada Marina. "Kamu kok gak sarapan?"


"Eh, nanti saja, Kak," ucap wanita itu, malu.


"Kamu sarapan aja. Itu ada roti makan saja."


"Tapi ngak enak, Kak."


"Gak enak kenapa? Kamu malu denganku, aku 'kan temanmu?"


"Tapi, Kak."


"Marina," potong Abigail. "Kita 'kan teman dan saling tolong menolong, itu saja. Kau membantuku mengurus anakku jadi sudah sewajarnya aku memberikan upah. Entah kapan kamu juga butuh bantuanku."


"Bukankah sekarang aku dibantu terus?" ujar wanita itu menunduk malu.


"Justru kamu tidak tahu dampaknya dirimu bagiku. Kau telah mengurus anakku dengan baik di saat aku mengkhawatirkan keberadaannya, dan kau juga yang membantuku keluar dari kesulitan ini dengan membawa Farrel kembali. Kau bahkan percaya padaku di mana begitu banyak orang yang kukenal tidak mempercayaiku.


Kau percaya tanpa tahu siapa aku. Bukankah hanya teman baik yang bisa melakukan semua itu untukku?"


Dengan wajah masih malu-malu dan pipi memerah, wanita itu tersenyum. "Kakak terlalu memujiku. Ini berlebihan."


"Tidak, Marina. Kau memang seperti itu. Orang yang baik. Kita berteman jadi tidak ada atasan atau bawahan di sini, karena kita saling tolong menolong. Sudah, jangan terlalu formal denganku. Sarapan saja, aku temani kamu di sini karena makan sendirian 'kan tidak enak."


"Ya sudah." Dengan malu-malu wanita itu duduk di kursi yang ditariknya. Abigail menemani dengan minum teh sambil menggendong Farrel.


____________________________________________


Sambil menunggu kelanjutannya, intip novel temen author yang satu ini.