
Marina membuka pintu.
"Kak, ini sarapannya." Anka mengangkat bungkusan plastik di tangan dan masuk ke dalam apartemen seperti biasa.
Marina menepi memberinya jalan.
Anka terlihat antusias menarik kursi dan duduk di sana. Ia langsung mengeluarkan makanan dan minuman yang dibawanya.
Marina mendatangi meja. "Makasih ya?"
"Kalau begitu dimakan, yuk!"
"Iya." Wanita itu ikut duduk.
Anka memandangi Marina yang sedang membuka bungkus makanannya. "Mmh, kamu sudah sehat?"
"Alhamdulillah. Aku hari ini mau ambil Farhan. Maaf ya sudah merepotkan Kakakmu."
"Oh, tidak apa-apa." Anka masih memperhatikan wanita itu. "Mmh, kamu kemarin pergi ke mana? Ke dokter ya?"
"Mmh? Kok tahu? Iya aku kemarin ke dokter."
"Kok gak bilang aku? Aku 'kan bisa antar."
"Oh, aku tidak mau merepotkanmu terus. Kebetulan, kemarin aku ketemu teman dan dia antar aku ke dokter."
"Oh, begitu." Wajah pemuda itu sedikit kecewa. "Mmh ...."
"Mmh? Kenapa kamu gak makan?" Marina melihat Anka tak menyentuh makanannya.
"Oh, iya." Pemuda itu membuka bungkus makanannya tapi kembali ia memperhatikan wanita itu. "Mmh, hari ini aku libur, kita ke Mall yuk?"
"Oh, kamu gak ke kampus? Tapi gimana ya, Kakak lagi mau menyelesaikan bab yang tertunda."
"Bagaimana kalau nanti malam? Kita nonton bioskop. Jadi, Kakak bisa nulis dulu. Terus, malamnya kita pergi."
"Tapi 'kan kita pernah coba, bawa Farhan 'kan susah ke bioskop."
"Bagaimana kalau ambil Farhannya besok aja?" usul Anka.
"Jangan ah, kasihan Kak Sila direpoti Farhan terus." Marina menyuap makanannya.
"Kayaknya gak papa deh, kalau diminta tolong sehari lagi."
"Ya, mungkin Kak Silanya gak papa tapi akunya yang gak enak, Anka, merepotkan kakakmu terus karena dia punya anak kecil yang mesti diurus juga. Kakak gak tega."
Anka menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan wajah merengut.
Seusai sarapan, Marina ke luar unit apartemen bersama Anka untuk mengambil bayi Farhan di apartemen Sila. Saat Anka membuka pintu, Abigail lewat di koridor melewati mereka.
Marina melihatnya.
"Pagi," sapa Abigail.
Anka menoleh.
"Pagi juga, Kak." Marina menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Abigail membalas senyum Marina dan melangkah ke arah lift.
"Siapa Kak?" tanya Anka penasaran.
"Teman."
"Teman?" tanya pemuda itu makin penasaran.
"Iya."
"Teman lama?"
"Ya lumayan."
"Selama apa? Teman SMA?"
Marina mengerutkan keningnya. Kenapa pertanyaan Anka terdengar aneh, seperti menginterogasi dirinya. "Kenapa?"
"Oh, tidak." Anka mulai sadar Marina mempertanyakan pertanyaannya.
"Aku mengenalnya selama aku mengenal kamu. Saat aku pindah ke sini."
"Oh." Anka meneruskan membuka pintu.
Di apartemen Sila, Marina sangat senang bertemu bayi Farhan, juga bayi itu. Dari jauh saja bayi itu sudah mengenali Marina dengan tangan kecil bergerak-gerak ingin menggapai wanita itu.
Marina segera datang dan menggendongnya. "Aduh, sayang Mami ...." Marina meraih tangannya yang mungil itu dan memperhatikan wajahnya.
Bayi itu berusaha berbicara dengan bahasa yang tidak jelas, dan Marina mendengarkan. Seakan ia berusaha mengungkapkan rindunya pada wanita itu.
"Dia sudah mengenalmu. Sepertinya dia sayang padamu," terang Sila yang berada di sisi Marina.
"Iya dong. Anak Mami harus sayang sama Maminya." Wanita itu masih saja memperhatikan wajah bayi itu dengan semringah.
Wajah yang terus diingatnya di kala tidur sendirian. Apa dia sudah tidur? Apa sudah minum susu? Apa ia nyenyak tidur di tempat baru?
Begitu rindunya ia pada bayi itu hingga saat bertemu bayi itu kembali, wajahnya seketika cerah. Ia tak jemu melihat bayi itu yang mulai belajar bicara.
"Mau dibawa sekarang, bayinya?" Kalimat Sila menyadarkan Marina ia masih di apartemen tetangganya.
"Oh, iya."
"Kamu sudah sehat? Sebab kalau belum, jangan. Gak papa kok dititipkan di sini agak lama. Sebab ngurus bayi itu harus sehat sempurna karena berat ngurusnya. Apalagi sendirian."
"Ngak kok Kak, aku sudah sehat. Ternyata hanya butuh istirahat dengan tidur yang cukup."
"Mmh." Sila memperhatikan Marina. "Bener nih, kamu sudah sehat?" Ia memastikan.
"Iya, Kak. Udah sembuh kok."
"Ya sudah, tapi setiap saat kamu mampir ke sini kalau memang butuh. Pintu apartemen ini terbuka untukmu."
" Iya, Kak. Terima kasih."
"Tuh 'kan, sama Kak Sila boleh nitip. Gimana?" tanya Anka yang tiba-tiba ikut bicara.
"Ada apa?" Sila melirik Marina.
"Oh, Anka ngajak nonton tapi dulu pernah coba dan gagal karena bawa Farhan. Aku gak enak membuang-buang uang Anka kemarin karena sudah beli tiket tapi gak jadi nonton. Anka mau ngajak pergi berdua aja, tapi akunya sekarang lagi mau nabung bab novel dulu, karena lagi banyak ide. Takutnya kalau ditunda jadi malas ngetik," terang Marina pada Sila.
Sila hanya tersenyum dikulum mendengar pengakuan wanita itu.
"Ngak papa kok Kak. Bagaimana kalau kita coba lagi?" tanya Anka pada Marina. Ia masih penasaran ingin pergi dengan wanita itu.
"Eh, Anka. Kakaknya lagi punya kesibukan, kamu harusnya mengerti dong. Nanti kalau dia udah gak sibuk, baru ajak lagi," nasehat Sila.
Anka mengerucutkan mulutnya.
"Ya, sudah. Tolong bantu bawakan ini, tas Farhan ke tempat Marina," pinta Sila pada adiknya.
Pemuda itu bangkit dengan malas, membawa tas Farhan ke apartemen wanita itu.
"Makasih ya, Kak," ucap Marina pada Sila.
"Iya, gak papa."
Anka mengantar Marina, lalu kembali dengan lemas.
"Kenapa lagi?" tanya Sila pada adiknya itu. Ia tahu, Anka begitu menyukai Marina walau tak pernah cerita.
"Mmh." Anka duduk di kursi meja makan yang ditariknya.
Sila menepuk bahu adiknya. "Sudah, sabar. Marina 'kan punya kesibukan, bukan karena ingin menghindar darimu."
Anka menoleh. "Kak. Kira-kira Kak Marina suka gak sama aku?"
-----------+++---------
"Coba bilang 'Ma-mi'?" Marina mengajari bayi itu.
Bayi itu mengoceh dengan suara lembut tapi tak jelas.
"'Ma-mi', gitu." Kembali wanita itu mengajari.
Bayi itu hanya menggerak-gerakkan tangan dan kakinya menatap Marina.
"Ih, Maminya malah dipandangi begitu." Marina menggoyang-goyangkan tangan bayi itu. "Ma-mi."
"Ai."
Marina terharu mendengarnya. Untuk pertama kali, bayi itu berusaha memanggil namanya walau tak sempurna. "Ma-mi."
"Ai."
Netra Marina berkaca-kaca. Ia begitu bahagia bayi Farhan bisa memanggil namanya hingga ia menciumi wajah bayi dengan senangnya. "Mmh, bayi Mamiii. Sayang Mamiii."
Bayi itu tersenyum menatapnya.
"Kamu gak nakal 'kan, di tempat Mama Sila. Mmh?"
Bayi itu menggerakkan tangan dan mengembangkan jarinya. Marina meletakkan jarinya itu pada telapak tangan bayi itu dan bayi itu mulai menggenggamnya. Ia menggerak-gerakkan jari itu. "Mami mau nulis, Sayang tapi kamu masih bangun. Kalau Mami tinggal ngetik pasti kamu guling-guling sendiri. Mmh?" Marina menatap bayinya. "Apa kita main tidur-tiduran saja berdua ya?"
Wanita itu berbaring di tempat tidur dan meletakkan bayi Farhan di sampingnya. Ia mulai menyanyikan lagu nina bobo.