Author And The Baby

Author And The Baby
Berkunjung



"Bukan. Maksudku, nanti setelah itu ke rumah Mama. Kalau aku makan bakso, nanti gak bisa makan di rumah Mama," terang Marina.


"Masa?" Pria itu membulatkan matanya dengan jenaka. Bahkan ia terjeda mendengar jawaban Marina.


"'Kan aku makannya sedikit, Bang." Wanita itu tertunduk.


"Oya?" Abigail sampai meletakkan HP-nya mendengar jawaban itu. Ia menahan tawa.


"Ih, aku gak bercanda. Aku memang makannya sedikit, tapi ...." Wanita itu melirik suaminya.


"Tapi apa, Sayang?" Abigail penasaran juga tersenyum.


"Sering, gitu lho, Bang." Jemari wanita itu sedikit kaku karena berusaha melakukan penyangkalan yang masuk akal. Ia menggigit ujung telunjuknya dengan manja sambil melirik sang suami meminta pengertiannya.


Pria bule itu langsung merangkul sang istri di sampingnya. "Oh, gitu. Iya, iya, Sayang. Bagaimana kalau dikurangi frekuensinya?"


"Dikurangi ya?" jawab wanita itu masih dengan kemanjaannya dengan menyatukan ujung jemarinya di atas meja.


"Iya, apa makannya jadi banyak satu porsinya?"


Marina melirik suaminya yang makin mendekatkan wajah mereka. "Eh, itu tergantung makanannya. Biasanya sih tidak, kecuali ya ...."


"Nasi padang."


"Iya, betul. Sayang kayaknya kalau bumbunya sisa."


"Mmh." Kembali Abigail menahan tawa. Entah kenapa, ada saja tingkah lucunya yang bahkan wanita itu tak sengaja buat, membuat ia gemas saat berada di sisinya. "Marina."


"Mmh?"


"Aku ingin gigit pipi kamu, gemes." Pria itu mencubit dengan lembut pipi wanitanya.


"Ih, memangnya pipi aku makanan," kata Marina dengan merengut ke samping.


Tiba-tiba Abigail menarik dagu wanita itu ke arahnya. "Tapi bagiku, makanan yang paling enak itu bibirmu. Sudah dihisap beberapa kali tapi tak pernah habis." Ia mengecup bibir tebal itu. "Dan aku tak pernah kapok untuk lagi, dan lagi, dan lagi mencobanya." Kini ia mencium istrinya dengan lembut, tapi lama-lama mulai terselip nafsu sehingga Marina segera menghentikannya.


"Udah ah!" Wanita itu menepuk tangan suaminya. "Nanti masuk kamar lagi. Masih pagi, Bang," protesnya.


Abigail tersenyum lebar kemudian menggaruk-garuk kepalanya. Kata-kata Marina ada benarnya karena kini ia benar-benar ingin ke kamar. "Bagaimana kalau iya? 'Kan Farrel juga tidur." Ia melirik Farrel yang sudah tertidur di kereta bayinya.


Marina melirik kanan-kiri. "Pembantu bagaimana? Mereka pasti mengira kita tidak waras, sepagi ini kita mengulang yang semalam."


Abigail hampir tertawa. "Ya gak apa-apa, Sayang. 'Kan kita sudah sah dan di rumah sendiri. Ngak akan ada yang mengrebek kita. Iya 'kan?" Kali ini pria itu terpaksa tertawa.


Wanita itu menyentuh dagunya dan berpikir. "Benar juga ya?"


"Ayolah, Sayang. Aku sudah gak tahan," pinta pria itu manja pada wanitanya.


Marina melirik dengan iba. "Haish, ya sudah."


Keduanya naik ke lantai atas dengan membawa Farrel.


--------------+++------------


Semua tertawa melihat tingkah Farrel yang lucu dan tidak bisa diam. Bayi itu ingin berjalan tapi berdiri saja ia tidak bisa membuat Abigail bingung menggendongnya.


"Aduh Farrel, Papa gendong kamu bagaimana ini?"


"Sini, Bang. Biar Farrel sama aku aja." Marina mengambilnya. Bayi itu didudukkan di pangkuan dengan bersandar pada perut gemuk wanita itu. Seketika, bayi itu diam dan duduk nyaman di sana.


"Oh, 'bantalnya' Mami Marina nih yang lebih enak. Untung punya Mami Marina, ya Sayang ya?" ledek Mama pada cucunya Farrel.


Abigail dan Marina tersenyum. Pria itu malah menyentuh perut istrinya. "Tapi memang, ini bikin kangen."


Wajah wanita itu memerah karena malu. "Abang, ah!"


Namun kedua orang tua Abigail senang anaknya bisa berbahagia dengan pilihannya, walaupun bukan berasal dari bibit bebet bobot yang sempurna. Kebahagiaan yang sempurna ternyata, bukan terletak pada pasangan yang sempurna tapi pada pasangan yang bisa saling melengkapi.


"Ma, maaf gak bisa lama. Mau ke tempat neneknya Farrel yang satu lagi, sama pergi ke rumah sakit mau ngecek hasil fisioterapi Alan."


"O, ya sudah."


Mama dan Papa mengantar sampai ke depan pintu. Mereka melambaikan tangan saat mobil Abigail keluar pintu gerbang.


"Apa tidak sebaiknya Farrel dibelikan kursi bayi yang pakai roda itu lho, Bang," saran Marina.


"'Kan waktu itu, Abang beli rumah kita yang sekarang ini, supaya anak-anak bisa bebas berlarian di dalam rumah. Masih ingat gak, Abang ngomong begitu sama Marina."


"Iya, Abang ingat."


"Ya, kita beli saja kursinya, bagaimana?"


"Boleh asal tetap diawasi, karena anak-anak itu, ada saja yang dikerjakannya yang bahaya."


"Iya, Marina awasi kok."


"Apa kamu butuh babysitter?"


Wanita itu tersenyum lebar.


"Eh, ditanyain bener kok malah, senyum-senyum begitu?"


"Apa gak cukup aku aja, Bang?"


Abigail melirik raut wajah istrinya. "Apa kamu cemburu kalau kita punya babysitter lagi? Ya Allah, Marina. Cinta Abang cuma buat kamu kok, Sayang. Walaupun kamu pernah jadi babysitter, tapi bukan karena itu Abang menikahimu. Abang sudah suka sama kamu jauh sebelum itu. Saat kita bertemu di kafe apartemen untuk pertama kalinya, apa kamu tidak ingat itu?"


"Ah, waktu itu ya?" Marina kembali mengingatnya. Itu adalah saat pertama kali juga ia pindah ke apartemen itu karena menghindari Om Seno, yang ternyata adalah Omnya Abigail. Ia juga baru mengenal pria bule yang menjadi suaminya itu saat itu, tapi ia bersikap biasa saja saat itu. Karena ia tahu, tubuhnya yang gendut sejak kecil takkan pernah jadi pilihan seorang pemuda tampan seperti Abigail.


Ia tak pernah menyangka, Abigail bisa jatuh cinta padanya. Bermimpi saja tidak, apalagi mengharapkannya. Ia cukup tahu diri saja, waktu itu.


"Jadi kalau kesibukanmu menulis membuat kamu kerepotan mengurus Farrel, aku tidak mau itu. Kita sewa saja babysitter agar kamu bisa tetap menulis dan cukup pantau Farrel sekali-sekali karena kamu 'kan berada di dalam rumah. Aku mendukungmu karena kamu bekerja di dalam rumah jadi kegiatan anak bisa dipantau."


Marina terdiam sejenak. "Terserah, Abang saja deh! Aku ikut aja."


"Mmh."


----------+++-----------


Pintu diketuk dan wajah Marina muncul dari balik pintu.


"Oh, Kakak." Alan tersenyum senang.


Marina datang dengan menggendong bayi Farrel dan Abigail yang membawa kotak besar.


"Wah, pizaku!" Alan sudah bisa menebak dengan baik.


"Kok datangnya Malam-malam, Marina?" tanya ibu yang sedang menunggui Alan.


"Iya, Bu. Bawa makan malam sekalian antar ibu pulang," sahut Marina.


"Wah, jadi merepotkan Nak Abigail."


"Tidak apa-apa, Bu," jawab Abigail. Pria itu membuka kotak piza, dan mereka makan bersama-sama.


"Adek ...." Alan menyentuh tangan bayi Farrel yang didudukkan di atas ranjang rumah sakit di samping Marina.


Bayi itu memperhatikan Alan dengan seksama dan menggengam jemari pria itu. Alan tentu saja gemas melihat bayi itu dan menggerak-gerakkan jarinya.


Farrel memperhatikan saat pria itu makan. Terlihat ia ikut mengunyah.


"Adek mau?" Alan menyodorkan piza itu pada bayi Farrel. Tentu saja mulutnya langsung terbuka.


"Eh, jangan! Dia belum boleh makan," sahut Marina.


"Eh, masa?"


"Dia baru 4 bulan, belum boleh makan kecuali ASI."


"Masa sih, Kak? Tadi dia disodori mau."


"Ya semua bayi mau tapi gigi aja gak punya, bagaimana mau mengunyah."


"Oh, iya ya. Habis, kasihan. Lihat kita makan, dia seperti lapar juga."


__________________________________________