
Ibu menoleh sebentar lalu melanjutkan langkah mengikuti pembantu Abigail.
"Lho, Ibu ke mana?" Alan bertanya-tanya sendiri.
"Oh, aku lupa memberi tahu kalian, kalau kalian sebaiknya menginap saja di rumah ini daripada repot bolak-balik rumah sakit, rumah dan Hotel. Kamarmu ada di bawah itu. Ada kasur lipat untuk perawatmu juga, jadi kamu punya cukup waktu untuk beristirahat." Abigail menunjuk sebuah kamar di lantai itu.
"Tapi, Pak. Biasanya kami shift(bergantian)." Kini perawat Alan yang bicara.
"Ok, kalau begitu aku akan membayar gajimu dobel bulan ini asal kamu mau menunggui Alan sehari menginap di sini. Makan tinggal minta karena di rumah ini ada dapur dan makanan berlimpah. Tentang gaji temanmu, aku tidak akan memotongnya. Atau, kamu tetap gantian shif dengan temanmu, sehingga temanmu harus datang ke sini. Terserah." Abigail memberi penawaran.
Pria itu terdiam. Tawaran Abigail begitu menggiurkan. Dengan hanya menunggui Alan menginap, ia dapat gaji 2 bulan, bulan ini. Jangankan pria itu, Alan saja tergiur. "Ya, sudah, Pak. Saya temani Mas Alan menginap hari ini."
"Kamu sudah sarapan belum? Kalau belum, sekarang saja. Mumpung tidak ada yang kamu kerjakan saat ini."
"Iya, Pak." Pria itu mengangguk, dan melangkah ke meja prasmanan.
"Wah, punya uang banyak, enak sekali ya? Tinggal perintah." Komentar Alan.
"Alan ...." Marina menepuk lengan adiknya karena asal bicara.
Abigail malah tertawa. "Segala sesuatu itu butuh kerja keras untuk mendapatkannya."
"Lho, bukannya semua diturunkan dari orang tua?"
"Alan ...." Marina cemberut mengguncang lengan adiknya dengan kesal.
Pria bule itu tersenyum lebar dan menoleh pada sang istri. "Tidak apa-apa." Ia kemudian kembali bicara pada Alan. "Sebenarnya tidak sepenuhnya. Perusahaan yang sekarang aku miliki itu miliku. Beda dengan punya Papa. Aku cuma diberi modal, kemudian mengembangkannya sendiri. Jenisnya pun beda dengan milik Papa. Apa kamu mau aku modali berbisnis?"
"Jangan, Kak. Kuliah saja, dropout(dikeluarkan) karena jarang masuk. Main terus kerjanya," sahut Marina merengut.
"Lho, kenapa? Padahal sayang lho! Bagaimana mau berbisnis kalau dasar pendidikannya rendah. Kamu akan bekerja 2 kali lipat lebih keras dibanding yang sarjana."
"Tapi aku lihat, banyak juga yang bukan sarjana malah lebih sukses dibanding yang sekolah tinggi," kilah Alan.
"Memangnya kamu mau berbisnis apa?"
Alan menggaruk-garuk kepalanya. "Aku gak sanggup kalau berbisnis. Lebih baik kerja kantoran saja."
"Apalagi itu. Kamu harus sedikitnya sarjana." Nasehat pria bule itu. "Kamu harus kuliah lagi."
"Tapi kakiku seperti ini?" Alan melebarkan jarak tangannya.
Abigail senyum di kulum. "Tapi 'kan katanya bisa sembuh walau pakai tongkat. Tidak ada yang tidak bisa kalau kamu mau. Cepat sembuh dan kuliahlah. Ya?"
Alan melirik Marina sekilas lalu kembali lagi pada Abigail. Ia kemudian dengan pelan, mengangguk. Marina begitu senang hingga tersenyum dan melirik sang suami di sampingnya. Ia menggenggam tangan Alan dengan erat.
---------+++---------
Malam itu indah, dipenuhi bintang-bintang. Di sebuah hotel ada keramaian yang penuh dengan senyum bahagia. Senyum sebuah keluarga kecil yang baru akan menapaki langkahnya.
Abigail dan Marina kerepotan menerima begitu banyak tamu undangan yang datang. Sudah hampir sejam mereka berdiri tapi antrian tamu keduanya belum juga surut. Apalagi tamu undangan Abigail yang sebagian adalah tamu bisnis. Kadang ada saja yang mereka obrolkan sehingga pria bule itu harus menyalami tamu sambil mengobrol dengan tamu bisnisnya.
Setengah jam kemudian, Abigail dan Marina akhirnya bisa duduk di kursi pelaminan. Abigail yang berpakaian jas hitam dipadu dengan kemeja putih dan dasi kupu-kupu, bersanding dengan Marina yang bergaun abu-abu dihiasi payet berwarna senada hingga kerudungnya, membuat keduanya tampil serasi di pelaminan.
"Kakiku pegel," gerutu wanita itu.
"Nanti aku pijitin ya, Sayang."
Marina menoleh pada sang suami. "Lalu kalau kamu pegel bagaimana?"
Abigail hanya tersenyum lebar. Wanita itu jadi malu karena suaminya tak mengeluh. Kemudian datang Sila bersama suami dan anak-anaknya membuat Marina buru-buru berdiri.
"Oh, Kakak!" Marina menyambut tangan Sila tapi ia tak menemukan Anka. "Lho, Anka mana?"
"Oh, Anka mau ujian jadi dia pamit ke rumah temannya tadi. Mau belajar, katanya."
Abigail hanya senyum di kulum. Sejak Marina memberi tahu Anka bahwa ia akan menikah dengannya, pemuda itu tak lagi pernah datang main ke rumah. Tentu saja karena pemuda itu merasa kalah telak. Sudahlah masih kuliah, ia kalah cepat dari Abigail yang buru-buru melamar wanita itu.
"Oh, begitu. Semoga cepat, lulusnya," sahut Marina lagi.
Sila mengangguk.
Setelah itu datang teman bisnis Abigail, seorang pria paruh baya dengan seorang wanita yang masih sangat muda dan cantik. Mereka datang menyalami Abigail dan Marina.
Ia punya banyak rekan bisnis yang sudah seumur ayahnya karena pria bule ini dikenal sebagai pebisnis yang ramah dan ringan tangan. Ia tak segan membantu pengusaha yang telah gulung tikar akibat usahanya bangkrut dengan membimbing dan memberi modal.
Bukannya modal usahanya menyurut, malah usaha pria bule itu makin makmur karenanya. Karena itu, banyak rekan bisnis Papa yang tak ragu bekerja sama dengannya.
"Aku senang, akhirnya kamu menemukan tambatan hati," ucap pria itu dengan tersenyum lebar.
"Terima kasih, terima kasih. Oh, ini siapa? Anaknya ya?" tanya Abigail pada gadis di samping pria itu.
"Oh, iya benar. Kami tinggal berdua jadi kadang kalau aku tidak sibuk aku membawanya ke mana aku pergi."
"Oh, begitu. Sudah kuliah atau masih SMA?"
"Sudah kuliah tapi masih semester satu."
"Oh, baru kuliahnya?"
Gadis itu bersalaman dengan Abigail sedang ayahnya bersalaman dengan Marina.
"Istrimu bekerja juga?"
"Oh, dia seorang penulis novel."
"Wah, hebat. Punya profesi berbeda."
Marina tersipu. Ia malu karena sebagai penulis novel, dia belum apa-apa. Ia bukan penulis terkenal.
"Kak, Kak Marina!" Alan datang dengan kursi roda didorong oleh perawatnya.
"Apa Alan?" Marina membungkuk saat adiknya datang.
"Ibu mana?"
"Kakak gak tau. Tadi sih Kakak lihat sama tante Karla."
"Duh, ibu ke mana lagi sih? Aku ditinggal terus, sama ibu," gumam pria itu kesal.
"Ya udah, kamu di sini saja sama kakak."
Alan masih merengut.
Gadis yang bersama Pak Ridho itu tak sengaja melihat kedatangan Alan. Ia memperhatikan keadaan pria itu yang berada di kursi roda dengan iba.
"Kuliah di mana anaknya, Pak?" tanya Abigail lagi.
"Di Universitas Bina Bangsa," sahut Ridho memberi tahu.
"Oh, dekat dari rumah Saya."
Pria paruh baya itu mengerut dahi. "Bukannya jauh?"
"Oh, Saya sudah pindah rumah, Pak. Lain kali datang ke rumah Saya yang baru ya?"
"Oh, boleh kenapa tidak. Eh, ini siapa ya?" Pria paruh baya itu baru melihat Alan.
"Oh, itu adik istri Saya. Dia habis kecelakaan jadi dia pakai kursi roda."
Alan menganggukkan kepala saat pria paruh baya itu mengangguk padanya.
"Oh, kasihan. Cepat sembuh ya, Dek!"
Tak lama Ridho dan anaknya pamit pulang. Alan masih merengut di samping Marina.
"Kamu kenapa lagi?" tanya wanita itu menyentuh pipi adiknya.
Alan menepisnya. "Ah, Kakak. Bosen tau!"
"Makanya, cepet sembuh tukang ngambek!" Kali ini Marina mencubit pipi Alan karena gemas. Pria itu seumur itu belum juga dewasa.
____________________________________________