Author And The Baby

Author And The Baby
Masih Denganmu



"Kebetulan sudah aku titipkan pada tetanggaku."


"Oh!" Pria itu merasa lega. Fiuh! Kenapa aku sampai lupa menanyakan hal penting ini? Untung saja Marina telah menitipkan bayi itu pada tetangganya. Jadi, aku punya banyak waktu dengannya 'kan? Eh, tapi tidak. Itu pikiran jahat. Ingat Abigail, istrimu baru meninggal. Ke mana hati nuranimu? "Eh, aku sholat dulu ya?"


Abigail meninggalkan Marina sendirian di meja itu dengan wajah lesu.


-------------+++------------


Sila menoleh ketika Anka kembali masuk ke dalam apartemen. "Lho kok sudah balik aja?"


"Kak Marinanya gak ada," ucap pemuda itu sedikit menggerutu. Ia meletakkan bungkusan plastik yang dibawanya ke atas meja.


"Mungkin dia tidur. Apa kamu sudah memeriksanya?" Sila yang sedang mencuci piring kembali menoleh.


"Udah, Kak. 'Kan apartemennya gak dikunci. Aku masuk ke dalam kamar dan Kakaknya gak ada." Anka menarik kursi di dekatnya dan duduk di sana.


"Mmh, mungkin dia pergi ke dokter."


"Kok gak bilang? 'Kan bisa Anka antar."


"Ya, mungkin gak enak, dibantu terus. Jadi pergi sendiri."


Anka merengut. Ia mengeluarkan HP-nya. Ia menimbang-nimbang ingin menelepon Marina, tapi kemudian ia mengurungkannya karena sebentar lagi ia ke kampus. "Hari ini aku ada tugas kampus sampai malam jadi gak bisa ketemu Kak Marina."


Sila menoleh sambil tersenyum. Ia mengeringkan tangannya dengan lap. "Siapa yang suruh kamu ketemu sama dia tiap menit? 'Kan kamu sendiri, sampai uang jajan kamu habis traktir Marina. Minta sama Kakak sih gak apa-apa, Kakak ngak marah, tapi kamu kan masih pelajar, Anka. Belum bisa cari duit sendiri, ya dikira-kira kalau traktir orang, kalau sebenarnya gak mampu ya jangan dipaksakan."


Anka masih merengut. Ia ingin membantah tapi apa yang dikatakan kakaknya benar. Akhirnya ia membuka bungkusan yang dibawanya tadi dan mulai makan siang sendirian.


"Mama, dedek Farhan bangun!" Seorang anak laki-laki berlari keluar kamar menghampiri Sila.


"Oh, mungkin mau mimik susu. Sebentar Mama buat dulu."


-----------+++------------


Abigail kembali. "Lho, kok belum makan?" tanyanya pada Marina.


"Rasanya tidak enak, ditraktir tapi makan duluan." Wanita itu tersenyum.


Apa dia selalu begitu ya? Di saat senang, susah, bahkan sedang sakit sekali pun, dia selalu tersenyum. Apa dia sadar senyumnya itu menerangi dunia. Apa karena itu dia selalu tersenyum? "Eh ...."


"Ya?"


"Eh, tidak. Ayo kita makan saja." Abigail menarik kursinya. Sambil makan, ia mengajak Marina mengobrol. "Apa nanti kamu akan mengambil bayimu, sebab mungkin sepertinya kau tidak bisa mengurus bayi dulu untuk beberapa hari."


Wanita itu berhenti makan dan merengut.


Abigail menatap wanita itu. "Kenapa?"


"Aku jadi menyusahkan orang lagi."


"Ya, tidak ada pilihan, 'kan? Dari pada pingsan saat menggendong bayi? Berdiri saja kamu tak mampu." Abigail menyendok lasagna-nya.


"Mmh." Wanita itu menunduk.


"Kamu tak perlu khawatir, banyak orang yang menolongmu. Buktinya tetanggamu mau dititipi bayi itu."


"Iya, tapi dia punya anak juga dua."


Abigail berpikir sejenak. "Mau kubantu? Tapi aku tidak bisa mengurus bayi."


Marina tertawa. "Maaf, aku keceplosan. Harusnya aku tidak perlu cerita sama kamu, kamu 'kan laki-laki. Mana bisa mengurus bayi. Maaf, maaf." Kembali ia tersenyum.


"Kalau yang ringan-ringan aku bisa seperti menggendong bayi atau memberi susu karena aku juga punya anak bayi."


"Mmh, punya bayi?" Marina penasaran. "Tapi kok di apartemen kamu sepi, tidak ada orang lain. Apa bayinya dibawa istrimu?"


Abigail bingung menjawabnya. "Eh, seperti itulah," ucapnya asal.


Oh, dia sudah menikah. Marina terlihat kecewa. "Eh, saya jadi tidak enak menyusahkan Bapak, sementara Bapak juga punya istri dan anak yang mesti diurus. Apa sebaiknya kita kembali saja?" Ia tiba-tiba jadi serba salah duduk bersama pria itu hingga mulai bicara formal lagi dengan pria itu.


"Eh ...."


"Istriku pergi bersama anakku."


"Sebaiknya Bapak jemput anak dan istri Bapak saja, kita pulang sekarang." Marina baru saja akan beranjak berdiri ketika Abigail kembali menerangkan.


"Istriku sudah meninggal," ucap pria itu dengan napas tertahan.


Marina terkejut hingga menutup mulutnya yang terbuka.


"Aku pindah ke apartemen itu karena tidak kuat mengingat semua kenangan yang tertinggal di dalam rumah itu."


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Maaf, Pak saya tidak tahu."


"Tidak apa-apa. Aku pindah agar bisa memulai hidup baru." Mata pria itu mulai berkaca-kaca.


Marina iba. Ia mengambilkan kotak tisu di atas meja dan memberikannya pada Abigail.


"Maaf ya, jadi tempat bercerita. Selama ini aku belum pernah bercerita pada siapapun." Pria itu mengambil selembar tisu tapi ia hanya menggenggamnya.


"Tidak apa-apa. Keluarkan saja," sahut Marina sambil tersenyum dan menepuk-nepuk tangan Abigail yang berada di atas meja dengan lembut.


"Terima kasih."


Namun kemudian, mereka menjadi akrab dengan sendirinya. Saat pulang, Marina minta diantar ke supermarket.


Abigail langsung protes. "Kamu mau beli apa? Badanmu belum kuat benar untuk pergi belanja."


"Aku mau beli kebutuhan bayi buat Farhan."


"Kalau begitu, aku saja yang belanja. Kamu mau apa tinggal bilang."


"Ya ... jadi merepotkan."


"Tidak apa-apa. Tulis saja kau mau belanja apa nanti aku belikan."


Marina merengut dan pria itu melihatnya sekilas.


"Kirim ke nomor telepon 08 ...." Abigail menyebutkan nomor teleponnya dan Marina segera menyalin ke ponselnya. Pria itu kemudian mengulang nomor itu untuk memastikan. "Sudah?"


Wanita itu mengangguk. Ia kemudian mengirimkan daftar barang yang ia butuhkan ke HP pria itu. Sesampainya di supermarket, wanita itu menyodorkan kartu ATM-nya.


"Apa ini? Tidak usah." Abigail menutup pintu.


"Tapi ...." Marina tidak bisa berkata apa-apa karena pria itu sudah melangkah ke supermarket yang berada di depan mobil itu.


Sekitar setengah jam kemudian, pria itu muncul dengan plastik belanjaan di tangan. Ia kemudian meletakkannya di kursi belakang. "Maaf lama, antrinya panjang." Abigail kemudian duduk kembali di bagian kemudi. "Ok, kita pulang."


-----------+++-----------


Marina membuka pintu apartemennya. Ia masih berpegangan pada lengan pria itu hingga sampai ke apartemen karena pria itu memegangi plastik belanja di kedua tangannya. Sebenarnya ia sedikit malu berpegangan pada pria itu, tapi keadaan memaksa. "Ini apartemenku. Tidak ada apa-apa," ujarnya merendah.


"Mmh." Abigail meletakkan barang belanjaannya di atas meja dan menuntun Marina ke kamarnya. "Maaf aku masuk ya?" Lalu membawanya ke tempat tidur. Ia menatap wanita itu untuk terakhir kalinya. "Kamu tidak butuh apa-apa 'kan? Kamu bisa sendiri?"


Wanita itu mengangguk pelan. "Eh, oya. Jasmu." Marina hampir membuka jas itu tapi pria itu menyetopnya.


"Eh, tidak usah. Pakai saja. Eh, nanti-nanti saja. Mungkin sekarang kau butuh."


Marina merasa aneh tapi kemudian ia mengiyakan dan merasa senang. "Oh, ya sudah."


Abigail melangkah keluar, dan hampir menutup pintu, tapi kembali lagi pintu itu dibuka. "Eh, kalau kamu tidak keberatan, aku bisa menemanimu makan malam."


Marina melirik ke arah pintu.


"Eh, kamu 'kan belum bisa keluar beli makanan," terang Abigail memberi alasan dengan sedikit canggung.


"Iya," sahut wanita itu malu-malu.


"Em, o-ok." Pria itu menutup pintu. Dibalik pintu itu ia berusaha menenangkan jantungnya. Kenapa hanya menanyakan makan malam saja, jantungnya berdetak hebat seperti ini? Ia memang sedikit gugup karena takut ditolak Marina dan jantung ini, ya Allah ....


Marina juga berguling di dalam selimut dengan senyum lebarnya. Kenapa dengan tawaran makan malam ia begitu bahagia?