
"Mmh, oh iya. Mengenai pindahan, kau tak usah bingung. Cukup kau rapikan saja pakaian dan barang berhargamu ke dalam koper, sisanya biar orang-orang dari petugas pindahan yang akan mengurusnya. Apartemen ini akan aku sewakan saja karena sudah terlanjur kubeli."
"Iya, Kak." Marina menyuap nasinya. "Oh, iya. Untuk Farrel, sepertinya butuh koper sendiri, karena bajunya mulai banyak dan juga mainan dan perlengkapan lainnya."
"Mmh, nanti biar aku minta sama orang tuaku. Untung pindahannya masih lusa jadi bisa memikirkan apa yang harus disiapkan."
"Mmh."
Sehabis makan malam, Abigail masuk kamar. Ia tahu wanita itu pasti butuh waktu sendiri untuk bisa menulis karena itu ia segera ke kamar agar Marina bisa istirahat dan menulis. Apalagi sekarang ada Farrel yang harus diurus. Ia tidak ingin membebaninya terlalu banyak dengan pekerjaan rumah.
Apa dia sudah menulis bab terakhir novelnya ya? Pria itu baru menyadari sudah beberapa hari ini ia tak mengecek novel wanita itu. Oh, sudah ada. Ia segera naik ke atas tempat tidur dan bersandar. Ia asyik membaca novel itu hingga selesai.
Mmh. Abigail telah membaca bab akhir dari novel itu dan terlihat lega. Lumayan, ceritanya cukup bagus. Ah, aku beri saja dia hadiah yang banyak hasil lelah membuat cerita ini sampai selesai. Pasti dia suka.
Pria itu kemudian mengumpulkan poin dan juga membeli koin agar bisa memberi banyak hadiah pada novel Marina. Ia terlihat puas setelah mengirimnya.
Mudah-mudahan ia semangat menulis terus. Pria itu tersenyum senang.
------------+++-------------
Beberapa hari berlalu dan tibalah hari mereka pindah ke rumah baru. Pagi itu mereka sarapan bersama.
"Mmh, sepertinya kita pindah siang saja. Mama membantu mengisi rumah dan perabot sejak kemarin sore dan katanya nanti siang baru bisa selesai. Bagaimana kalau pagi ini kita berenang saja?" ucap Abigail bersemangat.
"Mmh?" Marina yang terlihat mengantuk dengan kantong mata yang menghitam, hanya mengangguk. "Mmh."
"Marina, apa kau masih mengantuk?" Pria itu mulai menyadari wanita itu tidak seperti biasanya dengan lingkaran hitam di sekitar matanya.
"Mmh?" Kini wanita itu mengucek-ngucek matanya, berusaha fokus. "Aku baru selesai menulis, Kak."
"Astaga, kau belum tidur?" Abigail terperangah. "Ya ... ya sudah. Kau lebih baik tidur lagi saja setelah ini," ucapnya sedikit kecewa.
"Tapi, Farrel gimana, Kak?"
"Tidak usah dipikirkan. Aku inshaAllah bisa mengurus Farrel. Kau tidak pernah cuti, jadi aku hari ini bebaskan kamu untuk istirahat."
"Tapi 'kan kita mau pindahan?"
Melihat wajah wanita itu yang sedikit kusut, pria itu tak tega. "Yang penting kamu tidur dulu, jangan dipikirkan yang lain-lain biar kamu cepat pulih. Kalau tidak bisa pindah hari ini. Masih bisa besok."
Marina menatap pria itu dengan rasa bersalah yang memuncak. Seharusnya, disaat ia dibutuhkan ia sanggup mengemban tugas, tapi ternyata ia tak sanggup dan malah membebani Abigail untuk mengurus Farrel. "Maaf ya, Kak. Aku tidak banyak membantu."
"Tidak apa-apa, kamu hanya manusia biasa. Kamu butuh istirahat. Tidurlah setelah menghabiskan sarapanmu."
Marina mengangguk.
-----------+++------------
Dunia Abigail kembali sepi saat di apartemen itu tak mendengar suara wanita itu. Entah kenapa, istilah rumah kini identik dengan Marina, wanita yang pelan-pelan kini mulai menguasai dunianya. Dunia yang baru saja kehilangan seorang istri.
Awalnya ia merasa tabu memikirkan wanita itu tapi lambat laun ia kalah oleh pesona wanita yang kini mulai dipusingkan dengan berat badannya itu. Di matanya, wanita itu tidak pernah berubah di saat gemuk dan kurusnya yang selalu penuh pesona.
Ia belum pernah segila ini dalam hidupnya. Mencintai seorang wanita, apa adanya, seakan ia seorang dewi yang menyamar jadi manusia. Wanita itu selalu mempesona, dimana pun dan apapun yang dilakukannya. Abigail berharap, takdir menyatukan mereka.
"Kak."
Sebuah tangan bergerak-gerak di depan matanya hingga ia tersadar. Pria itu menoleh. "Marina?" Terlihat, wanita itu telah mengganti pakaiannya dan terlihat rapi.
Benarkah?
Marina mengambil Farrel yang dipangku pria itu. "Sini, Kak. Farrel aku gendong. Barang-barangku sudah siap, tinggal dibawa. Kakak apa mau mandi dulu sebelum berangkat?"
Abigail melihat ke arah tubuhnya. Ia baru sadar ia belum mandi sama sekali sejak tadi pagi. "Oh, iya. Astaga." Ia beranjak berdiri tapi ingat sesuatu. "Oh, iya. Mama tadi telepon, kita sudah bisa ke sana membawa barang-barang. Apa barang-barang di dapur juga sudah kau siapkan? Bawa saja yang penting, seperti keperluan Farrel."
"Sudah, Kak."
"Kalau begitu, aku mandi dulu."
----------+++-----------
Abigail melihat berkeliling. Ia puas melihat hasil usaha ibunya memperindah rumah itu.
"Ini Mama minta seorang desain interior untuk membantu mengisikan, jadi tidak 100 persen usaha Mama."
"Tapi tetap, tanpa bantuan Mama, rumah ini tidak akan terisi secepat ini. Eh, berapa Mama keluarkan uang biar aku ganti, Ma." Pria itu sudah merogoh kantong celananya.
"Ah tidak usah. Mama membayarnya dari uang hasil penjualan rumah kamu yang lama. Itu pun masih banyak tersisa. Apa kamu ...."
"Mama pegang saja dulu. Aku tidak membutuhkannya," potong Abigail.
Mama hanya diam. Ia tahu, Abigail masih trauma bila diceritakan tentang hal-hal yang berhubungan dengan almarhum istrinya itu. Apalagi barang-barang peninggalan istrinya, pria itu sama sekali tidak pernah mau menyentuhnya lagi sejak kejadian itu sehingga ada sebagian yang dibuang dan sebagian lagi disimpan untuk Farrel. Mungkin suatu hari nanti, cucunya butuh untuk mengenal siapa ibunya.
Semoga cintamu yang baru menyembuhkanmu, anakku. Wanita bule paruh baya itu menoleh ke arah Marina yang sedang mendorong kereta bayi berkeliling di dalam rumah.
Marina tampak senang melihat rumah baru itu. "Kak, di belakang kalau ditambah ayunan, bagus lho!"
"O ya, mmh." Pria bule itu menyentuh dagunya. "Apalagi, Marina?" Matanya bercahaya saat berbicara dengan wanita itu.
Mama melihatnya dan terharu sampai menitikkan air mata.
Abigail melihatnya. "Eh, Mama kenapa, Ma?" Ia menyentuh lengan ibunya.
Mama menggeleng.
Marina pun menghampiri. "Ibu kenapa?"
"Tidak. Mama hanya berharap rumah ini menjadi awal yang baik buat kita semua."
"Mama." Abigail memeluk wanita yang telah melahirkannya itu dengan lembut. Wanita itu menepuk-nepuk punggung pria itu, pelan.
Mereka kemudian makan siang bersama dan masih membicarakan soal rumah yang belum sempurna. Mereka makan siang dengan makanan yang dibeli delivery oleh Abigail.
"Jadi nanti pembantunya baru datang besok, Ma?" tanya Abigail pada ibunya.
"Iya, tidak apa-apa 'kan? Juga satpam penjaga pintu pagar."
"Tidak apa-apa, Ma. Dua hari ini aku akan fokus di rumah dulu melihat kalau masih ada yang kurang. Ke kantor paling sebentar, karena kebetulan tidak ada yang penting."
"Kamar bawah Mama rubah jadi kamar kerjamu Abi. Kamarmu di atas, juga Marina, tapi di antara kamar kalian ada kamar Farrel. Mama sudah pasang interkom, jadi Marina atau kamu bisa mendengarkan bilang Farrel menangis."
Marina dan Abigail saling lirik. Mereka memaklumi keputusan Mama Abigail.