Author And The Baby

Author And The Baby
Kebun Binatang



Kamar yang dipesan adalah 2 kamar bersebelahan dengan connecting door(pintu sambung). Isy sang babysitter, punya kamar sendiri sedang Abigail dan Marina tidur di kamar sebelahnya.


"Nanti Farrel tidur dengan kami, sedang nanti kalau Farrel butuh apa-apa malam, tolong dibantu ya? Istri Saya nanti akan ke kamar kamu," terang Abigail pada wanita cekatan itu.


"Oh, iya, Pak." Wanita berjilbab yang bertubuh pendek itu mengangguk. Walau Marina tidak tinggi tapi masih lebih tinggi Marina dibanding tinggi babysitter itu.


"Kamu masuk lewat pintu connecting itu ya, jadi kalau ada yang mengetuk pintu dari depan, abaikan."


"Iya, Pak."


"Sekarang kamu boleh istirahat di kamar. Nanti aku kunci. Satu jam lagi nanti kami panggil untuk makan malam. Kalau ada butuh apa-apa tinggal ketuk pintunya."


Babysitter itu mengangguk dan kemudian pamit ke kamar sebelah. Abigail melirik Farrel yang telah ditidurkan di atas ranjang. Selama di pesawat bayi itu tidak bisa diam tapi sejak mendarat dan sampai ke hotel, Farrel telah tertidur pulas. Pria itu tersenyum mengingat tingkah bayi yang mulai besar itu.


"Besok kita jalan-jalan ya, sebab lusa kita bertemu nenek kakekku yang pulang dari Thailand," ucapnya pada sang istri yang tengah berbaring di sebelah Farrel.


"Ok."


----------+++---------


Pagi itu semua sarapan di kamar Abigail-Marina. Bayi yang digendong babysitter, tengah menyusu botol sedang Abigail dan Marina tengah sarapan. Babysitter itu telah sarapan lebih dulu.


"Pagi ini bagaimana kalau kita pergi ke kebun binatang London?" ajak pria itu.


"Kebun binatang? Mmh, boleh juga." Marina menyeruput tehnya.


"Iya, sekalian memperkenalkan Farrel dengan bermacam-macam binatang. Aku rasa dia sudah mulai banyak ingin tahu. ini bagus untuk pengetahuan dasarnya."


"Iya, tapi kenapa saat di sini baru kepikiran pergi ke kebun binatang? 'Kan di Jakarta juga ada?"


"Justru aku belum pernah pergi ke kebun binatang yang di Jakarta. Aku besar di sini tapi setelah kuliah baru tinggal di Jakarta, jadi gak familiar dengan tempat jalan-jalan di Jakarta. Di sini aku tinggal dengan nenek dan kakek tapi kalau libur pulang ke Jakarta."


"Oh, begitu." Marina mengangguk-angguk. "Berarti Abang lebih dekat ke nenek dan kakek di sini dong, dibanding orang tua?"


"Ya, karena kedua orang tua bekerja dan jarang di rumah karena sering keluar kota dan keluar negri. Kalau nenek ibu rumah tangga, makanya nenek minta aku sama ibu karena dia bisa mengurus aku di sini."


"Pasti rindu ya sama nenek?"


"Uh, bukan rindu lagi. Dia orang tua keduaku setelah Papa dan Mama. Sayang mereka gak bisa datang nikahan kita kemarin karena adik kakek sakit di Thailand. Mereka menunggu sampai selesai operasi dan masa kritisnya lewat."


"Ya, gak apa-apa. Memang seharusnya kita 'kan jenguk mereka?" ucap wanita itu bijak. Ia mulai menyelesaikan mengunyah potongan buah yang dipesannya. "Ngomong-ngomong, aku kurusan sekarang ya?" Ia melebarkan kedua tangan agar suaminya bisa menilai.


Babysitter yang ikut mendengarkan menahan tawa.


"Yaaa ... lumayan."


"Ngak ikhlas ngomongnya!" Wanita itu merajuk dengan menggembungkan pipi.


Babysitter itu menyingkir dari meja, takut ketahuan sudah tak bisa lagi menahan tawa. Ia menjauh dan tertawa tanpa suara sambil menggendong Farrel. Bayi itu bahkan menoleh pada babysitter itu karena tubuh wanita itu terguncang menahan tawa, dengan membekap mulut sendiri.


"Ada satu senti, Honey(sayang)," ujar pria itu yang tak tahu harus bicara apa.


"Benarkah? Sebelah mana?" Mata wanita itu membulat sempurna.


Pecah sudah tawa Abigail karena istrinya begitu percaya.


"Ih, Abang!" Wanita itu kembali pipinya menggembung dengan tangan dilipat di depan dada.


"Honey, ini baru beberapa hari. Mana mungkin langsung kurus."


"Tapi orang kebanyakan cepat gemuk, kenapa gak cepat kurus ya?"


"Karena itu daging di tubuhmu, Sayang. Apa dalam beberapa hari daging cepat menyusut?"


"Iya juga ya?" Wanita itu mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari.


"Asiap!" Wanita itu merapatkan jari dan diletakkan miring di dahi membuat Abigail kembali tertawa.


"Honey, jangan bilang aku menertawakanmu tapi kamu memang lucu." Pria itu kembali tertawa.


---------+++----------


Farrel ternyata sangat senang jalan-jalan sambil melihat-lihat keramaian dan binatang-binatang yang belum pernah dilihat sebelumnya. Apalagi memberi makan binatang-binatang itu di sana.


Bayi itu mendapat kesempatan memberi makan jerapah, mengusap bayi singa dan berfoto bersama burung-burung yang jinak di sana.


Marina pun sangat suka tempat itu karena pemandangannya yang indah dan cocok untuk berfoto-foto. Abigail banyak mengabadikan foto istrinya dan kadang foto berdua menggunakan handphone miliknya.


Mereka juga sempat menonton atraksi burung dan singa laut. Atraksinya sangat memukau tapi Farrel sudah kelelahan hingga ia tertidur pulas. Setelah puas, mereka makan siang di sana.


"Nanti malam kita bisa coba menaiki kapal melewati sungai Thames, bagaimana?" tanya Abigail pada sang istri.


Mata Wanita itu langsung terpukau. "Wah, pasti romantis ya?" Ia menyatukan tangannya.


"Oh, jelas. 'Kan kita sedang berbulan madu, Sayang." Pria itu mengingatkan. Ia menoleh pada Isy. "Oh, kamu nanti ikut ya? Jadi kita istirahat dulu di hotel."


"Baik Pak."


----------+++----------


Mereka memasuki kapal dan memilih tempat duduk. Abigail memilih tempat di tengah dan yang lain mengikuti. Isy sang babysitter duduk di belakang Abigail dan Marina sambil menggendong Farrel. Di samping mereka ada jendela kaca dengan pemandangan gedung-gedung yang indah di pinggir sungai. Gedung-gedung itu juga sangat indah di waktu malam.


Seiring dengan berjalannya kapal laut yang berukuran sedang itu, mereka melihat jembatan yang sangat terkenal di London karena akan terangkat saat ada kapal yang tinggi melewati jembatan, juga melihat katedral, menara, juga musium. Juga ada bianglala besar yang berputar dengan lampu-lampu yang menghiasi bianglala itu. Sungguh pemandangan yang indah di waktu malam.


Setelah selesai, mereka makan malam di sebuah restoran Malaysia dekat situ. Selagi makan, handphone pria itu berdering. Segera ia mengangkatnya setelah melihat siapa yang menelepon. "Hallo Granpa(Halo kakek) ...." setelah berbicara singkat, ia menutup teleponnya. "Granpa sudah di ruang tunggu pesawat. Sebentar lagi ia berangkat dari Thailand."


"Mmh." Marina hanya mengangguk-angguk saja sambil menikmati makanannya.


Pria itu tampak bingung.


"Ini enak juga rendang Malaysianya."


"Mmh?"


"Boleh nambah gak?" Wanita itu menatap suaminya.


"Astaga."


"Daripada penasaran, Bang. Pastikan bahwa rendangnya enak."


Pria itu hanya terperangah.


"Janji, Bang. Kali ini aja begini. Soalnya ke London makan rendang kapan lagi?"


Abigail menggeleng-geleng kepalanya.


Sementara, babysitter Isy sibuk menahan tawa.


---------+++--------


Farrel pagi itu sedang senang berguling-guling di atas ranjang. Babysitter Isy, menemaninya di samping.


"Bagaimana kalau hari ini kita beristirahat di hotel saja? Di luar masih hujan," sahut pria itu mengintip di jendela.


Ya, hari itu sejak dini hari, hujan. Inggris adalah negara yang tinggi curah hujannya, seperti pagi ini.


_________________________________________