
Abigail memakan es krim sisa Marina.
"Eh, tapi itu bekasku," ujar wanita itu.
"Mmh, maksudnya bagaimana?" Pria itu terpaksa berhenti memakannya. Bukankah itu maksudnya tadi?
"Masa Kakak makan bekas aku, Kak?"
"Jadi?"
"Eh, buang saja."
"Oh, begitu maksudmu. Ya sudah." Abigail membuangnya di tempat sampah. Ia membersihkan tangan dengan tisu dan kembali ke tempat duduk di meja segi empat itu. Ia mencoba menikmati kopinya.
Ada rasa aneh menjalar pada keduanya. Marina yang tengah membantu Farrel mengedot susu botol dalam gendongan, sedang menenangkan debar jantung yang tertinggal saat pria itu membersihkan mulutnya tadi. Duh, Kak Abigail kenapa ganteng banget sih? Jantungku jadinya gak kuat kalau dekat-dekat dengannya. Apa dia gak sadar itu? Hah! Ia menghela napas pelan.
Abigail pun dalam diam, berusaha fokus meminum kopinya. Sesekali ia melirik Marina. Saat Marina ikut juga melirik, pria itu pura-pura melihat ke arah lain.
Aduh, tadi dia salah sangka gak ya? Sumpah, demi Tuhan! Tadi aku reflek membersihkan mulutnya, bukan berniat yang lain, tapi kesempatan melihat matanya dari dekat itu lho yang ... anugrah. Aduh, aku sampai lupa diri. Memalukan! Pria itu mengusap wajahnya, gusar. "Eh, tadi aku tak bermaksud ...."
"Eh, apa?" Wanita itu pun terkejut. Di-dia bermaksud apa ya? Marina malah panik.
"Eh ...." Abigail melihat mata menunggu Marina, hingga ia makin kebingungan. Aku mau ngomong apa sebenarnya, ya Allah! Jantungku makin berdebar-debar. "Maaf." Hanya kalimat itu yang keluar.
"Mmh, apa?" Netra wanita itu makin kebingungan dan butuh penjelasan.
"Eh ...." Pria itu tak tahu harus bagaimana. "Tadi menghapus ... lipstikmu," ucapnya hati-hati.
"O-oh, tidak apa-apa." Aku pikir apa. Aduh, jangan terbawa arus dong, Marina. Duda tampan itu tidak sedang menggodamu, jadi jangan berpikir yang tidak-tidak.
Huh ... rasanya aku akan sering-sering berkhayal bila sedang bersamanya.
Farrel pun tertidur. Mereka pun kemudian pulang menuju apartemen.
------------+++---------
Abigail bolak-balik di depan pintu kamar Marina. Dia sedang apa ya? Farrel tumben jam segini masih belum bangun. Farrel, anak Papa bangun dong! Bangunin Tante Marinanya, biar dia keluar.
Pria itu berdiri di depan pintu. Aduh, apa bakal lama bangunnya ya? Yaaa, Farrel ... Kamu sih gak mau bantu Papa. Pria itu tertunduk dan melangkah ke arah kamarnya dengan lemas.
Tiba-tiba terdengar suara tangis Farrel dari kamar Marina. Abigail terkejut dan buru-buru pergi ke kamarnya. Ia mengintip keluar dan melihat Marina pergi ke dapur. Pada saat itulah ia menyelinap ke dalam kamar Marina dan melihat bayi Farrel di dalam boks bayi tengah menangis.
Ia melihat ke arah meja, ada laptop Marina tengah dibuka. Sepertinya Marina tengah menulis, karena itu laptop masih menyala.
"Sst!" Abigail meletakkan telunjuk di mulut di depan Farrel. Bayi itu berhenti menangis karena bingung.
Pria itu kemudian mendekati laptop itu dan melihat apa yang ditulis oleh Marina. "Oh, ini novelnya." Pria itu mengecek nama penulis dan aplikasinya. "Marina Chan. Seperti nama orang Jepang. Apa ini nama aslinya?"
Setelah itu ia mengembalikan layar ke mode semula. Ia kembali keluar dengan melewati Farrel. "Sst, jangan kasih tau ya, Papa tadi ke sini," bisiknya pada Farrel, kemudian ia menyelinap keluar.
Di kamar, Abigail men-download aplikasi itu dan membuat akun palsu. Dengan akun palsu itu ia membuka aplikasi itu. Ia mencari novel Marina dengan nama pena itu. "Ah, ini dia." Ia segera berbaring di tempat tidur dan mulai membaca.
-------------+++----------
"Halo."
Marina yang sedang merebus botol susu Farrel, menoleh. "Oh, Kakak. Mau teh ya?"
"Ada air panas 'kan? Aku bisa bikin sendiri kok." Pria itu mengambil cangkir dan kemudian teh celup. Ia mengambil gula di botol kaca.
"Ada Kak, di atas meja. Sudah aku panasi teko listriknya."
"Mmh." Abigail lalu melangkah ke meja makan.
Setelah sarapan, Abigail kembali ke kamar. 20 menit kemudian ia keluar dengan berpakaian kantor.
Ternyata, Farrel sudah bangun dan mendengarkan lagu pada mainan gantung di boks bayinya. Ia menatap mainan yang berputar itu dengan menggerak-gerakkan kaki dan tangannya ke atas, karena senang.
"Eh, anak Papa sudah bangun ya?" Pria itu mengambil Farrel dan menggendongnya.
"Tidak usah. 'Kan ada loundry di bawah. Di-loundry saja."
"Bukanya jam berapa Kak?"
"Jam 9, tapi 'kan bisa dipanggil?"
"Dipanggil?"
"Iya. Mereka melayani ambil ke tiap unit apartemen."
"Oh, begitu, Kak. Aku baru tau."
Abigail masuk ke kamar dan keluar membawa selembar kartu. "Ini kartu namanya. Pakaian kotorku sudah aku masukkan ke dalam tas kain, jadi nanti tinggal ambil saja. Telepon mereka setelah jam 9. Mereka akan mengambilnya untukmu. Oya, kalau pakaianku ada yang sudah selesai tolong bayari dulu ya, dan kamu juga pakaiannya di-loundry juga, biar gak repot urusi cucian."
"Oh, iya, Kak. Terima kasih." Marina mengulum senyum. Bagaimana tidak? Segala sesuatunya dipermudah sejak bertemu ayah Farrel. Mengenai tempat tinggal, makan, mengurus Farrel, bahkan jalan-jalan. Ia tidak perlu lagi repot mencuci baju, bahkan pusing dengan belanja untuk keperluan Farrel.
"Nanti malam kita makan di luar saja ya? Aku mau membeli kereta bayi sama belanja di supermarket, mungkin ada yang perlu dibeli?"
"Iya, Kak."
"Ok, nanti kalau jam 6 aku belum pulang, telepon ya? Aku kadang suka lupa."
Marina mengangguk malu. Pasalnya, ia merasa seperti sudah berkeluarga bersama pria ini.
Abigail mengecup kening Farrel. "Papa pergi dulu ya, Sayang ya?" Ia memberikan Farrel pada Marina.
Saat di pintu keluar, Marina melambaikan tangan Farrel pada pria itu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Marina.
Abigail pun keluar.
Anka sedang mengintip di pintu. Ketika dilihatnya Abigail akan melewati pintu apartemen itu, ia segera menutupnya.
Sila dan Surya bersama kedua anaknya hanya melihat saja kelakuan Anka dari meja makan. Sila hanya menggeleng-geleng kepala.
"Ada apa, Ma?" tanya Surya dengan berbisik.
"Dia suka sama Marina."
Surya menahan tawa. "Cewek yang lebih tua?" bisiknya lagi tak percaya.
"Tapi Marina cukup cantik kok, walau sedikit gemuk."
Surya mengangguk-angguk dengan senyum lebar. "Ya, itu benar."
"Bercanda atau beneran nih?"
"Lho, kan aku bilang bener, 'kan?"
"Beneran? Trus aku apa?"
"Waduh ... 'kan kita sedang membicarakan orang lain, kenapa Mama yang cemburu sih?"
Sila merengut kesal.
"Iya, iya. Mama Sila yang paling cantik. Ya 'kan Dek ya?" Pria itu bertanya pada kedua anaknya.
"Iya, Mama yang paling cantik," seru Abel.
Dodo menyandarkan kepalanya pada Sila dan merangkuk lengan ibunya.
"Iya, iya." Sila tersenyum senang. Saat ia melihat ke arah pintu, Anka sudah menghilang. Lho pergi ke mana, Anka? Apa ke tempat Marina?