
"Ada apa?" tanya pria itu sambil mengerut kening.
"Eh, tidak ada." Marina segera menghampiri sang suami di meja makan. Ia memperhatikan pakaian suaminya. "Abang gak kerja?"
"Aku hari ini mau di rumah aja, menemani kamu."
Gawat ... "Bang, ke kantor aja ya? Aku mau ke rumah Ibu."
"Lho, kenapa ngak aku antar saja?"
"Ngak, Bang. Ini eh ...." Marina melirik Isy. "Aku mau ngomong soal nikahan sepupu. Abang gak kenal pokoknya, orangnya."
"Ya gak papa. Dikenalinlah, biar Abang kenal. 'Kan dia sepupu kamu."
"Eh, tapi habis itu mau keliling-keliling cari bahan untuk mas kawinnya."
"Bukankah lebih enak ditemani? Cari-cari barang seperti itu bukankah butuh seorang sopir?"
"Eh ...." Wanita itu kembali melirik Isy, kebingungan. Tiba-tiba ia mendapat ide. "Oh ya, aku butuh Isy tapi gak bisa bawa Farrel. Mungkin naik turun eskalator. Apa Abang bisa jagain Farrel?"
Pria bule itu menghela napas. "Ya, sudah," ucapnya kecewa. "Tapi hati-hati ya? My Sweety(manisku)" Ia mencubit pipi istrinya lembut.
Marina tersenyum lebar. Akhirnya ... "Iya."
"Tapi jangan mau disentuh-sentuh pria ya?"
Marina tersenyum menahan tawa. Ia memutar bola matanya tak percaya. "Honey, kamu cemburu?"
Abigail melirik babysitter Farrel. "Isy, pastikan tidak ada pria yang sengaja menyentuhnya," titahnya.
Isy hanya menahan tawa. Kenapa bule tampan seperti Pak Abigail takut istrinya digaet orang? Aneh. Kalau pergi ya cari lagi lah! Pria tampan seperti dirinya tak susah mencari istri lagi, kenapa mencemburui istri yang baru kurus ini? Di luar 'kan banyak wanita yang lebih cantik dari Ibu Marina. Apa ada yang salah dengan matanya? "Baik, Pak."
Marina begitu senang. Ia bisa pergi keluar tanpa suaminya. Hanya hari itu saja ia ingin menjahili sang suami. Ia kemudian pergi membawa Isy dengan mobil yang dibawa oleh seorang sopir rumah mereka.
Abigail menikmati menemani Farrel hari itu. Sudah lama ia tidak menengok anak satu-satunya ini membuat ia banyak menerima kejutan.
"Papa?" sahut bocah itu melihat ayahnya datang. Ia baru bangun dan menggaruk-garuk kepalanya hingga berantakan. "Mami ana? (Mami mana?)"
"Mami pergi dulu, belanja," ucap pria itu, asal.
"Hu ... cucu(susu) ...." rengek bocah itu.
"Ya udah sama Papa aja ya?"
Farrel mengangguk.
Pria itu mengulurkan kedua tangannya meraih bocah kecil itu lalu menggendongnya. Ia membawa Farrel ke dapur. "Tolong buatkan susu botolnya."
"Eh, iya, Pak." Salah seorang pembantunya membuatkan susu botol buat Farrel.
Setelah mendapat susunya, bocah itu bersandar pada pria itu dan menunjuk ke lantai atas.
"Mau ke mana?"
"Mmh!" ucap Farrel sambil mengedot susunya. Alisnya bertaut, berkeras menunjuk ke lantai atas.
"Mau ke mana, ke kamar lagi?" tanya pria itu, memperjelas.
Farrel mengedot susu botolnya dengan masih menunjuk ke atas.
"Iya, iya. Papa ke atas." Abigail kembali menaiki tangga.
Setelah sampai ia berbelok ke arah kamar Farrel. Pria itu tidak tahu apa yang diinginkan bocah itu. Ia menoleh pada bayi besar itu. "Apa kamu mau balik ke tempat tidurmu?"
Bayi itu menggeleng. Ia menunjuk pada rak mainannya. Pria itu mengikuti. Farrel menunjuk pada sebuah tumpukan buku yang membuat Abigail heran. "Kamu mau ini?"
Karena Farrel masih mengedot, ia hanya menunjuk saja.
Abigail melihat beberapa buku dongeng di sana. "Kamu mau ini?"
Bocah itu tetap menunjuk ke arah buku-buku itu.
Pria itu dengan satu tangan menurunkan pagar pembatas tempat tidur Farrel setelah itu ia duduk di tepian. "Ini cerita tentang si kucing Rassya." Ia memulai. "Kucing ini sedang tidur di karpet nenek. Sang nenek ...."
"Mmh!" Farrel langsung protes. "Mami ... mmh!" Ia menghentak-hentakkan tangannya.
"Kenapa? Papa salah apa?" tanya pria itu bingung.
"Eong, eong ...."
"Apa? Papa gak ngerti."
"Eong, eong!" Bocah itu mulai kesal.
"Eong, eong?" Pria itu melongo.
"Eong, eong huuu ...." Farrel berhenti mengedot dan menangis.
"Iya, Sayang, tapi Papa gak ngerti. Eong, eong itu apa?"
"Eong, eong huu ...." Farrel masih menangis.
Abigail terpaksa memeluknya. "Duh, eong, eong itu apa sih," gumamnya. Terpaksa pria itu menelepon istrinya. "Marina, maaf. Ini kenapa Farrel minta dibacain buku tapi dia nangis 'eong, eong'?"
"Oh, tentang si kucing Rassya ya?" tanya wanita itu diujung sana, segera tahu apa yang suaminya baca. Ia bisa mendengar tangis Farrel di telepon.
"Iya."
"Meong, meong maksudnya. Aku kalau baca itu selalu diawali dengan 'meong, meong' jadi dia senang."
"Oh, gitu. Ya Allah. Anak kalau udah kena 'demam Mami Marina' susah deh!" ledek pria itu pada istrinya. "Bapaknya jadi nomor ke seratus. Gak ngerti apa-apa."
Marina tertawa.
"Ya udah, aku coba." Abigail mematikan handphone-nya. Ia melihat Farrel yang kedua matanya basah karena air mata. "Duh, anak Papa. Iya, ini Papa ulang lagi ceritanya ya?" Pria itu mengusap air mata di pipi bocah itu. Ia kembali membuka buku itu dan membacanya. "Meong, meong, ini cerita si kucing Rassya."
Abigail memperhatikan, Farrel mengambil botol susu dan mulai mengedot lagi. Pria itu kemudian meneruskan ceritanya. "Meong, meong, kucing ini sedang tidur di karpet nenek."
Misi akhirnya berhasil. Ia berhasil membuat bayi besar itu mengantuk dan tertidur. Pria itu kemudian meletakkan bocah itu pada ranjangnya. Ia mengusap poni bocah itu yang sudah terlelap. Begitu cepatnya Farrel besar hingga bisa protes dan ngambek. Pria itu tersenyum ketika mengingatnya.
Ah, daripada bikin masalah lagi, lebih baik aku temani tidurnya. Pria itu naik ke atas ranjang dan memasang lagi pagar pembatas tempat tidur itu. Ia kemudian tidur bersama anaknya.
------------+++------------
"Sayang, kok kamu cepat tidurnya? Biasanya kamu nulis dulu baru tidur," tanya Abigail melihat istrinya tidur cepat malam itu. Padahal ia belum lama pulang.
"Tidak apa-apa. Aku ingin begadang nulis, jadi tidur cepat," sahut Marina yang sudah memejamkan mata, berbaring di atas ranjang.
Pria itu akhirnya juga naik ke atas ranjang. "Jangan sering-sering ya, Sayang. Tidak baik untuk kesehatanmu."
"Mmh, iya," sahut istrinya yang mulai nyaman tidur.
Abigail kemudian mendekat dan memeluk istrinya. Ia tidur dengan masih mendekap sang istri.
---------+++----------
Tiba-tiba pria itu terbangun dan tidak menemukan istrinya. Jam berapa ini? Sepertinya masih malam. Abigail melirik jam yang menunjukkan pukul 12 lewat. Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan di pintu.
Pria itu mengerut kening. Sambil mengucek-ngucek matanya ia turun dari tempat tidur menuju pintu. Dibukanya pintu itu.
"Surprise! Selamat ulang tahun, Sayang!" Sang istri menyodorkan kue ulang tahun pada pria itu, membuat pria itu terkejut dan kemudian tersenyum lebar.
"Marina ...."
"Selamat ulang tahun yang ke 30, Sayang. Semoga makin sayang sama anak istrinya."
"Tentu dong, Sayang. Aku sangat mencintaimu." Abigail meraih pinggang istrinya dan mengecup kening. "Terima kasih, Sayang."
___________________________________________