
"Hanum, 15 menit lagi kita rapat."
Wanita cantik itu menengadah dan melongo. "Lho, Pak. 10 menit lagi 'kan makan siang?" kata sekretaris Abigail memberi tahu.
"Oh, begitu?" Pria itu tidak memeriksa jam ketika masuk. "Kalau begitu, jam satu tepat setelah makan siang, kita meeting. Aku tidak mau ada yang terlambat. Sementara aku akan memeriksa berkas-berkas yang ada di meja ruang kerjaku."
"Baik, Pak."
Sekretaris itu segera menyiapkan bahan meeting sedang pria itu segera masuk ruang kerjanya.
Abigail berusaha fokus menyortir data-data yang dibuat pegawainya. Tidak butuh waktu lama ia berhasil menyelesaikan berkas-berkas yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya beberapa hari ini. Ia lega.
Ia harus mulai memperbaiki kehidupannya yang sudah berantakan belakangan ini dengan menata diri ke kehidupannya yang baru.
Sudah masuk jam makan siang, ia harus makan, tapi selera makannya belum kembali karena itu ia memesan salad lewat online.
-------------+++------------
Marina sedang mencuci baju di kamar mandi dengan mengucek bagian yang kotor ketika terdengar bel apartemennya berbunyi. Bayi Farhan sedikit terusik tidurnya sehingga wanita itu buru-buru ke pintu dan membukanya. "Anka?"
Pemuda itu hanya tersenyum lebar dengan bungkusan plastik di tangan.
"Kamu traktir Kakak terus, Kakak jadi gak enak."
"Makanya temani Anka nonton yuk, Kak?" Pemuda itu masuk setengah membujuk.
"Memangnya kamu gak punya teman untuk pergi ke bioskop?" Marina menutup pintu.
Namun pemuda itu tak menjawab.
"Sebentar ya? Aku lagi sedang mencuci pakaian."
"Oh, iya. Santai aja, Kak."
Saat Marina masuk kamar mandi yang berada di dalam kamarnya, pemuda itu juga masuk kamar Marina menengok si kecil Farhan yang sedang tidur. Pemuda itu mengusap kepala bayi itu. Tak lama, ia keluar.
"Kak, jangan lama-lama nanti makanannya dingin, ngak enak."
"Iya, iya." Marina keluar dengan membawa ember berisi pakaian dan berjalan menuju beranda kaca. Di sanalah ia menjemur pakaian dirinya dan bayi Farhan. "Kakak cuci dulu baju yang kamu kasih buat Farhan. Mudah-mudahan muat."
"Pasti muatlah. Kak Sila 'kan yang paling ngerti ukuran baju bayi."
"Iya ... siapa lagi yang memuji kakaknya kalau tidak adiknya." Marina tersenyum lebar datang bersama ember kosong. "Mmh, wanginya enak. Apa nih?"
"Pecel ayam. Enak nih, Kak. Langganan aku."
"Mmh, jadi penasaran." Marina menarik kursinya. "Kakak buka ya?"
Saat itu wajah Anka sedikit tegang. Ia memandangi wajah wanita itu yang sedang sibuk membuka bungkus pecel ayamnya.
Senyum wanita itu sangat manis menghiasi wajahnya dengan bola mata cantik bak bidadari. Saat melihat wajahnya, orang akan lupa bahwa tubuh wanita itu sedikit gemuk. Manis wajahnya membuat orang ikut tersenyum saat melihat senyum di bibir wanita ini.
"Anka, kamu kok gak makan?"
"Eh, iya, Kak." Anka segera tersadar, tapi ia ingin memulainya ... dengan wanita ini. Ia meletakkan sesuatu di depan piring wanita itu.
"Mmh? Apa, Ka? Coklat?" Marina memperhatikan pemberian dari Anka.
"Eh ...."
Marina melirik pemuda itu dan menunggu.
"Ituu ...."
"Ya?"
"A-aku suka sama Kak Marina. Kak Marina sangat manis," ujar pemuda itu gugup.
"Eh, apa?"
Marina tak tahu harus berkata apa. Yang ada, ia tersenyum lebar. Anka memberiku coklat karena aku manis? "Anka, kamu lucu sekali." Wanita itu mengambil coklat batang yang diberikan untuknya.
Namun Anka kesal, sepertinya Marina tidak mengerti maksudnya. "Kak ...." Ia menarik lengan wanita itu.
"Iya, terima kasih, adikku tersayang." Marina mencubit pipi Anka.
Pemuda itu makin merengut.
"Ya udah, makan dulu."
"Tapi nanti ke bioskop ya?"
"Iya, nanti Kakak temani."
Pemuda itu hampir terlonjak kegirangan. "Bener nih?"
"Iya, tapi ingat. Kuliah dulu."
"Iyeees." Pemuda itu semangat makan.
-----------+++---------
Abigail memandang keluar dari jendela kaca di ruang kerjanya. Di sana hujan baru saja reda. Ada tetes-tetes air yang jatuh di bingkai jendela luar dan kacanya sedikit berembun di dalam karena udara AC di ruangannya sedikit lebih dingin dari biasanya.
Pria itu berdiri dan menyentuh kaca yang berembun itu. Ia menuliskan nama istrinya di situ. Alena. Kenapa ia jadi pria semelankolis ini hari ini? Apa karena hujan? Atau karena istrinya?
Ia menulis lagi satu nama di sana. Marina, tapi cepat-cepat dihapusnya. Ia merasa berdosa meletakkan nama itu di samping nama istrinya. Harusnya, adalah nama anaknya.
Pria itu menuliskan nama satu lagi di kaca itu. Farrel. Di mana kamu sayang? Papa rindu padamu. Papa sedang mencarimu, apa kamu bisa merasakannya?
Tangan pria itu gemetar. Berjanjilah pada Papa, kau masih hidup. Dengan begitu Papa akan terus mencarimu.
Kemudian ia menggarisbawahi tulisan itu dan menulis nama Marina di bawahnya.
Ah, ada apa denganku? Pria itu menjambak rambutnya karena frustasi dan kemudian membalik tubuhnya membelakangi jendela itu. Ia menepuk-nepuk dahinya kencang agar dirinya sadar, tapi ia malah jatuh terduduk di lantai dan menangis. Ia malu. Ia tidak bisa tidak memikirkan hal lain selain wanita itu.
Ia menumpahkan tangisnya cukup lama. Setelah itu ia menghapus air matanya. Saat itu yang terlintas di kepala hanya senyum manis Marina. Akhirnya ia menyerah. Ia membebaskan dirinya untuk memikirkan wanita itu.
Setengah jam kemudian, pintu ruang kerja Abigail dibuka. Pria itu keluar dengan memakai kacamata hitam. "Hanum, aku ingin ketemu dengan Pak Dahlan. Apa dia ada di kantor? Kalau ada, tolong suruh dia ke ruang kerjaku karena aku ingin merekrut orang baru untuk proyek baru kita."
"Baik, Pak. Saya cari dulu." Hanum mulai mencoba menelepon.
------------+++----------
Marina menggendong Farhan dengan kain gendongan sambil melihat poster film yang sedang diputar di bioskop yang tertempel di dinding ruangan itu. Bayi itu sedang menyusu dari susu botol di tangan Marina.
"Mau yang mana Kak?" Anka datang dari belakang. Ia sudah membeli popcorn dan kola.
"Banyak yang bagus-bagus sih." Marina masih menimbang. "Apa ini aja, drama." Marina menunjuk sebuah gambar.
Anka memperhatikan. "Ngak papa, nanti aku beli tiketnya."
"Ya udah, itu aja deh."
Anka membeli tiket. Tak lama mereka sudah berada di dalam bioskop.
Anka senang dan duduk di samping wanita itu. Ia membayangkan bisa berpegangan tangan dengan wanita itu, tapi ternyata tidak bisa. Suara berisik bioskop membuat bayi Farhan rewel dan mulai menangis.
"Aduh, gimana ini?" tanya Marina "Bayi sepertinya tidak bisa dibawa ke bioskop."
Pemuda itu kembali merengut sedang Marina sudah berdiri dan hendak keluar dari bioskop. Apa lagi tangis bayi itu membuat orang-orang yang menonton di sekitar menoleh karena berisik.
Marina mengangguk-anggukan kepala memohon maaf. Ia keluar dengan diekor Anka.
"Maaf Anka, bukan Kakak gak mau menemani. Kondisi kakak seperti ini sekarang, bagaimana?"
Dengan masih merengut Anka mendekati bayi itu dan mencium keningnya. Ia kemudian menatap Marina. "Kak." Pemuda itu mencium kening wanita itu.