Author And The Baby

Author And The Baby
Pikirkan



"Alhamdulillah ya?" ucapan Abigail malah membuat dirinya jadi sorotan tajam Alan.


"Eh, Alan. Gak boleh begitu. Ngak sopan itu!" Ibu yang melihat perhatian Alan yang sinis pada Abigail, menepuk-nepuk bahu anak laki-lakinya itu.


"Eh, tidak apa-apa, Bu," sahut pria bule itu lagi.


"Eh, tidak. Alan tidak tahu kalau kau banyak membantu kami."


"Ah, itu tidak usah disebut-sebut Ibu. Aku jadi malu."


Ibu menatap Abigail. "Ah, Nak ini bisa saja."


"Jadi katanya gimana, Bu?" tanya Marina serius.


"Nah, itu. Besok katanya boleh pulang, tapi 'kan ibu bingung mengurusnya. Ibu rasanya butuh pembantu di rumah, apalagi kalau harus bawa Alan periksa ke rumah sakit. Ibu gak bisa sendiri kalau keadaannya masih seperti ini," terang ibu pada Marina.


"Ya sudah. Ibu punya orang gak, kira-kira yang bisa bantu ibu, gitu. Marina nanti tinggal bayar aja, orangnya."


"Ada sih, bekas pegawai Ibu. Dia masih nganggur. Dia mungkin bisa diminta tolong."


"Dibayar perbulan juga gak papa, Bu, biar Ibu gak sendirian ngurus Alan."


"Iya, iya. Coba ibu tanya dulu ya?"


"Begini saja. Kita minta dirawat di rumah sakit saja, bagaimana, Bu?"


Ucapan pria bule itu membuat keduanya menoleh.


"Apa bisa begitu?" tanya ibu ragu-ragu.


"Ya, sampai Alan bisa berjalan lagi. Kita bisa sewa salah satu suster di sini untuk merawat Alan. Atau mungkin dua, tidak apa-apa. Saudaraku ada yang kasusnya seperti itu soalnya. Keluarganya sibuk semua, jadi tidak ada yang bisa menemani."


Ibu melebarkan matanya. "Wah, pasti biayanya mahal, iya 'kan?"


"'Kan sudah Saya bilang, ibu tidak usah memikirkannya. Ibu tinggal jenguk dan temani Alan di rumah sakit semampunya, jadi ibu tidak usah menginap."


Ibu menghela napas pelan dan melirik Marina. "Terserah kamu saja, Na." Ibu terlihat pasrah.


Marina menarik lengan duda itu, menjauh. "Kak, ini mahal lho," bisiknya.


"Kamu mau ibumu susah atau bagaimana? Tidur di rumah sakit itu gak enak lho, karena gak ada tempat tidur buat yang nunggu di kelas ini. Jadi, mau tak mau ibumu harus tidur di lantai. Apa ibumu kuat? Jangan-jangan ibumu jadi yang berikutnya sakit, bagaimana?"


Marina terdiam menatap Abigail. Ingin sekali ia membantah, menolak campur tangan pria itu, tapi ia benar-benar butuh uluran tangan pria itu, tak bisa tidak. Wanita itu menghela napas pelan. "Tapi itu hutang ya? Aku akan bayar."


"Iya, aku gak masalah."


"Tapi pilih jangan yang mahal." Marina masih mewanti-wanti.


"Iya, ok."


Marina mengerucutkan mulutnya tanda ia masih keberatan tapi ia sudah putuskan menerima uluran tangan pria bule itu. Mereka kembali mendatangi ibu.


"Ya sudah, Ibu, kita ikuti saran Kak Abigail saja," sahut Marina pelan.


Ibu tersenyum senang. Setelah Abigail mengurus administrasi dan berbicara dengan dokter yang bersangkutan, Alan dipindahkan ke ruang kelas 1. Ibu bisa pulang karena sudah ada perawat yang menggantikan tugasnya mengurus Alan di rumah sakit.


Seorang suster meminta pakaian ganti buat Alan sehingga Marina harus mengambil lagi pakaian buat adiknya itu dan mengantarkan lagi ke rumah sakit. Abigail dan Marina kemudian mengantar ibu pulang.


Di rumah Marina, mereka menyempatkan diri makan malam. Selagi ibu mengemas pakaian Alan, Marina memesan makanan delivery. Mereka kemudian makan bersama.


"Ibu besok berangkat jam berapa?" tanya pria bule itu pada ibu.


Ibu melirik Marina, takut salah bicara.


"Eh, besok Kakak ke kantor bukan?"


"Aku libur kok, Marina."


"Tapi, biar Kakak beristirahat saja di rumah." Marina berusaha menolak Abigail.


Tiba-tiba, Farrel yang tidur di kereta bayi di samping Abigail, terbangun. Marina bangkit dan mendekati kereta itu.


"Farrel bagaimana? Dia butuh kamu," tanya pria itu masih tak ingin melepas Marina sendiri. Ia benar-benar takut kehilangan wanita itu.


Marina mengerucutkan mulutnya. Ia tak ingin menyusahkan Abigail.


Ibu melihat pandangan Marina yang bingung, akhirnya menarik diri. "Itu menurut pandangan ibu ya, jadi terserah saja."


Abigail tersenyum lebar. "Maunya begitu sih, Bu, tapi Marinanya ...." Abigail menggendong bayi ke dalam pangkuan.


Marina makin cemberut.


"Ya, 'kan ibu sebagai orang tua hanya mengingatkan saja agar jangan berlama-lama, tidak baik dilihatnya."


Abigail mengangguk. Marina hanya diam dan pergi ke dapur membawa tas Farrel. Sejurus kemudian wanita itu sudah kembali membawa tas tadi dan sebotol susu.


Farrel segera diam dengan hanya melihat botol susunya datang. Ia mengangkat tangan, minta botol susunya segera. "Ma ... mi ...."


"Oh, anak Papa sudah pintar bicara." Pria itu terkejut dan senang.


"Oh, sudah bisa bicara ya?" sahut ibu ikut gembira.


Marina juga tak menyangka Farrel masih mengingat panggilannya dulu waktu awal-awal mengurusnya. Ia segera mengambil bayi itu dan menyerahkan botol susu itu di tangan sang bayi. Farrel mulai pintar meminum sendiri susunya.


"Kalau kalian sudah sama-sama suka, ya sudah segerakan saja," ujar ibu lagi.


Pria itu mengangguk pelan tapi Marina masih diam.


"Kalau kau mengkhawatirkan adikmu dan ibu, ibu rasa tidak perlu."


"Tapi Alan baru saja kecelakaan, Bu."


"Kalau kamu mengkhawatirkan Alan, kapan kamu bisa berpikir untuk dirimu sendiri, Marina karena persoalan akan selalu ada. Ibu akui Alan bukan tipe mandiri tapi itu akibat kau memanjakannya. Sudah saat kau melepaskan dia, biar ibu yang akan mengurusnya mulai sekarang."


"Ibu."


"Sudah pikirkan dirimu sendiri. Kau akan menikah dengan pria ini atau tidak, agar dia bisa menikah dengan orang lain kalau kamu tak mau."


"Ibu!" Marina mengerut dahi dan kembali mengerucutkan mulutnya.


Abigail hanya tersenyum lebar mendengar pembicaraan keduanya. Ia senang orang tua Marina membantunya.


Dalam perjalanan ke rumah sakit Marina hanya terdiam. Abigail yang tidak ingin mengganggunya membiarkan wanita itu dalam kesibukannya berpikir. Begitu pun saat kembali pulang.


Di rumah, saat pria itu hendak masuk kamar, Marina memanggilnya. "Mmh, Kak. Boleh aku minta waktu lebih untuk berpikir?"


"Ya sudah, tidak apa-apa."


"Maaf ya, Kak." Wanita itu tertunduk.


Abigail menghela napas pelan. " Aku 'kan tidak bisa apa-apa kalau kamu meragukanku."


"Bukan itu, Kak." Marina mengangkat wajahnya dengan dahi berkerut.


Pria itu terdiam sesaat. "Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, Marina, tapi perlu kau tahu aku bingung apa kamu benar suka sama aku atau tidak sebab aku benar-benar suka padamu. Kalau kamu merasa terpaksa karena aku telah membantumu, padahal hatimu tidak denganku, sebaiknya jangan. Aku lebih baik patah hati lebih awal dari pada aku terlanjur mencintaimu lebih jauh lagi."


Wanita itu tiba-tiba meraih tangan Abigail. "Aku mencintaimu, Kakak. Aku mencintaimu."


"Komunikasikan masalahmu, agar kutahu apa yang kutunggu."


"Mmh, aku masih memikirkan Alan."


"'Kan, ibumu sudah bilang tadi."


"Ya, ibu bilang begitu agar aku tak terbebani."


"Marina, kenapa kau tidak berbagi saja denganku?"


Wanita itu menatap lekat wajah pria bule itu.


"Kita menikah ya?"


________________________________________


Yuk, yuk, kepoin yang satu ini.