Author And The Baby

Author And The Baby
Kecelakaan



"Kak, Kakak cemburu?" Marina hampir tak percaya.


"Memangnya kenapa? Aku tak boleh cemburu?"


"Eh, bukan begitu. Aku wanita gendut yang tidak mungkin disukai banyak pria. Itu tidak mungkin. Kakak aku rasa terlalu berlebihan."


"Marina ...."


"Aku bukan orang yang suka berpikiran macam-macam, Kak. Percayalah. Saat ini kepalaku penuh dengan membuat novel baru jadi tidak ada ruang untuk berpikir yang lain-lain."


"Tidak juga hubungan kita?"


Marina menghela napas pelan. "Nanti ya, Kak. Setelah masalah novelku agak lengang."


"Kapan itu? Marina ...."


Tiba-tiba Marina membekap mulut pria itu dari depan dan mendekati wajahnya agar berhenti bicara. "Tidak bisakah Kakak sedikit percaya padaku? Aku tidak sedang menghindarimu."


Mata mereka beradu dengan kedekatan yang dapat terukur, hanya bedanya, Abigail sedikit menunduk dan Marina mendongak.


Perlahan pria itu menurunkan tangan Marina dari mulutnya. Kedekatan itu begitu menyenangkan. "Kadang, aku ingin dimanja olehmu."


Wanita itu bergegas mundur sambil menjatuhkan pandangan. Ia kini bingung menentukan sikap.


"Aku tahu, ini bisa menjurus ke dosa kalau kamu terus membiarkanku. Kau turut bertanggung jawab untuk itu karena kamu terus menggantungku," lanjutnya dengan sedikit nakal.


"Apa sebaiknya kita tidak saling bertemu dulu?" Marina menawarkan opsi lain. Ia tampak serius.


"Apa?" Pria itu dengan segera meraih tangan wanita itu lagi. Ia hanya bercanda, tapi malah panik. "Kau mau pergi ke mana?"


Marina mengusap lehernya dari balik jilbab. "Aku tak tahu bagaimana menjawabmu. Aku ...."


Abigail merasa bersalah dan berpikir cepat. "Ok, ok. Maaf. Mungkin aku terlalu mendesakmu. Aku ...." Ia menatap wanita di depannya lekat. "Aku tak mau kehilanganmu. Aku sudah susah payah menemukanmu dan aku tidak ingin lagi kehilanganmu. Biarlah aku coba bersabar. Mungkin ... sebentar lagi aku akan mendapatkan jawabannya 'kan?" Pria itu berharap Marina mengangguk tapi nyatanya tidak.


Wanita itu menatapnya dengan wajah kebingungan.


"Mmh, ini ujian yang harus kulalui ya?"


"Mmh, aku bukan Tuhan, Kak. Aku sedang tidak mengujimu. Aku ...."


"Aku yang cerewet. Tidak apa-apa. Mulai hari ini aku akan mencoba bersabar." Pria itu melepas genggaman pada tangannya pada Marina, kemudian melangkah ke arah pintu. "Anggap saja tidak ada pembicaraan, barusan. Kita sedang bermimpi dan kini telah terbangun. Iya 'kan?"


Marina kembali menghela napas pelan dan mengangguk. Ia mengikuti langkah Abigail di belakang.


Tiba-tiba terdengar suara dering telepon. Itu dari HP Marina, karena itu wanita itu memeriksanya. Oh, Alan. Ia segera mengangkatnya sambil melewati Abigail dengan jalan mendahului keluar lalu menutup pintu.


Siapa yang menelepon, Marina? Kenapa ia bersembunyi? Abigail yang penasaran, bergerak ke pintu dan mengintip dari sana dan terkejut. Marina tengah menangis sambil menelepon. Ia menutup teleponnya.


"Marina? Ada apa?" Pria itu langsung keluar dan mendatanginya.


"Alan, Kak." Butiran air matanya berjatuhan.


"Kenapa dengan Alan?"


"Kata ibu, Alan kecelakaan. Sekarang ditunggui ibu di rumah sakit. Kasihan Ibu, sendirian. Alan juga masih pingsan." Marina bergerak ke arah tangga. "Aku pamit mau menengok adikku dulu, Kak." Ia mengusap pipinya yang mulai basah dengan air mata.


"Eh, tunggu, Marina. Biar aku antar." Abigail mengejar.


"Eh, tapi Kak. Bagaimana dengan Farrel?"


Abigail tertegun. Terdengar tangis bayi dari kamar Farrel. Pria itu langsung meraih tangan wanita itu. "Aku bilang, aku akan mengantarmu, tapi urus Farrel dulu, aku mohon."


Marina kembali ke kamar Farrel dan mengeluarkan bayi itu dari tempat tidur. Ia membawa Farrel ke lantai bawah.


Salah seorang pembantu dengan sigap membantu Marina membuatkan susu Farrel, setelah itu menyerahkannya pada wanita itu.


"Ayo, kita langsung saja ke rumah sakit."


Marina mengikuti pria itu sambil menggendong Farrel yang mengedot botol susunya.


Mobil memasuki halaman rumah sakit dan parkir di sana. Saat turun, Abigail mengambil alih Farrel hingga Marina leluasa mencari keberadaan kamar perawatan adiknya. Pria itu hanya mengekor dari belakang.


Ketika Marina menemukan kamar perawatan Alan, Abigail memilih menunggu di luar. Pria itu tahu, Marina pasti belum ingin memperkenalkan dirinya pada keluarga wanita itu.


"Aku tunggu di luar saja, Marina. Lagipula, Farrel masih belum tidur. Aku tunggu sampai kamu selesai."


Marina terharu dengan kepercayaan pria itu padanya. "Tapi bagaimana kalau aku harus menginap?"


Abigail bingung mendengarnya. "Eh ... aku akan tunggu di sini."


Jawaban singkat pria itu memberi tahu bahwa ia pun tak tahu jawabannya. Marina kemudian masuk ke dalam kamar perawatan.


"Ibu!"


"Marina ...."


Ibu dan anak itu saling berpelukan. Ibu menyingkap ke samping jilbabnya yang sedikit panjang. Mereka melepas pelukan.


Marina kini menatap ke arah ranjang rumah sakit di mana Alan terbaring pingsan. Di beberapa bagian tubuhnya terbalut oleh perban dengan wajah mengenaskan. Wajah pria itu sedikit lebam dibagian pipi kirinya.


"Apa yang terjadi dengan Alan, Bu?" Marina tak tega melihat kondisi adiknya yang terlihat cukup parah.


"Dia mabuk. Padahal dia pulang menumpang dengan mobil temannya tapi ternyata temannya itu juga mabuk. Temannya tewas di tempat sedang dia luka parah."


"Luka parah bagaimana, Bu?" Marina menoleh pada ibunya.


"Kata dokter, kemungkinan adikmu lumpuh."


"Ya Allah." Marina menutup mulutnya dan tak bisa menahan air matanya. "Alan, bagaimana nasibnya, Bu."


"Ibu juga tidak tahu. Ibu sendiri bingung." Wanita paruh baya itu tertunduk, sedih. "Maaf, Marina. Ibu tidak punya biaya untuk memasukkan adikmu ke rumah sakit tadi, jadi ibu terpaksa meminjam uang pada Pak Seno lagi dengan perjanjian mempertemukan kamu dengannya di sini."


"Ibu!" Marina terkejut. "Padahal kalau ibu telepon aku tadi, pasti aku akan usahakan uangnya."


"Tapi tadi Ibu sangat takut adikmu kenapa-kenapa karena temannya meninggal di tempat jadi ibu terpaksa meminjam uang dari Pak Seno lagi karena saat itu adikmu sudah harus cepat mendapat tindakan. Maafkan Ibu, Marina. Ibu menyusahkanmu." Ibu hanya bisa menunduk.


Marina segera menghapus air mata dan memeluk ibunya. "Tidak, Bu. Ibu tidak salah. Ibu tidak salah, Bu."


Sementara itu di luar, Abigail pergi ke loket untuk mencari tahu biaya pengobatan Alan. Ia kemudian mengetahui bahwa seseorang telah membayar biaya rumah sakit Alan. "Siapa yang telah membayarnya ya?"


"Anda siapanya, Pak? Keluarga?" tanya petugas pembayaran.


"Eh, iya. Saya keluarganya."


"Tadi dia meninggalkan kartu namanya untuk pembayaran berikutnya. Namanya ... Seno," ucap wanita itu mengecek kartu namanya.


"Seno ... Langitan?"


"Oh, iya. Benar, Pak."


Abigail mengerut dahi.


Sementara itu, seseorang memasuki kamar perawatan Alan. Pria itu tersenyum melihat keberadaan Marina seperti yang dijanjikan ibu Marina sendiri.


"Halo Marina. Apa kabarmu?"


Kedua wanita yang sedang berpelukkan itu segera menyudahi keakraban mereka karena kehadiran pria itu.


Marina segera menghapus air matanya dengan kasar. Ia tertunduk.


"Aku kangen padamu, Marina. Sudah lama kita tak bertemu. Kau ... makin cantik saja hari ini." Pria dengan usia matang dan bertubuh agak gempal, tersenyum menatap wanita yang dirindukannya sekian lama. Walaupun ia sudah berumur 40 tahun dan mempunyai 2 istri, tapi matanya masih saja haus ingin menemukan wanita muda yang menjadi seleranya seperti Marina, wanita cantik dengan tubuh sintal.


___________________________________________


Yuk, kepoin novel yang satu ini.