
Abigail pun menyadari ada yang salah dengan ucapannya dan tak tahu bagaimana cara berkelit saat Marina menatapnya selain tertawa perlahan. "Bercanda."
Diluar dugaan wanita itu memukul bahu pria itu. "Kamu bikin kaget, ih!"
Abigail tergelak. "Iya, maaf."
Marina mengurut dada, karena sempat membuatnya jantungan. Mulutnya mengerucut karena kesal.
"Ya, udah. Buatkan dulu susu buat Farrel. Nanti biar aku yang menunggui dia minum susu botolnya."
Marina melirik pria itu sekilas dengan masih merengut karena masih kesal. "Aku pikir tadi ...." Dengan suara sesal.
Tiba-tiba pria itu mendekat dan ... mengecup kening wanita itu. "Mmh, udah tuh. Penyemangat. Jangan ngambek terus. Ayo bikin susunya. Kasihan Farrel." Dan Abigail pergi keluar sambil menggendong Farrel.
Marina terperangah. Apa? Dia benar-benar menciumku? Apa mataku tak salah? Tapi ... dia benar-benar mencium keningku tadi. Sampai sekarang masih terasa. Wanita itu menyentuh keningnya.
"Marina."
"Oh, iya, iya." Marina segera ke dapur melewati meja makan tapi tak berani menatap Abigail yang duduk di sana.
Pria itu hanya melihat saja wanita itu pergi ke dapur sementara ia menggoyang-goyangkan tubuh mungil Farrel agar berhenti menangis. Ada sebersit rasa bersalah menghantuinya, kenapa tadi mengecup kening Marina. Bagaimana ia akan menjelaskan yang ini? Ia telah mengecupnya dan tak mungkin bilang 'bercanda', karena ia telah melakukannya.
Bilang hanya sekedar teman, tapi tak mungkin karena perasaanku tidak begitu. Bilang serius, tapi bagaimana menyatakannya? Ah, ayolah Abigail! Sampai kapan kamu akan ragu-ragu begini terus? Bukankah kamu juga ingin hubunganmu dengan Marina punya status baru? Daripada ada yang mengincarnya lagi ....
Marina datang dengan botol susu Farrel. "Ini Kak." Ia ikut duduk.
Pria itu mengambil botol susu dan memberikannya pada Farrel. Bayi itu langsung mengedot botol susu itu dengan bersemangat.
Abigail sibuk berpikir untuk menata ucapan sambil menatap bayi itu sedang wanita itu sepertinya juga gelisah.
"A—"
"Aku sholat dulu ya?" sahut Marina.
"Oh, iya."
Marina kemudian pergi ke kamarnya. Abigail memejamkan matanya sejenak. Apa dia salah sangka? Apa yang dipikirkannya?
Sementara pria itu berkutat dengan pikirannya, tak lama wanita itu kembali keluar. "Oh, Marina ...."
"Aku sudah selesai, Kak. Biar aku gendong, Farrelnya. Kakak 'kan mau sholat."
"Oh, iya. Subuh ya?" Pria itu masih ingin menjelaskan pada Marina tapi ia harus mengejar sholat Subuh. Abigail menyerahkan bayi itu dan kembali ke kamar.
Tak lama Abigail keluar tapi ternyata wanita itu sudah tidak ada. Mau apa lagi, pasti Marina telah menidurkan Farrel di boks bayi di kamarnya. Ia terpaksa masuk kembali ke kamar.
Masih terlalu pagi. Mungkin agak siang, saat sarapan aku akan mengatakannya.
Agak siang ternyata Marina telah lebih dulu duduk di kursi meja makan sambil menikmati sarapannya, roti bakar.
"Eh, Kak. Mau minum teh atau kopi?" tawar Marina pada Abigail yang baru saja bangun.
Pria itu merapikan rambutnya yang berantakan dengan menyugarnya. "Teh saja, please.(tolong)"
Marina ke dapur dan membuatkan. "Pakai gula, Kak?" teriaknya.
"Iya," ucap pria itu sedikit kencang. Farrel yang tidur di boks bayi di luar sedikit terusik, tapi kembali tidur.
"Mmh."
Wanita itu meletakkan cangkir teh itu di hadapan Abigail. Pria itu mulai mengaduknya.
"Mau roti bakar?" Marina kembali menawarkan.
"Oh, tidak. Nanti saja. Aku bisa sendiri." Pria itu meletakkan kedua tangannya memeluk gelas. Hangat. Menjalar hingga ke kesadarannya. "Eh, tadi, mmh ...." Ia berusaha memulai.
Netra wanita itu kini fokus pada wajahnya. Apa yang harus dikatakannya? Abigail berdehem sebentar. "Aku ...."
Terdengar bunyi nada dering telepon dan Marina mengingatnya. Ia segera beranjak dari kursi dan melangkah ke kamar. Saat ia melihat nama si penelepon, ia terkejut. Cepat-cepat ia menutup pintu kamar dan mengangkat telepon.
Abigail kini bingung, dengan siapa Marina bicara. Seseorang yang dekat dengannya? Ia belum pernah melihat Marina mengangkat telepon. Oh, sudah! Dengan Anka waktu itu, tapi ... apa ada pria lain yang juga dekat dengannya?
" ... Alan ...." Terdengar nama seorang pria di sebut Marina sedikit keras, dan terdengar oleh Abigail. Apa itu nama pacarnya? Kenapa dia tidak pernah mendatangi Marina? Ah, jangan-jangan yang waktu itu ia melarikan diri ke kantor adalah karena pacarnya itu, mungkin. Mereka masih pacaran tapi sekarang sedang marahan sehingga mereka tidak mau bertemu. Pria itu mengusap kasar wajahnya karena bimbang dengan pikirannya sendiri.
Di dalam kamar, Marina sedang pusing dengan permintaan Alan, adiknya yang minta dikirimi uang. "Kakak gak megang uang banyak, Alan."
"Bohong! Buktinya sampai sekarang Kakak masih tinggal di apartemen!"
Marina ingin mengatakan bahwa ia sedang bekerja, tapi pasti adiknya makin merongrongnya dengan uang bulanan. "Tapi 1 juta itu banyak, Alan! Apa benar ibu sedang sakit?"
"Kakak kok gak percaya sih? Udah uang bulanan gak dikirim, minta satu juta aja gak dikasih. Apa gak pelit namanya? Ini udah termasuk uang pengobatan ibu lho, Kak! Kakak enak-enakan di apartemen yang bayarannya selangit, uang satu juta aja susah keluarnya. Ini untuk ibu lho, Kak. Kalo ibu kenapa-kenapa, Kakak mau tanggung jawab?" seru Alan sengit.
"Bukan begitu. Kamu tidak berusaha cari kerja? Ibu di mana? Tolong berikan telepon ini pada Ibu, aku ingin bicara."
"Eh, ibu lagi pergi berobat. Aku lagi di depan rumah mau pinjam uang ke tetangga. Atau apa aku pinjam saja pada PAK SENO ya?" Alan menyebut nama pria itu dengan penuh penekanan.
Mendengar nama lintah darah genit itu, Marina buru-buru menjawab. "Jangan! Ya udah, nanti Kakak kirim 500 ribu dulu ya? Sisanya nanti Kakak carikan."
"Lima ratus?" Terdengar helaan napas kesal dari pria di ujung sana. "Ya, sudah. Cepat saja kirim!"
Marina menutup teleponnya dengan menghela napas pelan. Padahal ia sedang berpikir untuk menabung, membayar hutang ibunya yang entah kapan bisa ia selesaikan, sementara meminta adiknya menitipkan uang angsuran rasanya tak mungkin karena berita ini saja ia masih belum percaya, ibu sakit.
Sejak mabuk-mabukan Alan sering berbohong sehingga ia harus menyelesaikan segala sesuatunya sendiri, sejak itu.
Marina melangkah keluar kamar dengan pelan. Nafsu makannya seketika hilang saat melihat roti bakarnya.
"Siapa Marina?" tanya Abigail hati-hati.
Marina menggeleng dan tertunduk. Pria itu tak berani bertanya lagi.
Apa aku pinjam saja dulu sama Kak Abigail ya, nanti potong gaji saat gajian. Lagipula uang gajiku pasti jarang aku pakai karena sering ditraktir Kak Abigail.
"Kak, aku boleh pinjam uang gak, Kak? Nanti potong gaji deh, gak papa." Wanita itu memberanikan diri meminta.
Abigail menatapnya. Apa pria itu pengangguran? Hah, kenapa Marina menyulitkan dirinya sendiri dengan pria itu. Apa karena itukah kamu lari ke kantorku dulu? Marina ... Marina. Kenapa tidak kau terima aku saja dibanding pria pengangguran berengsek itu? "Berapa?"
"Lima ratus ribu aja, Kak. Lagi ada kebutuhan."
"Mmh, begini saja. Aku akan memberi gajimu duluan, tapi dengan 1 syarat."
"Apa Kak?"
"Kamu ikuti program diet yang kubuat!"