Author And The Baby

Author And The Baby
Bantuan



Marina berguling di tempat tidur. Masih teringat bagaimana Abigail menyatakan cinta padanya tadi. Ia masih belum yakin hingga mencubit lengannya agar segera sadar. Aduh, Marina, ini sakit, ini nyata. Ini benar-benar nyata. Kamu tidak sedang bermimpi, ia berusaha meyakinkan dirinya sambil mengusap-usap bekas cubitan yang terasa sakit.


Padahal aku sedang gendut-gendutnya, kok dia mau sama orang gendut seperti aku ini ya? Ini membingungkan. Ia menyentuh pipinya. Apa dia sedang khilaf? Ah, manfaatkan saja khilafnya sebelum ia sadar. Ia terkekeh sendirian.


Rasanya aku akan sulit tidur malam ini. Bagaimana dengan menulis saja? Oh, iya, bagian terakhir novelku!


Marina duduk dan turun dari ranjang. Ia mendekati meja di mana laptopnya kini berada seraya menengok si kecil yang masih tertidur nyenyak.


"Haciuh!" Wanita itu bersin. Hah, kenapa lagi ini? Ia menggosok-gosok bawah hidungnya. Wah ... pasti gara-gara menunggu di luar restoran tadi. Aduh, mudah-mudahan tidak flu. Ah! Aku juga makan es krim pula lagi. Lengkap sudah. Ia menepuk dahinya. Mudah-mudahan besok ngak sakit, mudah-mudahan besok gak sakit, ulangnya dalam hati sambil menggosok-gosokkan tangan dan berdoa.


---------+++--------


Terdengar ketukan di pintu. Abigail terpaksa bangun. Ini jam berapa? Ia melirik pada jam di atas meja. Oh, sebentar lagi Subuh, tapi ... siapa yang mengetuk pintu? Ah, pasti Marina. Bodohnya ....


Pria itu turun dari ranjang dan segera membuka pintu. "Marina?"


Wajah wanita itu sedikit pucat dengan hidung memerah. "Kak, aku flu, Kak. Gimana ini? Farrel menangis." Ia memegang tisu yang ia seka ke hidungnya.


Terdengar suara bayi menangis dan Abigail baru menyadarinya. "Oh, iya, iya." Ia segera ke kamar wanita itu dan mengambil Farrel. "Duh, anak Papa. Mau susu ya?" Ia menoleh pada Marina. "Kau tak bisa buatkan Farrel, susu?"


"Bisa, Kak tapi aku gak bisa gendong Farrel karena takut ketularan." Kembali wanita itu menyeka hidungnya.


"Oh, gak papa, biar aku yang tungguin dia minum susu botolnya."


Marina segera ke dapur. Ternyata pria itu mengikutinya.


"Mau apa, Kak?"


"Aku mau lihat cara buat susu Farrel dan takarannya, biar kalau kamu sakit, aku bisa membuatnya."


Inisiatif pria itu membuat Marina terharu. "Maaf ya, Kak. Aku yang diharapkan malah tidak bisa membantu." Ia membuka sebuah kaleng susu bayi dan menyendokkannya ke dalam botol susu.


"Tidak apa-apa. Lagipula ini sebagian kesalahanku juga karena membawamu makan es krim dan membuatmu menunggu di luar restoran cukup lama semalam, jadi aku juga harus bertanggung jawab. Untung saja Farrel tidak ikut-ikutan sakit." Pria itu mengucek-ngucek matanya karena baru bangun. Rambutnya yang masih berantakan membuat wanita itu tersenyum.


"Kenapa?"


"Rambutmu."


"Oh." Pria itu segera merapikan rambutnya.


Marina tersenyum lebar. Pria itu memperhatikan proses pembuatan susu botol Farrel hingga bisa diminum. Marina menuangkan sedikit susu itu pada pergelangan tangan.


"Untuk apa itu?"


"Supaya tahu, susunya tidak terlalu panas."


"Oh."


"Ini, Kak sudah." Wanita itu menyodorkan botol susu Farrel.


Abigail menerimanya dan memberikan pada bayi itu. Dengan cepat Farrel memasukkan dot itu ke dalam mulutnya. "Makin pintar saja anak Papa sekarang minum susunya." Ia menoleh pada Marina. "Kau sebaiknya istirahat. Aku akan berikan obat flu, kebetulan aku simpan." Pria itu segera melangkah menuju kamar.


"Ini." Ia kembali dengan menyodorkan selembar obat.


"Tapi, bukannya harus makan dulu ya?" Wanita itu kembali menyeka hidungnya seraya mengambil obat itu.


"Oh, iya ya? Mmh, bagaimana ini? Apa ada delivery jam segini?"


"Pagi buta begini, Kak? Aku rasa tidak ada. Bagaimana kalau minta tolong Kak Sila? Dia ...."


"Bukankah ada roti, Marina? Kamu 'kan biasanya sarapan roti?" potong Abigail. Ia tidak mau berhutang budi pada Sila karena ia tidak ingin melihat Anka mondar-mandir di dalam apartemennya.


"Kakak sholat saja dulu, Kak. Farrel masukkan ke dalam kereta bayi. Rasanya aku bisa menjaganya selama tidak digendong." Marina mulai menggigit rotinya.


"Oh, ya sudah." Pria itu masuk ke kamarnya. Setelah menunaikan sholat Subuh ia kembali ke luar.


Di ruang tengah ia melihat Marina menggoyang-goyangkan kereta bayi sambil menyeka hidungnya.


"Marina, kau cepat tidur. Sudah kau minum obat flunya?"


"Sudah, Kak, tapi aku mau sholat dulu." Wanita itu beranjak berdiri.


"Cepat tidur ya, soalnya obatnya bagus. Kalau tidak parah, sore kau sudah sembuh."


"Iya, Kak." Wanita itu pun masuk ke dalam kamar.


----------+++----------


Pria itu kesepian. Berada di dalam apartemen tapi tak mendengar suara wanita itu membuat tempat itu terasa ada yang hilang. Padahal sekarang ada Farrel yang tidak lagi selalu tidur dan lagi lucu-lucunya, bisa diajak bercanda tapi tetap saja sepi. Tidak ada suara Marina membuat tempat itu sunyi.


Membuat teh sendiri dan sarapan sendiri, ia malah memikirkan Marina. Apakah dia bisa tidur dengan tenang? Apakah dia tidak demam? Aduh, aku lupa memeriksanya tadi. Pria itu menepuk dahinya.


Sudah 3 jam berlalu, ia penasaran dengan keadaan wanita itu. Sambil menggendong Farrel ia mengetuk pintu pelan. "Marina," panggilnya.


Tidak ada jawaban. Ia mencoba membuka pintu. Ternyata tidak dikunci, membuat Abigail leluasa masuk dan memeriksa ke dalam kamar. Rasa khawatir pria itu karena Marina pernah pingsan sebelumnya membuat ia menghalalkan kelancangannya masuk ke dalam kamar itu.


Marina terbaring di atas ranjang dengan berselimut hingga leher. Dengkuran halus yang terdengar menandakan ia tidur dengan lelapnya. Mungkin karena terburu-buru, ia tidur dengan masih mengenakan jilbab.


Pria itu menyentuh dahi wanita itu. Hanya demam sedikit. Mungkin telah reda. Ia lega.


Ditatapnya wajah wanita itu. Air mukanya mulai kemerahan. Pria itu tersenyum senang.


Tiba-tiba si kecil berisik membuat Abigail kaget. Buru-buru pria itu keluar dari kamar itu dan menutup pintu.


Ia menatap bayi dalam gendongan yang tersenyum kepadanya. "Farrel, kau membuat Papa jantungan, tau gak?" Ia mengusap wajahnya di perut bayi itu yang membuat bayi itu tertawa. "Ayo, sekarang Papa temani kamu nonton TV!"


---------+++---------


Marina keluar dari kamarnya. Dilihatnya bayi itu tertidur di dalam boks bayi, sedang Abigail tidur di depan TV yang masih menyala. Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ia kemudian mengumpulkan piring kotor yang berada di atas meja makan dan membawanya ke dapur. Di sana ia mencucinya. Setelah selesai, ia mengambil selimut dari kamar pria itu dan menyelimuti pria itu yang tertidur di sofa.


Abigail terbangun. "Oh, Marina. Kau sudah bangun?"


"Eh, iya, Kak."


"Sudah sehat?"


"Alhamdulillah."


"Alhamdulillah. Eh, jam berapa sekarang?"


"Jam setengah satu, Kak. Kakak belum makan siang ya? Mau kumasakkan sesuatu?"


"Eh, tidak usah." Pria mengusap wajahnya. "Kita beli saja, biar cepat. Kau mau apa?"


"Eh, nasi Padang."


"Apa?"