
"Uh, Sayang. Anak Papa bangun ya?" Dengan serta merta wajah garang itu berubah mencair ketika melihat si kecil terusik tidurnya. Abigail mengambil bayi itu dari tangan Marina. "Maaf ya, Papa sudah membangunkanmu. Ayo tidur lagi, Sayang. Papa temani." ucapnya lembut sambil mengusap pipi bayi itu yang terlanjur basah. Ia menggoyang-goyang tubuh bayi itu agar segera tertidur sambil menoleh ke arah ibu Marina.
"Maaf ya, Bu, saya membuat kegaduhan di sini. Maafkan Om saya yang mempersulit Ibu. Biar biaya pengobatan Alan, saya yang bantu."
"Tidak usah, Kak. Aku masih mampu membayarnya," sela Marina memberi tahu.
"Ini mungkin tidak sedikit, Marina. Adikmu butuh perawatan."
"Tapi Kakak sudah membayar hutangku, Kak. Masa harus membayar rumah sakit juga?"
"Tidak, dia takkan berani menagihmu. Kalau dia melakukan itu, dia harus membayar hutangnya dulu padaku," terang pria bule itu.
Marina dan Ibunya saling berpandangan. Mereka bingung, apakah harus menerima bantuannya atau tidak karena Abigail sudah banyak membantu meringankan beban mereka.
"Eh, sebenarnya aku malu punya Om seperti itu dan sudah menyusahkan Ibu. Karena itu, aku ingin membayar biaya pengobatan Alan untuk menebus rasa bersalah ini," ucap Abigail lagi. Ia tahu, kalau ia ingin membantu mereka, ia harus membuat mereka tidak merasa direndahkan.
"Tapi sebenarnya itu, tak perlu," sahut Ibu yang akhirnya bicara. "Kamu sudah banyak membantu kami."
"Aku belum melakukan apa-apa, Bu." Abigail merendah.
Ibu menggeleng. "Kamu sudah menberi Marina pekerjaan, tempat berlindung dan menyelesaikan masalah hutang kami. Ibu rasa bantuanmu sudah sangat banyak terhadap kami. Ibu bahkan tak tahu lagi bagaimana cara berterima kasih kepadamu."
"Ibu jangan bilang begitu. Aku menolong Ibu dengan senang hati dan tak merasa repot karenanya, sebab Marina dan aku berteman."
"Mmh? Berteman?" Ibu mengerut dahi. "Katanya tadi kamu melamar Marina? Ibu tidak salah dengar 'kan?"
"Eh ...." Abigail melirik Marina. "Sebenarnya aku sudah melamarnya tapi Marina masih belum memberi jawaban."
"Oh ... begitu." Ibu tersenyum lebar. "Kalau masalah ini, terserah Marina saja. Ibu ikut saja maunya bagaimana."
Kini Ibu dan Abigail menyorot Marina membuat wanita itu memerah pipinya.
"Untuk sementara, kita fokus pada Alan dulu ya, Bu?" Marina mengingatkan.
"Iya, baiklah."
Setelah mengobrol sebentar, Marina pamit. Ia membekali ibunya dengan sejumlah uang. "Ibu butuh apa? Marina harus pulang dulu karena bayi Farrel belum sempat dibekali apa-apa."
"Ibu sebenarnya mau pulang dulu, mengambil pakaian ibu karena takut harus menginap."
Marina menoleh ke arah pria itu. "Kakak, aku mau ambil baju ibu."
"Oh, nanti aku antar setelah pulang ke rumah."
"Apa tidak merepotkan Kakak?"
"Tidak apa-apa, Marina. 'Kan hari ini aku libur."
"Aku bisa pergi sendiri lho, Kak."
"Ck, gak usah. Nunggu kendaraan lain itu lama. Sudah, sama aku saja. Aku juga ingin melihat rumahmu."
"Rumahku kecil, Kak."
"Tidak apa-apa, ayo!"
Ibu tersenyum memperhatikan anaknya yang telah menemukan pria baik yang cocok jadi pendampingnya. Ia berharap Marina berjodoh dengan pria itu karena kelihatan sekali Abigail sangat memperhatikan putrinya.
"Ibu, aku mau pulang dulu mengurus Farrel, tapi nanti baju ibu akan aku bawakan." Marina mengambil tangan ibunya dan mencium punggung tangannya. "Kalau ada apa-apa telepon ya, Bu?"
"Iya, iya." Ibu mengusap wajah Farrel dalam gendongan anaknya. "Duh, lucunya."
Bayi itu hanya menatap ibu dengan kedua mata mungilnya yang penasaran.
Ibu mencubit pipi bayi itu dengan lembut. "Sepertinya, tidak takut ya, sama orang baru. Beda dengan anak-anak jaman dulu yang langsung menangis melihat orang baru."
Abigail tersenyum. Ia ikut berpamitan dengan ibu.
Setelah sampai di rumah, wanita itu mengisi barang-barang keperluan bayi ke dalam sebuah tas. "Kak, apa perlu Kakak ikut? Maksudku, aku cuti saja, biar pembantu mengurus Farrel, 'kan bisa? Kasihan Farrel ikut bolak-balik ke rumah sakit mengantar aku." Saran Marina.
"Farrel hanya bisa denganmu. Dia pasti nangis bila diberikan pada orang lain."
"'Kan Kakak belum coba?"
"Aku tidak mau coba-coba. Aku tidak mempercayai orang lain mengurus Farrel. Seseorang yang tidak aku kenal. Lagipula, kalau terjadi apa-apa dengan Farrel, bagaimana?"
"Apa-apa, bagaimana?" Marina membulatkan kedua matanya.
"Kalau ada yang menculiknya bagaimana?"
Seketika wanita itu khawatir dan menepuk bahu pria bule itu. "Kamu jangan nakut-nakutin, ah, Kakak!" Marina cemberut.
Abigail tersenyum lebar. Ternyata khawatir juga dia dengan Farrel.
Setelah memasukkan barang-barang keperluan bayi itu ke dalam tas, Abigail membawanya. Mereka kemudian berangkat ke rumah Marina.
Marina tinggal di sebuah perumahan sederhana yang padat penduduk. Di sana, rumah wanita itu letaknya agak jauh ke belakang dengan ukuran yang tidak besar. Rumah itu dilengkapi halaman depan yang cukup luas, cukup untuk pria itu memarkirkan mobilnya.
Marina turun dengan membawa Farrel yang sudah kembali tertidur dalam gendongan. Pria itu mengambil alih bayi itu agar Marina bisa leluasa mengerjakan tugasnya.
Wanita itu mengambil kunci dari lubang angin dan membuka pintu depan. Ia kemudian mengajak Abigail masuk ke dalam.
Marina memeriksa lemari es. "Kakak mau minum apa?"
"Eh, tidak usah, Marina. Itu hanya memperlambat pekerjaanmu saja. Cepat saja berkemas, mungkin ibumu membutuhkanmu," sahut pria itu yang duduk di kursi sofa sambil menggendong Farrel.
"Oh, ya sudah. Kalau butuh minum, ambil sendiri ya, Kak?" Wanita itu bergegas ke sebuah kamar.
Tak lama terdengar dering telepon yang berasal dari handphone Marina. Wanita itu mengangkatnya. Terdengar percakapan singkat lalu kemudian HP dimatikan. Wanita itu buru-buru keluar dengan membawa sebuah tas.
"Eh, Kak. Bisa buru-buru ke rumah sakit gak, soalnya adikku Alan, sudah bangun. Dia ngamuk-ngamuk di sana karena kakinya gak bisa digerakkan."
"Oh, bisa."
Mereka kemudian menaiki mobil dan pria itu mempercepat laju kendaraan. Sesampainya di rumah sakit, Abigail kembali mengambil alih Farrel. Kali ini karena membawa kain gendongan, memudahkan pria itu menggendong bayi itu yang masih lelap tertidur.
Pria itu tertawa. "Sepertinya aku harus membeli kain gendongan model lain, karena yang ini khusus buat ibu-ibu rumah tangga."
Senyum tersungging di bibir merah Marina. Mereka kemudian bergegas menuju ruang perawatan Alan.
Terdengar suara gaduh dari dalam ruangan dan teriakan serta tangisan.
"Kakak tunggu di luar saja ya, biar aku saja yang masuk."
"Tapi teriakkan itu ...." Abigail penasaran ingin ikut ke dalam ruangan.
Namun Marina menghentikannya di depan pintu. "Dia itu adikku, Kak. Tidak apa-apa. Tidak masalah. Jangan bawa Farrel ke dalam, kasihan."
Pria itu baru sadar, ia membawa Farrel yang masih tidur nyenyak, tapi ia mengkhawatirkan Marina. "Kalau ada apa-apa, bilang ya?" Raut wajahnya seperti tak rela wanita itu pergi ke dalam ruangan itu sendirian.
"Iya, iya, Kak." Marina segera masuk.
Terlihat adiknya menyerang siapa saja yang mendekat. Kereta alat medis tergeletak jatuh di lantai. Beberapa obat dan alat medis lainnya berserakan di lantai. Seorang suster tengah merapikan barang-barang itu dengan memungutinya.
Alan terkejut melihat kedatangan kakaknya. Dirinya kini tengah dikelilingi perawat pria yang ingin mendekat, sedangkan ibu berdiri agak jauh terlihat bingung.
"Kakak!" teriak Alan pada Marina.
___________________________________________
Yuk, kepoin novel author yang satu ini.