Author And The Baby

Author And The Baby
Siapa Dia?



Terdengar suara ketukan di pintu dan kepala seorang pria bule muncul. "Maaf, Marina. Boleh aku numpang ke kamar mandi?" Namun pria itu terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Begitu juga mereka yang ada di ruangan itu. Marina, Ibu dan juga Seno.


"Om Seno?" Abigail terkejut.


"Abigail?" Seno lebih terkejut lagi. Kenapa dia ada di sini? Kenapa pula dia kenal Marina?


Abigail masuk dengan menggendong Farrel. "Eh, Marina, aku ingin numpang ke kamar mandi, ya?" Ia menyerahkan bayi Farrel pada Marina.


"Oh, iya, Kak."


Ibu melirik Marina karena terkejut melihat bule tampan itu tampak kenal akrab dengan anaknya. "Siapa dia, Marina?" tanya ibu mendekatkan kepalanya dengan setengah berbisik.


"Oh, dia bosku, Bu. Tadi aku datang sama dia," sahut Marina menjelaskan. Wanita itu mengambil Farrel dari pria itu. Ia heran kenapa Abigail memanggil Seno dengan 'Om'. Padahal kalau dilihat dari umur, jarak umur mereka pasti sekitar 10 tahunan. Benarkah itu omnya Abigail?


Abigail menganggukkan kepalanya pada ibu yang dibalas dengan anggukkan kepala wanita itu.


"Om kenal mereka juga?" tanya Abigail melirik pria itu.


"Oh, hanya teman bisnis." Walaupun begitu, Seno tampak bingung dengan kehadiran pria itu di situ. "Kalian saling kenal?"


"Marina? Dia kerja padaku. Sebentar, aku mau ke kamar mandi. Kamar mandinya ...." Matanya mencari pintu lain di kamar itu.


"Itu, Kak, pintunya," Marina mengarahkan.


"Oh." Pria itu kemudian melangkah ke kamar mandi. Setelah masuk, Abigail bersandar ke pintu. Mmh, apalagi yang dikerjakannya di sini. Awas saja kalau buat masalah! Pria itu kemudian menuju ke toilet.


Sementara itu, Ibu dan Seno menatap Marina karena ingin kejelasan soal Abigail.


"Apa?" tanya Marina karena dipandangi oleh kedua orang itu.


"Kau kerja dengannya?" Ibu kembali bertanya.


"Iya, jadi babysitter anaknya ini," terang Marina sambil memperlihatkan bayi Farrel yang tidur dengan lelap dalam gendongan.


"Oh," sahut ibu.


Seno terlihat gelisah. Ia tidak suka keberadaan Abigail di sana karena datang pada saat yang tidak tepat, sehingga ia buru-buru menyelesaikan masalah yang sudah lama ia tunggu-tunggu. "Jadi bagaimana dengan lamaranku waktu itu, Bu? Sekarang ada Marina di sini dan masalah ini sudah ditunda cukup lama. Tolong jangan berlama-lama lagi karena saya terus terang sudah berkorban banyak mengikuti kemauan Ibu, membantu di sana sini."


Ibu melirik anak perempuannya dengan wajah bingung.


Segera Marina mengambil alih bicara. "Bagaimana kalau dicicil? Aku sedang bekerja dan walaupun tak banyak tapi aku bisa membayarnya."


"Terlalu lama. Aku butuh uangku berputar cepat. Lagipula, hutangnya berbunga 50 persen setiap bulannya."


Marina terlihat syok. "Berarti aku tidak akan pernah bisa melunasinya kalo begitu. Tiap bulan hutang kami makin banyak."


Pria itu tersenyum lebar. "Makanya, terima saja lamaranku. Semua hutang dianggap lunas."


"Hutang apa?" Abigail yang keluar dari kamar mandi, langsung bertanya.


Seno sedikit terkejut. "Oh, ini soal bisnis yang bermasalah. Bukan persoalan besar." Ia sedikit enggan bercerita.


"Mmh." Abigail melirik Marina. "Ya, sudah bayar saja Marina."


"Iya, Kak. Aku sedang usahakan," ucap wanita itu dengan suara berat.


"Kenapa? Besar? Uangmu tak cukup? Aku bisa pinjamkan," sahut pria bule itu lagi. Ia tahu, Marina pasti malu bercerita dan juga gengsi untuk minta tolong padanya karena itu ia berusaha untuk menawarkan jasa demi menjaga perasaan wanita itu.


"Oh, tidak perlu itu, Abigail. Jumlahnya sangat besar. Ia takkan mampu membayarnya," potong Seno, berusaha menyudahi.


"Lho, bukannya denganmu lebih parah. Om 'kan pakai bunga, kalau aku tidak."


Seno semakin kesal tapi ia tak mau kalah. "Tapi masalahnya sudah selesai. Marina akan melunasinya dengan menikah denganku."


Ucapan lancang Seno membuat Marina terkejut.


Kini Ibu dan Seno terkejut dan menatap ke arah wanita itu. Marina masih terlihat bingung dengan semua tawaran yang datang padanya.


"Marina, aku 'kan tidak bohong 'kan?" tanya pria bule itu pada Marina.


"Eh, iya."


"Tuh, lihat!"


Seno terlihat bingung sedang ibu masih terkejut.


"Jadi terserah kamu, Marina. Kamu mau pinjam, boleh. Aku tidak pakai bunga jadi kamu tidak perlu khawatir," terang pria bule itu lagi.


"Tapi hutangnya sangat besar, Kak." Wanita itu bingung hingga menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa. InshaAllah, aku sanggup bayar. Daripada hutang dengan bunga tinggi. Aku tahu, Om Seno pasti memberi bunga besar untuk hutangmu."


Seno mengatupkan mulutnya rapat-rapat mendengar ucapan pria bule itu. Ia tidak bisa membalas ucapan pria itu yang terdengar sangat menyebalkan untuknya.


"Bagaimana, Marina?" tanya Abigail lagi.


"Kondisinya bagaimana untuk meminjamnya?" Marina sadar, segala sesuatu pasti ada timbal baliknya.


"Tidak ada syarat apa-apa, Marina. Yang penting kamu mau menyicilnya."


Marina terharu. Padahal ia yakin, kalau Abigail mau, bisa saja seperti Seno yang menukarnya dengan pernikahan tapi pria itu tidak lakukan. Pria bule itu murni hanya ingin menolong dirinya yang terlilit hutang dan tidak lebih. Netra bening wanita itu seketika berkaca-kaca.


"Mau?" tanya pria itu lagi melihat wajah wanitanya mulai cerah.


Marina mengangguk dan mulai menitikkan air mata.


"Ok." Abigail menghapus air mata wanita itu yang terlanjur melewati pipi dengan ibu jarinya, lalu menoleh pada Seno. "Jadi hutangnya berapa?"


"Lima miliar."


"Oh, kenapa sebesar itu?" Marina terkejut. Setahunya, ibunya hanya meminjam satu miliar pada pria itu.


"Hitung saja, berapa bulan terlewati," ucap Seno dengan senyum lebar, berharap Abigail pikir-pikir lagi soal memberi wanita itu pinjaman tapi ternyata pria bule itu menyanggupi.


"Baik. Kapan perlu aku bayar? Hari ini? Besok? Kalau hari ini, aku minta kau tidak boleh menemui keluarga ini lagi."


Ancaman Abigail membuat pria itu geram tapi tak bisa berkutik. "Baiklah. Besok saja."


"Tapi, Kak, angkanya ngak segitu," terang Marina. Ia tidak mau Abigail dicurangi.


"Tidak apa-apa. Berikan saja," jawab pria bule itu tak peduli.


"Jangan sombong, kamu. Mentang-mentang ayahmu orang kaya!" Akhirnya Seno tak tahan ingin menyindirnya.


Saat itu telinga Abigail panas mendengarnya. Ia mendatangi pria itu dan menekan-nekan dada pria itu dengan kasar dengan jari telunjuk karena tak lagi bisa menahan amarah. "Kamu pikir perusahaanmu berdiri karena jasa siapa, hah? Kamu pikir itu uang Papa, begitu? Pikir!" Kini ia mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri dengan jari itu lebih kasar lagi.


"Papa sudah ngak mau lagi menolong kamu waktu itu, karena tau kamu itu siapa! Maunya ditolong tapi giliran minta tolong, pamrihnya besar!


Aku yang pinjamkan uangku waktu itu dengan nama Papa hingga kamu tidak perlu lagi tinggal di pinggir jalan karena perusahaanmu bangkrut, tapi apa? Kau benar-benar manusia yang tidak tahu berterima kasih! Apa harus aku minta uangku kembali agar kau sadar, hah?!" Pria bule itu bertelak pinggang menatap pria berwajah Jawa itu dengan garang.


Seno terkejut mengetahui kenyataan itu. Bibirnya bergetar dan mulutnya kaku seketika. Yang ia tahu, uang yang dipinjamkan saat itu bahkan lebih besar berkali-kali lipat dibanding hutang Marina.


"Lebih baik kamu pergi dari sini sebelum aku meminta uangku kembali!" Pria bule itu menunjuk ke arah pintu keluar.


Seno bergegas ke arah pintu keluar sedang bayi Farrel menangis karena mendengar suara keras ayahnya yang sedang marah-marah.


___________________________________________


Yuk, intip novel teman author yang satu ini.