
"Menikah? Kenapa jadi menikah? Lho, bukannya sebelumnya kita membicarakan soal pertunangan?"
Pria bule itu tertawa. "Karena aku sudah tak sabar. Anyway(lagi pula) seperti lidi. Bersatu kita teguh, bercerai ... jangan sampai." Ia kembali tertawa.
Marina cemberut. "Kakak serius, dong!"
"Ini aku serius, Marina. Dua rius malah. Aku cuma manusia biasa dan kamu menggantungku setiap waktu. Apa aku sanggup? Tidak, Marina, karena cintaku semakin hari semakin bertumbuh. ibarat pohon yang tumbuh di dalam kepala, bagaimana kalau dia semakin besar dan memecahkan kepala. Aku bisa gila, Marina."
Wanita itu masih mengerucutkan mulutnya.
"Apa kau tak memikirkan perasaanku. Perasaanku yang aku tak tahu harus kucurahkan pada siapa karena kau terus menolakku."
"Maafkan aku."
"Apa kau tak ingin hubungan kita berpindah ke taraf berikutnya."
"Pasti."
"Make it simple, Marina. Mudahkan. Bukankah nabi menyarankan untuk menyegerakan sebuah pernikahan."
Marina terdiam.
"Yang membuat sulit itu dirimu. Benar kata ibumu, persoalan pasti selalu ada, dan kita tidak perlu khawatir akan masa depan. Bukankah masa depan itu sudah dijamin oleh Allah?"
Wanita itu mengangkat kepalanya.
"Teruskan saja yang datang padamu. Sekarang aku datang padamu dan ingin menikah. Maukah kau menikah denganku?" Sekali lagi Abigail meminta dengan kini mengulurkan tangannya.
Marina akhirnya meraih tangan pria itu membuat pria itu tersenyum bahagia. "Tapi jangan buru-buru menentukan tanggalnya ya?" Ia mulai mewanti-wanti.
"Iya."
"Tapi jangan ketahuan Alan, hanya Ibu."
"Iya."
"Nanti cerita sama ibu saja dulu ya?"
"Iya."
"Pokoknya aku gak mau kalau Alan tau. Kasihan." Pipi wanita itu menggembung.
"Iya."
Lalu timbullah senyum wanita itu kemudian. Ia menggoyang-goyangkan genggaman tangan mereka.
"Kamu bahagia 'kan?" Pria itu bertanya dengan senyum lebar.
Marina mengangguk senang.
-----------+++---------
Pagi itu keduanya sudah berada di meja makan dan sibuk sarapan. Marina terlihat bersemangat mengurus Farrel dan mengobrol dengan pria itu.
Tentu saja Abigail tidak kalah bahagia. Ia ingin segera bertemu dengan ibu Marina dan membicarakan tentang pernikahan mereka. "Ibumu jadinya jam berapa minta dijemputnya?"
"Ngak tau ibu belum bilang," sahut wanita itu sambil mengunyah.
"Coba telepon. Jangan-jangan dia berangkat sendiri lagi."
"Iya, Kak. Nanti aku telepon."
"Kalau terlalu siang, kita bisa berenang dulu di gedung olahraga komplek, bagaimana?"
"Mmh, tapi nanti aku lapar lagi, biasanya kalau habis berenang."
"Mmh." Abigail tersenyum lebar. "Apa ada makanan incaranmu di kantin itu?" Pria itu ternyata tahu saja ada yang diinginkan Marina.
"Mmh, nanti berenangnya jangan lama-lama. Biar gak laper." Wanita itu mulai bicara berputar-putar.
"Bener, gak mau makan di kantin gedung olahraga nih? Aku mau duduk di sana sebentar beli jus," goda Abigail.
"Di situ aku lihat ada mi bakso tanpa lemak. Aku mau makan baksonya aja tanpa mi, boleh 'kan?" Marina coba bertanya.
"Boleh. Apa sih yang gak boleh buat kamu, Sayang."
"Ih, jangan bilang 'sayang'. Malu." Marina menengok kanan kiri, pipinya memerah.
"Iya, iya." Pria masih tersenyum lebar.
"'Kan biasanya kamu gak boleh, aku makan banyak-banyak."
"Kalau dibilang, nanti ngambek."
Aduh, susah juga ya, bicara dengan wanita. Dibatasi, salah. Tidak dibatasi juga tetap salah. "Ya terus maunya gimana?"
"Mmh, ya udah deh, ngak usah berenang!" Pipi wanita itu kini menggembung, ngambek dengan menghentak pelan, kakinya.
Aduh, aku salah lagi nih ... pasti. "Ya ... jangan gak berenang dong, nanti kamu susah lagi cari bajunya. Berenang itu sehat lho! Biar kaki kamu gak gampang kram. Lagipula, nanti kalau pakai baju pengantin jadi jauh lebih cantik, kalau kamu lebih kurus," bujuk Abigail.
Pipi wanita itu memerah mendengarnya sambil melirik sekilas pada Abigail. "Ya, udah ...." ucapnya malu-malu seraya sedikit tertunduk.
Abigail gemas melihatnya. Ada saja tingkah wanita itu yang bikin tertawa atau pusing tapi membuat wanita itu semakin menarik di matanya.
Itulah Marina, yang membuat pria itu tak habis pikir, ketidaksempurnaannya menyempurnakan hidupnya. Wanita mandiri tapi juga kadang terlihat konyol.
Mungkin seberapa banyak ia bicara tentang kekaguman, ia takkan mungkin menemukan alasan kenapa ia jatuh cinta. Karena cinta, tak perlu alasan untuk memulainya.
"Halo ibu. Nanti mau berangkat jam berapa?" tanya Marina.
-------------+++------------
Ibu ternyata ingin berangkat pagi. Langsung saja saat menjemput, Abigail membicarakan tentang perkawinan pada wanita itu. Ibu terkejut karena Marina maupun Abigail sudah serius menyepakati. "Kalau ibu maunya, bertemu dengan orang tuamu dulu, Abigail. Itu lebih baik. Memang rencananya kapan kalian akan menikah?"
"Aku maunya sih bulan depan, Bu, tapi gak tau Marina," sahut Abigail sambil menyetir.
Keduanya menoleh ke arah Marina. Pria itu melirik ke samping, sedang ibu yang duduk di belakang, menatap kursi di depannya.
"Gimana, Marina?" tanya ibu pada anak perempuannya itu.
"Mmh, ya sudah. Terserah saja."
"Kalau begitu, Nak Abigail tolong atur waktunya untuk kami orang tua bisa saling bertemu."
"Eh, iya, Bu," sahut pria itu lagi.
Setelah mengantar ibu Marina ke rumah sakit, Abigail menelepon ibunya. Ternyata Mama menyambut baik keputusan Abigail yang ingin cepat menikah. Mama mengajak bertemu ibu Marina di sebuah restoran, makan siang hari itu. Setelah dikonfirmasi, ibu Marina ternyata bisa datang untuk makan siang. Akhirnya disepakati mereka akan makan siang di restoran bersama Marina dan Abigail.
"Yang, kita ke Mall yuk?"
Marina menatap pria itu dengan dahi mengerut.
"Kenapa, Yang?"
"Sejak kapan kamu bicara pakai 'Yang, Yang' begitu?"
"Sejak sekarang, Yang." Pria itu menahan tawa.
"Memangnya aku mengizinkanmu panggil aku, Yang?"
"Udahlah, Yang. Aku ingin sekali panggil kamu 'Yang' masa gak boleh?"
"Ngak, nanti ketahuan Alan bagaimana?"
"'Kan saat kita menikah nanti, dia akan tahu juga 'kan?"
"Iya, tapi gak sekarang. Nanti dia tambah ngambek dikira aku gak punya perasaan, Kak. Tolong, Kakak ngertiin dong, Kak," pinta Marina pada pria itu.
Abigail akhirnya menyanggupi. "Iya, iya, tapi mau 'kan ke mal, biar Farrel gak bosen di rumah. Kebetulan aku masih sehari lagi libur."
"Iya, Kak. Terserah kakak saja."
Sebenarnya ada tempat tujuan lain yang ingin dituju Abigail. Sebuah toko perhiasan. Pria itu menghentikan kereta bayi tepat di depannya.
Marina terdiam melihat di mana mereka terhenti. "Mmh? To-ko per-hia-san?" ejanya sambil menunjuk toko itu dengan telunjuk dan melirik pria itu.
"Iya. Kalau aku beli cincin nikah sekarang, bagaimana?"
Marina hanya menatap toko itu dari depan.
"Boleh 'kan? 'Kan katanya harus apa-apa izin kamu dulu? Bagaimana?" Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celana.
Wanita itu tak bisa berkata-kata. Toko yang mereka datangi adalah toko perhiasan mahal. Ia sudah membayangkan, perhiasan di sana pasti sangat-sangat mahal. "Apa ini tidak terlalu mahal, Kak?"
"Kamu tidak usah mengkhawatirkan itu. Ayo masuk." Abigail membukakan pintu toko itu sehingga Marina bisa mendorong kereta bayi Farrel masuk ke dalam.
Wanita itu melihat sekeliling, betapa mewahnya tempat itu. Pasti perhiasannya juga mahal-mahal.
___________________________________________
Yuk intip novel keren satu ini.