
Marina menatap laptopnya. Sekilas ia menatap bayi Farhan yang tidur di samping laptop dengan lelapnya.
Yos! Bayi Farhan sudah tidur dan ide untuk bab berikutnya sudah di kepala, tapi ... aku ngantuk. Humm ... menyebalkan!
Marina menepuk-nepuk pipinya sedikit keras dengan kedua tangan dan kemudian menunggu hasilnya.
Ia akhirnya menggulingkan dirinya di tempat tidur karena tak tahan dengan rasa kantuk yang mendera. "Mmh, bagaimana ini? Kalau Farhan tidur, Mami kok jadi ngantuk juga ini?" bisiknya sedikit merengut.
Ia meraih kaki Farhan dan memeganginya. Tak lama Marina tertidur.
------------+++----------
Hari ini Abigail pulang lebih cepat dari kemarin karena urusan dengan klien selesai dan tidak ada laporan yang mesti ia periksa lagi. Ia sempat berbelanja di supermarket dan kembali ke apartemen.
Hidup kembali seperti saat ia melajang, membuat ia bingung harus bagaimana. Ia terpikirkan kafe di bawah dan ia ingin ke sana. Apa Marina ke sana juga? Ah, tidak mungkin. Ia punya bayi.
Ia sempat melewati pintu apartemen wanita itu dan ingin mendekat, tapi lagi-lagi ia enggan bila ternyata wanita itu sedang repot dengan bayinya atau ia sebenarnya takut ditolak. Takut ditolak? Ah ya, mungkin aku takut ditolak.
Cafe sedikit ramai sore itu tapi tak lama. Orang orang-orang mulai pergi dan kursi yang sering diduduki wanita itu kembali kosong.
Ia lega, entah kenapa. Padahal sudah lama wanita itu tidak pernah muncul lagi di kafe itu membuatnya hanya bisa melamun memikirkan wanita itu.
-----------+++----------
Marina terbangun mendengar bayi Farhan menangis. Ia segera duduk dan memperhatikan bayi itu. "Anak Mami mau susu?"
Tak ada jawaban kecuali tangis si kecil membuat ia bingung. Ia coba mencium bau tubuh bayi itu dibagian bawah dan tercium bau yang sedikit menyengat. Segera ia menyiapkan peralatan untuk ganti pampers.
Seusai ganti pampers, bayi Farhan masih menangis. "Mmh, mau susu juga ya?" terpaksa Marina kembali turun dari tempat tidur dan membuatkan susu untuk bayi Farhan. Sebentar kemudian ia telah kembali.
Sambil memegangi botol susu pada bayi, Marina menoleh pada cermin. Rambutnya mulai berantakan dan wajahnya sedikit tirus. Belum lagi sekitar matanya yang mulai menghitam mirip mata panda karena kurang tidur.
Kenapa dirinya makin tidak terurus sejak punya Farhan? Oh, tentu saja. Jadwal Farhan lebih mengacaukan hidupnya, padahal tidak harus begitu kalau saja ia bisa mengatur jadwalnya dengan benar.
Marina menghela napas pelan. Aku sudah lama tidak minum kopi di bawah sambil duduk santai. Kalau begitu, aku bisa menulis 'kan?
Wanita itu menatap Farhan yang telah tertidur. Susunya telah habis. Apa aku bawa saja sebentar ke bawah, karena tidak mungkin meninggalkannya sendirian di sini.
Marina kembali menatap dirinya di cermin. Ayo, Marina. It's a great escape(ini pelarian terbaikmu). Gunakan kesempatan ini selagi bisa untuk menaikkan mood menulismu yang turun akhir-akhir ini. Yos!
Ia meletakkan bayi Farhan pelan-pelan di atas tempat tidur, kemudian mulai membuka lemarinya.
-------------+++-----------
Abigail masih termenung ketika tanpa sengaja ia melirik ke arah pintu masuk. Ia terkejut. Bahkan ia mencoba mengerjap-ngerjapkan matanya memastikan bahwa ia tak salah lihat.
Iya, benar. Wanita itu datang ke kafe itu tapi dengan bawaan yang cukup merepotkan. Ia menenteng laptop dan menggendong bayi dalam kain gendongan di depannya.
"Cafe latte satu ya?" pesan wanita itu pada kasir.
"Ok. Ada lagi?"
"Tidak. Itu saja." Wanita itu kemudian berusaha mengambil uang di kantong celananya tapi agak kesulitan karena barang bawaan.
"Mmh? Oh. Abigail?"
Dia ingat namaku. Pria itu tersenyum dalam hati. "Eh, biar kutraktir."
"Eh, apa?"
"Mau tambah cake?"
Wajah Marina terlihat memerah. "Tidak. Tidak usah."
"Kelihatannya cake kesukaanmu ada. Red Velvet."
Kenapa pria tampan ini tahu cake kesukaanku?
"Ya, kebetulan aku mengeluarkan dompetku."
Ah, pandangan matanya membuatku malu. Marina tiba-tiba tak tahu harus berkata apa.
"Ya sudah. Red velvet satu," ucap pria itu pada kasir. Setelah membayar, ia menunggu pesanan.
"Nanti diantar ke meja, Pak," ucap kasir itu melihat Marina yang kerepotan dengan bawaannya.
"Oh, begitu. Ok."
Abigail kembali ke mejanya dan Marina mendatangi meja yang biasa ia diduduki dengan malu-malu.
Pria itu memang sering ia lihat setiap ia pergi ke kafe itu karena biasanya memang mereka sering bertemu di jam sepi kafe, dan Marina mengingatnya karena hanya mereka berdua yang ada di sana di jam itu. Namun hari ini berbeda. Hari ini pria itu mentraktirnya dan mengingat cake kesukaannya. Adakah yang lain yang diingat pria itu?
Marina duduk dan membuka laptopnya. Ia sangat malu untuk menoleh ke belakang. Pria itu ... pria tampan itu, apa memperhatikannya selama ini?
Marina tahu diri. Dirinya tidak cantik dan tubuhnya sedikit gemuk. Tidak mungkin ada pria tampan tiba-tiba menyukainya karena itu selama ini ia santai saja bila bertemu dengan pria itu di kafe ini, tapi hari ini ... semuanya berubah. Apa pria itu menyukainya sejak lama?
Wajah wanita itu memerah. Pikiran ini terlalu tinggi untukku yang biasa-biasa saja. Dia tak mungkin menyukaiku. Pipi Marina terasa panas. Apa aku berpikir berlebihan? Tidak! Mungkin ia hanya simpati karena aku membawa bayi sekarang.
Marina mengintip bayi Farhan dalam gendongan yang tertidur pulas. Tidur yang nyenyak ya, Sayang. Mami mau nulis dulu, batin wanita itu.
Seorang pelayanan kafe membawakan pesanan Marina dan meletakkan di atas meja wanita itu. Saat itulah Marina menoleh ke belakang. Ia menganggukkan kepala berterima kasih pada Abigail karena telah mentraktirnya.
Pria itu tersenyum senang. Sudah lama sekali rasanya ia tidak melihat wanita itu dan kedatangannya yang begitu di nanti itu berbuah manis walau wanita itu kini membawa serta bayinya bersamanya.
Wanita itu memakan pelan-pelan cake-nya sambil mengetik. Ia sepertinya menikmati waktunya di sana karena terlihat sangat fokus. Tidak ada kelucuan di sana karena ia menjaga sekali agar geraknya tidak mengganggu tidur bayi yang di gendongnya.
Sebenarnya sejak kapan Marina punya bayi? Abigail baru menyadari ini. Padahal sebelumnya bukankah ia tak pernah membawa bayinya? Apa pengasuh bayinya sedang cuti, sehingga ia harus mengurus bayinya sendirian? Mmh, mungkin saja.
Bayi itu ... bayi laki-laki ya? Abigail bisa melihat sedikit saat mengintipnya. Ia tiba-tiba teringat pada bayi Farrel. Anakku, di mana kamu? Apa kau baik-baik saja? Papa rindu padamu.
Tak terasa air matanya menetes hangat melewati pipinya. Baru kali ini ia merasa gagal menjadi ayah karena pernikahannya yang telah hancur.
Segera dihapusnya air mata itu dan menarik napas dalam. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan coba bernapas tenang. Ini bukan kegagalan yang aku ciptakan jadi aku tak boleh menyalahkan diriku sendiri terus menerus, nasehatnya pada diri sendiri dalam hati.